Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Kita harus menemukan penyebab meninggalnya ayah


__ADS_3

Disuatu pulau terpencil di negara A.. Ed mulai berenang ke tepi pantai setelah terombang ambing selama beberapa jam di laut biru dengan sebuah koper yang membatunya terapung


" Toloonng... toloooong "


Suaranya terdengar begitu pelan, bahka hampir tidak terdengar,,, Ed hampir tidak memiliki tenaga, badannya lemas, tenggorokannya terasa kering. suaranya seakan hilang dari tenggorokan.. Akhirnya dia kembali hilang kesadaran


" Lihat itu, ada seseorang yang tergeletak dipinggir pantai! "


Teriak seorang nelayan yang melihat Ed tengah tak sadarkan diri diatas pasir, dengan badan basah kuyup dan luka - luka disekujur tubuhnya


" Benar, kita lihat dia, apakah masih hidup atau tidak? "


Beberapa nelayan segera berlari menghampiri Ed yang tengah tidak sadarkan diri. Mereka membalikkan badan Ed untuk melihatnya


" Apakah diantara kalian ada yang mengenal pria ini? "


Tanya nelayan yang pertama kali menemukan Ed, namanya Paul. Para nelayan saling menoleh kemudian menggelengkan kepala


" Aku tidak mengenalnya, tapi kurasa wajahnya pernah aku lihat sebelumnya. Hanya saja aku lupa dimana aku pernah melihatnya "


Jawab salah seorang nelayan dengan wajah yang seakan berfikir


" Baiklah. Kita bawa dia ke rumahku dulu untuk diobati. Panggilkan juga dokter untuk memeriksanya " Pinta Paul kepada kepada nelayan lain.


" Baik, biar aku saja yang memanggil dokter! "


Seorang nelayan berlari untuk memanggil dokter. Paul dan beberapa orang lainnya mengangkat Ed dan membawanya ke rumah Paul, yang rumahnya terletak tidak terlalu jauh dari pantai


Mereka membaringkan Ed secara perlahan diatas tempat tidur yang terbuat dari bambu.


" Sepertinya dia bukan dari daerah sini. Dari penampilannya juga,, dia sepertinya bukan orang biasa "


" Benar, dia putih dan tinggi. Pakaian dan jam tangan yang dia kenakan juga terlihat mahal "


" Dokternya sudah tiba disini! "


Kata nelayan yang tadi memanggil dokter


" Permisi, biar saya memeriksanya terlebih dahulu "


Seorang gadis cantik berjalan melewati kerumunan nelayan dengan mengenakan snelli dan membawa koper medis yang dia perlukan untuk pengobatan. Namanya dokter Mitha


" Bagaimana keadaannya dok? "


Tanya paul kepada dokter Mitha


" Sepertinya dia terlalu lama berada di air dan luka di kepalanya juga membuatnya kehilangan cukup banyak darah hingga dia menjadi lemah. Tapi sekarang kondisinya sudah lebih baik. Hanya saja kita belum tahu, kapan dia akan sadar "


Dokter Mitha menjelaskan dengan sabar dan ramah. Dia terus memandangi wajah Ed


" Kalian bisa membawanya ke klinik jika merasa kerepotan untuk merawatnya! "


dokter Mitha menawarkan


" Tidak apa dok. Kondisi laut sedang pasang. Kami tidak bisa melaut, jadi saya bisa merawatnya. Mungkin nanti saya akan memanggil kembali dokter jika dia sudah sadar "

__ADS_1


Jawab Paul dengan sopan


" Baiklah. Ini obat penghilang rasa sakit, dan lukanya jangan dulu terkena air. Ganti perbannya dan bersihkan lukanya setiap hari, agar tidak terjadi infeksi "


" Baik dok. Saya mengerti "


" Kalau begitu saya permisi kembali ke klinik " Pamit dokter Mitha yang kemudian langsung berbalik


" Biar saya antar dok! "


Kata nelayan yang sebelumnya menjemput dokter Mitha


" Apakah ada tanda pengenalnya? "


Tanya salah seorang nelayan


" Sepertinya tidak ada. Disaku celananya sama sekali tidak ada pengenalnya "


" Kalau begitu kita hanya bisa menunggunya sadar untuk menanyakan identitasnya! "


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vio dan Leo telah tiba di kantor dan langsung menemui Fabian


Tok tok tok


" Masuk! "


Fabian mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya


" Apa kabar ayah? Pak Jek bilang kalau ayah ingin menemuiku. Apa ada sesuatu yang penting? "


Tanya Leo yang baru saja masuk ruangan Fabian diikuti Vio yang berjalan dibelakangnya


" Halo om. Apa kabar? "


Sapa Vio dengan sopan


" Kabar saya baik nak Vio. Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Maaf om langsung meminta kalian datang kemari tanpa membiarkan kalian istirahat terlebih dahulu "


" Tidak papa om. Kali sama sekali tidak merasa lelah "


" Yah, apa ayah baik - baik saja? Wajah ayah terlihat pucat "


Tanya Leo yang sedang berdiri dihadapan ayahnya, dia terlihat khawatir melihat wajah ayahnya yang pucat


" Ayah tidak papa. Ayah ingin memberikanmu ini. Ini kunci brangkas dimana ayah menyimpan surat - surat berharga milik kita. Brangkasnya berada di bank. Kamu hatus menjaga semua surat itu dengan baik. Jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah "


" Kenapa ayah memberikan kunci ini kepadaku? Kita bisa menjaganya sama - sama "


" Kamu sudah besar. Ayah yakin kamu bisa menjaganya dengan baik. Ayah tidak bisa selalu berada disisimu. Ayah bisa pergi meninggalkan mu kapan saja. Karena itu ayah harus memberikan ini padamu sebelum terlambat "


Fabian tersenyum lembut dengan wajah yang semakin pucat


" Kenapa ayah berkata seperti itu? Aku tidak mengerti, dan aku tidak mau menerima kunci ini. Jadi Leo mohon, agar ayah mengambil kembali kuncinya "

__ADS_1


" Nak ayah tidah bisa.. Ach! "


Tiba - tiba Fabian memegangi dadanya yang sepertinya tersa sakit


" Ayah! "


" Om! "


Leo dan Vio tiba - tiba berteriak. Wajah mereka berubah panik dengan mata yang membelalak begitu melihat Fabian. Leo dengan cepat berlari ke samping Fabian di ikuti Vio..


" Pak Jek! Pak Jek! "


Teriak Leo yang kini menyanggah leher Fabian ditangannya


" Nak ka mu harus ku at! Ka mu tidak bo leh lemah. Dan ka mu ti dak bo leh ka lah da lam per tempuran "


Fabian memaksakan perkataannya meskipun dengan terbata - bata


" Ayah harus bertahan! "


Air mata kini mengalir dari mata indahnya


" Nak Vi o, om ti tip Leo. To lo ng ja ga dia, te ma ni dia selalu. Jangan bi ar kan dia ber sedih! "


Pesannya kepada Vio yang juga telah berderai air mata


" Baik om. Vio akan selalu menemani kak Leo. Vi tidak akan membiarkan kak Leo bersedih, dan Vio tidak akan pernah meninggalkannya sendiri.. hiks.. hiks.. hiks.. "


" Tuan muda memanggil saya? Tuan! "


Jek yang baru masuk sangat terkejut melihat keadaan tuan besarnya yang tak berdaya


" Jek, jaga putra ku. Te mani dia dan ja ngan per nah ting galkan dia"


" Baik tuan! "


Jawab Jek dengan patuh. Dia adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Fabian..


" Ayaaah!!! hiks... hiks.. hiks...,"


Leo berteriak, menangis begitu Fabian menutup matanya


" Kak Leo bersabarlah. Semoga Om Fabian bisa tenang disana! "


Vio memegang pundak Leo dan berusaha menguatkannya


" Pak Jek, apa ayah punya riwayat penyakit? "


Tanya Leo dengan nada dingin namun air mata masih tetap mengalir dimatanya


" Tuan selama ini memang sakit, namun kondisinya semakin membaik setelah tuan muda pulang. Dokter pun mengatakan hal yang sama. Saya tidak tahu kenapa tuan tiba - tiba "


Jawab Jek dengan suara sendu


" Kita harus menemukan penyebab meninggalnya ayah. Jangan sampai ayah meninggal sia - sia "

__ADS_1


" Baik tuan muda. Kita akan memanggil pihak rumah sakit untuk memeriksa jenazahnya! "


__ADS_2