
Meninggalkan tempat di hutan ilusi, kini tujuannya adalah sebuah istana dimana satu sosok dunia lain masih menjadi tanggung jawabnya dan kini waktunya membuat keputusan untuk sosok dunia lain itu.
Istana yang di selimuti dengan salju itu lah tujuan Clara dan jiwa nya muncul di tempat yang tepat dimana seorang gadis kecil dengan pakaian tudung besar tengah memandang keluar jendela.
"Apa kabar mu putri? " tanya Clara yang langsung mengalihkan perhatian gadis kecil itu.
"Ladyyy." seru gadis kecil itu dan berlari memeluk Clara.
"Kenapa wujud anda seperti ku? Apa anda sama seperti ku? " tanya polos gadis kecil itu.
"Lupa kan itu, apa yang kamu fikirkan? " tanya balik Clara dan mengajak gadis kecil itu duduk di tempat tidur.
"Aku merasa seperti mimpi, bagaimana bisa hidup ku setragis itu. Tidak kah ada kesempatan hidup yang lebih baik? Bisakah? " ucap gadis kecil itu dengan tatapan sendu.
"Tidak. Satu permintaan sederhana bisa ku Kabul kan tapi bukan memberikan mu kehidupan baru, katakan apa permintaan mu? " tanya Clara dengan menggenggam tangan gadis kecil di depannya.
"Aku ingin bisa merasakan ke bersamaan sebuah keluarga, bukankah itu permintaan sederhana? " ucap gadis kecil itu.
"Di Kabul kan." jawab Clara dengan sebuah senyuman.
"Sungguh? Bagaimana, horeee." ucap gadis kecil itu dengan meloncat kesana kemari.
Meskipun mengabulkan permintaan gadis kecil itu tidak lah mudah tapi permintaan itu mudah di wujud kan dibanding kan meng hidup kan kembali jiwa yang sudah tidak memiliki raga selama puluhan tahun, terlebih jiwa dapat melihat jiwa lain nya selama jiwa itu memiliki frekuensi yang sama. Clara membiarkan gadis itu menikmati keceriaan di dalam dunia fana sebelum kembali ke dalam dunia abadi, hal terkecil pun cukup menjadi alasan seseorang bahagia.
"Tetaplah di dalam kamar, tunggu lah esok.Jaga diri mu putri." ucap Clara dan meninggalkan gadis kecil yang masih tersenyum penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Jiwa tanpa raga berkelana di dalam dunia nyata pasti membuat keseimbangan alam terganggu, namun hanya jiwa yang bisa menembus seluruh dimensi dengan kedipan mata. Tanpa memerlukan sebuah element untuk mempertahankan eksistensi dari jiwa itu sendiri, hanya dua perjalanan sudah menguras waktu berjam-jam di dalam dunia nyata.
Di hutan gelap tanpa bintang terlihat seorang wanita paruh baya dengan nafas memburu tergeletak di bawah sebuah pohon besar, wajah nya tidak lagi menampakkan sebuah riasan. Wajah itu di penuhi luka dengan bibir yang mengalirkan darah segar tapi tubuh nya juga seperti sudah lelah dan tak sanggup bergerak lagi.
Di dalam pandangan samar nya terlihat gadis tanpa topeng yang bersila di depan sana mulai menurunkan satu kaki nya dan langkah itu mulai mendekat ke arah nya, berjalan semakin dekat namun melewati pedang dengan sinar biru mempesona dan kitab suci yang terbang di atas nya. Langkah nya memang menuju ke arah wanita paruh baya, terlihat langkah itu berhenti dan mulai berjongkok dan memperhatikan bagaimana keadaan ibu tirinya.
"Ikhlas adalah hal tersulit, bukan hanya kata dari bibir tapi sebuah pembuktian dari niat di dalam hati." ucap gadis itu dengan menatap ibu tiri nya penuh belas kasihan.
"Sekali lagi aku meminta keiklhasan anda untuk mengampuni kesalahan ayahanda ku yang tidak bisa adil terhadap mu, bukan tentang tahta yang hanya bersifat sementara. Tapi pedang itu menjadi awal akhir dari sebuah awal dunia baru, aku harap anda bisa memahami ucapanku." ucap gadis itu dan menjentikkan jari nya dan menyentuh kening ibu tiri nya.
*Perisai cahaya biru abadi* batin gadis itu dan berdiri setelah sebuah gelembung dengan cahaya biru berkabut mulai menyelimuti tubuh ibu tiri nya.
Langkah nya meninggalkan satu pasang mata dengan bibir terkunci di dalam gelembung berkabut dan mencabut pedang Suci dan mengambil kitab Suci yang terbang di atas pedang itu untuk kembali di masuk kan ke dalam ruangan tanpa batas nya. Sejenak di amati nya bagaimana keadaan hutan yang ada di sekitar nya, cukup berantakan seperti badai baru saja melewati tempat itu.
Taaak...
Wuuussshh..
Tanpa menunggu perkembangan dari tindakannya, gadis itu meninggalkan hutan dan kembali ke tempat seharusnya dimana seseorang harus kembali bersama nya. Hutan dengan bunga cahaya menyambut kehadirannya, terlihat banyak peri yang terbang kesana kemari melakukan pekerjaan masing-masing.
"Lady cristal? " panggil seseorang yang duduk di sebuah bunga bercahaya.
"Apa kabar mu peri? " tanya Clara dengan berhenti di dekat seseorang yang terbaring dengan lelapnya.
"Baik, bagaimana dengan anda? Ksatria Lulu mengatakan jika anda... " ucap peri itu.
__ADS_1
"Hmm.Panggilkan Achela." perintah Clara dengan menghentikan ucap an peri nya.
"Baik Lady." jawab peri Fyra dan terbang menuju titik portal yang menjadi sebuah pintu ajaib.
Sebuah ukiran yang dibuat oleh Clara sebagai penghubung hutan cahaya dengan Istana langit, yah itu di lakukan untuk memudahkan orang-orang tertentu berpindah tepat tapi hanya garis takdir masing-masing yang bisa menentukan kemana mereka akan berakhir.
Seperti air yang mengalir menentukan muara terakhir mereka pada sebuah peraduan, yah seperti itu lah sebuah garis kehidupan yang tak terlihat oleh mata telanjang. Kini di hadapan Clara ada seseorang yang masih terlelap karena perisai yang diberikan oleh nya dan dengan menyentuh kening orang itu, garis-garis cahaya seakan terserap ke dalam satu jari telunjuk yang menyentuh kening orang itu.
"Eemp, dimana aku? " ucap lirih orang itu dengan mencoba membuka kelopak mata nya.
"Bangunlah, waktu nya memenuhi tugasmu." ucap Clara membantu orang di depannya untuk duduk.
"Siapa kamu?" tanya orang itu dengan memandang Clara bingung.
"Berikan telapak tanganmu." perintah Clara yang sudah menyodorkan tangan kanan nya seperti uluran tangan pertemanan.
Orang itu dengan tatapan bingung tetap menerima uluran tangan Clara dan menggenggam tangan nan dingin itu, namun seperti tersengat hampir membuat orang itu melepaskan tangan nya. Namun dengan genggaman tangan Clara yang kuat membuat tangan orang itu tetap di genggaman nya, dari sengatan yang mengejutkan berganti dengan kilas kehidupan dari dua orang sekaligus meskipun secara bergantian.
"Ituu? " ucap orang itu dengan bibir gemetar menyaksikan kehidupan dua orang berbeda dan berakhir menjadi satu jiwa dan kini jiwa itu menempati raga nya.
"Itu kalian, maaf aku tidak mengubah takdir." ucap Clara dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa Lady, kami menerima takdir hidup kami. Dengan keikhlasan , mungkin ini memang takdir kami menyatu." jawan orang itu dan melepaskan genggaman tangan setelah melihat siapa dirinya sebenarnya.
"Tapi rahasiakan siapa dirimu sebenarnya, ada hal yang membuat identitas mu harus tetap di sembunyikan. Cukup menjadi Cleo seperti biasanya." ucap Clara memberikan nasehat sekaligus perintah.
__ADS_1
"Seperti yang anda inginkan Lady." jawab Cleo bersamaan dengan kemunculan makhluk lain ke dalam hutan cahaya.