Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Seorang Rian Sanggara, kini harus hidup dijalanan


__ADS_3

Tangan pak Sanggara mengepal karena marah. Kekesalan dan amarah terlihat jelas diwajah dan juga tatapan mata pak Sanggara yang begitu tajam. Dia begitu kecewa kepada putra yang selama ini dia banggakan dan dia andalkan.


" Maksud papa apa? Datang kesini dan langsung mencaci maki aku! "


Rian tidak mengerti dengan apa yang papanya bicarakan


" Sebenarnya kamu anggap apa perusahaan ini? Apa kamu pernah sedikit saja menganggap kalau perusahaan ini penting bagimu? Apa kamu menganggap papa juga penting bagaimu?! "


Ayah Rian bertanya dengan sedikit berteriak karena marah. Hatinya begejolak penuh emosi. Tangannya terus mengepal kuat. Dadanya terlihat naik turun berusaha menahan amarah, kemudian dia duduk disofa dan menundukkan kepala dengan wajah yang terlihat sedih


" Papa membangun perusahaan ini dari nol ketika papa masih muda. Tidak mudah untuk papa mendirikan perusahaan ini hingga dapat diakui oleh banyak kalangan.


Papa selalu berharap kalau kamu bisa mengembangkan perusahaan ini agar lebih baik kedepannya. Tapi nyatanya? justru malah ditangan kamu lah perusahaan ini mengalami penurunan. bahkan terpaksa gulung tikar dalam hitungan beberapa jam lagi. Itupun saat papa masih hidup, dan papa harus menyaksikan sendiri hasil kerja keras papa selama ini hancur "


Pak Sanggara membayangkan kembali kerja kerasnya selama ini, dan tanpa terasa dia menitika air mata


" Aku tidak mengerti dengan apa yang papa bicarakan! "


" Apa kamu tahu kalau akhir - akhir ini saham kita selalu mengalami penurunan setiap harinya ? klien kita juga banyak yang mengeluh dan merasa kecewa dengan hasil kerja sama kita? "


Wajah Rian tampak terkejut mendengarnya. Namun dia hanya tertunduk diam mendengarkan pak Sanggara bicara


" Bagaimana perusahaan ini bisa berkembang ditanganmu, jika kamu sendiri tidak mengerti apa itu bisnis dan bagaimana cara berbisnis? Sungguh mengecewakan! Apa yang ku bangun dengan susah payah selama ini, malah harus hancur ditangan putraku sendiri. Harusnya kamu belajar berbisnis dengan benar, agar bisa mengendalikan perusahaan! Bukannya malah menjatuhkannya " Ayah Rian sedikit memberi jeda saat berbicara


" Tapi,,,, ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga turut andil karena telah mempercayaimu dan membiarkanmu memegang kendali perusahaan. Sekarang kita akan kehilangan semuanya hanya dalam hitungan jam! "


Dia melanjutkan kembali kata - katanya dengan wajah sedih. Rian dibuat terkejut karena perkataan ayahnya


" Apa maksud papa? Kita kehilangan semuanya? "


" Kita sedang dalam mengalami krisis keuangan yang parah, kerena itu aku memintamu untuk meminjam uang dari Biru untuk menutupi kerugian perusahaan. Tapi kamu malah menggunakan uang itu entah untuk apa. Aku tidak tahu "


" Pah, apa kita tidak memiliki jalan lain lagi? " Rian mulai terlihat panik


"Sekarang sudah tidak ada jalan lagi. Tidak mungkin kita mendapatkan uang dengan jumlah besar hanya dalam beberapa jam. Pihak bank pasti akan segera menarik aset yang kita miliki! "

__ADS_1


" Beberapa jam? Bagaimana kalau aku kembali menghubungi Biru, atau mungkin Vio? Ya, Vio. Kami sudah kembali dekat dia pasti bisa membantuku kan? "


" Papa tenang dulu, aku akan mengusahakan untuk dapat uang itu! "


" Kamu akan mencari uang kemana? Tidak mungkin kamu akan kembali meminjam uang pada Biru kan? "


" Entahlah, mungkin aku akan mencoba meminjam uang pada adiknya Biru "


" Kamu tidak perlu menghubungi keluarga itu. Kamu sudah meminjam uang dalam jumlah besar padanya. Apa kamu tidak malu jika meminjam lagi pada adiknya. Lagipula adiknya tidak mungkin memiliki uang dalam jumlah besar, karena dia belum bekerja "


" Papa benar. Memangnya berapa banyak lagi pah uang yang kita butuhkan? "


Rian kembali tertunduk dan mulai merasa bersalah


" Perkiraan dari manajer keuangan adalah hampir 10 milyar "


" 10 milyar? Jika saja aku lebih peduli pada perusahaan. Aku pasti bisa menyelesaikan ini dengan uang dari Biru. Tapi karena aku ingin bersenang - senang. Aku malah menggunakan uang itu sendiri. Aku harus menghubungi Yuanita dan meminta kemvali barang - barang yang telah aku berikan. Semuanya barang branded, aku yakin jika itu kembali dijual pasti jumlah uangnya akan terkumpul "


" Aku punya ide pa. Papa tenang dulu, aku akan mencoba dampai akhir! "


Tuut tuut tuut


" Kemana perginya gadis ini? Tidak mungkin dia meninggalkan ku sekarang kan? "


Wajah Rian yang tadinya terlihat scerah seperti mendapat jalan keluar. kini kembali terlihat murung


" Bagaimana ini? Jika aku tidak bisa mendapatkan uang itu, maka aku pasti akan jadi gelandangan. Aku tidak dapat membayangkan itu terjadi. Seorang Rian Sanggara, pria tampan dan juga mapan yang berasal dari keluarga bisnisman terpandang, kini harus hidup dijalanan! Itu sungguh memalukan "


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara di apartemen Ji, Vio sedang menghungi Leo


" Kak Leo, apa kakak bisa datang kemari menjemputku? Aku juga ingin menunjukkan sesuatu yang menyenangkan. Jika kak Leo tidak datang, maka permainan itu tidak akan lagi terlihat menyenangkan untuk dilihat "


" Apa yang sedang kamu rencanakan sebenarnya Vi? "

__ADS_1


" Bukan aku tapi kak Ji. Kak Ji ingin memberi pelajaran pada kak Rian agar dia tidak seenaknya merendahkan orang lain karena status. Jadi kak Ji berniat menampar wajah kak Rian dengan mempertemukan kak Leo yang ternyata bukan sekedar asisten biasa "


Leo tersenyum tipis dan menganggukkan kepala perlahan


" Aku mengerti. Kapan aku harus kesana? Lagipula, aku ingin segera menemuimu. Aku sudah sangat merindukan mu! '


" Aku juga sangat merindukan kak Leo. Kakak bisa kesini besok. Dan jika masalah ini selesai, aku memutuskan akan kesana bekerja dengan kak Leo "


Vio terdengar malu - malu saat mengatakannya. Leo tersenyum membayangkan wajah Vio yang memerah karena malu


" Apa kamu sudah meminta izin dari om Yudha sebelumnya untuk masalah ini? "


" Papi dan mami tidak akan melarang ku. Mereka selalu membebaskan kami dalam mengambil keputusan "


" Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa besok, aku benar - benar tidak sabar untuk segera bertemu denganmu "


" Aku juga. Sampai jumpa kak Leo. Aku mencintai kakak "


" Aku juga mencintaimu gadis kecil! "


Vio dan Leo mengakhiri panggilan telepon diantara mereka


" Cie cie, sepertinya ada yang sedang kasmaran? "


Ji yang baru tiba dari kantor mendengar sedikit percakapan Vio dan Leo


" Kak Ji menguping pembicaraan ku? "


" Tidak, hanya kebetulan aku sampai jadi sedikit mendengar percakapan kalian di telepon. Apa dia akan datang? "


" Iya. Katanya besok dia akan kemari "


Vuo menganggukkan kepala berkali - kali dengan cepat


" Baguslah kalau begitu. Aku tidak sabar melihat akhir dari pertunjukan dan mendapat mobil terbaru. Yess! "

__ADS_1


Ji yang paling diuntungkan, tentu dia merasa senang dan segera berjalan menuju kamar


" Cih siapa sangka kakakku yang dingin dan kejam, ternyata juga bisa seperti anak kecil jika dengan kak Bi dan papi "


__ADS_2