The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Kembali Seperti Semula


__ADS_3

Kabut hitam yang menutupi langit membuat perisai yang di buat oleh sesepuh Barbarus perlahan kian menipis seakan kabut hitam itu menyerap kekuatan yang ada di dalam perisai, kekuatan yang dimiliki sesepuh Barbarus bahkan sudah kehilangan setengahnya namun ntah kabut itu kapan akan menghilang seakan siap untuk menyusup dari sela-sela retakan perisai. Dari kejauhan samar-samar terdengar suara kuda beriringan membelah pemukiman, setiap manusia yang melihat terkagum-kagum dengan sosok yang menunggangi kuda paling depan. Membuat banyak suara jeritan kagum para wanita dan iri para pria nya namun semua jeritan itu tidak di hiraukan sang empu nya, bendera Kerajaan yang ada dibarisan belakang akan menjelaskan bahwa mereka pasukan dari Kerajaan.



Kabut kegelapan semakin pekat membuat perisai semakin menipis, dengan kekuatan yang tersisa sesepuh Barbarus kembali membuat perisai tanpa disadari nya kondisi nya yang sudah lanjut usia meski dirinya seorang kstaria tak memungkiri jika dirinya tak sekuat dulu.


"Uhuk... Uhuk.. Uhuk.. " suara batuk Sesepuh Barbarus.


"Hiyaa... Cepat pangillan tabib! " seru Pangeran Trish yang melihat Sesepuh Barbarus tersungkur ketanah.


"Kakek, apa kakek baik-baik saja? Apa ini kek, darah. Ayo minum ini dulu kek. " seru Pangeran menghampiri Sesepuh Barbarus.


Darah segar sudah membasahi pakaian Sesepuh Barbarus hingga tubuh nya tersungkur ke tanah karena tidak mampu lagi untuk berdiri , wajah nya yang sudah penuh kerutan meski masih menyisakan wajah tampan di masa muda nya dulu dan kini sudah berambut putih . Dengan telaten Pangeran Trish membantu Sesepuh Barbarus me minum minuman yang selalu tersedia di perjalanan nya, membersihkan darah yang ada di dagu Sesepuh Barbarus dan memapah pria tua itu untuk duduk bersandar dibawah pohon.


"Kapan kamu kembali nak? Apakah sudah bertemu Ratu Alona? " tanya Sesepuh Barbarus sambil mengatur nafas nya.


"Maafkan aku kek, Sebagai Pangeran aku masih gagal melindungi rakyatku dan Kerajaan ku sendiri dan Melindungi Keluarga ku. Hiks.. hiks.. " ucap Pangeran Trish sambil tersedu.


"Salam Pangeran, akan saya periksa Sesepuh Barbarus. Eh Yang Mulia apakah anda sakit? Saya akan periksa anda juga kalau begitu. " ucap seorang pemuda seumuran Trish yang berpakaian tabib.


"Obati Sesepuh Barbarus dan pastikan luka dalam nya juga sembuh! Jangan memandang ku dengan mata kelinci! Aku baik-baik saja. " perintah Pangeran Trish dengan memalingkan pandangannya.


"Hahaha Baru saja kakek melihat Cucu kakek seperti dulu tapi sekarang sudah menghilang lagi. " ledek Sesepuh Barbarus.


"Kakek kembali lah ke Istana, Biarkan Trish yang membuat Perisai. " ucap Pangeran menghiraukan ledekan Sesepuh Barbarus.


"Tidak! Ini juga tanggung jawab ku.. Uhuk.. Uhuk.. " ucap Sesepuh Barbarus disertai batuk yang kembali memuntahkan darah.

__ADS_1


"Ini perintah seorang Pangeran! Sesepuh Barbarus akan kembali ke Istana untuk pengobatan dan kalian dengarkan baik-baik! π™‹π˜Όπ™Žπ™π™„π™†π˜Όπ™‰ π™Žπ™šπ™¨π™šπ™₯π™ͺ𝙝 π˜½π™–π™§π™—π™–π™§π™ͺ𝙨 π™ π™šπ™’π™—π™–π™‘π™ž π™ π™š 𝙄𝙨𝙩𝙖𝙣𝙖 π™™π™šπ™£π™œπ™–π™£ π™¨π™šπ™‘π™–π™’π™–π™©! " ucap Pangeran Trish dengan tegas.


Mata sayu dan sedih yang terlihat dari sesepuh Barbarus tak menggentarkan Trish untuk membatalkan perintah nya, baginya kesehatan kakek nya lebih penting dibandingkan hal lain nya meski dirinya tahu jika untuk melindungi banyak nyawa maka satu nyawa dikorbankan itu akan dilakukannya. Namun sebagai Pangeran dirinya juga memiliki kewajiban melindungi seluruh rakyatnya tak terkecuali sesepuh Barbarus, jika Ratu Alona dan sesepuh Barbarus sudah berjuang maka kini gilirannya untuk berjuang. Setelah melihat Sesepuh Barbarus dibawa pergi dengan romongan nya tadi, kini Pangeran Trish hanya sendirian ditempat nya berdiri dan semua yang terjadi bukan tanpa alasan karena Pangeran Trish memang sengaja membuat semua orang yang ikut bersama nya untuk pergi dari tempat berbahaya itu dan dengan alasan keadaan melemahnya Sesepuh Barbarus membuat rencana nya berjalan dengan baik.


"Apakah itu sudah menjadi keputusan terakhir anda Tuan? Apakah tidak sebaiknya bicarakan ini dengan Lady Cristal terlebih dahulu? " ucap Raja Argus melalui batinnya.


"Sekarang sudah ada dirimu sebagai Pendamping ku dan Aku percaya kita bisa saling melengkapi sedang kan keputusan ku sudah akhir. Bukankah setelah Permata Alam menjadi milik ku justru keselamatan Rakyat dan Keluarga ku terancam bahaya? Jika Permata Alam bisa menjadi Perisai yang sejati maka aura kabut kegelapan yang mempengaruhi para pemberontak akan ikut lenyap. Maka akan ku kembali kan Permata Alam ke tempat semula demi kehidupan tetap terjaga." jawab Pangeran Trish dengan tegas.


Pedebatan batin di antara Pangeran Trish dengan Raja Argus sudah terjadi sejak pertemuan sidang Kerajaan dimana Pangeran Trish langsung berfikir untuk menggunakan Permata Alam sebagai Perisai namun Raja Argus dengan jelas mengatakan jika ingin menggunakan Permata Alam maka Permata Alam itu harus dipisahkan dari satu sama lain agar membuat garis perlindungan sempurna. Maka dengan kata lain Satu Permata Alam akan mendiami satu titik arah mata angin dengan tenggelam ke dasar Alam hingga ke empat Permata Alam itu mengeluarkan garis cahaya menyatu di titik pusat dan Pangeran Trish harus berada ditempat titik pusat itu sebelum garis itu menyatu sempurna. Karena kekuatan yang dihasilkan cukup untuk menghancurkan apa pun membuat Pangeran Trish harus memindahkan sisa energi ke dalam Panah nya karena senjata itu lah yang menjadi Tuan Permata Alam.


"Akhir nya selesai, Sudah tertanam dengan baik, ayo kita ke titik pusat. Waktu nya sangat singkat. " ucap Pangeran Trish yang baru selesai menanam Permata Alam terakhir nya.


Permata Alam mulai menampakkan cahaya mengikuti arah ikatan Permata Alam lain nya, dimana ke empat garis cahaya itu akan menyatu sempurna di titik pusat. Pangeran Trish menunggangi kuda nya dengan kecepatan penuh namun seakan kecepatan kuda itu tidak sebanding dengan kecepatan garis yang terlihat di ujung sana . Disaat mempercepat pacuannya tiba-tiba Raja Argus sudah keluar dari Liontin nya dan memberikan isyarat agar Pangeran Trish melompat dan berpindah menunggangi nya. Kini dengan kecepatan seekor naga membuat Pangeran Trish dengan tepat waktu mencapai titik pusat, dengan sigap Pangeran Trish berdiri diatas tubuh Raja Argus dan mengambil busur Panah nya.


Ctarr.. Ctarr.. duarr.. duarr


"Syukurlah ini seperti harapanku, Ayo kita kembali ke Istana. " ucap Pangeran Trish yang sudah mengambil kekuatan Permata Alam dengan senjata nya.


............... ...


Sedang kan disisi lain Achela yang baru selesai membantu Sesepuh Helius memisahkan para manusia dari yang memiliki jiwa manusia, setengah Iblis atau pemuja kegelapan. Dengan ada nya Pedang Azalia membuat tugasnya kali ini lebih ringan dibandingkan aslinya meski begitu ntah kenapa rasa gelisah begitu dalam di hatinya bahkan fikirannya semakin dibayangi dengan pertanda buruk. Sejak mengeluarkan Pedang Azalia dari ruang tanpa batasnya, justru itu mendatangkan perasaan yang sudah lama terlupakan olehnya, meskipun sudah banyak yang dikalahkan dan tahu dirinya abadi tetap saja hatinya tidak bisa meninggalkan rasa gelisah itu, ntah kenapa bayangan sosok hewan yang sudah lama tidak di bicarakan oleh siapa pun membuatnya tidak bisa memejamkan Mata meskipun sejenak saja.


"Yahela! Hhaah ini hanya rasa takut yang semu. Monster itu sudah lama lenyap, semua pasti baik-baik saja. " gumam Achela yang melihat bayangan sosok hitam dengan taring panjangnya.


...**********...


.

__ADS_1


.


. π™°πšœπšœπšŠπš•πšŠπš–πšž'πšŠπš•πšŠπš’πš”πšžπš–,, πšƒπš‘πšŠπš—πš”πšœ 𝚒𝚊 πš‹πšžπšŠπš πšπšŽπšŠπšπšŽπš› πš’πšŠπš—πš πš–πšŠπšœπš’πš‘ πšœπšŽπšπš’πšŠ πš‹πšžπšŠπš πš‹πšŠπšŒπšŠ πš”πšŠπš›πš’πšŠ πš”πšž 😊


.


.


. πš‚πšŽπš‹πšŠπšπšŠπš’ π™°πšžπšπš‘πš˜πš› πšŠπš”πšž πš‹πšŽπš›πšžπšœπšŠπš‘πšŠ πš–πšŽπš–πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πš’πšŠπš—πš πšπšŽπš›πš‹πšŠπš’πš” πš‹πšžπšŠπš πš”πšŠπš›πš’πšŠ πš”πšž, πšœπšŽπš–πš˜πšπšŠ πšœπšŽπšœπšžπšŠπš’ πš‘πšŠπš›πšŠπš™πšŠπš— πš”πšŠπš•πš’πšŠπš— 😊


.


.


.


. πš‚πšŽπšπšŽπš•πšŠπš‘ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πš’πš—πš’, πšŒπšŽπš›πš’πšπšŠ πš—πš’πšŠ πš‹πšŠπš”πšŠπš•πšŠπš— πš•πšŽπš‹πš’πš‘ πšπš’ πš‹πšžπšŠπš πš“πšŠπšžπš‘ πš”πšŽ πšπšŠπš•πšŠπš–, πšœπšŽπš–πšžπšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš–πšžπš—πšŒπšžπš• πšœπšŽπšŒπšŠπš›πšŠ πš‹πšŽπš›πšœπšŠπš–πšŠπšŠπš—..


. π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšŒπš˜πš–πš–πšŽπš—πš, πšœπšžπš™πš™πš˜πš›πš πš—πš’πšŠ 𝚒𝚊.. πšŠπš™πšŠ πš•πšŠπšπš’ πšπš’ πš‹πšžπšŠπš πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πšπšŽ πš–πšŠ πš”πšŠπš•πš’πšŠπš— πš™πšŠπš›πšŠ πšπšŽπšŠπšπšŽπš› 😊.. πšŠπšžπšπš‘πš˜πš› πšπšžπš—πšπšπšž 𝚒𝚊 πš”πš›πš’πšπš’πš” πš–πšŠ πš‚πšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ..


.


.


. πš‚πš’πšŠπš™πšŠ πš’πšŠπš—πš πš–πšŠπšž πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšŠπšžπšπš‘πš˜πš› πš–πšŠπšœπšžπš”πšŠπš— *πšπš’πš–πšŠπš—πšŠ πšŽπš—πšπš’πš—πš πš—πš’πšŠ π™ΊπšŠπš›πš’πšŠ πšƒπš‘πšŽ π™»πšŠπšœπš πš‚πš”πš’ π™Ίπš’πš—πšπšπš˜πš–*


.

__ADS_1


.πŸ˜… π™°πšžπšπš‘πš˜πš› πšŠπš”πšŠπš— πšπšŠπš‹πšžπš—πšπš’πš— πšπšŽπš‘ πšœπšŠπš›πšŠπš— πšπšŠπš›πš’ πš›πšŽπšŠπšπšŽπšœ ✌


__ADS_2