
Sementara Laura tengah sibuk menghadapi para awak media. Media online kali ini menyerang Jendral bram sebagai ayah yang tidak bisa mendidik putrinya
" *Bagaimana bisa putri seorang Jendral memiliki sifat seperti itu? Apa ayahnya sama sekali tidak mengajari putrinya bagaimana caranya bersikap dengan benar? "
" Benar sekali. Seorang Jendral harusnya bisa mendidik putrinya dengan sedikit tegas! "
" Apa karena ibunya Laura itu sudsh meninggal jadi tidak ada yang mengajarinya dirumah? "
" Bagaimana bisa orang seprti itu menjadi Jendral dan jadi pedoman untuk bawahannya? "
" Benar, dia sama sekali tidak pantas menjadi Jendral dan memerintah bawahannya*! "
Bram yang melihat postingan di berbagai media online itu mengalami tekanan publik yang begitu hebat atas nama jabatannya. Akhirnya dia memutuskan kembali ke markas
" Pak kita putar balik ke markas besar "
Katanya kepada supir
" Baik pak! "
Supir mengiyakan dan kembali mengendarai mobil menuju pangkalan besar militer
Setibanya disana, Bram langsung masuk ke ruangannya, cukup lama dia berada di dalam seraya berfikir akhirnya dia memutuskan membuat surat pengunduran diri.
Seperti yang diperkirakan Yudha sebelumnya tekanan publik yang begitu besar akan membuatnya malu atas jabatan yang dia miliki.
Setelah beberapa lama berada di dalam ruangan, akhirnya dia keluar dengan membawa selembar surat pengunduran diri dan langsung menyerahkannya. Setelah selesai dia keluar hendak meninggalkan markas besar militer dengan kepala tertunduk. Tidak ada satupun yang tahu kalau dia telah menyerahkan surat pengunduran diri.
Namun dia menyadari tatapan berbeda dari semua orang dibelakangnya. Ketika dia melewati tentara lain mereka tersenyum dan menyapa dengan hormat, namun begitu dia melewatinya tatapan mereka berubah.
Bram terus berjalan tanpa menghiraukan mereka dan dia memutuskan kembali ke rumah sakit untuk membawa putrinya pulang. Namun begitu dia tiba disana Laura sedang berteriak dan mengamuk di antara kerumunan wartawan. Para suster terlihat berusaha membujuk dan menenangkannya
" Jangan dekati aku. Menjauhlah dariku! Aku tidak butuh kalian. Aku ingin Ed. Aku akan menikah dengannya. Kami akan hidup bahagian. Menjauh kalian dariku! "
Laura terus saja berteriak.
Bram menitikan air mata menyaksikan keadaan putrinya saat ini.
" Maafkan papa sayang. Papa tidak bisa menjagamu dengan baik " Katanya melihat Laura. Setelah beberapa lama akhirnya suster berhasil memegang Laura dan menyuntikan obat penenang
" Lepaskan aku, aku ingin mencari Ed, aku ingin menemuinya! "Kata Laura dengan suara yang semakin melemah. Bram mengikutinya dari belakang.
Laura dibawa kembali ke kamarnya. Tangan dan kakinya di ikat pada ranjang pasien menggunakan lakban. Bram merasakan hatinya begitu hancur melihat kondisi sang putri
" Dokter, bagaimana kondisi anak saya? Pa yang terjadi dengannya? "
Tanya Bram kepada dokter yang baru saja memeriksa Laura
" Dia mengalami depresi. Tekanan yang diterimanya dari sekelilingnya terlalu besar, sehingga dia menjadi terguncang seperti ini. Kita akan melakukan pemeriksaan selanjutnya setelah dia sadar. dan jika kondisinya tidak membaik, maka dengan terpaksa dia harus dirawat dirumah sakit jiwa hingga keadaannya membaik! "
__ADS_1
Dokter menjelaskan perlahan
" Terimakasih banyak dokter! "
Kata Bram dengan suara lemah dan wajah yang kusut
" Kalau begitu saya permisi! "
Kata dokter yang dibalas anggukan oleh Bram
" Kaura sayang bagaimana bisa jadi seperti ini? Obsesimu telah menghancurkan kita berdua! "
Berita menyebar dengan cepat, banyak stasiun televisi yang menyiarkan kondisi terbaru yang Laura alami
" Ini pantas kalian dapatkan. Kalian sendiri yang mencari mati dengan mengganggu putri dari keluarga Kusuma "
Yudha yang menontom berita televisi tersenyum puas setelah melihat berita terkini
******
Ditempat lain Vio selalu disibukkan dengan permintaan direkturnya yang selalu menyulitkannya
" Vio apa kamu tidak bisa membuat proposal dengan benar? Bagaimana bisa kamu membuat proposal pengajuan seperti ini? Tidak ada rincian dana yang akan dikeluarkan atau dibutuhkan "
Rian mengomeli Vio karena masalah proposal padahal ini udah ke 2 kalinya dia myusunnya
" Tapi pak direktur , sebelumnya bapak bilang hanya perlu revisi untuk jumlah dana yang dibutuhkan saja. Tidak perlu menggunakan rincian untuk apa saja dana itu akan dikeluarkan! "
" Iya, sebelumnya memang begitu. Tapi menurutku, akan lebih transparan jika kita menyebutkan untuk apa saja dana itu akan digunakan! "
" Baik pak, akan saya revisi ulang! "
Kata Vio dengan wajah kesal yang menahan marah sambil berbalik hendak meninggalkan ruangan Rian
" Vio, aku sudah bilang akan membuatmu merasa tidak betah jadi karyawan biasa. Dan memutuskan kembali sebagai jati dirimu sebagai putri dari raja bisnis. Setelah itu aku akan melamarmu agat saham perusahaan ku ikut naik karena hubungan kita "
Gumam Rian sambil melihat Vio yang telah keluar dari ruangannya..
" Dasar direktur gila. Bagaimana bisa dia menjabat sebagai penerus keluarga dan mewarisi perusahaan jika dia sama sekali tidak menghargai pekerjaan orang lain! "
Brukk
Vio yang kesal kembali ke meja kerjanya setelah memberikan proposal pengajuan dari ruang Rian. Dia melempar proposal itu ke atas meja dengan keras.
" Kenapa lagi? Apa direktur membuat masalah lagi? "
Kata Leo mendekati Vio dengan segelas air putih ditangannya
" Minumlah dulu! supaya kamu bisa merasa lebih tenang! "
__ADS_1
Kata Leo sambil memberikan gelas berisi minum itu kepada Vio
"Makasih kak Leo. Aku bisa gila jika harus selalu menghadapi direktur gila seperti dia "
Kata Vio sambil meraih gelas yang diberikan Leo
" Aku tidak mengerti, sebenarnya kenapa direktur bersikap seperti itu padamu? Sedangkan sikapnya terhadap karyawan lain baik - Bbaik saja! "
" Entahlah. Mungkin dia memang bersikap diskriminatif terhadapku! Kita lihat saja, sampai kapan dia akan bersikap seperti itu! "
Vio berkata dengan senyum sinis di bibirnya
" Sudahlah, apa yang harus diganti? "
Tanya Leo sambil meraih proposal Vio
" Katanya aku harus mencantumkan rincian pengeluaran untuk apa saja dana itu akan digunakan! "
" Baiklah, biar aku membantumu "
" Terimakasih kak Leo. kak Leo adalah penyelamat ku! "
Kta Vio dengan antusias. Vio pun berhasil menyelesaikannya dengan cepat atas bantuan Leo.
" Sudah selesai. Cepat serahkan padanya! "
Kata Leo sambil menyerahkan proposal baru yang telah dia print
" Baik. Aku akan segera menyerahkan padanya! "
Vio berdiri dan beranjak memasuki ruang Rian
Tok tok tok
" Masuk! "
Ceklek
" Permisi pak, ini proposal yang anda minta untuk di revisi! "
Vio berjalan mendekati Rian dan menyerahkan proposalnya. Rian menerima proposal tersebut lalu memeriksa isi proposal
" Nah, ini baru proposal yang perfect. Kamu mengerjakannya dengan baik. Lain kali kamu harus mengerjakannya dengan lebih teliti "
Kata Rian dengan senyum manis
" Terimakasih pak. Lain kali, bapak harus meminta kak Leo yang menyusuk proposal, karena aku tadi dibantu olehnya! "
Kata Vio dengan senyum mencibir sambil meninggalkan ruangan Rian
__ADS_1
" Sial! Aku salah lagi. Lagi - lagi yang aku puji adalah pekerjaan Leo. Bagaimana aku bisa mendapatkan perhatiannya? "
Gumam Rian melihat Vio pergi