Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Aku ingin selalu menghabiskan waktu dengannya


__ADS_3

Rian terus memperhatikan Vio selama rapat berlangsung hingga akhir. Leo pun melihat tatapan Rian terhadap Vio, kemudian dia tertunduk seakan merenung. Karyawan lain pun memperhatikan tatapan Rian yang berbeda kepada Vio


" Rapat kali ini cukup sampai disini. Saya mau kita berusaha meningkatkan lagi performa perusahaan dan kalian juga harus meningkatkan kinerja kalian masing - masing. Terimakasih! "Rian berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan di ikuti Vio juga Leo di belakangnya . Setelah mereka pergi para karyawan wanita langsung saling berbisik membicarakan Vio dan Rian


" *Aku dengar dari bagian HRD kalau pak Rian sendiri yang merekomendasikan sekertaris barunya "


" Jangan berkata yang tidak - tidak, mungkin mereka hanya berteman saja "


" Jika mereka hanya berteman, tidak mungkin tatapan pak Rian kepadanya begitu lembut. Gadis itu juga sepertinya menyukai pak Rian. Tidak mungkin kan kalau dia bisa menolak pria muda yang tampan dan kaya seperti pak Rian "


" Huh apa hebatnya dia? berani -beraninya menggoda pak Rian? Kita harus memberinya pelajaran*! "


Kedua wanita itu terus bercengkrama hingga keruangan mereka. Salah satunya adalah Febi, karyawan cantik yang menyukai Rian


Di ruang Rian, dia sedang membayangkan Vio dan memikirkan apanyang telah dikatakan Vio saat makan siang tadi


" Apa aku salah menilainya? Keluarganya memang seperti diktator yang dapat dengan mudah menghancurkan orang lain. Tapi dia begitu spesial. Pendiriannya begitu teguh dan dia juga dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Tapi kenapa dia ingin jadi karyawan biasa? Aku akan membuat dia tidak betah dan kembali ke jati dirinya. Aku ingin memilikinya tapi jika hanya sebagai sekertaris, apa pendapat orang lain tentangku? "


Rian tersenyum sinis dengan tatapan mata yang penuh dengan kelicikan


" Vio, bisakah kamu ke ruanganku? "


Dia memanggil Vio melalui telepon . Tak lama pintu diketuk


Tok tok tok


Ceklek


" Bapak memanggil saya? "


terlihat Vio yang membuka pintu dan masuk ke ruang Rian


" Tolong bawakan aku kopi! "


Vio mengernyitkan dahi kemudian berkata " Baik akan saya bawakan! " Vio segera keluar dari ruangan Rian menuju pantri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari meja kerja Vio dan membuatkannya kopi. Setelah selesai dia kembali ke ruang Rian dengan segelas kopi di tangannya


" Silahkan pak, kopinya! "


Vio berkata dengan senyum yang dipaksakan sambil meletakkan kopi di atas meja


" Terimakasih "


Kata Rian sambil menyeruput kopinya


Bruurr


" Puah, terlalu pahit, kamu tidak memberinya gula? " Kata Rian setelah dia menyemburkan kopi yang dibuat Vio


" Maaf pak, tapi saya sudah tambahkan gula "


kata Vio dengan sikap tenangnya


" Cepat buatkan lagi. Jangan lupa tambahkan gula! "


" Baik pak! "


Jawab vio sinis. Diapun kembali ke pantri dan membuat kopi lagi untuk Rian. Setelah selesai dia kembali membawanya pada Rian


Bruuurr

__ADS_1


" Puah, ini terlalu manis. Kamu memasukkan berapa kilo gula kedalamnya? Aku bisa diabetes jika selalu minum kopi seperti ini "


" Tadi anda bilang kopinya harus manis! "


Vio sudah mulai kesal


" Tapi tidak semanis itu. Sana buatkan yang baru jangan terlalu pahit atau terlalu manis! "Kata Rian sambil melambaikan tangan sebagai isyarat kepada Vio untuk keluar


" Baik pak, saya buatkan lagi "


Kata Vio yang masih berusaha bersikap tenang meskipun dia mulai kesal. diapun kembali meninggalkan ruangan Rian dengan wajah penuh amarah


" Dia pikir dia itu siapa? hanya karena dia direktur dia bisa bersikap seenaknya terhadap bawahannya. Orang kaya macam apa dia? mengatakan aku diktator, sebenarnya apa namanya sikap dia itu? Ish menyebalkan! "


Vio terus menggerutu hingga ke pantri. Leo mengikutinya dari belakang


" Kamu kenapa Vi? Apa pak Rian menyulitkan mu? "


Leo berkata dengan sangat lembut. Vio yang berlinang air mata karena kesal menoleh ketika mendengar suara Leo


" Dia memintaku membuatkan kopi. Ini sudah yang ketiga kalinya. Dia kira aku ini pembantunya apa? Aku ini sekertaris yang bertugas untuk membantunya dalam bekerja bukan dalam membuat kopi " Vio dengan linangan air mata bercerita pada Leo dengan nada manjanya. Leo menghapus air matanya menggunakan kedua ibu jarinya.


" Sudah jangan menangis lagi. Mungkin dia sedang mengetesmu saja! "


Leo berusah menenangkan Vio


" Biar aku yang buatkan kopinya dan nanti kamu yang bawa kesana! " Leo memegang wajah Vio begitu lembut dan hangat. Vio menganggukkan kepala dengan usulan Leo.


" Sudah selesai. Bawalah ini keruangannya! "


Kata Leo dengan senyum lembut. Vio kembali membawa kopi ke ruangan Rian dan kali ini dia tidak membuat masalah lagi


" Baguslah kalau begitu. Lain kali kamu minta kopi pada kak Leo saja. Karena itu adalah kopi buatannya! " Vio berkata sinis kemudian berbalik meninggalkan ruangan Rian.


Rian terdiam mendengar perkataan Vio


" Kenapa malah Leo yang aku puji kopinya enak? Ich dasar bodoh "


Gumamnya sambil memukul kepalanya sendiri


*****


Ji dan Ed sudah tiba dikediaman Yudha


" Nenek... Aku sangat merindukan mu "


Ji langsung berhambur ke pelukan nenek Gadis ketika dia tiba dirumah Yudha


" Duuh cucu nenek semakin cantik saja! "


Kata Gadis sambil memeluk erat Ji


" Bagaimana kabar nenek? Apa papi dan mami belum pulang dari kantor? "


Katanya setelah melerai pelukan diantara mereka


" Nenek baik - baik saja. Hanya sedikit penyakit umur. Sepertinya sebentar lagi mami dan papimu akan pulang "


Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu

__ADS_1


" Ini... siapa Ji? "


Pandangan Gadis kini beralih pada Ed yang duduk tidak jauh dari Ji


" Saya Edward nek, kekasihnya Ji "


Kata Ed sopan dan nenek Gadis hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap Ji yang tersipu malu


" Jadi, kalian akan segera menyusul Biru ke jenjang pernikahan? "


Goda Gadis kepada Ji


" Saya berencana seperti itu nek


Ed menjawab pertanyaan Gadis dengan antusis


"Orang tua mu kerja apa? Apa mereka sudah tahu hubungan kalian? "


" Tentu saja mereka sudah tahu mah dan mereka juga sudah merestuinya! "


Terdengar suara Gina dari arah pintu yang berjalan bergandengan dengan Yudha. Gadis, Ji dan Ed sontak menoleh bersamaan ke arah pintu


" Kamu juga sudah kenal dengan orang tuanya Ed? "


Tanya Gadis kini beralih kepada Gina


" Tentu saja kami mengenalnya. Ed ini adalah anak dari kak Maria "


Kata Gina sambil tersenyum


" Maria?


Kamu keponakannya Mario? "


Gadis nampak terkejut dan Ed mengangguk tersenyum


" Benar, saya nak dari ibu Maria dan ayah Erik "


" Dunia ini begitu sempit. Hahaha


Ternyata besanmu adalah keluarga teman lamamu! "


Gadis terlihat antusias bicara pada Yudha.


" Entahlah mah. Mungkin Tuhan menyukai rencana kami untuk menjodohkan mereka berdua ketika mereka masih kecil dulu . Sehingga mereka dipertemukan sendiri terlebih dahulu, sebelum kami yang memperkenalkan mereka berdua kembali "


Yudha berkata dengan tenangnya kepada Gadis


" Kapan kalian berencana melangsungkan pernikahan kalian? "


Tanya Gadis kepada Ed dan Ji. Pasangan itu saling menoleh dan senyum. Kemudian Ed menjawab dengan senyum khasnya


" Aku ingin secepatnya menikah dengan Ji. Aku datang kemari untuk membicarakannya dengan om dan tante "


Yudha dan Gina saling menatap kemudian berkata pada


" Kami akan segera menemui orang tuamu untuk membahasnya "


" Terimakasih om, tante. Aku sudah tidak sabar menikah dengannya. Aku ingin selalu menghabiskan waktu bersama dengannya "

__ADS_1


__ADS_2