
Belum sempat ekor mata nya melihat apa yang terjadi, semua pemandangan menghilang berganti kan warna gelap yang menyambutnya. Dua makhluk lain yang baru saja kembali justru melihat tubuh Lady cristal hampir terjatuh, dengan cekatan satu makhluk melepaskan perisai milik nya untuk melindungi tuan nya.
"Ayo kita pergi." ucap makhluk itu dan menghilang bersamaan serbuk emas miliknya.
Kemunculan makhluk tak terduga di sebuah kamar seorang putri yang tengah membaca beberapa lembar gulungan kertas, mampu mengalihkan seluruh konsentrasi gadis itu dan berlari menghampiri sosok yang di terbangkan oleh makhluk kecil bersamaan tertutup nya portal.
Dengan cekatan diperiksa setiap bagian tubuh kakaknya, ada pakaian yang terasa basah di angkatnya telapak tangannya. Warna merah yang menempel di tangannya membuat rasa cemas menghampiri wajah cantik gadis itu, dengan cepat di singkapnya bagian yang basah. Terlihat goresan panjang menganga dengan cairan merah yang terus mengalir tanpa henti, dengan cekatan di ambilnya beberapa ramuan yang selalu tersedia di dalam lemari kecil di kamarnya.
Setelah menutupi luka dengan tumbukan dedaunan herbal dan meminumkan sebuah ramuan pahit kepada kakaknya, kini pandangan nya beralih pada dua makhluk yang terdiam memperhatikan nya sedari awal. Di tatap nya kedua makhluk itu secara bergantian, satu makhluk mungil terlihat tenang namun wajah imutnya seakan menghilang sedangkan satu makhluk dengan sinar perak seakan tidak memiliki kesadaran namun tetap mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
"Jelaskan apa yang terjadi Achela! " perintah gadis itu dengan suara tertekan.
Hening....
"Apa yang terjadi? Apa kalian semua bisu?! " seru seorang gadis dengan wajah merah menahan amarah nya.
"Semua ini hanyalah tentang tanggung jawab." jawab satu makhluk mungil dengan tenang.
"Aaarrggg, Sampai kapan aku hanya bisa menjadi penonton." ucap gadis itu dengan frustasi.
"Tuan putri Starla sebaiknya panggilkan ibu suri, luka itu akan sembuh tapi tidak dengan luka dalamnya." ucap Achela mencoba mengalihkan rasa frustasi adik kembar tuan nya.
"Apa maksudmu Achela? " tanya Starla menaikkan satu alisnya.
"Intinya tidak ada yang bisa menyembuhkan luka dalam Putri Clara, meskipun luka luar nya bisa cepat sembuh, tuan ku tidak sadarkan diri bukan karena luka kecil itu tapi ada sebab lainnya yang tidak bisa ku jelaskan." jawab Achela dengan jujur.
__ADS_1
"Apa kau tidak lihat? Luka panjang dan dalam di perut kakakku? Darah yang keluar tanpa henti dan juga mata tertutup itu." ucap Starla dengan tatapan sendu.
"Seseorang yang memiliki jiwa murni tidak akan mudah terkalahkan kecuali, sudahlah. Jaga kakak mu, dan aku sendiri yang akan menemui ibu suri." ucap Achela dan menghilang sebelum Starla menjawab dengan berbagai pertanyaan.
"Apa yang kakak sembunyikan dari ku? Bagaimana bisa aku tidak merasakan rasa sakit mu jika kita ini kembar? Bangunlah ka, katakan pada ku bagaimana mengurangi beban tanggungjawab mu." bisik Starla duduk di bawah dengan menggenggam tangan Clara yang terkena darah.
Sedangkan makhluk dengan sinar perak hanya terdiam menatap dengan mata kosong nya, kesadaran pria itu pergi bersama sosok yang tak lagi dapat dilihat olehnya. Bahkan Starla tampak tak menghiraukan keberadaan makhluk seperti mayat hidup itu, karena kini seluruh perhatian nya tertumpu pada sosok kakaknya yang terbaring dengan wajah pucat mata terpejam.
Hingga tidak berselang lama muncul ibu suri bersama Achela, terlihat ibu suri membawa sebuah botol bambu di satu tangannya. Dengan menuangkan beberapa tetes ramuan di atas tumbukan dedaunan, meskipun tidak ada reaksi tapi ramuan miliknya akan menghentikan pendarahan cucunya.
"Nak, ayo ganti pakaian mu." perintah ibu suri yang melihat pakaian Starla juga memiliki aroma dan warna darah.
"Nanti saja nek, aku masih ingin menjaga kakak." tolak Starla enggan bangun dari tempatnya.
"Ya nek." jawab Starla dengan helaan nafas.
Meninggalkan dunia nyata, di dalam sebuah padang safana dengan hamparan bunga matahari di dunia jiwa. Begitu banyak bola cahaya matahari berbagai warna berterbangan kesana kemari, di tempat inilah para jiwa masih berbentuk essensial dan akan berpindah memasuki wadah seperti takdir masing-masing.
Satu bayangan dengan warna transparan bercahaya biru menapaki jalan dengan untaian kelopak bunga matahari yang berjatuhan, dimana jalan panjang tanpa ujung di depan nya seperti sebuah benang panjang. Tidak ada luka di sekujur tubuh nya selain rasa normal dikala keadaan nya sehat, dan tatapannya mencari tujuannya di setiap arah.
"Kuharap aku tidak terlambat." gumam bayangan itu.
Setiap jiwa yang menjadi bola cahaya matahari akan menunjukkan sekilas kehidupan yang telah di lewati atau yang akan di lalui, dan dengan rekaman itu maka jiwa yang di cari nya saat ini akan mudah di temukan. Namun sudah puluhan bola cahaya matahari yang diperhatikan tidak ada satupun yang menunjukkan wajah incarannya, hingga sebuah pertanyaan muncul di dalam benaknya.
"Semua jiwa hanya memiliki dua alasan, satu jiwa yang sudah tiada dan satu jiwa lagi baru tercipta? Tapi Cleo bukan dari kedua jiwa itu, lalu? " batin bayangan itu terdiam sejenak.
__ADS_1
"Mungkinkah? " ucap nya dengan sebuah pemikiran yang melintas didalam kepala nya.
*Element udara.*
*Element tanah.*
Satu tangan kanan mengendalikan element udara dan satu tangan kiri nya mengendalikan element tanah, dengan element tanah yang digunakan untuk memberatkan bola cahaya matahari dan menjatuhkan tanpa merusak sedangkan element udara di gunakan untuk menerbangkan apapun yang tersembunyi di dalam padang safana tempatnya berpijak.
Benar dugaannya, dari kejauhan ada beberapa bola cahaya yang berpencar dengan warna yang seperti twins. Satu bola cahaya matahari memiliki dua warna dengan perbandingan yang tidak sama rata, dengan element udara di terbangkan setiap bola cahaya matahari yang memiliki jarak cukup jauh.
Satu bola cahaya matahari dengan warna putih dan biru perbandingan dua banding tujuh itu menunjukkan sekilas kehidupan dari sebuah wajah yang tidak di kenali nya, bergeser dengan bola cahaya matahari lainnya dengan warna merah darah dan hitam perbandingan satu banding lima yang memiliki rekaman kehidupan samar, beberapa bola cahaya matahari yang masih tidak menemukan tujuannya.
"Kuharap ini yang kucari, ini yang terakhir." ucap bayangan itu dengan satu bola cahaya matahari di depannya.
Warna biru dengan putih namun terlihat ada siluet warna hitam dan perak yang terlihat berkedip setiap beberapa detik sekali, perbandingan yang tidak bisa di ucapkan karena kedua warna itu seakan bercampur tanpa garis pemisah. Di tatap nya bola cahaya matahari terakhir, rekaman kehidupan itu bukan hanya milik satu orang melainkan milik dua orang yang membuat bayangan itu menghela nafas.
"Satu jalan kegelapan sudah aku hancurkan demi masa depan tapi takdir memiliki rencana nya sendiri." batin bayangan itu dengan memberikan perisai pada bola cahaya matahari sebelum memasukkan ke ruangan tanpa batas miliknya dan mengembalikan keseimbangan dunia jiwa seperti semula.
Dengan kedatangan dan kepergian jiwa nya di padang safana dunia jiwa, maka lingkaran keseimbangan sudah pasti bergeser tanpa bisa di tolak. Ini seperti sebuah lingkaran utuh yang menjadi lingkaran dengan titik-titik berbeda ukuran akibat seringnya terjadi pergeseran.
............... ...
Sebuah raga yang terbaring di antara bunga cahaya nampak terdiam dalam ketenangan, namun sebuah tangan memasukkan satu bola cahaya matahari kedalam jantungnya. Terlihat bola cahaya itu terurai melepaskan setiap warna yang ada dan menjalar ke setiap aliran darah dan syaraf membuat raga terbaring itu mengalami kejang dalam waktu yang cukup lama hingga kedua mata tertutup itu akhirnya terbuka perlahan , bersamaan hilang nya sinar hitam dan perak yang menyilang.
"Dimana aku? Kenapa rasanya aku baru bangun setelah sekian lama?" rintih seorang wanita yang memegangi kepala nya.
__ADS_1