
" Hei tentara narsis. Bisa - bisanya kamu mengatakan itu. Memangnya aku mengikatmu dengan tali? Tidak, harusnya aku mengikatmu dengan rantai yang besar dan membuang mu jauh - jauh"
Ji berkata dengan nada ketus dan wajahnya terlihat semakin kesal dengan gombalan dari Edward
" Memang tidak di ikat dengan tali, tapi kamu mengikatku dengan hatimu. Aku sudah tidak dapat melarikan diri lagi darimu " Edward berkata dengan memberikan tatapan yang begitu lembut pada Ji
"Cih, sudahlah hentikan! Cepat jalan! kalau tidak aku akan turun dari mobilmu "
Ji memalingkan wajahnya dari Edward. Rasanya percuma saja jika terus berdebat dengan manusia yang satu ini. Ji tidak akan pernah menang dalam lomba debat bersamanya
" Baiklah, kita jalan sekarang! "
Edward pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju di jalanan yang ramai, menuju kerumahnya
Rumahnya terletak tidak jauh dari pusat kota. Ji terus memperhatikan jalan. Banyak pohon tinggi berjejer di pinggir jalan, yang bergoyang karena hembusan angin, seakan menyambut kedatangan mereka. Tibalah mereka di rumah Edward. Rumah dengan bangunan dua lantai dikelilingi taman yang tertata dengan negitu rapih. rumah ini tidak terlalu besar jika dibandingkan rumah keluarga Kusuma, dan jarak dengan rumah di sebelahnya juga tidak terlalu jauh. Meskipun begitu, rumah ini terlihat begitu elegan.
Edward memarkirkan mobilnya di bagian depan rumah. Dia keluar dari mobil terlebih dahulu kemudian berjalan ke arah lain dari mobil itu untuk membantu Ji turun.
" Kita sudah sampai, masuklah! "
Ji dan Edward masuk ke dalam rumahnya, dengan Edward yang berjalan di depan dan Ji mengikutinya hingga berhenti di ruang tamu.
" Tunggulah disini!
Aku akan ganti baju sebentar "
Edward berkata dengan lembut. Sambil meninggalkan Ji, dia memanggil pekerja rumah dan memintanya membuatkan minuman untuk Ji
Tak perlu menunggu waktu lama, dia telah kembali turun dengan pakaian yang telah diganti. Dia mengenakan pakaian kasualnya. Celana jeans panjang dengan kaos polos dilengkapi jaket. Edward berjalan menghampiri Ji dengan senyum
__ADS_1
" Ayo, kita berangkat sekarang! "
Ji berdiri dan mengekorinya dari belakang sambil bertanya padanya " Memangnya kita mau pergi kemana? "
" Kita ke mall saja untuk makan, setelah itu kita berkeliling di sekitar mall "
Ji tidak bertanya lebih jauh lagi. Bisa -bisa dia mati mendadak jika harus bertanya sesuatu padanya. Jawabannya hanya akan membuat Ji kesal. Mereka menaiki mobil dan mulai berkendara menuju ke kota.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara banyak sama sekali. Sesekali Edward menoleh ke arah Ji, memperhatikan wajah cantik gadis yang sedang menikmati keramaian kota dengan mobil yang lalu lalang dan orang - orang yang berjalan di area pertokoan pinggir jalan..
" Kamu begitu cantik, tidak ada yang berubah darimu sama sekali. Adik kecil! "
Pikir Edward sambil tersenyum memandang Ji
Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan mereka, yaitu mall di tengah kota. Edward turun terlebih dahulu dan berjalan ke arah pintu satunya untuk membukakan pintu mobil Ji.
Edward tersenyum lembut dsn mengulurkan tangan untuk membantu Ji. Tapi dia tidak mendapatkan penyambutan dari Ji.
" Aku bisa turun sendiri! "
Ji berjalan duluan meninggalkan Edward ke dalam gedung mall. Edward terdiam melihatnya kemudian tersenyum. Edward mempercepat langkahnya untuk mengejar Ji. Mereka berjalan menuju restoran.
Ji terbelalak sesaat melihat seseorang yang dikenalnya kemudian dia menunjukkan senyum licik
" Jadi ini yang membuatmu sibuk sampai tidak bisa menemaniku, hah?
Awas saja, akan ku balas kau! " Pikir Ji
Dia berjalan mendekati orang itu dna berdiri dibelakangnya
__ADS_1
" Jadi ini yang kamu bilang sibuk dampai tidak bisa menemaniku? "
Ji berkata dengan nada dingin dan juga menyeramkan
Biru terkejut mendengar suara Ji dari belakangnya dan dia menoleh. Mengernyitkan dahi. Wajah Biru terlihat tidak suka melihat kedatangan Ji " Ini anak untuk apa ada disini? Mengganggu saja! " pikir Biru
" Kamu bilang, kamu sedang sibuk dan tidak memiliki waktu. Bagaimana kamu berada diluar dengan seorang gadis dan mencampakkan aku begitu saja? Kamu sudah tidak peduli padaku? " Emili terperangah dan tidak bisa berkata apa - apa. Biru bangun dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Ji
" Sudah selesai main - mainnya? " Suaranya terdengar menyeramkan, seakan Biru menjadi besar dan Ji jadi kecil. Beberapa detik kemudian
" Aduh aduh lepaskan, lepaskan aku! "
Biru menarik telinga Jingga, hingga dia kesakitan tapi tidak terlalu kuat
Emili terkejut melihat kejadian di hadapannya. Dia menghela napas lega
" pyuh, tapi siapa gadis ini? "
Wajahnya kembali berubah. sekarang dia terlihat kebingungan.
" Mili,,, kenalkan ini adikku Jingga! "
Suara Biru kembali menyadarkannya dari lamunan,
" Oh, iya,, saya Emili!
"Oh jadi dia adiknya. Aku sudah berpikir hal yang tidak - tidak saja tadi"
Emili tersenyum sendiri mengingat pikiran jelek yang muncul dibenaknya tadi
__ADS_1