
"Apa ini sudah semua? " tanya nya dengan wajah gelisah.
"Yah nak, itu sudah semua nya tapi se ingat ku masih ada satu kitab kecil ber simbol bunga mawar merah di dalam tabung kaca. Disana ada jawaban yang tidak orang lain ketahui, mungkin kitab itu sudah hilang." jawab wanita paruh baya.
*Besok malam gerhana bulan putih, bagaimana ini? * batin nya memijat pelipisnya yang terasa nyeri memikirkan persimpangan jalannya.
"Clara apa kau mendengarkan nenek? " tanya ibu suri dengan cemas karena wajah cucunya terlihat sedikit pucat.
"Clara baik nek, tenang saja. Nenek bersiaplah untuk pertemuan selanjutnya." ucap Clara dengan mengambil sebuah bola cristal biru sebening embun di ruangan tanpa batas nya.
"Ini apa nak?" tanya ibu suri yang menerima satu bola cristal biru sebening embun.
"Tiket memasuki Hutan Ajaib, dengan cristal ini maka nenek dan yang lainnya akan terlindungi mencapai titik pertemuan." ucap Clara dengan mengirim kan cristal lainnya menggunakan sihir teleportasi nya kepada setiap anggota pertemuan berikutnya.
Clara tahu bagaimana keadaan hutan ajaib setelah semua daun emas berguguran, karena tempat itu menjadi tidak seaman dulu meskipun masih memiliki perisai tapi tanpa ada nya daun emas pada pohon ajaib makan bearti hutan ajaib hanya bertahan dengan mengandalkan kehidupan Achela.
"Bukankah jumlah nya berkurang tapi kenapa ini tidak nak?" tanya ibu suri yang menghitung jumlah cristal setiap kali lenyap dalam lubang dimensi yang di buat Clara.
Bola-bola Cristal itu berjumlah lima belas berwarna biru sebening embun, Clara hanya tersenyum dengan menyelesaikan pengiriman tiket nya. Sedangkan satu makhluk terlihat gelisah di atas tempat tidur, ada saja yang menjadi mainan baru untuknya.
"Nek, Clara pamit untuk tugas selanjutnya, tolong jangan biarkan Starla keluar dari istana terlebih dahulu dan sampaikan salam ku pada Ayahanda." pamit Clara memeluk neneknya dan bangkit dari tempatnya.
Terlihat makhluk yang tadi sibuk langsung berlari dan menggenggam tangan Clara mungkin takut di tinggalkan, membuat ibu suri geleng-geleng kepala.
"Hati-hati nak, apa tidak sebaiknya di tinggalkan saja dia? " tanya ibu suri melirik ke makhluk bertudung besar.
"Tidak nek, tempatnya ada di Kerajaan es. Sampai jumpa di pertemuan nek." jawab Clara dan menghilang dengan teleportasi nya.
Wuuussshhhh....
Hari yang tetap sama dengan cuaca dingin nya namun dasar pijakan seakan menjadi panas karena Inspeksi dadakan yang di lakukan raja mereka, karena ada pencurian ketika raja tengah meninggalkan kamar pribadinya. Benda yang hilang itu mungkin terlihat sepele tapi tidak untuk sang raja, karena benda itu adalah kenangan terakhir dari ibunda nya sebelum meninggal dunia.
__ADS_1
"Sisiri semua sudut istana dan pastikan temukan pelaku beserta bukti nya! Jangan sampai pelakunya pergi meninggalkan istana! " perintah Raja dengan nada tingginya.
"Pergilah! Biarkan raja istirahat." ucap seseorang dengn suara lembut namun penuh dengan aura menyegarkan.
"Lars!" ucap orang itu lagi sebagai peringatan.
Dengan api di mata nya membuat Lars berbalik dengan kasar namun pandangan mata nya seketika meredup ketika melihat sosok yang di rindukan nya, tanpa aba-aba tubuhnya melaju ke arah sosok itu dengan memeluknya erat seakan itu akan mengurangi beban fikirannya.
"Tenanglah Lars, semua pasti ada alasannya. Masih banyak yang tersembunyi, aku ingin membicarakan hal penting dengan mu." ucap sosok itu mengelus bahu Lars dengan lembut.
"Maafkan aku Lady, aku hanya membutuhkan istri ku dan merindukan nya." jawab Lars melepas pelukan nya.
Ada rasa bersalah yang menghinggapi hati Clara terhadap adiknya dengan pangeran Lars keadaan pernikahan kedua nya menjadi sama seperti pernikahannya dengan pangeran Trish, namun apa daya nya meskipun memiliki kekuatan pun atau mengetahui masa depan tetap tidak membuat dirinya mengubah jalan seenaknya.
"Berikan pada ku kitab kemarin, dan bisakah tunjukkan pada ku kembaran ayahanda mu Raja Lars." ucap Clara setelah berpindah ke kamar pribadi adik ipar nya itu.
"Ambillah, tunggu sebentar di sini karena sejarah dan lukisan ada di ruangan leluhur." jawab Lars memberikan kitab kecil yang tersimpan di balik jubah kerajaannya dan pergi keluar dari kamarnya.
"Kemarilah duduk di sampingku, apapun yang akan ku katakan mungkin ini terlihat aneh atau bahkan mustahil tapi ini nyata. Apa kamu siap mendengarkan sebuah kisah?" ucap Clara dengan menutup kitab kecil di tangannya.
"Ya ya ya aku mau cerita." jawab makhluk itu dengan semangat.
Sesaat hanya helaan nafas yang mampu di lakukan Clara sebelum memulai sebuah kisah yang mungkin akan memberikan luka dalam untuk orang-orang terdekatnya sekali lagi, namun kemunculan Lars membuat Clara memastikan semua dugaannya. Sebuah gulungan yang terlihat bersih namun usang di sodorkan Lars tanpa kata, dengan satu tarikan ujung simpul pita makan gulungan itu terbuka menampilkan satu formasi anggota kerajaan.
Sepasang suami istri dengan mahkota di kepalanya bersanding dengan dua anak kembar yang ada di pangkuan keduanya, satu sosok perempuan muda dengan senyuman berdiri di sebelah Raja. Terlihat harmonis namun satu wajah yang ingin di pastikan nya adalah wajah salah satu anak kembar itu, dialah kembaran ayahanda Lars.
"Kenapa itu mirip dengan ku? " tanya makhluk itu sambil menunjuk gadis kecil bermata tajam yang ada di dalam lukisan, makhluk itu ternyata ikut mengintip dari samping Clara.
"Heh jangan aneh-aneh ya! Dia itu saudara kembar ayahanda ku dan sudah meninggal sejak umur belia." tolak Lars yang merasa makhluk bertudung besar itu berbicara tidak benar.
Bruuk....
__ADS_1
"Apa kau tidak lihat wujudku sama seperti gadis itu! " seru makhluk itu dengan melepaskan jubahnya.
"Siapaa kau?! Lady.. " tanya Lars dengan shock melihat perwujudan setengah tubuh mungil di depannya.
"Dia benar Lars, tapi kau juga tidak salah." ucap Clara dengan tenang meskipun ada sesuatu yang mengusik fikirannya.
"Apa!" jawab kedua makhluk yang membuat Clara memandang kedua nya secara bergantian.
"Lars ada berapa banyak lukisan nya di istana ini? " tanya Clara mengalihkan perhatian dua makhluk itu.
"Tidak banyak karena sejak tragedi berdarah itu kakek memutuskan untuk menyimpan rapat semua kenangan pahit dengan menghentikan peredaran lukisan keluarga kerajaan di semua tempat, yah seperti itu yang ku tahu." jawab Lars dengan lancar meskipun ekspresi wajah nya masih tidak normal.
"Bukankah tadi ingin membacakan cerita? Ayo cerita. " rajuk makhluk itu dengan menarik tangan Clara.
Terlihat Lars ingin mengeluh dan menerus makhluk yang sangat tidak sedap di pandang itu, namun terlihat satu jemari Clara mengatakan tidak. Dengan lembut Clara menepuk tempat di samping nya dan makhluk itu dengan senang hati duduk ya meskipun rada ngilu melihat wujudnya.
"Lars tolong kamu ceritakan kisah leluhur mu dan menggenggam tangan gadis di sampingku." perintah Clara dengan sangat gamblang.
"Tapi? " gumam Lars yang bimbang untuk melakukan perintah kakak iparnya.
"Setiap tindakan pasti ada alasannya, ku harap kamu ingat ini Lars." ucap Clara meyakinkan Lars.
Satu anggukan kepala Lars membuat Clara lega, dengan menyerahkan tangan gadis mungil di samping nya ke tangan orang yang tepat maka tanggung jawab lainnya tidak akan terabaikan.
"Dengarkan dan tetaplah bersama nya, di saat cerita nya berakhir aku akan kembali. Lars aku titipkan jiwa ini pada mu untuk kau lindungi, buka mata dan telinga mu! Istana ini masih memiliki mata jahat." ucap Clara dan menghilang menggunakan portal nya.
Kini keduanya menyelami setiap kata dari satu gadis yang sama, terlihat jelas di wajah Lars terselimuti dengan rasa takut atas pernyataan Clara sedangkan makhluk di depannya ntah lah masih ber ekspresi seperti apa karena tidak ada yang bisa melihat nya.
................... ...
"Apa kalian sudah siap? " ucap seorang gadis dengan penutup wajahnya.
__ADS_1
"Apa ini tidak beresiko? Tempat keramat itu akan lebih baik tidak terbuka." ucap sosok yang terbang mensejajarkan posisi nya dengan yang lain.