
Biru dan Emili sedang makan siang bersama di restoran yang tidak jauh dari kantor Biru, karena dia masih ada rapat setelah jam makan siang
" Mili, bagaimana kerja samamu dengan Alex? "
" Cih, Bukankah seharusnya kamu sudah tahu perkembangannya? Itu kan juga perusahaan kamu Bi? "
Mili berkata dengan nada dan senyum yang mengejek
" Hahaha,, aku belum mendengar kabar darinya dan nanti perusahaan itu akan di ambil alih oleh Ji. Dia akan terjun ke dunia bisnis"
" Benarkah? Apa dia sudah lebih baik? "
" Iya, dia akan segera keluar dari rumah sakit. Mungkin dalam beberapa hari kedepan sudah boleh keluar! "
" Syukurlah kalau begitu, aku turut senang mendengarnya. Apa papi mamimu masih ada disini? "
" Tidak, mereka sedang ada urusan penting. Entah kapan mereka kembali ke sini. Atau mungkin mereka akan langsung pulang ke negara A "
Mereka asyik bercengkrama sambil menikmati makan siang. Dari luar restoran Bina memperhatikan mereka berdua dengan tatapan yang penuh rasa iri dan tangan yang dikepalkan. Dia berdiri cukup lama lemudian berjalan pergi dari sana meninggalkan sejoli yang sedang bermesraan.
Bina kembali ke kantor dan dia termenung di meja kerjanya. Membayangkan saat pertama Bi menolongnya yang sedang terluka sewaktu di pesta Seno. Kemudian saat pertemuan berikutnya, dia bekerja sebagai sekertarisnya. Bina membayangkan pribadi Biru yang perhatian dan selalu melindungi dibalik sikap dinginnya. Dia membayangkan senyum Bi saat melakukan panggilan telepon waktu itu. Semua itu membuat Bina ingin memiliki Biru.
Bina menganggap Biru berbeda dari pria lainnya. Biru pasti bisa melindunginya saat dia dalam bahaya atau sedang kesulitan.
__ADS_1
Dia jadi tersenyum sendiri membayangkannya. Tapi, tatapannya berubah suram, senyumnya menghilang seketika dia mengingat saat Emili datang mencari Biru. Sikap yang Biru tunjukan kepada Emili berbeda jauh dengan sikapnya kepada wanita lain. Bina geram, dia mengepalkan tangan dan mengeratkan bibirnya karena kesal dan iri pada Emili.
Dirumah sakit Ji sedang makan siang bersama Ed didalam kamarnya
" Biar aku yang suapi kamu! "
Ed menyodorkan sesendok makanan ke mulut Ji. Tapi dia menggelengkan kepala
" Tidak usah, biar aku saja! Aku sudah bisa makan sendiri! "
Ji berusaha meraih sendok dari tangan Ed tapi Ed tidak memberikannya
" Biarkan aku, sudah ku katakan kalau aku akan melayanimu dan menemanimu ketika tidak bertugas! "
" Ji besok aku harus pergi bertugas. Aku belum tahu berapa lama aku akan pergi. Tapi aku janji, saat kamu keluar dari rumah sakit. aku pasti sudah kembali dan menemani mu "
Ji tertunduk tanpa mengeluarkan suara, ada kepedihan dihati Ji mendengar Ed akan pergi meninggalkannya untuk bertugas. Rasa takut, khawatir dan sedih bercampur menjadi satu. Apakah dia akan kembali ke sisinya dengan selamat?
Itu yang selalu jadi pertanyaan dan juga ketakutan Ji. Takut ketika dia pergi dan tidak dapat kembali lagi ke sisinya.
Entah sejak kapan Ji mulai merasa ada keterikatan diantara mereka. Ji tidak berani mengakuinya, tapi dia juga tak dapat memungkirinya. karena rasa itu memang sudah tumbuh dihatinya.
Suasana kamar hening seketika. Ed menyadari perubahan sikap Ji. Dia meletakkan piring berisi makanan di meja samping Ji. Ed meraihnya ke dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh Ji yang hanya diam saja
__ADS_1
" Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku berjanji padamu, kalau aku akan kembali dengan selamat ke sisimu "
Tanpa terasa air mata Ji menetes dan membasahi baju Ed. Ji semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Ed dan mulai melingkarkan tangannya di bagian pinggang Ed.
Ed tidak dapat mengatakan apapun disaat seperti ini, dia hanya memeluk Ji dan mengelus punggung Ji dengan lembut
" Kamu harus berhati - hati dan selalu mengabariku. Ingat kalau aku selalu menunggumu! "
Ji berkata di sela isak tangisnya
" Pasti, my little girl. Aku akan selalu mengingat itu. Aku akan pulang dengan selamat, karena sekarang ada gadis yang ku cintai menunggu ku. Dan tidak akan lama lagi, gadis ku akan menungguku pulang dengan sabar dirumah kita "
" Ich, rumah kita? Memangnya aku mau tinggal bersama denganmu? Tidak akan! "
" Hei, aku belum selesai bicara. Maksudku dirumah kita adalah setelah kita menikah. Kamu tidak mungkin akan tinggal di apartemen atau rumah Bi setelah kita menikah kan? Karena aku ingin memiliki istanaku sendiri untuk calon permaisuri hatiku! " Ed berkata lembut dengan senyum manis dan menyentuh sedikit hidung Ji dengan ujung jarinya
Ji memicingkan matanya dan bertanya
" Memangnya siapa yang akan menikah denganmu? "
" Aku sedang mencari sembarang gadis pinggir jalan yang ingin dinikahi oleh tentara tampan sepertiku "
Ji mengerutkan dahi hingga kedua alisnya hampir menyatu
__ADS_1
" Hei tuan Jendral, sepertinya penyakit narsismu kembali lagi! "