Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Sampai saat itu tiba ayahku tidak akan dikebumikan!


__ADS_3

Dinegara A, Leo masih menyelidiki kematian sang ayah. Dia tidak dapat menerima kematian sang ayah yang begitu tiba - tiba


" Pak Jek, sebelumnya apa yang ayah makan atau minum sesuatu? Atau ada hal lain yang mencurigakan? "


Tanya Leo pada Jek dengan wajah terlihat cemas


" Tuan besar hanya meminum teh yang biasa dia minum. Teh berikut cangkir yang digunakan juga sedang diperiksa oleh pihak berwajib. Apa ada yang aneh tuan muda? "


" Tidak ada, hanya saja aku mencurigai sesuatu! "


Pandangan Leo menerawang jauh seakan mulai memikirkan setiap kemungkinan yang ada


" Kak Leo, apa menurut kakak,, kematian om Fabian,,, ? "


Vio memandang wajah Leo tanpa melanjutkan kalimatnya. Leo tersenyum seakan dia telah mengerti apa yang akan Vio katakan


" Jika menurutmu ada yang meracuni ayah. Maka pemikiran ku juga sama. Sebelumnya ayah terlihat baik - baik saja, dia juga tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau darah tinggi. Kita harus menenukan bukti secepatnya "


Tatapan Leo kini berubah dingin. Ada amarah yang terpancar dari matanya


Tok tok tok


Percakapan mereka terhenti ketika seseorang mengetuk pintu


" Masuk! "


Leo mempersilakan dengan nada datar


" Pemisi tuan muda, hasil pemeriksaan jenazah tuan besar telah selesai. dokter telah menunggu anda di ruang tamu! Tuan Sandy dan putrinya juga sudah ada dibawah! "


" Mereka juga ada disini?


Mengejutkan sekali "


Kata Vio dengan senyum menyeringai


" Baiklah kita sambut mereka dengan baik sayang "


Leo tersenyum dengan sebelah tangan melingkar di pundak Vio dan sebelahnya lagi dia masukkan kedalam saku celana. Mereka berjalan menuju ruang tamu, dimana semua orang telah berkumpul


" Maaf karena telah membiarkan semua orang menunggu! "


Kata Leo yang perlahan berjalan mendekati ruang tamu. Dokter, Sandy dan jiga Melia berdiri ketika melihat kedatangan Leo


" Leo, paman dan Melia turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Paman harap kamu bisa lebih sabar. Dan kamu harus ingat masih ada paman sebagai keluarga mu "


Sandy berkata dengan nada yang terdengar sangat sedih


" Terimakasih paman, maaf karena tidak langsung menghubungi mu! "


Leo berkata dengan tenang dan tangan mengisyaratkan mereka untuk duduk. Leo pun duduk berdampingan dengan Vio


" Dokter, apa anda sudah menemukan penyebab kematian ayah saya? Saya butuh informasi yang sedetail - detailnya. Karena saya akan mencari tahu hingga ke akarnya jika terjadi kejanggalan dalam laporan anda"


Leo berkata dengan nada dingin, dalam kata - katanya terdapat nada ancaman. Tatapan matanya begitu tajam, senyum tipis terlihat begitu menyeramkan. Membuat dokter dan Sandy merasa berkeringat dingin


" Kematiannya Tuan Fabian murni karena serangan jantung. Kami tidak menemukan apapun yang salah pada jenazahnya "

__ADS_1


Jawab dokter dengan nada bicara yang berusaha tenang namun jelas sekali dia sedikit


" Apa kamu yakin? "


Leo menatap curiga pada sang dokter juga paman dan adik sepupunya ini


" Saya sangat yakin, tuan muda "


Jawab sang dokter disertai anggukan kepala yang cepat


" Baiklah kalau begitu. Terimakasih. dan maaf sudah merepotkan dokter "


Kata Leo dengan mengisyaratkan untuk mengusir mereka keluar dari rumahnya


" Kalau begitu saya permisi! "


Kata pak dokter yang dibalas anggukan oleh Leo


" Kapan kamu akan memakamkan jenazah ayahmu? " Tanya Sandi ketika dokter telah pergi


" Sepertinya nanti, ketika sudah ada sedikit titik terang atas penyebab kematiannya! "


Jawab Leo begitu santai


" Bagaimana bisa nanti? Jelas - jelas dokter sudah mengatakan kalau kakak meninggal karena serangan jantung. Apa yang masih membuatmu ragu lagi? "


Sandy terlihat emosi saat mengatakannya


" Tidak, aku menunggu dokter ahli yang akan melakukan otopsi kepada jenazah ayah! Sampai saat itu tiba ayahku tidak akan dikebumikan! "


Jawab Leo dengan sorot mata yang tajam. Sandy tidak membantah perkataan Leo lagi


Seperti yang Yudha rencanakan sebelumnya, dia akan menjemput Ji agar tinggal di negara A untuk sementara waktu. Yudha datang tanpa mengabarinya terlebih dahulu dia telah menghubungi Biru sebelumnya. Dia ingat percakapannya dengan Biru


Flash back on


" Bi bagaimana keadaan Ji sekarang? "


Tanya Yudha dengan nada lembut


" Aku sangat khawatir padanya pih. Dia terus saja berusaha menyembunyikan kesedihannya, tapi itu malah melukai fisiknya "


Jawab Biru lirih


" Apa maksudmu? "


" Kemarin saat dia melihat langsung berita itu, dia tanpa sengaja melukai tangan dan kakinya dengan pecahan gelas yang jatuh. Pagi tadi ketika Bi datang ke apartemennya, Bi melihat dia terduduk melamun dilantai dengan mata sembap, sampai kakinya keram dan sulit berjalan. Sepertinya semalaman dia duduk tanpa tidur. Kemudian saat dia mandi, dia meluapkan kesedihannya dengan memukul dinding kamar mandi hingga tangannya memar. Bi takut dia melakukan hal yang tidak - tidak pih "


Tanpa sadar Bi menitikan air mata, hati Yudha pun terasa seperti disayat belati, mendengar putri yang dia banggakan ternyata begitu rapuh saat dia merasa kehilangan tambatan hatinya


" Kamu tenang saja. Papi akan berangkat kesana sekarang untuk menjemputnya. Papi tidak akan membiarkan dia sendirian "


" Baiklah pih. Hari ini Ji berada dikantornya, dia bilang akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi ke negara A untuk ikut mencari Ed "


Yudha mengernyitkan dahinya sebelum mengatakan " Baiklah, papi mengerti "


Flash back off

__ADS_1


Setibanya di bandara Yudha bergegas ke kantor JB Companies. Dan langsung menemui Ji


" Permisi, ruangan nona Jingga ada di lantai berapa? "


Tanya Hendri kepada resepsionis


" Lantai paling atas, liftnya ada disebelah sana! "


Jawab resepsionis gugup karena melihat Yudha yang berdiri disamping Hendri


" Terimakasih "


Kata Hendri dengan senyum tipis, kemudian kembali berjalan bersama Yudha ke arah lift


Semua mata terus menatap Yudha. Mereka tak percaya jika saat ini mereka melihat langsung sang raja bisnis dengan auranya yang benar - benar mengintimidasi


Yudha dan Hendri telah sampai di lantai yang dikatakan resepsionis dimana ruangan Ji berada. Mereka melihat Bina dan Adel yang meja kerjanya terdapat di luar ruangan Ji


" Selamat siang Tuan, asisten Hendri "


Kata Bina dan Adel secara bersamaan


" Dimana Ji? "


Tanya Yudha dingin


" Didalam. Anda bisa langsung masuk keruangannya! "


Jawab Adel dengan sopan. Yudha pun berlalu melewati Adel dan masuk keruang Ji


Ceklek


Dia membuka ointu perlahan dan dilihatnya sang putri tengah termenung menatap kosong keluar jendela dengan air mata yang mengalir


" Kamu tunggu diluar! "


Katanya pada Hendri dan langsung berjalan masuk


Ceklek


Hendri kembali menutup pintu dan menunggu diluar


" Ji,,! "


Suara Yudha seketika membuat Ji menoleh ke arahnya


" Papi.... "


Yudha melangkah dengan cepat ke arahnya dan memeluk putri cantiknya


" Pih, Ed, Ed,, dia,, dia,, Ji tidak tahu keadannya pih. Tim sar belum memberikan kabar apapun.. hiks.. hiks.. hiks... "


Ji kembali meluapkan kepedihan yang dia rasakan


" Papi tahu sayang. Ppi kesini menjemputmu. Kita akan pulang ke negara A dan mencari keberadaan Ed. kamu tenang dulu, jangan khawatir. Oke? "


Ji hanya menganggukkan kepala disela isak tangisnya

__ADS_1


" Cepatlah bersiap. Kita berangkat sekarang juga! Papi akan menunggu diluar dan bicara dengan asisten juga sekertarismu. Kita tidak akan berhenti mencari hingga kita menumukan Ed "


Kata Yudha dengan penuh wibawa


__ADS_2