
Dengan kedatangan dan kepergian jiwa nya di padang safana dunia jiwa, maka lingkaran keseimbangan sudah pasti bergeser tanpa bisa di tolak. Ini seperti sebuah lingkaran utuh yang menjadi lingkaran dengan titik-titik berbeda ukuran akibat seringnya terjadi pergeseran.
Jiwa bayangan itu berpindah memasuki dunia nyata dimana kerlap-kerlip bunga bercahaya menyambutnya, tidak ada yang melihat dirinya selain dirinya sendiri. Berjalan menyusuri rangkaian bunga kecil yang memanjang seakan menjadi jalan utama, didepan sana ada tempat seperti pembaringan yang menjadi tempat istirahat seseorang.
Setelah sampai di depan raga yang terbaring, diambilnya bolaa cahaya matahari di dalam ruangan tanpa batasnya. Perisai yang melindungi bola itu di hancurkan. Sejenak ada kemelut di dalam hati dan fikiran bayangan itu, namun takdir sekali lagi mempermainkan jalan cerita kehidupan nya.
Sebuah raga yang terbaring di antara bunga cahaya nampak terdiam dalam ketenangan, namun sebuah tangan memasukkan satu bola cahaya matahari kedalam jantungnya. Terlihat bola cahaya itu terurai melepaskan setiap warna yang ada dan menjalar ke setiap aliran darah dan syaraf membuat raga terbaring itu mengalami kejang dalam waktu yang cukup lama hingga kedua mata tertutup itu akhirnya terbuka perlahan , bersamaan hilang nya sinar hitam dan perak yang menyilang.
"Dimana aku? Kenapa rasanya aku baru bangun setelah sekian lama?" rintih seorang wanita yang memegangi kepala nya.
"Perisai cahaya biru." ucap bayangan itu dengan menyentuh kening wanita yang baru saja terbangun.
Rasa dingin yang seketika menyebar mengalihkan rasa pusing di dalam dirinya berganti dengan rasa aneh, tubuhnya seakan terbuai dan ingin tenggelam dalam mimpi. Melihat wanita itu kembali terbaring dan terpejam membuat bayangan itu meninggalkan tempat nya berpijak, waktu nya seperti angin yang tidak bisa terdiam di satu tempat saja.
"Uhuuk... uhuuk.. " suara batuk lirih seseorang yang membangunkan seorang gadis yang masih bersimpuh di lantai.
"Kakaaaak. Mana yang sakit ka, akan aku panggilkan tabib." seru gadis itu dengan wajah panik dan serba salah.
Hampir gadis itu berlari dan untung saja tangannya segera ditahan agar tidak pergi, melihat kakak nya memegangi tangannya membuat gadis itu duduk di samping kakaknya. Ada rasa lega melihat mata itu terbuka lagi tapi seketika wajah nya menjadi panik melihat darah segar keluar dari sudut bibir kakaknya, di ambilnya ujung kain gaunnya dan dengan pelan di usap nya darah segar itu.
"Apa kakak ini dewi? Kenapa kakak tidak mengatakan apapun padaku! Siapa aku bagi kakak? Aku hanya adik yang tidak berguna." keluh gadis itu sembari membersihkan darah kakaknya.
Tubuh lemahnya kini terpaksa harus diajak untuk berkompromi, dengan pelan dirinya terbangun dan adiknya dengan sigap membantu nya duduk bersandar Terlihat jelas mata ceria itu kini berembun menahan sesuatu di dalam kelopak mata nya, diraihnya tangan yang terlihat gemetar menahan perasaan di hatinya.
Kali ini dirinya membuka kunci batin adiknya, bukan karena dirinya tidak percaya tapi agar dirinya tahu bagaimana harus menyikapi adiknya saat ini. Sangat menyakitkan mendengarkan isi hati adiknya dan dirinya tidak bisa mengubah itu meskipun ingin.
"Starla."
Tidak ada jawaban selain pandangan yang berembun, bisakah dirinya melepaskan rasa egois di dalam dirinya? Tidak. Jika dirinya tidak memiliki tanggungjawab keselamatan makhluk hidup dan tidak pernah melihat sisi dunia lain mungkin dirinya akan berbagi beban nya pada orang-orang yang di cintai nya tapi itu tidak mungkin karena mengatakan masa depan pada makhluk hidup lain berarti dirinya melanggar hukum alam.
"Putri Alvira Starla Armadeo." panggilnya sekali lagi.
"Katakan ka, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menjadi wakil seorang ratu jika ratu nya sendiri sangat tertutup bahkan untuk menyentuhnya saja menjadi hal mustahil." ucap Starla mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Lupakan tentang siapa kita di dalam istana megah ini, tapi katakan satu hal padaku kak. Apa aku ini saudari mu? Atau hanya wajah ini yang sama? Ataukah aku yang memang tidak pantas menjadi saudari kembarmu" ucap Starla lagi dan kali ini tatapannya benar-benar menusuk hati kakaknya.
"Aku bisa melawan musuh dengan seluruh kekuatan ku, meskipun aku harus mengorbankan nyawaku. Tapi, Takdir dan hukum alam tidak bisa ku tentang. Maafkan kakak Starla, kakak melukai mu." ucap Clara dengan lirih namun jelas sembari mengusap pipi adiknya.
"Sedikit saja ka, anggap aku ada. Tidak bisakah? " guman Starla menunduk.
Greeb...
Hanya pelukan untuk menenangkan badai di dalam hati adiknya, bisakah dirinya meminta pada Tuhan sekali saja berikan kesempatan untuknya memberikan segala kebahagiaan untuk keluarga nya. Atau bisakah kehidupan nya menjadi manusia biasa yang hidup sederhana pun tidak masalah, tapi jawabannya tidak.
Kelahirannya sudah di takdirkan dalam jalan lingkar karma dan hukum alam, raga nya hanyalah sebuah wadah baru sedangkan jiwa nya adalah para jiwa leluhur. Menentang takdir tidak akan mengubah apapun, dirinya hanya bisa sedikit menarik dan membuat jalan takdir masa depan.
"Suatu hari nanti ada saatnya, keceriaan dan kebahagiaan memenuhi dirimu Starla, bertahanlah dalam luka sesaat. Kakak tidak bisa melakukan lebih dari ini." bisik Clara yang membuat isakan Starla semakin terdengar.
Kebersamaan kedua gadis yang sudah dewasa itu di saksikan oleh pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu, ada rasa sesak di dadanya. Bahkan setelah kesembuhannya tidak mengubah nya menjadi lebih kuat tapi justru kekuatan dari lahirnya pun harus lenyap karena racun mematikan yang bersarang didalam tubuhnya bertahun-tahun.
"Sampai kapan Ayahanda akan berdiri di depan pintu? " ucap Clara dari dalam kamar.
Tak.. tak.. tak..
"Bagaimana keadaanmu nak? Maafkan ayahanda... " ucap Raja Lucas.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, aku baik Ayahanda. Bagaimana dengan ayahanda sendiri? " potong Clara yang tidak ingin mendengar kata penyesalan dari ayah nya.
__ADS_1
"Baik, Starla. Bangun nak, kakakmu masih terluka bukan? " ucap Raja Lucas yang melihat posisi kedua putrinya.
"Tidak apa ayahanda, biarkan seperti ini." jawab Clara yang masih menahan tubuh adiknya didalam pelukan nya.
"Apa ayahanda masih meminum ramuan? " tanya Clara memandang wajah tak terawat ayahnya.
"Ayahanda mu masih meminumnya dan nenek harus mengawasinya setiap saat." jawab ibu suri yang masuk ke kamar bersama makhluk mungil terbang di belakang nya.
"Bagaimana keadaan mu nak? " tanya ibu suri mendekati kedua cucunya.
"Baik nek, Achela pergilah temui tabib." ucap Clara.
"Tapi bagaimana dengan anda tuan? " jawab Achela tidak rela.
"Lihat lah aku ada dimana, pergilah ke Kerajaan Es. Bantu dia." perintah Clara dengan mata yang mengisyaratkan sesuatu.
*Cepatlah Achela, waktu mu tidak banyak.* ucap batin Clara yang membuat pendamping nya itu menghela nafas.
"Saya permisi semuanya." pamit Achela dan menghilang meninggalkan serbuk emas di udara.
"Nak ada apa? " tanya ibu dan ayahanda bersamaan.
"Semua baik, Ayahanda sudah waktunya kita berlatih. Bukankah ayahanda bisa mengajariku cara bertarung seperti Starla? " ucap Clara dengan lembut.
"Tapi keadaan mu.. " jawab Raja Lucas.
"Adillah nak, keduanya putri mu. Ajarkan semua yang kamu ajarkan pada Starla, Starla tidak merasa iri." ucap Ibu suri memotong ucapan putra nya.
"Baiklah, setelah kamu sembuh.. " ucap Raja Lucas.
"Tapi lihatlah adikmu." ucap Raja Lucas menatap posisi kedua putrinya yang masih berpelukan.
Tanpa menjawab, Clara dengan lembut membaringkan tubuhnya membawa serta adiknya agar ikut berbaring. Secara perlahan di lepasnya pelukan erat sang adik, setelah terlepas di lihat nya wajah adiknya yang sembab karena menangis. Satu kecupan di kening dengan mengelus pipi adiknya di lakukan Clara, melihat satu putrinya ternyata tertidur di dalam pelukan kakaknya membuat Raja Lucas dan ibu suri tersenyum.
"Pantas saja tidak heboh, ternyata sudah menjadi putri tidur." ledek ibu suri dengan senyuman khas nya.
"Sudah lama ayahanda tidak melihat Starla terlelap seperti itu. Terimakasih nak, kehadiran mu melengkapi kekosongan hati Starla." ucap Raja Lucas dan memeluk Clara yang sudah berdiri di samping nya.
"Kita keluarga ayahanda, sudah tanggungjawab ku menjaga adikku meski tanpa di minta." jawab Clara dengan senyuman manis.
"Ayo nak ganti pakaian mu jika ingin berlatih." ajak ibu suri mengalihkan perhatian keduanya.
"Ayahanda tunggu di ruang pelatihan." ucap Raja Lucas mengusap kepala Clara dan meninggalkan kamar kedua putrinya.
Kepergian Raja Lucas membuat kedua wanita beda usia itu terdiam sesaat, Clara melihat neneknya yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Katakan nek? " tanya Clara mendekati ibu suri.
"Cucu ku sudah dewasa dan bisa mengatasi segala nya sendiri, apa kamu tidak merindukan nenek? " ucap Ibu suri memandang penuh kerinduan.
Greeeb...
Sebuah pelukan erat yang akan mengatakan seberapa besar rasa rindu seorang cucu sekaligus putri terhadap dunia pertama nya, seorang nenek yang merangkap menjadi segala nya bagi seorang gadis polos tanpa kekuatan dan menyingkirkan kehidupan istana berganti dengan kehidupan sederhana tanpa seorang pun mengenali nya sebagai wanita berkuasa di atas sana.
"Harum mu masih sama seperti bunda mu Risa, kehadiran mu mengobati seluruh hati ku. Tetaplah bahagia nak." ucap Ibu suri mendoakan cucu pertama nya.
"Doa nenek akan memberikan cahaya. Tetaplah menjadi dunia pertama Clara, Clara mencintai seluruh alam dan itu tanggungjawab ku." jawab Clara dan melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Istirahat lah nek, Clara akan bersiap." ucap Clara mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi.
Sedangkan ibu suri memilih ikut berbaring di sisi Starla yang terlihat tenggelam dalam mimpi, mungkin tidak ada yang menyadari jika Starla tertidur karena perisai cahaya Clara yang transparan. Yah gadis itu menghentikan tangisan adiknya dengan bius dari perisai cahaya nya, hati nya tidak kuat untuk mendengar tangisan Starla terlalu lama.
Setelah berganti pakaian, Clara hanya tersenyum melihat neneknya sudah terlelap di samping adiknya. Pemandangan manis yang menguatkan jiwa seorang Clara untuk melindungi kebahagiaan sederhana itu, bagi nya tidak masalah jika bukan dirinya yang tenang menjalani kehidupan , asalkan adik nya bisa hidup dengan baik dan tersenyum dengan keceriaan nya.
Wuuusssh....
Dengan menghilang menggunakan teleportasi, kini raga nya sudah berpindah ke sebuah tempat yang memang asing untuknya karena istana megah itu tetaplah rumah asing untuknya. Bahkan setelah menjadi seorang ratu pun dirinya tidak bisa mengenali seluruh istana karena dunia nya adalah seluruh alam bukan sebatas istana langit, terlihat ruangan dengan berbagai jenis senjata dan tempat luas seperti lapangan yang menjadi arena.
Kriiiieeeet....
Suara pintu terbuka tak membuat Clara mengalihkan pandangan nya ke arah pintu, tangan nya masih meneliti ketajaman sebuah pedang yang ada di depannya. Langkah kaki itu terdengar ringan namun seimbang, tidak seperti langkah biasanya, semakin mendekat semakin terdengar irama yang pasti namun kelincahan harus di uji.
Dengan tenang Clara mengambil sebilah belati yang ada di depannya, tanpa melihat kebelakang, di lemparkan nya belati itu dengan putaran tangan memutar. Terdengar langkah kaki itu berhenti dan loncatan dengan perlawanan udara dapat di dengar Clara, sekali lagi Clara melakukan hal sama dan kali ini terdengar belati nya bersentuhan dengan sesuatu.
"Prajurit tangkap penyusup itu." seru seseorang yang seperti nya menahan lengannya dan terlihat warna merah merembes di sela jemarinya.
...,,,,,,,,,,...
.
.
.
. hay readers, apa kabar? author harap kalian sehat selalu 🤲
.
.
.
. Author minta maaf ya kalau The Last Sky Kingdoms Takdir Ku Milik Mu harus up kadang dua hari sekali atau kadang tiga hari sekali, author harus bagi waktu buat tiga novel sekaligus.
.
.
. Jujur aja nih ya, dapet feels buat karya fantasi sedikit lebih masuk ke dalam hati, harus fly dengan sendiri nya.
.
.
. Contoh nya aja bab kali ini, yang membuat author mengeluarkan air mata dan masuk ke dunia lain 😭
.
.
.
. Sambil nunggu author up, bisa kok baca karya author yang lain tapi tetep on going ya 😁
Baca juga ya My Secret Life dan Plan Of Masked Man.
__ADS_1