Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Sudah berhari - hari aku disini dan membiarkan tuan Jendralku sendiri


__ADS_3

Ruang Leo seketika hening setelah menyaksikan kematian Sandy


" Cih, membosankan! Padahal aku ingin bersenang - senang dengannya. Aku belum sempat melampiaskan kekesalanku padanya. Dia malah memilih kematian yang begitu mudah. Dasar pengecut tidak punya otak "


Ji mendecih dan menggerutu karena Sandy memilih bunuh diri dengan menggunakan racunnya sendiri


" Sudahlah kak, berhenti marah - marah seperti itu! Lagipula dia sudah membayar semua kesalahannya kan? "


Vio berusaha menenangkan Ji


" Bayaran ini sama sekali tidak sesuai dengan perbuatannya. Harusnya aku bisa membuatnya lebih menderita terlebih dahulu sebelum ajal menjemputnya. Sungguh sangat disayangkan. Tapi sepertinya,,, masih ada yang belum membuat perhitungan denganku "


Tatapan Ji beralih pada pengawal yang masih tertidur di sofa. Dengan senyum yang tak dapat diartikan dan membuat sekelilingnya merasa merinding, dia berjalan mendekati pria itu. Jek ikut menoleh pada sang pria dan terkejut setelah melihat wajah sang pengawal


" Roni! Jadi selama ini dia yang menjadi duri dalam daging?


Jek berteriak karena terkejut


" Jadi dia pengawal kepercayaan tuan Fabian?


Cih, tidak tahu diri. Dasar anjing lia tak tahu diri.. Sudah diberi makan malah menggigit "


Ji kembali mendengus kesal karena rupanya yang menjadi kaki tangan Sandy adalah pengawal kepercayaan tuan Fabian sendiri


" Nona Jingga, kapan tuan muda akan sadarkan diri? "


Tanya Jek sambil menatap Leo yang masih terbaring


"Sebentar lagi dia akan bangun. Biar ku tanyakan pada Frans! "


Ji merogoh ponsel dari tas yang ada ditangannya dan menghubungi nomor Frans


" Halo, Frans. Tolong datang ke ruang Leo! "


Setelah mengeluarkan kalimat itu dia kembali menutup telepon dan tidak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan


Ceklek..


Frans berjalan dengan gagahnya dan masuk ke dalam ruangan Leo.. Matanya tertuju pada Sandy yang tergeletak di lantai


" Ji, kenapa pria ini malah tidur dilantai? "


Frans mendekati Sandy dan memeriksanya.


" Kamu benar, dia memilih untuk tidur selamanya di lantai "


Jawab Ji acuh tak acuh


" Dia sudah mati Ji "


Kata Frans datar


" Sudah kukatakan dia tidur untuk selamanya. Dia menggunakan racun untuk dirinya sendiri " Frans melihat jarum suntik yang berada di tangan Sandy


" Lantas mau di apakan mayatnya? "


" Sebenarnya aku ingin memberikannya sebagai makanan buaya "


Kata Ji yang kini duduk dengan santainya di atas sofa


" Kak Ji... "

__ADS_1


Vio memberikan peringatan kepada Ji


" Baiklah, bawa saja dia ke kamar mayat! Ku dengar dia punya seorang anak gadis "


" Kalau begitu akan ku minta perawat untuk memindahkannya! "


Frans kemudian berdiri lalu mendekati Leo dan memeriksa kondisinya


" Apa aku biarkan dia sadar sendiri atau... kubangunkan saja? "


Tanya Frans pasa Ji


" Apa maksudnya dibangunkan? "


Vio terlihat kebingungan dia menatap Ji dan dokter Frans secara bergiliran


" Bangunkan saja dia! Toh semua sudah selesai. Meskipun aku tidak merasa puas dengan akhir yang begitu mudah untuknya! "


Kata Ji yang masih kesal. Frans kemudian merogok saku snelli dan mengeluarkan sebotol kecil obat dan juga satu suntikan. Dia mengisi jarum suntik dengan obat kemudian menyuntikkannya pada Leo


" Obat apa itu? "


Tanya Vio penasaran


" Kak sebenarnya kak Leo Kenapa? "


" Tidak apa. Dia akan segera bangun! "


Taka lama setelah di suntik, Leo membuka matanya perlahan. Dia mengerjapkan matanya dan melihat orang disekelilingnya


" Apakah kita sudah mendapatkan buktinya? "


Tanya Leo kepada Jingga


" Kenapa begitu?"


Leo penasaran


" Lihatlah ke lantai! "


Kata Ji acuk tak acuh


" Paman Sandy? Apa yang terjadi dengannya? "


" Dia menyuntik dirinya sendiri dengan racun"


" Tunggu. Kak Ji, kak Leo! Sebenarnya apa yang terjadi? "


Vio terlihat sangat kebingungan


" Sebenarnya aku tidak papa. Hanya saja dokter Frans memberiku obat agar aku terlihat seperti koma "


" Kak Ji! Kakak mempermainkan aku lagi?! "


Teriak Vio yang kesal pada Ji


" Entahlah! Habis kamu sama sekali tidak menggunakan otakmu. Kamu terlalu mudah untuk dibodohi "


Ji berkata acuh tak acuh dengan mengangkat kedua bahu secara bersamaan dan sedikit memanyunkan mulutnya


" Ach kak Ji menyebalkan! Selalu saja mempermainkan ku! Sebelumnya kakak menjadikan aku sebagai bahan taruhan untuk sebuah mobil sport. Kali ini tidak memberitahukan padaku kalau kak Leo tidak papa "

__ADS_1


Vio sangat kesal karena Ji kembali mempermainkannya


" Jika aku memberitahumu maka rencanaku pasti berantakan. Harusnya kamu berterimakasih padaku! Leo urusan pengawal bodoh mu itu, kuserahkam padamu. Aku sudah tidak ingin bermain. Dan Frans, kamu bisa kembali ke negara F. Terimakasih atas bantuan mu! "


Kata Ji sambil berjalan kearah pintu. Dia beribicara tanpa menoleh kepada mereka sedikitpun. Ji hendak meninggalkan rumah sakit


" Oke "


Jawab Frans singkat


" Kak Ji, kamu mau pergi kemana? "


Tanya Vio sedikit berteriak setelah Ji sampai dipintu kamar


" Pulang. Sudah berhari - hari aku disini dan membiarkan tuan Jendralku sendiri, padahal dia sedang terluka "


Ji sengaja mengatakan itu, sebagai isyarat pada Vio kalau Ji lebih memilih datang menangani masalah Leo daripada merawat Ed yang sedang terluka. Ji berhasil membuat Vio tertunduk dan merasa bersalah


" Pak Jek, ternyata yang Jingga bilang pengkhianat adalah Roni. Kenapa dia melakukannya? Bukankah dia orang kepercayaan ayah? "


Tanya Leo setelah melihat Roni yang masih belum bangun


" Sebaiknya aku permisi! Aku akan meminta perawat untuk membawa jenazah orang ini ke kamar mayat "


Kata Frans sambil berjalan keluar ruangan Leo


Tak lama 2 perawat pria masuk dengan membawa tempat tidur dorong


" Permisi "


Kata seorang perawat dan dia memeriksa keadaan Sandy


" Maaf kenapa orang ini meninggal? "


" Dia bunuh diri menggunakan racun yang ada pada suntikan ditangannya. Kalian bisa memastikannya lagi dengan melakukan otopsi! "


Jawab pak Jek dengan santai


" Kalau begitu kami akan membawa mayatnya keruang mayat! "


Kedua perawat pria itupun membawa Sandy keruang mayat


" Aku tidak tahu alasan dia melakukan ini. Tuan muda bisa menanyakannya setelah dia bangun! "


Kata Jek setelah perawat membawa mayat Sandy meninggalkan ruangan Leo


" Pak Jek, aku minta maaf karena aku tidak memberitahu sebelumnya kalau aku merencanakan ini. Maaf karena pak Jek harus ikut terlibat "


Leo dengan wajah menyesal meminta maaf pada Leo


" Tidak apa tuan muda. Nona Jingga sudah memberitahukan semuanya. Untung dia mau membantu tuan muda. Jadi nyawa tuan muda bisa selamat. Lantas, bagaimana dengan Roni, tuan muda? Apa yang akan anda lakukan padanya? "


" Kita tunggu dia sadar, aku ingin menanyakan alasan dia mengkhianati ayah, sebelum kita menyerahkannya pada polisi. Kita juga harus membuat ini sebagai contoh. Agar tidak ada pengawal lain atau pekerja dirumah yang kembali berkhianat! "


" Baik tuan muda! "


Jek menuruti perkataan Leo dengan patuh


" Pak Jek, apa kamu bisa kembali mendampingi ku mengurusi perusahaan dan semua masalah keluarga Nugraha? "


Tanya Leo ragu - ragu

__ADS_1


" Tentu, tuan muda. Aku sudah berjanji pada tuan besar akan menemani dan menjaga tuan muda, setelah kepeegian beliau "


__ADS_2