Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Sepertinya aku harus mulai berhati - hati


__ADS_3

Dari hari itu, Bina mulai bersikap aneh menurut Biru yang sering dikejar - kejar wanita. Sikap Bina tidak jauh berbeda dari mereka - mereka yang berusaha menarik perhatiannya. Sering kali Bina membawakan bekal makanan, kalau tidak, dia akan membelikan Biru sesuatu dari restoran. Dia sering kali mencuri pandang saat harus berurusan dengannya dan terkadang melakukan sesuatu hanya untuk menarik perhatiannya . Biru mulai merasa tidak nyaman berada dekat dengan Bina.


" Hei apa yang kamu pikirkan? Sikapmu akhir - akhir ini sangat aneh! Apa kamu bertengkar dengan Emili? "


Ji masih dirumah sakit, saat ini dia sedang ditemani Ed dan Bi


" Mana mungkin aku bertengkar dengannya. Aku sedang bingung, Ji. Sikap sekertaris ku saat ini sangat aneh. Aku jadi merasa agak risih dengan perhatiannya itu "


Ji mengernyit, mendengar cerita Bi.


" Apa yang aneh dengan itu? Kamu seperti baru pertama kali saja berurusan dengan wanita yang berusaha mendekati mu "


Bi terdiam mendengar perkataan Ji


Sepertinya aku harus mulai hati - hati, aku tidak ingin ada masalah dengan Mili


Kata Bi dalam hati


" Kapan kamu akan keluar dari rumah sakit Ji? "


" Sepertinya tidak lama lagi. Tangan dan kakiku juga sudah mulai bisa bergerak dengan leluasa. Memangnya kenapa? Sepertinya kamu punya sesuatu? "


Ji menatap Biru dengan tatapan penuh curiga


" Hmn,,, Bagaimana kalau kamu membantuku di kantor saja? lebih bagus kalau kamu mau jadi sekertaris ku "


Bi berkata dengan tenang


" Hei, kamu sudah jadi kakaknya, tidak usah lagi menjadikan dia ini sebagai sekertaris mu. Dia terlalu sempurna juga jika harus menjadi seorang sekertaris! "


" Hei Ed. Ada apa dengan mu? Memangnya kenapa jika Ji jadi sekertaris sementara untukku? Tidak masalah kan, toh kamu juga masih bisa bertemu dengannya "


" Aku tidak akan membiarkan dia jadi sekertaris mu. Dia sudah banyak menghabiskan waktunya bersamamu dirumah. Lagipula dia juga memiliki saham di perusahaan mu, Daripada jadi sekertaris mu, aku lebih suka dia jadi direktur menggantikanmu! "


" Memangnya kenapa jika dia jadi sekertaris ku? "

__ADS_1


Bi mengernyitkan dahi karena heran. Ed hanya diam saja dan berkata dalam hati


Jika Ji jadi sekertaris mu, akan ada banyak karyawan kantormu yang berani mendekatinya. Tapi jika jadi direktur, tidak akan ada yang berani mendekatinya. Apalagi jika aku pergi bertugas. Aku tidak bisa terus bertemu dengannya dan mengawasinya


Bi dan Ji hanya menatapnya heran saja


" Sudahlah, kalian berdua bisa berhenti tidak sih? Berisik sekali. Kalian selalu terlihat bersikap dingin, tapi nyatanya kalian ini pria yang aneh! "


Ji berusaha melerai perdebatan dua laki - laki dihadapannya ini


" Aku memutuskan akan masuk ke perusahaan pertama kita Bi, ** Companies. Jadi kamu bisa mengambil Alex untuk mendampingi mu lagi. Aku tidak ingin berurusan lagi dengan wanita - wanita mu. Sudah cukup masa kecilku yang tersiksa karena selalu mendampingi mu"


Ji berbicara dengan sangat tenang. Tapi reaksi Ed dan Bi berbeda


Ed dan Bi saling menatap karena terkejut dengan keputusan Ji. Kemudian mereka berkata dengan serempak


" Kamu akan berhenti jadi model?! "


Ji menganggukkan kepala dan berkata


Ji berkata dengan sangat tenang


" Apa kamu serius Ji? Menjadi model adalah impian mu dari kecil " Bi terdengar ragu dengan keputusan sang adik, tapi tidak dengan Ed


" Baguslah jika kamu memutuskan seperti itu, jadi kamu tidak selalu diperhatikan oleh laki - laki lain "


Ed tersenyum puas mendengar keputusan Ji


" Cih, tentara lebay! "


Kata Ji dengan nada sinisnya


" Hentikan! Dilarang mengumbar kemesraan di hadapanku. Emili sedang sebuk. Jadi aku tidak dapat bertemu dengannya "


Bi berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruangan Ji

__ADS_1


Keesokan harinya Bi memiliki rapat penting pada pagi hari. Tentu dia di temani oleh Bina sebagai sekertarisnya. Suasana rapat selalu dirasa sangat menegangkan dengan wajah dan sikap Bi yang selalu serius dan dingin.


Emili mengiriminya pesan singkat bahwa dia akan mengunjungi kantornya tapi ponselnya dalam model silent jadi Bi tidak mengetahuinya


Emili


Bi, aku akan datang ke kantormu ya. Sekarang aku sedang dalam perjalanan kesana


Emili mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama dia tiba di kantor Bi. Dia berdiri lama setelah memarkirkan mobilnya. Memandangi bangunan kantor Bi. Dia berjalan dengan elegan menuju meja resepsionis


" Selamat siang, ada yang bisa dibantu? " Sapa wanita penjaga resepsionis dengan sangat sopan


" Selamat siang. Saya kesini untuk bertemu pak Biru "


Jawab Emili dengan sopan dan senyum lembut


" Apa anda sudah membuat janji? "


" Belum, dia tidak membalas pesan saya "


" Maaf jika anda tidak memiliki janji, anda tidak bisa bertemu dengan pak Biru, beliau sangat sibuk "


" Anda bisa katakan kalau saya, Emili datang kesini "


" Mohon maaf nona, tapi sesuai peraturan yang ada, jika anda tidak memiliki janji sebelumnya, maka anda tidak bisa menemui beliau "


" Nona, anda bahkan belum bertanya padanya, tapi anda sudah mengambil kepastian kalau dia tidak ingin menemui saya "


" Mohon maaf nona "


Resepsionis itu tetap tidak mengizinkan Emili masuk dan bertemu Bi. tapi Mili tetap bersikap tenang, dia melihat ponselnya. Pesannya belum juga dibalas oleh Biru


Apa dia sangat sibuk?


pikir Emili sambil menatap ponselnya. Dia berbalik dan hendak meninggalkan kantor Bi, kemudian dari belakangnya terdengar suara seseorang memanggil namanya

__ADS_1


" Mili! "


__ADS_2