
Leo memeriksa setiap rekaman CCTV yang ada disekitar kantor untuk mencari hal yang mencurigakan..
Jenazah Fabian masih dalam proses otopsi di rumah sakit. Semua orang terkejut setelah mendengar Fabian meninggal secara mendadak. Termasuk Yudha yang saat itu hendak menghubungi Ji setelah melihat berita jatuhnya pesawat yang Ed tumpangi ketika Vio juga menghubunginya
" Halo papi "
Sapa Vio ketika sang ayah telah menerima telepon darinya
" Halo sayang. Apa kamu sudah tiba di kota selatan? "
Tanya Yudha kepada sang putri bungsu
" Pih, Vio mau kasih tahu papi kalau.. Om Fabian telah meninggal "
" Apa? Tuan Fabian meninggal? Bukankah dia sehat - sehat saja? "
Tanya Yudha yang cukup terkejut mendengar kematian teman bisnisnya
" Iya pih. Jenazahnya langsung di bawa ke rumah sakit karena kak Leo curiga kalau om Fabian meninggal karena dibunuh. Papi, apa papi bisa datang kemari? "
Terdengar suara sedih dari Vio. Yudha terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Vio
" Sepertinya papi harus segera berangkat ke negara F. Ji saat ini sedang membutuhkan dukungan papi "
" Ada apa dengan kak Ji pih? Apa kak Ji baik - baik saja? "
Tanya Vio yang begitu panik
" Mungkin raganya baik tapi entah hantinya, karena itu papi harus segera menjemput kakak mu. Papi melihat berita, bahwa pesawat yang Ed tumpangi mengalami kecelakaan di sekitar laut Biru. Dan Ed terdaftar sebagai salah satu penumpang yang hilang "
" Apa pih? Pesawat yang kak Ed tumpangi mengalami kecelakaan? Kak Ji pasti sangat sedih saat ini. Vio ingin menemani kak Ji, tapi kak Leo juga butuh Vio disampingnya "
Suara Vio terdengar lirih, air mata sudah mulai menetes di wajah cantik Vio. Dia tahu betul, meskipun selama ini kakaknya itu kuat dan tegar. Tapi ketika terjadi sesuatu pada orang terdekatnya. Dia akan sangat rapuh, seperti ketika kecelakaan Boru dan Mili
" Kamu temani saja Leo. Biar papi yang temani Ji. Mungkin sangat berat untuk kakakmu berada disana sendiri saat ini, jadi papi akan bawa dia pulang kemari. Sampaikan salam papi pada Leo. Katakan padanya jika dia butuh bantuan, maka dia bisa menghubungi papi kapan saja! "
__ADS_1
" Baik pih, akan Vio sampaikan pada kak Leo. Sampai jumpa papi! "
Vio mengakhiri panggilan teleponnya dengan Yudha. Leo yang berada di sebelah Vio dapat mendengar sedikit percakapan Vio dengan Yudha melalui telepon sebelumnya
" Apa yang terjadi dengan Edward? Aku dengar tadi kamu menyebut kecelakaan? "
Tanya Leo yang penasaran
" Benar. Kak Ed berniat pulang kenegara A, tapi pesawat yang kak Ed tumpangi mengalami kecelakaan disekitar laut Biru. Kata papi, kak Ed terdaftar sebagai salah satu penumpang yang hilang. Kak Leo kenapa sesuatu yang buruk harus menimpa om Fabian dan kak Ed? Hiks.. hiks.. hiks... Mereka orang baik tapi kenapa nasib mereka buruk? hiks.. hiks.. hiks... "
Leo merengkuh Vio dalam dekapannya, diapun ikut meneteskan air mata mengenang sang ayah yang belum lama bertemu lagi dengannya setelah sekuan lama terpisah
" Aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena aku juga masih tak dapat menerima apa yang telah terjadi pada ayahku "
Air mata Leo mengalir membasahi kepala Vio. Vio melerai pelukan Leo dan melihat wajah sang pria dibasahi oleh air mata
" Maaf kak Leo aku malah ikut menangis. Bukannya menenangkan kak Leo. Kak Leo tidak perlu khawatir karena aku ada disamping kakak, dan akan selalu mendukung setiap langkah yang kak Leo ambil "
Kata Vio dengan senyum sambil menghapus air mata Leo dengan tangannya
Leo menyandarkan kepalanya di bahu Vio
\=\=\=\=\=\=\=\=
Ji telah kembali ke apartemennya setelah diantar oleh Biru. Biru meminta Adel juga Bina untuk menghendel JB Companies untuk sementara waktu
" Ji, apa tidak lebih baik kalau kamu ikut pulang kerumah ku? Disini kamu hanya seorang diri. Atau aku temani kamu saja disini? "
Biru yang terlihat begitu khawatir melihat kondisi adik kembarnya saat ini
" Aku tidak papa. Ini sudah gelap, kamu pulang saja! Kasihan Mili seorang diri dirumah. Kamu bilang neneknya Mili telah pulang kampung "
Ji berusaha tersenyum saat menatap mata Biru, tapi itu justru membuat Biru semakin bersedih. Diapun kembali memeluk Jingga
" Menangislah, jika itu bisa membuatmu tenang. Menangislah, jika memang itu bisa meluapkan gejolak emosi yang ada di hatimu. Ji, aku tahu kamu ingin terlihat kuat tapi kamu tentu boleh bersikap lemah ketika dihadapanku. Kamu tidak harus terlihat sempurna dimata ku "
__ADS_1
Jingga kembali menitikan air mata, dia memeluk Biru dengan sangat erat
"Bi, aku sungguh takut. Aku takut kalau tuan Jendral tidak selamat. Aku benar - benar takut. Aku seperti kehilangan arah. Hidup ku seakan tak berarti saat ini Bi. Aku ingin pergi bersama dengannya. Aku ingin menemaninya kemanapun Bahkan jika mati sekalipun, aku ingin tetal bersama dengannya hiks.. hikh.. hiks..
" Apa yang kamu bicarakan Ji?! Kamu itu Jingga, jingga yang kuat menghadapi apapun. Lagipula kita belum tahu keadaan Ed. Kamu tidak boleh ceroboh! Kita masih punya harapan. Kita belum mencarinya. Kamu tidak boleh putus asa seperti itu! "
Biru dengan cepat melerai pelukannya dengan Ji dan berteriak padanya
" Hiks.. hiks.. hiks.. "
Ji hanya diam tanpa mengatakan apapun lagi
"Apa kamu mau aku disini untuk menemanimu lebih lama? Aku bisa tidur disini "
" Tidak perlu hiks.. hiks.. hiks.. kamu pulang saja. Kasihan Mili. Lagipula aku ingin sendirian saat ini "
Ji menggelengkan kepala dan menjawab Biru disela isak tangisnya
" Ya sudah aku pulang. Jika kamu butuh sesuatu katakan saja padaku! Aku akan segera kembali kemari kapanpun kamu membutuhkanku! "
Kata Biru dengan memegangi kedua pipi Ji agar mata mereka saling menatap. Ji tidak mengatakan apapun, dia hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban
Biru dengan berat hati berjalan keluar dari apartemen Ji. Ada kekhawatiran yang hebat dalam hatinya, namun seperti kata Ji, dia butuh ruang untuk sendiri, dimana dia bisa meluapkan semua emosinya
Ji meraih ponselnya, dia kembali mencoba menghubungi Ed, berharap kalau keajaiban terjadi
Tuut tuut tuut
Berkali - kali Ji mencoba menghubunginya namun tidak berhasil. Dia kembali membuka ponselnya dan melihat photonya bersama Ed yang terkadang Ed ambil ketika Ji lengah
" Tuan Jendral, kamu dimana? apa kamu baik - baik saja? "
Ji menatap keluar jendela dimana malam ini terdapat banyak bintang bertaburan dilangit dengan cahaya bulan penuh yang begitu indah, Kamar Ji yang gelap tanpa cahaya lampu, kini begitu terang dengan cahaya bulan yang juga menemaninya dalam keheningan
" Kuharap bulan dan bintang malam ini juga ada bersama mu dan mewakilkanku menyampaikan rasa rinduku padamu.. hiks.. hiks.. hiks.. "
__ADS_1
Ji kembali terduduk dilantai dengan memeluk lutut dan membenamkan kepalanya. Ia menangis tersedu - sedu memikirkan sang kekasih yang entah berada dimana