Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkanmu


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Sella telah ditangkap polisi. Edward sedang dalam misi, jadi setelah hari itu dia belum menemui Ji lagi.


" Bi, Ji kami harus kembali ke negara A. Papi dan mami harus kembali ke perusahaan. Meskipun disana ada yang mengawasi, tapi tetap saja ini juga jadi tanggung jawab kami. Lagi pula Ji sudah sembuh, jadi kami sudah tidak begitu khawatir lagi mengenai keadaanmu. Papi sekarang percaya kalau kalian sudah bisa menangani masalah kalian sendiri "


Kata Yudha berkata dengan tenang sambil duduk di sofa dan sebelah tangannya melingkar di pinggang Gina "


" Mami juga sekarang yakin kalian bisa saling melindungi "


Sesekali Gina menatap Bi dan Ji bergantian


" Papi, mami, kalian ini memberikan wejangan yang menurutku tidak penting!


Kak Bi dan kak Ji kan sudah besar, lagi pula ini bukan kali pertama mereka terpisah dari kalian. Mereka ini sudah meninggalkan rumah lebih dari 3 tahun. Bagaimana bisa papi dan mami baru khawatir sekarang? "


Vio yang cerewet ikut bersuara,


Gina tersenyum menanggapi putri bungsunya, sedangkan yudha, hanya bisa geleng - geleng kepala melihat putri bungsunya ini sambil bergumam


" pyuh,, bagaimana bisa aku memiliki anak yang cerewet seperti ini? Sedangkan Bi dan Ji lebih pendiam dan terkesan serius "


" Kamu berisik sekali, apa kamu tidak bisa menggunakan rem saat berbicara? paling tidak, kecilkan suaramu!


Kupingku terasa sakit kalau harus mendengarmu bicara! "


Bi berkata dengan sinis namun terlihat begitu tenangu


" Papi, mami, lihatlah kak Bi. Dia jahat padaku! "


Vio meminta dukungan pada orang tuanya, kemudian beralih kepada Ji " Kenapa kak Ji bisa tahan lama - lama dekat kak Bi sih? Sudah dingin, jutek, kalau sudah bicara seperti belati yang langsung mengiris dalam hati. Huh! "


" Terserah kamu saja, dasar manja! "


Bi tambah kesal dengan adiknya ini


" Sudahlah, hentikan! Kalian ini seperti anak kecil saja! "


Gina berusaha melerai Bi dan Vio.


" Kami akan berangkat siang ini! "


Yudha mengalihkan perhatian mereka

__ADS_1


" Secepat itu pih? "


Ji terkejut mendengarnya


" Iya, pesawat kami akan segera tiba. Jadi kami akan bersiap. Kalian tidak perlu mengantar kami. Karena kalau kalian berdua ikut ke bandara, semuanya akan jadi berantakan! "


" Iya papi! "


Bi dan Ji berkata dengan serentak dan juga mengangguk bersamaan


Yudha, Gina dan Vio pulang beserta Hendri dan pengawal mereka. Ji kembali ke agensi dan minta untuk dicarikan manajer baru yang lebih professional. Setelah kurang lebih menunggu 1 minggu, dia mendapatkan manajer wanita yang tegas dan cukup profesional namanya Adel.


Biru kembali ke Taeson Elektronik setelah cukup lama cuti karena mengurus Ji.


Semua karyawannya kembali bersemangat, karena dapat melihat wajah tampannya lagi. Termasuk Bina


" Apa ada masalah selama aku tidak datang ke kantor? " Biru berkata dengan tenang sambil membaca dokumen - dokumen yang menumpuk dimeja


" Tidak ada pak. Pak Alex selalu kesini untuk mengecek semuanya! "


" Akhirnya, aku bisa melihat kembali wajah tampan pak Biru ketika bekerja "


Pikir Bina


Pikirnya lagi sambil menggelengkan kepala dengan cepat


" Baguslah kalau begitu, kamu boleh kembali bekerja! "


Biru berkata tanpa melihat wajah Bina


" Baik, permisi pak! "


Bina berbalik dan meninggalkan ruangan Biru


Siang hari saat jam makan siang. Bina makan di restoran dekat kantor. Dia sedang menikmati makanannya. Tiba - tiba datanglah seorang gadis yang langsung duduk di kirsinya tanpa meminta ijin terlebih dahulu


" Hai Bina si wanita ******! Kenapa kamu bisa duduk dan makan dengan tenang disini tanpa memberiku uang, hah? "


Clarisa datang dan langsung bicara kasar


" Aku sudah memberimu uang. Apalagi? Uang tabunganku sudah habis kamu kuras. Sekarang aku sudsh tidak punya uang! "

__ADS_1


Bina menjawab dengan sinis


" Kamu berani kepadaku? "


Clarisa kesal nada suaranya meninggi. Dia mengambil sup panas yang ada dihadapan Bina, lalu menyiramkannya pada Bina


Byur


" Ach panas panas! "


Bina yang merasa kepanasan pada bagian dadanya berdiri dan berteriak "


" Rasakan kamu. Itu karena kamu berani melawanku! "


Clar terlihat begitu puas setelah menyiramkan sup panas pada Bina


Dari belakang mereka datang Biru yang berjalan dengan cepat menghampiri mereka


" Ayo kita kerumah sakit! "


Biru menarik pergelangan tangan Bina hendak membawanya kerumah sakit


" Hei siapa kamu, berani ikut campur? "


Clarisa bertanya dengan meninggikan suara dan menunjuk pada Biru


" Aku atasannya! Kamu bisa aku tuntut karena telah mencelakai orang! "


Kata Biru dengan nada yang tegas, lalu membawa Bina pergi.


Clarisa terdiam dan tidak berkata apa -apa lagi, dia hanya melihat Bina dan Biru yang sudah meninggalkan restoran


Bina meringis kesakitan selama perjalanan ke rumah sakit


" Sampai kapan kamu akan diam saja diperlakukan seperti itu? "


Bi bertanya dengan tenang kepada Bina. Dia sudah kembali ke mode tenangnya


" Saya tidak berani pak, keluarga mereka telah merawat saya dari kecil "


Bina tertunduk dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata

__ADS_1


" Hanya dirimu sendiri yang bisa mengambil tindakan. Tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkan mu. Jika kamu terus seperti ini mereka akan terus menekanmu! "


Bi dengan suara datarnya memberi tahu Bina. Perjalanan ke rumah sakit pun jadi hening


__ADS_2