
Setelah selesai dari butik, mereka menuju ke sebuah salon agar Emili dan Bina bisa bersiap. Bi juga berganti pakaian dengan setelan jas lainnya.
Emili sangat pandai dalam menyesuaikan gaun, riasan juga aksesoris yang akan di gunakan. Dia terlihat berbeda dari kesehariannya sebagai wanita karir.
Sambil menunggu Emili dan Bina bersiap, Biru menghubungi Alex
" Halo Lex, aku tunggu kamu di pesta penyambutan klien kita di Aula Hotel A. Sekarang! "
" Baiklah, aku segera kesana! "
" Bi,, kami sudah siap, kita berangkat sekarang? "
Terdengat suara lembut Mili dari belakang Bi
" Aku menunggumu! "
Bi mengakhiri panggilan teleponnya dengan Alex dan berbalik melihat Emili. Dia terpana sesaat melihatnya. Kemudian tersenyum dan melingkarkan tangan di sekitar pinggang Mili
" Kamu begitu cantik sunshine "
" Sudahlah, hentikan! Ayo jalan! "
Bi, Emili dan Bina bergegas menuju tempat dilangsungkannya pesta.
Bina terus memperhatikan Biru dan Emili sepanjang perjalanan. Ada rasa iri dihatinya kepada Emili karena bisa mendapatkan Biru. Laki - laki yang bertanggung jawab dan bisa melindungi orang yang dia sayangi dengan segala cara.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu mereka tiba di tempat pesta. Biru turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Bina dan Emili. Disana sudah ada Alex yang telah menunggu mereka.
" Kamu lama sekali. Ku kira saat kamu menghubungi ku tadi sudah dalam perjalanan.... Ech ini kan....? "
Pandangan Alex beralih pada Emili ketika dia bicara dengan Biru
" Ini Emili, kekasih ku. Tapi kami berencana untuk melangsungkan pernikahan secepatnya! "
__ADS_1
Biru mengenalkan pada Alex dan Bina sangat terkejut dengan perkataan Biru
Melangasungkan pernikahan secepatnya?
Bina tak dapat menerima semuanya dengan cepat, kakinya lemas. Hatinya seakan hancur
" Bina! Bina! Bina! "
Suara Biru menyadarkan Bina dari lamunannya.
" Ech iya pak. maaf? "
" Kenapa kamu malah melamun? Ayo kita masuk ke dalam sekarang! "
Biru menggandeng Emili di ikuti Bina dan Alex berjalan dibelakang..
" Sunshine aku pergi ke sana dulu menyapa rekan bisnis disana. Kamu tunggu disini saja, nikmati hidangannya! Nanti aku kembali! "
Mili mengangguk dan tersenyum sambil berkata " Baiklah, aku akan menunggumu "
Bina terus menatap Emili tanpa henti, dia memperhatikan setiap gerak gerik Emili
" Kenapa kamu terus memperhatikan aku? Apakah ada sesuatu yang salah denganku? "
Emili bertanya dengan senyum diwajahnya. Bina menggelengkan kepala dan berkata
" Nona Emili beruntung sekali, karena pak Biru mencintai nona. Hidup nona sepertinya sangat sempurna. Tidak seperti hidup saya "
Bina tertunduk sedih membayangkan hidupnya
" Tidak semua yang kamu lihat itu nyata. Setiap orang punya cerita hidup masing - masing. Kita tidak bisa menyamakan hidup orang yang satu dengan yang lain. Aku dan kamu memliki hidup dan masalah yang berbeda. Kita tidak bisa menilai hidup orang lain sempurna atau tidak. Yang terlihat diluar belum tentu sama di dalam. Bisa saja hidup kamu pada kenyataannya lebih beruntung dari ku. Kamu hanya pandai menilai dari luarnya saja "
Emili berkata dengan sangat tenang sambil memegang gelas jus ditangannya
__ADS_1
" Mana ada hidup saya lebih beruntung dari nona? Nona berasal dari keluarga terpandang, sementata saya,, hanya seorang yatim piatu yang diadopsi saja "
Bina tersenyum sinis kepada Mili
" Itu tandanya kamu tidak mensyukuri hidup kamu Bina. Kamu hanya melihat kebahagiaan orang lain tanpa mencari kebahagiaan mu sendiri. Jika kamu terus seperti itu, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah merasa puas dengan hidup kamu "
Mili berkata dengan tenang membuat Bina terdiam tanpa kata
" Sudahlah, aku pergi kesana dulu, nikmatilah pestanya! "
Mili berjalan ke teras, meninggalkan Bina yang masih termenung dengan pikirannya
Bina menatap punggung Mili yang semakin menjauh sambil bergumam
mencari kebahagiaan ku sendiri?
Kebahagiaan ku adalah pak Biru
Dia berjalam mengikuti Mili dari belakang dengan tatapan liciknya. Biru yang selesai berbincang dengan rekan bisnisnya memperhatikan gerak gerik Bina yang mengikuti Mili. Diapun mengikuti Bina secara perlahan.
Ketika sampai teras, entah apa yang ada di pikiran Bina, dia berusaha untuk mendorong Mili agar dia terjatuh ke bawah tangga. Beruntungnya ada sebuah tangan besar yang menarik tangan Bina dan membawanya berjalan menjauh dari Mili. Dia menarik tangan Bina tanpa Mili sadari kalau dia hampir saja celaka, jika saja Biru tidak datang tepat waktu.
" Pak Biru... "
Bina terkejut dengan kedatangan Biru yang tiba - tiba menarik pergelangan tangannya dengan keras. Wajahnya pucat, matanya terbelalak. dia tidak dapat berkata apa - apa
" Apa yang akan kamu lakukan? Kamu berusaha mencelakai Mili? "
Biru menatap Bina dengan tatapan penuh kemarahan, nada suaranya terdengar begitu dingin
" Tidak pak Biru, saya,,,saya,, tidak,, bermaksud mencelakai nona Emili "
Bina terbata - bata karena takut pada Biru
__ADS_1
" Aku selalu menolongmu karena merasa kasihan terhadapmu. Tapi Bina, kamu tidak kenal siapa aku. Aku tidak suka bila ada yang mengganggu orang yang ku sayangi. Jadi mulai besok, kamu tidak perlu masuk ke kantor lagi! "