The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Pangeran kodok


__ADS_3

"Jika dia berarti kenapa memisahkan takdir mu dari nya? " tanya seseorang dari belakang Clara.


Suara yang masih di kenali oleh Clara dan tanpa berpaling Clara mengangkat tangan kanan nya menerbangkan beberapa helai daun emas yang terbang menutupi atap pondok di depan nya.


"Seperti daun itu gugur tanpa menyisakan satu kuncup pun, begitu lah jalan takdir ku. Lalu kenapa anda masih bertahan hidup hingga ratusan tahun? Bukan kah Tuhan memberikan anda waktu untuk memenuhi janji anda? " jawab Clara dan melepaskan daun emas agar terjatuh ke tanah tempat nya berpijak.


"Jiwa murni, yah anda benar Yang Mulia." jawab orang di belakang Clara tanpa membantah perkataan Clara sedikit pun.


"Begitu juga Achela, Takdirnya bukan berakhir bersama ku." ucap Clara dan menghilang menggunakan teleportasi nya.


"Alam tahu anda kesepian di dalam badai ini, janji itu yang membawa ku tetap bertahan." batin seseorang dengan menatap sendu pondok di depan nya.


Seseorang yang selama ini memilih menetap di hutan ilusi dengan mempejari seluruh esenssial dari alam dan membiarkan dunia tahu jika dirinya sudah tiada, takdir membawa nya kembali ke dunia nyata. Dunia yang memiliki rasa sedih saat kehilangan dan bahagia saat mendapatkan impian, dimana hanya ada keserakahan dan juga haus akan tahta.


Dirinya sengaja memisahkan jiwa nya menjadi dua untuk bertanya hal yang memang harus mendapatkan jawaban dan jawaban Clara membuat nya kembali teringat dengan cinta di hati nya. Cinta yang masih membuat jantung nya berdetak hingga saat ini, namun seperti sebuah lautan yang dalam membuat nya hanya bisa melihat permukaan air laut tanpa bisa menyelami nya meskipun kekuatan nya bisa di katakan lebih baik di bandingkan para raja zaman sekarang.


Kedua jiwa nya berada di dua tempat berbeda dengan satu wilayah yang sama, sedangkan Clara sudah memeluk adiknya yang terlihat mulai memanyunkan bibir nya lima centi karena kesepian. Gadis kembaran nya itu selalu ada saja cara nya jika masalah merajuk untuk mendapatkan perhatian dari nya, kini alih-alih meneruskan kekesalan nya yang beralih dengan balasan pelukan yang lebih erat membuat Clara hanya bisa tersenyum dengan sikap manja adiknya.


"Apa masih lama ka? Aku ingin semua segera berakhir. " tanya Starta dengan menatap kakak nya yang tersenyum ke arah nya.


"Sebentar lagi, mau bertemu Lars? " tanya Clara dengan mencubit hidung Starla yang sama seperti hidung nya.


"Auww, jangan terlalu erat ka. Sakit, untuk apa bertemu kodok? Pasti pangeran kodok ku sibuk menatap rakyat yang memuja nya." ucap Starla dengan cebikan bibir yang membuat Clara menggelengkan kepala nya.


"Awas nanti hati jatuh, pangeran kodok nya datang." goda Clara dengan melepaskan tangan nya yang memeluk adiknya.

__ADS_1


"Jangan di lepas ka! Nanti aku di tinggalkan lagi." cegah Starla dengan menahan tangan Clara pergi dari pingga nya.


"Habiskan juga waktu mu dengan pangeran kodok mu itu, atau biar kakak usir saja ya?" tanya Clara dengan mengusap punggung adiknya dengan perasaan.


"Kakak ini, pangeran kodok lagi sibuk lompat sana lompat sini. Jadi.. " ucap Starla dengan menutup mata nya di bahu Clara.


"Jadi kamu mengusirku? " ucap seseorang dengan suara ceria yang di buat menyedihkan memotong ucapan Starla.


"Ka? Suara kakak kenapa mirip pangeran kodok? " tanya Starla dengan membuka mata nya dan melepaskan pelukan nya dengan menatap kakak nya penasaran.


"Aku disini." ucap seseorang dengan melangkah kan kaki nya mendekati Starla.


"Bibir kakak diam dan hanya senyum, lalu?" ucap Starla dan membalikkan tubuh nya dan saat berbalik langsung mendapatkan sebuah pelukan yang membuat nya hampir saja menabrak kakak nya yang ada di belakang nya.


"Yang Mulia disini?" tanya seseorang dari belakang yang melihat kehadiran Clara secara mendadak.


"Aku salah perhitungan, apa ada masalah? Kenapa wajah itu terlihat tegang." tanya balik Clara yang membuat orang di depan nya menjadi salah tingkah.


"Sebaik nya tidak disini, mari Yang Mulia." ajak orang itu dengan membungkuk kan tubuh nya dan berjalan memimpin menuju sebuah tempat yang semakin mendekat terlihat banyak sekali makhluk penghuni tempat itu tengah berkumpul di satu titik yang biasa di sebut sebagai aula kerajaan.


"Sejak kapan?" tanya Clara dingin setelah tahu apa penyebab semua berkumpul di satu tempat dengan suara kecemasan, rasa takut dan juga was-was.


"Sejak beberapa hari ini Yang Mulia, saat itu semua terlihat baik dan tidak ada yang mencurigakan namun setelah mendengar suara hewan yang melengking bersahut-sahutan mengelilingi istana justru Ratu langsung tertunduk lemah tak berdaya. Saya ingin membantu namun Ratu berpesan agar saya menjaga rakyat nya selama dirinya tidak sanggup melindungi rakyat nya, dan Ratu juga melarang saya untuk mengatakan ini melalui telepati." ucap orang itu dengan rasa penyesalan karena tidak bisa melakukan apapun.


"Bawa Ratu ke tempat seharusnya." perintah Clara yang langsung membuat orang itu terkejut.

__ADS_1


Tempat seharusnya yang di maksud Clara adalah tempat dimana Ratu kecil dengan sayap yang tidak bisa terbang itu untuk kembali ke tempat dimana semua bermula tapi tempat itu sudah menjadi milik benih baru dan benih itu tidak bisa di usik oleh siapapun karena bisa menjadi terkontaminasi oleh kekuatan lain nya. Tapi wajah Clara tidak pernah bercanda membuat orang itu dengan terpaksa membawa tubuh kecil seorang Ratu di kedua tangan nya dengan hati-hati meninggalkan rakyat yang hanya bisa menangis dengan isakan yang seperti sebuah dengunan.


"Tunggu." ucap Clara yang menghentikan orang itu sebelum menuju lorong keramat.


"Masuk lah saat sebuah lubang terbentuk, sebelum itu jangan langkah kah kaki mu untuk menyentuh meskipun hanya satu centi dari dinding ini." perintah Clara yang di angguki oleh orang itu dengan mantap karena kini hati nya percaya apapun keputusan Clara sudah pasti di perhitungkan.


Clara melangkahkan kaki nya memasuki dinding keemasan yang terbentuk seperti jelli kenyal namun tidak memiliki ruangan terbatas, langkah nya semakin masuk ke dalam hingga langkah nya terhenti melihat sebuah cristal dengan warna pelangi yang tergeletak di atas tempat pembaringan bongkahan madu. Dengan tenang Clara menggambil satu bunga teratai biru yang terakhir karena hanya memiliki dua dan satu nya sudah menjadi pelindung masa depan, dan kini satu bunga teratai yang terakhir menjadi pelindung cristal pelangi yang masih terlihat seperti cristal biasa meskipun aura nya sudah dapat di rasa kan.


"Element Cahaya, element udara." ucap Clara dengan menerbangkan bunga teratai biru dan juga cristal pelangi secara bersamaan.


Dua tangan nya menerbangkan dua benda berbeda dan memejamkan mata nya yang sedetik kemudian mata nya kembali terbuka dengan sinar biru dan memberikan element Cahaya abadi ke arah bunga teratai biru agar bunga itu membuka kelopak nya yang masih menguncup. Membutuhkan waktu cukup hingga cristal pelangi berpindah ke dalam bunga teratai biru yang langsung kembali menutup setelah element Cahaya abadi Clara berhenti di alirkan, dengan element udara membuat bunga teratai biru yang kini menjadi kuncup namun seperti menelan sesuatu tetap melayang di udara.


"Masuklah!" perintah Clara dengan menjentikkan jari tangan kanan nya agar jalan menuju tempat nya terbentuk seperti di dalam fikiran nya.


Langkah kaki yang terdengar pelan dan hati-hati mulai mendekat hingga sosok nya nampak dan Clara mempersilahkan orang itu untuk meletakkan Ratu istana tempat nya berpijak untuk kembali ke tempat pembaringan yang seharusnya. Dengan menyentuh wajah kecil yang terlihat sangat pucat membuat Clara menyalurkan energi nya dengan element cahaya yang yang merupakan salah satu element penyembuhan bagi siapapun yang memiliki luka dalam.


"Ratu akan membaik, tapi saat suara hewan kembali terdengar pastikan perisai kerajaan di perkuat. Biarkan Ratu memulihkan keadaan nya yang terluka sangat dalam karena menghalangi sihir yang mengancam rakyat nya, kerajaan ini menjadi tanggung jawab mu." perintah Clara berjalan meninggalkan ruangan yang memberikan godaan bagi siapapun, namun tidak lagi bagi Clara yang sudah tidak bisa tergoda oleh hal se istimewa apapun atau se ajaib apapun.


"Apa anda akan menetap Yang Mulia?" tanya orang itu setelah kedua nya keluar dari tempat yang menggiurkan.


"Tidak, Aku harus pergi sekarang.Kirim pesan jika sesuatu terjadi dan anda tidak bisa mengatasi nya sendiri." ucap Clara dan kembali menghilang tanpa menunggu jawaban.


Kepergian Clara membuat orang itu hanya bisa bersyukur dan kini kembali melangkah kan kaki nya karena pasti rakyat menunggu berita tentang keadaan Ratu mereka, sedangkan Clara sudah muncul di sebuah tempat yang menjadi tempat janjian nya dengan sesosok pria yang tengah menatap sebuah bunga mawar merah di depan nya dengan kedamaian.


"Maaf membuat anda menunggu." ucap Clara dengan lembut pada seorang pria dengan pakaian kerajaan yang sangat menunjukkan aura wibawa nya.

__ADS_1


__ADS_2