
Ji menatap tak percaya pada apa yang dikatakan Ed
" Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Kenapa kamu begitu baik padaku? "
" Karena kamu adalah gadis kecilku. matahariku. sumber cahaya hidupku. Sudah lama aku mencari mu, aku tidak akan membiarkanmu jauh lagi dari sisiku. Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu tetap berada disampingku! "
Air mata Ji sudah tak terbendung lagi. Dia terisak menatap Ed. Ed menghapus air mata Ji dengan ibu jarinya
" Sudahlah, berhenti menangis! Mulai sekarang, air mata ini dilarang keras untuk jatuh dan membasahi pipimu! Ayo, habiskan makananmu, setelah itu kita kembali untuk beristirahat.
Setelah selesai makan, Ed kembali membawa Ji ke kamarnya. Disana sudah ada Yudha, Gina dan Vio
" Kalian dari mana? kami mencari - cari Ji kemana - mana, takut sesuatu hal yang buruk terjadi lagi padanya! "
Kata Gina terlihat khawatir
" Maaf om, tante. Saya membawanya ke kantin untuk makan malam! Maaf membuat kalian khawatir! "
" Tidak apa Ed, kami senang jika ada yang menemani Ji. Sekarang kami akan pulang dulu . Ji istirahatlah. Nanti papi dan mami kesini lagi "
Ji menganggukkan kepala dan berkata " Hati - hati dijalan pih, mih! "
Yudha,Gina dan Vio peegi meninggalkan rumah sakit. Tinggallah Ed yang menemani Ji dirumah sakit
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bi sudah kembali bekerja seperti biasa, setelah beberapa lama dia sibuk hanya mengerjakan pekerjaan penting yang dia bawa kerumah sakit.
Bahkan karena kesibukannya, Bi sampai lupa untuk makan siang.
Bina yang tahu kalau bosnya sedang sangat sibuk,. berinisiatif membelikan makan siang untuk Bi. Mereka dekat hanya sebatas atasan dan bawahan saja, tapi itu bagi Bi. Tidak bagi Bina dan karyawan lainnya.
__ADS_1
Dan ketika Bina sedang memesankan makanan untuk bosnya, karyawan lain mendekatinya
" Bina, kamu bungkuskan makanan untuk siapa? Tadi kan kamu sudah makan! "
Salah satu rekannya bertanya dengan wajah penasaran
" Tidak, ini untuk pak Biru. Dia sangat sibuk sampai tidak sempat makan siang "
Bina bicara dengan tenang tapi wajahnya merona
" Bina, kamu beruntung banget sih, bisa selalu berdekatan dengan pak Biru. Dia itu dingin banget dan terlalu pendiam. Tapi sepertinya saat bersama denganmu dia tidak terlalu diam, dan mau berbicara banyak denganmu "
" Iya benar, pak Biru juga mau menatap Bina saat bicara. Sedangkan kita. Tidak pernah dianggapnya sama sekali "
" Benar Bina beruntung sekali ya. Apa mungkin pak Biru punya perasaan sama kamu? "
" Kalian ini bicara apa? Aku dan pak Biru tidak ada hubungan apa - apa. Kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja "
" Kalau begitu aku duluan ya! "
Bina pamit lebih dulu kembali ke kantor setelah pesanannya selesai.
Bina membeli makanan di restoran yang tidak jauh dari kantornya. Jadi tidak membutuhkan waktu lama untuknya tiba lagi dikantor. Dia langsung menuju ruangannya Biru.
Dia mengetuk pintu kantor Biru
Tok tok tok
" Masuk! "
Setelah mendapatkan izin atasannya, Bina langsung masuk ke dalam kantornya Biru
__ADS_1
Ceklek
Dilihatnya bosnya itu sedang melakukan pangggilan telepon di kursi putar kebesarannya dengan menghadap ke jendela luar, sehingga posisinya membelakangi Bina
" Kalau begitu sudah dulu ya. Nanti aku hubungi lagi! "
Bina tidak melihat ekspresi wajah Biru yang lembut dan begitu mesra saat melakukan panggilan. Hanya kalimat akhir saat Biru mengakhiri panggilan saja yang terdengar samar oleh Bina ketika dia masuk ke dalam ruangan Biru
Biru memutar kursinya dan menghadap Bina
" Ada apa? Apa ada masalah penting? " Biru bertanya dengan tenang
" Tidak ada pak. Saya hanya membawakan makan siang untuk bapak " Bina mengatakannya dengan sedikit gugup dan reaksi Biru adalah mengernyitkan dahinya heran
" Sepertinya bapak sangat sibuk, sampai tidak sempat untuk makan siang, jadi saya belikan makan siang di restoran dekat sini "
Biru semakin heran dibuatnya
Ada apa dengan gadis ini? Kenapa sikapnya jadi sedikit aneh?
" Terimakasih, tapi harusnya kamu tidak perlu repot - repot, aku bisa pergi sendiri saat waktuku senggang "
" Tidak apa pak,. Sama sekali tidak merepotkan. Silahkan pak! "
Biru awalnya ingin meolak, tapi dia merasa tidak enak karena Bina sudah membelikannya
Bina tersipu karena makanannya diterima Biru. Awalnya dia tidak pernah berpikir macam - macam, tapi setelah apa yang dikatakan rekan - rekannya tadi, dia mau tidak mau jadi memikirkannya
" Apa iya pak Biru memiliki rasa padaku? Tapi sepertinya yang tadi teman - teman katakan itu ada benarnya juga. Pak Biru kan sudah berkali - kali menolongku. Dia hanya bicara santai dan lembut padaku saja dikantor ini. Dan juga dia selalu bersikap baik padaku "
Pikir Bina sambil terus memandangi wajah Biru tanpa berkedip
__ADS_1
" Aku ingin memilikinya. melihat senyum hangat seperti waktu itu yang hanya tertuju padaku saja. Tapi,, bagimana aku bisa mendapatkan perhatian darinya? Sedangkan dia selalu saja cuek padaku, hmn"