
"Dalam pertarungan mu dan pria itu, aku melihat segalanya dalam meditasi ku, tapi meditasi ku masih belum berakhir hingga aku harus tetap bersabar" ucap clara, terdiam sejenak mengambil nafasnya.
Disaat Trish berusaha mengecoh pria bertopeng, Clara sudah mulai menyelesaikan meditasi nya, kelopak bunga terakhir sudah menutup dirinya sempurna. Namun menunggu Bunga Air mekar bukanlah waktu singkat, meski Clara bisa menghancurkan Bunga air tapi itu sama saja membuang meditasinya sia-sia. Hingga akhirnya Trish membawa pria bertopeng itu menjauh dari tempatnya, memang benar pria bertopeng tidak menyadari keberadaan dirinya, namun Clara tahu jika tujuan pria itu untuk mendapatkan Pedang Suci dan jika Pedang Suci jatuh ke tangan yang salah maka sudah dipastikan Pedang itu akan menjadi bencana.
Baik dan buruk tetaplah Pedang akan memakan darah lawan, namun niat dari Tuannya yang akan menjadi Takdir Pedang itu sendiri. Pedang Suci bukanlah pedang yang hanya sekedar ditempa karena Pedang itu terbentuk dari berbagai entitas, roh dan sihir, elemen-elemen dalam Pedang Suci seperti kehidupan bagi pedang itu sendiri, sekali darah yang mengalir untuk kejahatan maka Pedang Suci akan menjadi kutukan, memang benar Pedang Suci menjadi perebutan sejak dulu namun Bunda Risa selalu menetralkan aura pedang itu disaat mendampinginya berkelana, banyak Ksatria yang tertipu dengan Aura Pedang Suci, akan tetapi sejauh ini Clara masih belum bisa menetralkan Aura Pedang Suci dan terlebih disaat meditasi. Seluruh kekuatan sepenuhnya menjadi milik Sang Pedang dan titik lemah pun tidak bisa diremehkan. Disaat Pedang Suci tidak terikat dengan Clara, maka siapapun yang bisa mencabutnya pasti sebanding dengan kekuatan Pedang Suci, Seperti Kitab Suci yang memiliki syarat untuk mampu membacanya dan Pedang Suci pun memiliki syarat yang sama. Memiliki Pedang Suci meski bukan pewaris tetap saja akan memberikan penggunanya kekuatan yang luar biasa.
Seandainya raganya tidak mencapai batas kehidupan untuk menemukan jati dirinya, mungkin dirinya tidak perlu bermeditasi dan membuat para musuh yang tenang terbangun dari tidurnya, yah melepaskan Pedang Suci dan Kitab Suci sama dengan menunjukkan keberadaan sang pusaka yang menjadi perburuan para musuh. Pedang Suci yang tertancap itu murni hanya kekuatan pedang itu sendiri dan disaat cahaya biru kembali lagi secara perlahan itulah ikatan nya bersama Clara yang kembali dimana berarti Clara menyelesaikan meditasinya dengan sempurna, kelopak demi kelopak Bunga Air mengembang sempurna. Bukan mata yang yang melihat segalanya, Clara melihat segalanya dengan jiwanya.
Kemarahan dan ketenangan menyelimuti dirinya, dengan pasti Clara membuka matanya, Sang Naga yang sudah menghancurkan senjata pria bertopeng namun mulai membuat ilusi membelah dirinya,Clara berjalan dengan tenang mendekati Sang Naga.
Grgr.. (Suara Naga menyambut Tuannya)
"Tenanglah! Semua akan baik. " ucap Clara memandang Naga nya dan langsung berbalik ke arah pria bertopeng yang sudah membelah diri.
*Cahaya Abadi* ucap Clara mengayunkan tangannya ke pria bertopeng.
Slaaz.. (Sinar biru menyilaukan mata siapapun yang melihatnya kini menyelimuti gua itu)
"Hahaha kekuatan macam apa ini yang tidak menyakiti secuil pun! Haha. " ucap pria bertopeng dengan angkuhnya.
*Pedang Api* ucap pria bertopeng dan seketika semua pria bertopeng memiliki senjata yang sama, pedang dengan api yang berkobar.
*Pengikat Cahaya* ucap Clara dan dengan cepat menarik benang cahaya yang sudah sempurna mengelilingi pria bertopeng, seketika pedang pria bertopeng jatuh dan tangannya patah dari dalam karena ikatan cahaya itu sangkat kuat.
Kreek,, prang...
"Tidak mungkin! Lepaskan bede*bah! " seru pria bertopeng dengan amarahnya.
Clara perlahan berjalan ke arah pria itu, setiap langkahnya menghilangkan cahaya birunya, dan tepat berhenti di depan pria bertopeng itu hanya menyisakan jarak beberapa langkah.
"Katakan Pada Tuanmu, Jangan Mencuri, apa yang bukan menjadi hak nya, maka tidak bisa dimiliki. " ucap Clara dengan tersenyum.
"Cu*ih.(meludah di depan Clara) Tuanku yang Terkuat, gadis kecil seperti mu hanya lalat untuk Tuanku. Aku bisa menghancurkan mu, untuk apa menunggu Tuanku. " seru pria bertopeng dengan memandang Clara dari atas ke bawah.
"Atau bermalam lah denganku, akan kulepaskan dirimu setelah itu. " ucap nya lagi.
"Hmm.Sungguh kompromi yang menguntungkan. " jawab Clara dengan senyuman devilnya.
"Kemarilah." ucap pria bertopeng, dirinya berfikir Clara sama saja dengan kebanyakan wanita, hanya menjadi pemuas nafsu dan lihat saja gadis itu dengan mudahnya menyetujui penawaran nya dan pemikiran buruknya ini dibaca oleh Clara.
*Cahaya Api* seru Clara dan seketika Pedang Pria bertopeng itu terbang ke arah Clara berubah menjadi Pedang layaknya Pedang Suci karena aliran kekuatan yang sama.
"Enyahlah! " ucap Clara menghilangkan senyuman nya, melemparkan pedang itu ke tubuh pria bertopeng, membaca isi kepala pria bertopeng membuat Clara tiba-tiba muak, ntah berapa banyak wanita yang menjadi korban pria didepannya ini, jika melenyapkan nya menghilangkan satu noda keburukan, maka tidak masalah untuknya.
__ADS_1
Duarr.. Duarr.. Duarr.. Duarr
Ledakan ilusi itu kini terbang menjadi serpihan angin, wajah yang begitu angkuh perlahan pucat karena terkejut, tidak mungkin keahliannya yang paling utama dihancurkan dengan pedang nya sendiri dan didepan matanya sendiri tapi kenapa pedang itu tidak menyentuh dirinya sama sekali.
"Hahaha luar biasa menarik. Tapi sepertinya kekuatan mu tidak mampu melukai ku meski bisa menghancurkan ilusi ku. " seru pria bertopeng meski dirinya merasa terjebak namun tentu tidak ingin dikalahkan.
"Rupanya kekuatan membutakan anda! apakah anda tidak sadar keadaan anda saat ini? " ucap Clara menelisik pemandangan didepannya.
Seorang pria bertopeng yang masih terikat Cahaya , tangannya yang terlihat jelas sudah patah dari dalam, namun masih dengan angkuhnya menyombongkan diri bisa menghancurkan lawannya.
"Aku tetap bisa menghancurkan mu Gadis ku. " seringai pria itu terlihat jelas.
*Petir Cahaya* seru Clara.
Cetar.. (Suara petir memenuhi gua)
Glek.. (Pria bertopeng menelan ludahnya melihat Clara sudah memegang Pedang nya yang kini di aliri petir)
"Apa, seberapa besar gadis ini memiliki kekuatan. Apa dia Sang Pewaris? " batinnya mulai gemetar menerka selanjutnya.
"Apakah sekarang sudah berpijak pada tanah Tuan? " sindir Clara yang sudah membaca isi fikiran pria bertopeng.
"Seperti nya tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. " ucap Clara menghilangkan kekuatan di pedang pria bertopeng dan melepaskan ikatan pria bertopeng itu dengan menjentikkan jarinya.
Clara membiarkan pria itu terjatuh setelah lepas dari ikatan nya, Tidak ada gunanya melukai orang yang sudah tidak berdaya, yang terpenting dirinya bisa menjaga Takdir yang sudah diwariskan padanya dan melihat ketakutan di mata pria bertopeng menjadi alasan Clara melepaskan pria itu.
Wuush...
"Argh.. Panas.. Panas. " seru pria bertopeng itu.
Clara sudah dengan tulus melepaskan pria bertopeng itu dan kembali mendekati Naga nya namun disaat berbalik justru pria itu sudah siap untuk mengayunkan pedangnya, Sang Naga yang melihat Tuannya dalam bahaya langsung menyemburkan Api dan membakar pria bertopeng itu.
"Hmm.Sungguh menyedihkan tidak mau melepaskan ego sendiri. " gumam Clara yang melihat pria bertopeng itu kepanasan dan dalam waktu singkat tubuh pria itu jatuh.
*Padamlah* ucap Clara mengedipkan matanya.
Api yang menyelimuti pria bertopeng padam namun nyawanya tidak lagi berada di raga itu, Clara hanya mempermudah lawannya untuk kembali pada keluarga nya agar bisa dimakamkan dengan layak.
"Terimakasih melindungi ku. Pergilah ke tujuan selanjutnya, di waktu yang Takdir inginkan. Kita akan melakukan pertarungan luar biasa. " ucap Clara mengelus kepala Naga Suci.
Tiba-tiba Trish datang dan langsung memberikan pertanyaan tanpa henti, bukannya Clara tidak tahu perjuangan Pangeran itu. Tapi hatinya masih takut menjadi beban orang lain karena tanggung jawab nya sebagai Pewaris Kitab Suci.
................ ...
__ADS_1
"Sudah." ucap Clara mengakhiri kisahnya.
"sungguh gadisku menakjubkan. " ucap Trish tersenyum memandang Clara.
"Tapi kenapa Tidak menggunakan Pedang Suci saja? Bukankah kekuatan nya lebih besar? " tanya Trish menyangga dagunya dengan tangan.
"Pedang Suci hanya diperlukan disaat semua jalan sudah tertutup, jika kekuatan dari diri sendiri cukup untuk bertahan hidup, maka lakukan dengan kekuatan diri sendiri. Keraguan di hati karena niat pun mampu mengubah kekuatan Pedang Suci jatuh sejatuh-jatuhnya. " jawab Clara.
"Apakah artinya Pedang Suci bersama mu untuk Takdir dari Ramalan selama ini? " tanya Trish.
"Pangeran Trish Illarion. Kenapa anda berpura-pura seperti rakyat biasa? Bahkan anda sendiri juga terjun di jalan yang sama. " ucap Clara melirik Trish dengan waajah serius.
"Apa maksud Tuan Putri? " jawab Trish sedikit terkejut.
"Lupakanlah.Mungkin itu pilihan anda untuk Diam. " ucap Clara menyindir Trish.
Clara bangkit dari duduknya dan meninggalkan Trish yang seperti orang kebingungan, Clara tahu segalanya tentang Pangeran Trish dan Illarion, semua informasi di dapatkan dari semua orang kepercayaan neneknya. Dengan jelas neneknya mengatakan masing-masing orang yang mengelilingi dirinya, bukan untuk memata-matai tapi untuk mengetahui seberapa jauh keterlibatan setiap orang dengan Takdirnya.
Hidup Clara yang semula hanyalah lembaran kosong, kini penuh dengan tinta, setiap yang hadir ikut menuliskan jalan mereka hingga jalan itu menjadi satu dengan jalannya. Termasuk Trish Illarion yang sejak awal memang sudah berada dijalan sama meski jalan mereka melewati titik yang berbeda, bukan tanpa alasan kenapa Clara membiarkan Trish bertarung dengan Naga Tlecxitly Belenda, atau bertarung dengannya. Clara berusaha menyiapkan segalanya tanpa memberikan tahu tujuannya kepada siapapun, sungguh berat baginya ketika harus fokus berlatih menyeimbangkan kekuatan dan pendamping nya, dan masalah yang datang silih berganti.
"Apakah Clara tahu semuanya? Tapi jika tahu kenapa masih bersikap tenang . Apakah ini hanya perasaanku saja. " batin Trish bingung dengan apa yang sebenarnya sudah diketahui Clara tentang dirinya.
.............. ...
"Sudah kembali nak? " tanya sang pendeta yang melihat Clara masuk.
"Sudah Pendeta. Aku akan membawa Starla kembali ke istana. " ucap Clara yang melihat adiknya tertidur pulas.
"Baiklah, lalu dimana Pangeran Trish? " tanya sang Pendeta yang tidak Melihat sosok Trish.
"Mungkin masih terkejut Pendeta. " jawab Clara dengan santai.
"Ada apa Clara? " tanya Pendeta yang melihat wajah Clara sedikit sedih.
"Bukan hal serius Pendeta. Clara pamit pulang bersama Clara. " ucap Clara memeluk adiknya yang berbaring.
"Baiklah.Sampaikan salam pada Ibu Suri. Ingatlah untuk membuat Ramuan Patah. " jawab Pendeta sambil menasehati Clara.
sling... (Clara menghilang didalam portal dimensinya)
"Pasti ada yang terjadi. " batin Pendeta.
Clara kini sudah berada dikamarnya bersama adiknya starla, memeluk adiknya untuk merasakan kehangatan dan rasa lelah nya membawa dirinya ikut terlelap. Sedangkan Trish yang baru sadar dari seluruh tanda tanya baru ingat menyadari jika Clara sudah meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Ahhg. Kenapa aku selalu ditinggalkan! Aku harus menceritakan segalanya atau salah paham akan terjadi. " gumam Trish yang terus mengacak rambutnya karena rasa bersalah.