
Tok tok tok
Suara ketukan membuat mereka semua menoleh kearah pintu secara bersamaan..
Tak lama munculah dari balik pintu dokter Rudi bersama seorang suster
" Permisi, saya akan memeriksa keadaan pasien Mili dan kita akan melepaskan perbannya sekarang!" Katanya sambil berjalam melangkah mendekati ranjang Mili
" Bagaimana nona? Apa kamu merasakan sesuatu pada lukamu? "
" Tidak dokter. Tidak ada sesuatu yang terjadi padaku " Jawab Mili yang masih sedikit kesulitan karena perban yang melingkar diwajahnya
" Apa kamu sudah siap nona? Kita akan membuka perban di wajahmu sekarang! "
Kata dokter dengan nada yang begitu tenang, namun tetap saja membuat Mili gemetar tak karuan
Dokter mulai menggunting ujung perban. Sedikit - seditnya membuka perban dengan menggulungnya agar tidak berantakan. Mili memejamkan mata dan menggenggam selimutnya dengan erat. Terlihat tangannya yang gemetar. Biru memperhatikan dari tempat tidurnya.
Dokter Rudi mulai membuka perban dari kepala bagian belakang. Digulung terus hingga terlihat bagian sekitar mata, digulung lagi hingga bagian hidung. Lantas digulungnya lagi hingga ke bagian mulut. Dari situ sudah mulai terlihat wajah mulus Mili tanpa ada luka bakar. Hanya saja... wajah Mili sekarang berubah dari sebelumnya. Setelah perban dilepas semuanya, semakin jelas terlihat perubahan wajah Mili. Dia tetap telihat cantik, tak berbeda dari sebelumnya
" Bukalah matamu dan lihatlah ke cermin! "Suster menempatkan sebuah cermin di hadapan Mili. Perlaham dia membuka mata dan menatap wajah barunya di cermin
" Apakah ini aku? " Tanya Mili tak percaya sambil memegangi wajahnya dan melihat ke cermin
" Kamu tetap cantik, sayang " Kata Biru dengan suara lembut dan senyumnya yang memukau. Mili menoleh pada Biru sambil tersenyum kemudian dia kembali menoleh pada dokter
" Terimakasih dokter " Kata Mili sambil tersenyum pada dokter
" Sama - sama. kalau begitu saya permisi! "
Dokter dan suster tersenyum kemudian berjalan meninggalkan ruangan Biru.
Mili masih terus memegangi wajahnya kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Biru dan duduk disampingnya
" Bi apa kamu tidak masalah dengan wajahku yang sekarang? " Tanyanya khawatir. Biru tersenyum dam membelai wajah lembutnya
" Sudah ku katakan aku tidak memiliki masalah dengan wajahmu, aku mencintaimu karena kebaikanmu bukan karena wajahmu "
__ADS_1
" Kak Mili cantik ko. Serius deh! "Kata Vio sambil mengangkat kedua jarinya
" Terimakasih Vio " Kata Mili lembut
" Besok kalian akan keluar dari rumah sakit. Sekarang kami akan kembali ke hotel. Besok pagi papi akan mengurus semuanya "
" Terimakasih pih "
Kata Biru lembut. Yudha tersenyum kemudian menggandeng Gina berjalan keluar meninggalkan ruangan Biru
" Ed antar Ji pulang. Dia harus istirahat " Kata Yudha saat melewati Ji dan Ed
" Baik om! "
" Bi, aku juga akan pulang dulu. Besok aku akam mampir kesini sebelum ke JB Companies " Ji berkata pada Biru. Saat tangan Ed sudah melingkar di pundak Ji
" Baik. Hati - hati dalam perjalanan kalian "
Vio, Ji dan Ed berjalan pergi
Tinggallah Mili dan Bi berdua diruangan
"Bi, sekarang aku sudah sembuh. kamu harus menceritakan bagaimana kondisi mu saat ini!" Mili meminta Biru menjelaskan dengan wajah yang memaksa
"Dokter mengatakan kalau kakiku mengalami keretakan, sehingga butuh waktu untukku sembuh dan bisa berjalan lagi seperti sebelumnya. Aku juga harus melakukan terapi rutin "
Mili langsung memeluk Biru dan menangis dipelukannya
" Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Maaf Bi, ini karena aku, sehingga kamu berurusan dengan Bayu.. hiks.. hiks.. hiks.
sebelumnya juga karena aku, sehingga Ji mendapatkan bekas luka ditubuhnya. Aku membuat kalian menderita "
Biru mengelus lembut punggung Mili berusaha menenangkannya
" Aku dan Ji tidak apa. Kami bisa sembuh lagi. Aku justru takut, kalau aku akan menjadi beban untukmu "Kata Bi sendu. Mili melerai pelukannya dan berkata dengan mata yang masih berkaca - kaca
" Bi, aku berterimakasih karena kamu telah membebaskanku dari mama. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Aku bersyukur memilikimu. Aku akan selalu berada disampingmu. Kamu pasti sembuh dan aku akan selalu mememanimu "
" Terimakasih sayang, emhhmmm "
__ADS_1
Biru meraih tengkuk Mili, memiringkan sedikit kepalanya, memejamkan mata dan dengan lembut mencium bibirnya, merasakan manisnya bibir Mili. Lidah mereka saling bertemu dan mereka tenggelam dalam suasana romantis mereka
Biru melepaskan ciumannya setelah Mili sudah mulai terengah - engah karena kehabisan napas. Biru tersenyum lembut dan membelai wajah Mili
" Setelah kita keluar dari sini, kita akan mulai menyelesaikan urusan dengan mamamu. Kita akan jadi saingan bisnisnya dan merebut semua tender yang akan dia ambil. Aku ingin kamu yang bertanggung jawab atas tender yang berhubungan dengan perusahaan mamamu! "
Kata Biru dengan nada dinginnya
" Baik Bi, aku mengerti "
*****
" Vi, besok kami akan ke negara A. Apa kamu masih ingin disini atau pulang bersama dengan kami? Kurasa papi dan mami juga akan pulang bersama kami " Kata Ji sambil sesekali menoleh ke kursi belakang dimana Vio duduk
" Aku akan ikut pulang dengan kalian. Aku sudah bosan disini. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan disini "
Kata Vio dengan sesekali mengerucutkan bibirnya
" Ku kira kamu akan tinggal disini dan menjalin hubungan dengan teman Biru itu! " Kata Ed yang ikut bicara sambil mengemudi
" Hah,kak Rian itu?
Aku tidak yakin sama dia kak. Dengan sikap dia kemarin yang tidak melakukan apa - apa saat teman wanitanya mempermalukan aku. Sepertinya dia bukan pria yang bertanggung jawab dan dapat melindungiku. Aku tidak ingin pria seperti itu. Aku ingin memiliki pendamping seperti papi yang dapat selalu menjaga dan melindungiku. Semoga saja aku bisa menemukan pria seperti itu " Vio berkata sambil menatap ke langit - langit mobil seperti berkhayal
" Yaa semoga saja kamu bisa menemukan pria seperti itu. Tapi Vi, Rian itu anak keluarga terpandang juga loh " Ji tersenyum dan berusaha menggoda Vio
"Kak Ji, kakak lupa kalau kita anak dari raja bisnis? Aku tidak memerlukan harta keluarga lain. Karena kita sudah memilikinya sendiri. Justru kalau keluarga Rian itu tahu, Rian berusaha mendekatiku. bisa saja mereka memanfaatkan ku untuk keuntungan bisnis mereka . Iya kan? Aku ingin punya pacar yang tidak tahu jati diriku sebenarnya "
" Itu tidak mungkin, karena wajahmu itu selalu terpampang di majalah bisnis sebagai putri sang raja bisnis. Akan sulit sekali jika kamu berpura - pura menjadi orang biasa " Kata Ji mencibir
" Kak Ji bukannya membantuku malah menyudutkanku. huh " Vio memalingkan wajah dan menatap keluar jendela mobil karena kesal
" Sudahlah jangan marah lagi. Jika tiba waktunya kamu akan menemukan seseorang yang terbaik untukmu dan akan jadi teman hidupmu.. Bahkan jika itu Rian. kamu tidak akan bisa menyangkalnya. Jika dia adalah yang terbaik untukmu "
" Hentikan kak. Jangan bahas pria bodoh itu "
" Baiklah, bagaimana kalau kamu melamar pekerjaan di perusahaan orang lain sebagai karyawan biasa? Mungkin di negara ini tidak ada yang mengenalmu seperti di negara A. Siapa tahu kamu menemukan seseorang yang bisa menjadi tambatan hatimu? " Kata Ji berusaha mengusulkan
" Ide kaka bagus juga. Baiklah akan aku coba. Dan aku tidak akan kembali ke negara A. Tapi, aku boleh tinggal di apartemen kak Ji ya? " Mata Vio seakan berbinar meminta izin dari kakaknya
__ADS_1
" Baiklah, tapi jangan sampai orang lain tahu kalau kamu tinggal di apartemen ku. Orang akan curiga jika karyawan biasa menempati apartemen mewah " Kata Ji sambil tersenyum
" Oke, deal "