
Perlahan awan mulai bergeser seakan menuruti sang tuan rumah tanpa halangan, membuat Clara dengan mudah membawa starla memasuki altar jiwa. Sebuah altar dengan air mancur berbagai warna menyatu di satu peraduan, satu inti dari semua aliran, sebuah permata dengan lima batu Cristal yang menjadi inti altar memancarkan aura pekat dengan berbagai element.
Cristal merah, Cristal biru, cristal hitam, cristal putih dan cristal merah muda. Kelima cristal ini memiliki inti cristal yang menjadi batu dengan bentuk seperti satu tetesan 💧, tanpa adanya cahaya dari setiap cristal meskipun aliran berbagai warna terus memberikan hujan kesegaran.
"Biarkan mereka menyerap dan jangan melawan arusnya, paham starla! " ucap Clara yang mulai memberikan contoh menyentuh satu aliran air mancur berwarna bening, air mancur pertama disaat langkah kaki nya memasuki altar.
Dari jemari nya mengalirkan element utama yaitu element cahaya yang mulai menari mengikuti arus aliran air mancur hingga menyentuh setiap cristal yang ada di tengah, perlahan satu persatu setiap aliran air mancur menyerap element yang berbeda membuat Clara dan stara tahu air mancur mana yang mendapatkan element mereka dan air mancur yang tidak mendapatkan penyerapan element.
Dari air mancur berwarna pelangi kini telah menyerap element dari kedua gadis kembar itu, Starla berhasil memberikan 3 element yaitu api, angin dan bumi sedangkan Clara berhasil memberikan semua element kecuali satu air mancur yang berwarna campuran. Air mancur terakhir itu tidak menyerap element apapun, hingga membuat cristal inti yang masih menjadi batu tidak akan mendapatkan perubahan sesungguhnya.
"Ka? Apa semua baik? " tanya starla melihat wajah Clara nampak serius.
"Tinggal satu air mancur, tapi kakak tidak tahu bagaimana membuat air mancur ini menyerap element kita." jawab Clara berfikir.
"Aneh juga, bahkan tidak menyerap milikku juga. Apa harusnya kita lakukan bersama ka? bukankah air mancur terakhir ini terlihat berbeda dengan perpaduan warna yang di luar pemikiran." ucap Starla dengan menjentikkan jarinya.
"Ayo kita coba, semoga berhasil." ajak Clara menyodorkan tangan nya yang menggenggam tangan starla sedari awal.
Pluuk.. pluuk.. fiuuuh...
Tangan yang saling menggenggam perlahan menyalurkan element cahaya biru dengan element permata alam merah, membuat air mancur terakhir berputar seakan mendapatkan kunci yang melepaskan segel tersembunyi. Perlahan tetesan dari air mancur terakhir membuat satu cristal batu mulai menyerap seluruh energi yang tersalurkan dari setiap air mancur, membuat batu itu kini bersinar terang dengan cahaya biru keemasan bersemu kemerahan.
"Wow cantik sekali ka, bisakah kita bawa ke istana ka? " ucap Starla dengan antusias.
*Adikku ini masih sempat berfikir hal aneh! Ku harap kecerian nya tidak pernah luntur setelah melihat sesuatu yang mengubah hidupnya.* batin Clara menatap adiknya dengan was-was.
__ADS_1
"Ka? Ka Clara? " seru starla dengan mengayunkan tangannya yang terpaut dengan tangan kakaknya.
"Jika cristal inti berpindah tempat, hutan ilusi akan terbuka perisai nya dan itu artinya seluruh alam akan musnah menjadi satu nama Ilusi!" jawab Clara dengan tenang.
"Maksud ka Clara, tanpa perang pun seluruh alam akan hancur begitu? " tanya starla.
"Bukan hancur tapi hilang tanpa jejak, sejarah pun tidak akan mengenang siapapun kecuali mereka yang mampu mendatangi altar jiwa ini. Itupun jika masih ada yang tersisa!" jawab Clara mengelus pipi starla.
"Huft menyeramkan juga, tapi apa guna nya cristal inti itu ka? Kenapa kakak membawa ku kesini jika cristal itu tidak bisa berpindah tempat. " tanya starla dengan cemberut seakan kehilangan kesempatan mendapatkan keinginannya.
Tanpa menjawab starla, Clara membawa tangan adiknya untuk menyentuh cristal inti. Terlihat wajah cemberut adiknya seketika berubah menjadi serius, terlihat perubahan drastis membuat Clara menarik kembali tangan adiknya. Dengan mendekati adiknya dan memeluk tubuh terkejut starla yang membuat Clara menyesal , membawa Starla ke tempat altar jiwa namun tidak ada yang bisa menggantikan posisi adiknya karena darah Starla sama seperti miliknya.
"Jangan khawatir semua akan menjadi tanggung jawabku starla, aku ingin kamu menggantikanku disaat waktu berkhianat. Kita bisa sudahi penglihatan dari altar jiwa, kakak tidak akan memaksa mu lebih melihat semua itu." ucap lembut Clara sembari mengelus pundak starla yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Tidak ka! Aku harus melihat dari awal hingga akhir, kakak ada bersamaku. Aku pasti akan baik-baik saja." jawab Starla dengan penuh kepercayaan melepaskan pelukan dan menatap mata kakaknya dengan keseriusan.
"Kakak akan menjadi pelindung mu, ayo pejamkan mata mu dan lihat sejarah dengan garis takdir masa kini dan masa depan. Melintasi benang kehidupan yang telah memudar. " ucap clara dan memeluk starla dari belakang agar penjagaan tetap menjadi prioritas utamanya.
Sedangkan di istana api, pendeta baru saja menyelesaikan tugas pertama nya bertemu Raja Azio dan sesepuh Barbarus , dengan teleportasi yang di gunakan raja Azio kini pendeta menikmati butiran lembut nan dingin di depan sebuah istana yang megah berselimut salju putih yang menawan.
"Maaf tuan anda siapa? " tanya seorang prajurit yang melihat kedatangan pendeta.
"Saya pendeta, tolong sampaikan pada Raja Lars Calleum. Urusan Ratu Kerajaan Langit membawa pesan rahasia untuk sang Raja."jawab pendeta dengan sopan.
" Baik tuan, tunggu sebentar." ucap prajurit itu meninggalkan pendeta untuk memberitahukan kepada prajurit lainnya agar pesan segera sampai ke telinga raja.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, sebuah putaran angin muncul di hadapan pendeta menampakkan seorang pria dengan mahkota nya. Dengan aura yang telah berubah menjadi lebih dingin, kini pria itu terlihat berbeda dengan wajah super seriusnya.
"Salam Yang Mulia Raja, saya utusan Lady Cristal membawa pesan rahasia untuk anda." ucap Pendeta yang langsung mengatakan tujuannya.
"Ayo ke ruangan ku pendeta, kita bicarakan ini di sana." ajak Lars dengan mempersilahkan pendeta berjalan bersama nya menuju istana.
Begitu banyak perubahan dengan sistem keamanan yang lebih ketat dapat terlihat setelah kepemimpinan berganti pada pangeran satu-satunya di Kerajaan Es, membuat pendeta tidak percaya dengan perubahan besar yang terjadi akibat beberapa hal mengerikan yang telah terungkap. Lars tahu jika pendeta mengamati setiap perubahan di dalam istana, tapi semua itu tidak masalah untuk nya karena pendeta juga kepercayaan kakak iparnya.
"Silahkan masuk, Tinggalkan Seluruh istana bagian utara! " ucap Lars yang tidak menginginkan adanya mata-mata.
Setelah menggunakan element udara nya untuk memeriksa keadaan sekitar dengan jarak yang sudah di tentukan, Lars ikut memasuki ruangan kerjanya dimana sang pendeta telah duduk di sudut ruangan sembari melihat catatan di atas meja yang berserakan.
"Maaf pendeta, aku harus memastikan keadaan aman terlebih dahulu. " ucap Lars dan duduk di depan pendeta berjarak sebuah meja yang kecil tempat Lars memeriksa berkas Kerajaan.
"Apa ada masalah Raja? Kenapa catatan ini seperti tidak rapi? " tanya pendeta mengalihkan pembicaraan.
"Bukan hal begitu penting, biasa banyak para bangsawan yang mulai bermain belakang. Bukankah ada hal yang lebih penting pendeta? " jawab Lars dan menumpuk catatan demi catatan menjadi satu.
"Untuk anda Yang Mulia." ucap pendeta mengambil dua bola Cristal berbeda dan meletakkan nya di atas meja yang kini menjadi rapi dalam sekejap.
"Apa ini pendeta? " tanya Lars menyentuh salah satu bola Cristal.
"Satu adalah undangan pertemuan selanjutnya dan satu nya lagi hanya anda yang bisa mengetahuinya Yang Mulia." jawab pendeta dengan santai namun tidak melupakan tata krama.
"Ayolah pendeta, panggil aku pangeran saja. Sebutan Raja membuat ku sangat tua rasanya hahaha." ucap Lars dengan ekpresi yang sedikit melunak.
__ADS_1
"Bukankah tanggung jawab mu semakin berat Pangeran, aku senang dalam waktu singkat seorang pemuda penuh dengan rasa penasaran kini menjadi seorang Raja yang berwibawa. Tetaplah rendah hari pangeran dan bijaksana. " ucap pendeta menasehati Lars yang di sambut dengan anggukan dan senyuman.
Keduanya menghabiskan beberapa waktu untuk saling bertukar pendapat, sedangkan di Kerajaan langit kini sebuah halaman luas yang dipenuhi ilalang berubah menjadi retakan tanah dengan suhu yang meningkat membuat makhluk mungil terbang kesana kemari untuk menghindari ledakan yang tengah melanda tempat terlupakan itu.