
Clara hanya mengangguk melihat sampul kitab kecil itu yang membuat Lars tersenyum sesaat yang berganti dengan raut wajah kecewa dengan rasa sakit yang terlihat masih berdarah di dalam hati pemuda itu, Clara yang tahu alasannya hanya menghela nafas.
"Lupakan rasa yang menyakitimu Lars, bukankah semua yang terjadi telah berlalu? Ingatlah Kerajaan ini menjadi tanggung jawab mu seorang, tidak ada yang bisa mengantikan mu." ucap Clara menepuk pundak Lars.
Seakan mendapatkan ketegaran kembali senyuman dengan wajah ceria hadir kembali dari Lars, inilah yang membuat clara melepaskan adiknya di tangan pemuda yang memang partnernya sejak awal. Sikap nya yang ceroboh akan tertutupi dengan sifatnya yang mudah mengubah perasaan, bukannya tidak ada emosi tapi Lars seperti orang yang bisa mengatur emosi nya dengan cepat dan itu berbeda dengan adiknya yang akan mudah terbawa emosi.
"Cari tahu dimana bunga itu berada, aku hanya punya waktu sedikit." perintah Clara dan melihat keluar jendela.
Dengan satu tangannya kini kitab kecil itu di buka sekali lagi, dari satu halaman ke halaman lain tapi tidak tertulis kan dimana bisa menemukan bunga leluhur Kerajaan es. Clara mendengar isi hati Lars yang tampaknya bingung kenapa tidak menemukan poin utama dari kitab itu, tapi Clara masih diam karena pandangan nya terpaku pada satu corong yang menyembul ke permukaan di luar sana.
Wuussshhh.....
"Lady aku tidak mene.... Lah kemana orangnya?! " ucap Lars yang mencari sosok Clara namun sudah menghilang tanpa jejak.
"Kebiasaan nya masih saja sama huft, lebih baik aku coba mencarinya di sekeliling istana." gumam Lars berjalan keluar kamarnya dengan kitab yang masih ada di tangannya.
*Akhirnya keluar juga, aku harus cepat sebelum pangeran kembali ke kamar.* batin seseorang yang mengawasi kamar Lars hampir dua hari tanpa makan dan minum.
Di depan sebuah gundukan salju terlihat sebuah corong di atas sana, jika di amati dengan seksama sudah pasti ada sesuatu yang tertimbun.
*Badai angin* ucap Clara mengayunkan tangannya.
Putaran angin yang kini mulai membawa tumpukan salju perlahan meninggalkan sebuah bangunan yang cukup kuno meskipun hanya sebuah pondok yang terbengkalai, Clara hanya menggunakan badai angin kecil yang tidak akan merusak apapun selain melakukan apa yang di inginkan nya. Pondok kuno itu seakan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terdengar oleh siapapun, dengan tenang Clara mendekati pondok namun terlihat pondok itu tidak memiliki pintu.
Di raba nya setiap inci dinding yang seharusnya menjadi pintu, sangat terasa panas meskipun tertutup salju ntah berapa lama. Perlahan Clara mengubah mata nya menjadi warna biru, menembus ke dalam pondok untuk menemukan celah memasuki pondok tersebut. Sebuah ruangan dengan kegelapan yang tidak bisa menunjukkan apapun, namun dapat di rasakan aura sihir hitam yang ada di dalam sana.
"Seperti nya tidak semudah itu jika menjadi gadis biasa, baiklah. Lebih baik aku menjadi diriku yang lain." gumam Clara melepaskan tangannya dari kayu pondok yang memang seharusnya menjadi pintu.
__ADS_1
*Blind Cahaya* batin Clara dengan satu kedipan mata nya.
Terlihat sinar cahaya mulai menyinari tubuh Clara, dengan element cahaya kini Clara bisa merasakan lebih sensitif di sekitarnya. Jemari nya mulai mengukir sebuah simbol di atas kayu, terlihat garis cahaya mengikuti setiap arah ukiran yang di bentuk oleh Clara. Sebuah bunga teratai yang selalu menjadi ciri khas seorang Lady Cristal, simbol bunga itu terbentuk sempurna setelah beberapa detik meskipun hanya sebuah kuncup bunga teratai.
*Blind Api* batin Clara dengan satu jentikan jari nya.
Duaaar....
Dua element menjadi satu menghasilkan sebuah ledakan, namun ledakan kali ini tidak menghancurkan apapun selain membuat simbol kuncup bunga teratai menjadi mekar dan mengalirkan element cahaya biru ke setiap serat kayu yang menjadi pondok sihir hitam. Inilah jalan keluar Clara untuk memasuki pondok itu dengan menghancurkan perisai sihir hitam yang begitu kuat, dengan adanya perusakan perisai maka akan ada jalan yang terbuka.
Kriiiiet....
Terdengar suara gesekan dari kayu yang kini memiliki simbol bunga teratai mekar, garis gesekan itu telah menerbangkan aura panas dari dalam pondok. Langkah Clara sudah menyentuh satu pijakan dari bagian pondok, terasa aliran yang memberontak ingin menyusup menyisiri kulitnya. Namun perisai cahaya masih setia melindungi raganya, ruangan yang gelap kini mulai sedikit terang dengan adanya cahaya biru yang menyelimuti tubuh Clara.
Blaaam.... (pintu tertutup secara kasar seakan ada yang mendorong nya dengan keras)
Shuut... Ekhem.. Lalala..
Bayangan itu mulai menunjukkan suara nya disertai sedikit colek kanan dan kiri dengan usaha nya semakin gencar yang membuat Clara jengah, aura yang terlihat membingungkan dari bayangan itu seakan membuat Clara menyadari sesuatu.
Taak.. Dug... Aww...
Satu hentakan kaki Clara berhasil membuat bayangan itu jatuh disaat sibuk berlarian mengganggu nya, kini terlihat bayangan itu memiliki sedikit bentuk yang sangat membingungkan Clara. Jika bayangan itu manusia sudah pasti akan memiliki wujud yang sama dengan dirinya, tapi terlihat hanya ada setengah raga yang kini terlentang di hadapannya.
"Berhenti mengganggu Ku!" ucap Clara dengan penuh tekan aura.
"Huwaaaa.. huwaaaa... " suara tangisan pecah dari bayangan itu.
__ADS_1
"Diam! Dimana bunga itu?" tanya Clara dengan serius.
"Bunga? Hiks.. hiks.. pergilah tidak ada bunga disini." ucap bayangan itu dengan bangkit dari posisi jatuhnya.
"Bukankah kamu ingin keluar dari tempat ini? " tanya clara.
"Mauu.. mauu.." jawab bayangan itu.
"Tunjukkan aku dimana bunga itu dan gantinya... " ucap Clara.
"Horeeee bebas.. bebaas." seru bayangan itu dengan melompat-lompat setelah memotong ucapan Clara.
"Hmmm.Bisakah berhenti melompat! Dan tunjukkan saja dimana bunga itu?" seru Clara agar bayangan itu berhenti melakukan hal yang membuat Clara sedikit ngilu.
Jika melihat kelinci yang melompat pasti sudah biasa dan akan berkata sangat imut tapi makhluk bayangan di depannya ini hanya memperlihatkan kaki mungilnya seakan bayangan itu hanyalah seorang gadis kecil hingga sebatas pinggulnya seakan bagian atas tubuh nya tidak ada. Alhasil Clara hanya melihat setengah tubuh bagian bawah melompat tanpa adanya hambatan, mungkin pemandangan aneh namun sudah jelas bayangan itu memiliki wujud lengkap meskipun tidak terlihat utuh.
"Lalalala." nyanyian bayangan itu dengan langkah kakinya mengelilingi sebuah tempat yang kosong tepat di tengah ruangan.
Clara hanya memperhatikan tanpa mengganggu, terlihat bayangan itu dengan suara nyanyian mulai melakukan sesuatu yang tentu hanya dirinya yang tahu.
Kluk.. Klak.. Klik.. Klok..
Terdengar suara yang seakan bersahutan dengan getaran singkat yang terjadi membuat sebuah lubang dengan sesuatu yang naik keatas, terlihat ujung runcing yang memiliki kilauan.
Tak.. tak.. tak.. tak..
Sebuah meja yang terlihat biasa saja namun memiliki hal luar biasa, itulah yang di cari Clara. Bunga leluhur Kerajaan es, tapi bayangan itu seakan mendapatkan sesuatu yang sangat di inginkan. Sebuah cahaya mulai menjalar melewati kaca yang melindungi bunga itu, terlihat ada jemari yang menyentuh permukaan hingga cahaya itu menyebar dan sesaat menunjukkan sosok bayangan itu secara sempurna.
__ADS_1
*Gadis kecil yang cantik tapi... * batin Clara yang melihat wujud asli bayangan yang tadi mengganggu nya.