
Para suster dan pengunjung rumah sakit terus saja bergunjing membicarakan Ed dan Ji. Langkah Ji terhenti setelah mendengar perkataan salah satu pengunjung rumah sakit yang mengatakan kalau mereka pasangan tak tahu malu.
Dia menoleh ke arah orang - orang yang membicarakan mereka. Matanya menatap tajam penuh kemarahan. Ed meraih tangan Ji untuk menahannya dan berkata dengan lembut
" Sudah, jangan dengarkan mereka! Kita akan segera mengungkap kebenarannya "
Ed menariknya perlahan menuju kamar Laura.
" Kamu tunggu disini! Aku akan masuk ke dalam! " Kata Ed setelah tiba dikamar Laura dan Ji menganggukkan kepala
Tok tok tok
Ceklek
Ed membuka pintu dan terlihat Laura yang tengah berbaring dengan mata terpejam di ranjang pasien dengan selang infus ditangannya.
" Bagaimana keadaan mu? "
Kata Ed dengan suara lembut
" Ed! Akhirnya kamu datang juga menemuiku! "
Laura langsung membuka mata dan duduk ketika mendengar suara Ed
" Kamu terlihat lebih baik. Sepertinya rumah sakit ini merawat mu dengan benar! "
Kata Ed dengan senyum sinis sambil duduk di sebelah Laura
" Ed kenapa kamu bersikap seperti itu kepada ku? Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Kenapa kamu tidak pernah menyadari perasaan ku terhadap mu? Kita sudah lama saling mengenal, tapi kamu malah memilih wanita itu yang belum lama kamu kenal. Apa kurangnya aku Ed? "
Kata Laura dengan nada tak percaya
" Sebenarnya kamu sakit apa? Bagaimana bisa sampai kamu dirawat seperti ini? Apakah parah? "
Ed masih menunjukkan sikap tenang dan sedikit memasang wajah khawatir
" Aku tidak papa. Jika tidak seperti ini, kamu pasti tidak mau menemuiku "
Kata Laura dengan nada sedikit murung
" Jadi kamu sengaja berpura - pura sakit agar aku menemuimu? "
Ed memicingkan mata bertanya pada Laura
" Ed, aku benar - benar mencintaimu. Kamu harus meninggalkan Jingga dan kita bisa bersama "
" Bagaimana kita bisa bersama sedangkan kamu sudah mengatakan pada seluruh awak media kalau aku ini tipe laki - laki tidak setia? Kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku hanya menganggapmu sebagai pelarian saja. Apa kamu tidak malu jika kamu dikenal sebagai perempuan yang tak memiliki harga diri? "
"Aku tidak peduli. Aku bisa melakukan apa saja asal kamu menjadi milikku! "
Kata Laura yang mulai kesal
" Kamu sudah gila. Itu bukan cinta tapi obsesi! "
__ADS_1
" Ed, aku sudah lama mencintaimu. Kenapa kamu masih tidak mengerti aku? "
" Aku tidak dapat mengerti kamu. Dan sampai kapanpun aku tidak ingin mengerti gadis gila sepertimu! Kamu menggunakan media untuk menyudutkanku. Kali ini pun aku akan melakukan hal yang sama untuk kembali memulihkan nama baikku! "
Kata Ed dengan senyum liciknya
" Apa maksudmu Ed? Apa yang akan kamu lakukan? "
" Kamu yang menginginkan ini. Kamu yang meminta kehancuran mu sendiri! Lihatlah ini,. kamu tidak tahu spy cam yang aku kenakan ini? "
Ed menunjuk camera kecil seperti kancing dibajunya
" Dan kurasa ini juga ditampilkan secara langsung "
" Apa maksudmu? "
Laura memicingkan mata
Flash back on
" My queen, bisakah aku meminta bantuanmu? "
Tanya Ed sebelum melakukan perjalanan menuju rumah sakit
" Aku sudah mengenakan spy camera dibajuku, tapi kurasa akan lebih seru jika kamu menampilkan siaran langsung ketika aku berbicara dengan Laura. Bisakah kamu meminta bantuan anak buahmu untuk menyiarkan percakapan ku dan Laura "
" Tentu saja, aku mengerti rencanamu! "
Kata Ji dengan senyum liciknya. Kemudian dia mengambil ponselnya disaku celana dan menelepon Bobi
" Hallo pak Bobi "
Sapa Ji ketika panggilan mulai tersambung
" Ya nona! "
" Aku butuh bantuanmu. Bisakah pak Bobi pergi ke stasiun televisi dan menampilkan Video siaran langsung ku nanti? "
" Baik nona, saya akan pergi sekarang supaya nanti nona bisa menampilkan siaran langsungnya di televisi "
" Bagus terimakasih banyak pak Bobi "
Flash back off
" Jingga merekam semua percakapan kita melalui ponselnya dan dia menyiarkannya langsung melakui stasiun televisi "
Ed menjelaskan pada Laura. Laura menoleh ke arah jendela kaca dekat pintu dan terlihat Ji yang melambaikan ponselnya dengan senyum licik
" Kamu jahat Ed. Kamu bisa melakukan ini kepadaku? Aku ini putri dari atasanmu. Aku yang meminta papa untuk menaikkan jabatanmu dari mayor jendral menjadi letnan jendral. Kamu tidak tahu terimakasih Ed"
Laura yang kesal mulai berteriak
"Aku tidak pernah memintamu untuk membujuk Jendral Bram agar menaikkan jabatanku. Karena tanpa bantuanmu aku yakin bisa mendapatkan jabatan itu! "
__ADS_1
Ed berjalan keluar kamar hendak meninggalkan Laura kemudian dia menghentikan langkahnya
" Nikmatilah kehancuran yang kamu buat sendiri! "
Kata Ed disertai senyum sinis dengan sedikit menoleh pada Laura tanpa membalikkan badannya. Kemudian meneruskan langkahnya menuju Jingga yang menunggu diluar kamar rawat Laura. Dan berjalan bersama meninggalkan rumah sakit
" Dasar Ed bren*sek, sialan, bagaimana bisa kamu mengabaikan ku yang mencintai mu sejak lama "
Laura berteriak mencaci maki Ed yang telah pergi meninggalkan kamarnya dan melenggang santai bersama Jingga.
Sesuai rencana sebelumnya. Hampir semua stasiun televisi menayangkan siaran langsungnya. Pak Bobi mengunggahnya juga di internet. Dan dalam waktu singkat menjadi trending topik
Orang - orang yang sebelumnya bersimpati pada Laura dan mencibir Ji dan Ed. Kini berbalik mencibir Laura dan bersimpati pada Ji dan Ed
Media online di ramaikan oleh berita positif mengenai Ed dan menjatuhkan Laura. Laura yang melihat berbagai postingan negatif yang mengecamnya tidak bisa terima dan dia mulai marah - marah di kamat rumah sakit
" Sialan. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa berita ini dengan mudah berbalik begitu saja. Mustahil aku seorang putri jendral ternama bisa dengan mudah dihancurkan! Accchhh menyebalkan, akan ku balas kaliaaaaa!! "
Laura terus berteriak hingga dokter harus menyuntikan obat penenang padanya
Ayah Laura, Jendral Bram yang sedang dipangkalan dan tidak dirumah selama beberapa hari terakhir juga melihat berita mengenai putrinya itu
" Laura, laura,, bagaimana bisa kamu melakukan hal gila seperti ini? Kamu telah membuat papa malu dengan kelakuanmu "
Drrrttt drrtt drrrttt
Ponselnya berdering dan terlihat no yang tidak dikenal di layar ponselnya
" Halo, siapa ini? "
Katanya begotu telepon di angkat
" Saya Yudha Arya Kusuma "
" Yudha Arya Kusuma? "
Kata Bram mengulangi
" Bagaimana bisa anda sebagai Jendral gagal mendidik putri anda? Putri seorang Jendral harus dididik secara ketat. sedangkan anda malah membiarkan putrimu melakukan hal yang memalukan? Jendral macam apa kamu? Jika anda tidak bisa mendidik putrimu dengan benar, biarkan aku yang mendidiknya! "
Kata Yudha dengan nada yang tenang
" Apa maksud anda? "
Tanya Bram tidak mengerti
" Jangan biarkan putri anda mengganggu putriku lagi! jika tidak, anda dan putri anda akan menerima pelajaran dari saya "
Nada bicara Yudha penuh dengan ancaman
" Maksud anda adalah....? "
" Jingga Riani Putri adalah putriku. Anda harus bisa mendidik putri anda. Kalau tidak, saya sendiri yang akan mendidik putri anda! "
__ADS_1
Yudha mematikan sambungan telepon setelah berbicara