
"Aku akan mengawasi kalian, dan apa yang harus aku lakukan padamu?" ucap Clara menghilang kan perisai nya dan menatap hewan langka di depannya dengan serius.
Perlahan Clara mendekati Lion Devil yang benar-benar dalam keadaan sekarat, biasanya hewan langka satu ini akan bersama kawanannya tapi kenapa bisa hanya sendiri terlebih lagi menjadi korban pemujaan. Pasti ada penyihir yang bersiap untuk gerhana bulan putih nanti, tapi siapa penyihir yang cukup kuat hingga tahu cara mengolah pemujaan dengan darah Lion Devil.
Satu tangan kanan nya mencoba mengalirkan element cahaya nya yang bisa memberikan penyembuhan meskipun hanya sedikit, karena pada dasarnya element cahaya nya hanya bekerja pada senjata pedang suci. Melihat Lion Devil mulai membuka mata nya lebih lebar, Clara semakin menyalurkan element cahaya nya agar hewan langka itu setidaknya bisa kembali pada kawanannya.
"Kembalilah pada keluarga mu, aku tahu dengan darahmu maka portal ku bisa mengantarkan mu ke tujuan yang tepat. Masuklah dan jaga diri mu baik-baik, maaf aku tidak bisa mengantarkan mu." ucap Clara membuka satu portal dengan sedikit tetesan darah Lion devil yang masih segar.
Wuuusshh...
"Sebaiknya aku mengedarkan mana ku saja, setidaknya aku tahu persis dimana bunga itu. " gumam Clara setelah menutup portal nya.
Dengan mengedarkan mana nya, Clara menggunakan mata batinnya untuk melihat setiap jengkal gunung Vexia. Jurang, lembah dan tanjakan yang cukup curam dengan berbagai jenis pepohonan, berbagai jenis hewan biasa dan langka terlihat dengan beberapa kelompok pemburu yang berada di beberapa titik, hingga mencapai puncak gunung Vexia.
Sebuah tempat yang lapang dengan rumput hijau yang lembut, suara gemericik air terdengar dari puncak gunung. Terlihat sangat sunyi namun terasa sesak, penglihatannya seakan bertemu dengan pandangan orang lain.
"Semoga saja aku tidak salah, kenapa ada mata di dalam gunung ini? Bukankah ini wilayah netral, lalu siapa yang menjadi mata? " gumam Clara menatap ke atas langit seakan mencari jawaban dari alam.
Wuuusshh....
Dengan portal nya, Clara telah beralih ke puncak gunung menapaki rumput lembut yang terasa sangat penurut. Setiap kali pijakan terangkat maka rumput akan kembali tegak berdiri seakan tidak ada yang pernah menginjak nya, Clara bisa merasakan mata yang mengawasi setiap getakannya.
*Biarkan saja, aku hanya ingin mengambil bunga itu dan segera mengobati starla. Aku rasa aura ini hanya ingin mengetahui niatku.* batin Clara dengan melanjutkan langkah kakinya.
Tes... Tes.. Tes...
Suara air semakin terdengar namun tidak begitu deras seakan asal air itu bukan dari air terjun, langkahnya terhenti tepat di dua pohon yang seakan menyatu dengan cabang yang saling bertautan di atas sana. Tangan Clara terulur untuk menyentuh pohon yang menurut nya cukup aneh dan menarik, namun belum tangannya menyentuh, tanah sudah bergetar seakan gempa melanda membuat Clara menghentakkan satu kaki nya untuk menghentikan getaran itu.
Tanah berhenti bergetar berganti dengan hujan panah yang menerjang Clara dari belakang, membuat Clara mengambil pedang nya untuk menangkis setiap panah yang mendekat. Panah terus berdatangan membuat Clara menggunakan element api nya untuk membakar habis hujan panah yang membuatnya kehilangan waktu meski sesaat.
"KELUAR! " seru Clara dengan pedang yang menancap di atas rerumputan.
Pusaran angin terlihat begitu besar mulai mendekati Clara dengan salju yang menggulung, semakin mendekat dengan kecepatan badai. Tapi wajah Clara masih tetap tenang dengan senyuman penuh arti, detik terakhir badai salju menyentuh Clara menelannya dan membuat sosok yang melakukan semua itu muncul dari balik persembunyian nya.
"Aku kira gadis itu berilmu, rupanya hanya gadis ingusan! Tapi lumayan juga, sayangnya sudah terbang ntah kemana. Hehehe." ucap sosok itu dengan memegang perutnya karena menahan tawa nya agar tidak berlebihan.
__ADS_1
"Dasar pengecut! Aku ada di belakang mu!" seru Clara dan menye dekap kan kedua tangannya di dada.
"HAH! Kau selamat, bagaimana mungkin?! Aku pasti halusinasi, yah pasti." gumam sosok itu mengucek mata nya beberapa kali namun jelas gadis di depannya itu masih berdiri dengan kedua kakinya.
"Ck.. Ck.. Ck.. Seperti nya jiwa Ksatria mu sudah musnah Pak tua!" ucap Clara dengan santai.
"APA KAU BILANG!" teriak sosok itu dengan wajah merahnya.
"PAK TUA! " jawab Clara dengan suara yang sengaja lebih keras.
"Dasar bocah! Kurang ajar sekali dengan orang yang lebih tua." cecar sosok itu dengan melontarkan belati di lengannya.
Dengan tenang Clara menghindar seakan itu bukan hal yang sulit, terlihat sekali pria tua di depannya ini seperti pengembara. Pakaian nya jauh dari kata layak, tapi satu simbol yang terlihat di sela baju robek nya , simbol itu cukup di kenal oleh Clara sebagai seorang Ratu Kerajaan Langit. Dengan element udaranya, Clara mempercepat gerakannya hingga dalam hitungan detik sudah berdiri tepat di depan pria tua itu dan mengambil simbol yang ada di dadanya, kembali berpindah ke tempat awal menjauh dari pria tua.
"Pergilah, atau haruskah aku buang ini? " ucap Clara menunjukkan simbol itu ke arah pak tua.
Terlihat jelas mata pak tua itu semakin melotot dan mencari simbol miliknya di sekitar pakaian robek nya namun nihil karena simbol itu kini telah berpindah ke tangan gadis yang di jailinya. Dengan mata yang melotot bercampur hidung kempas kempis maka terlihat jelas amarah tengah mengepul di dalam kepala pria itu, Clara hanya bersikap masa bodo sebagai balasan sikap pengecut nya pria itu.
"Kembalikan milikku! Jika tidak... " seru pria tua mengarahkan pedang nya ke depan.
"Ayo bertarung dan dapatkan milik mu." ajak Clara membuat simbol itu tergulung dengan element air menjadi bola cristal.
"Lihat, aku tidak menyimpan nya. Ambillah! " ucap Clara dengan mengambil pedang nya.
Dengan cepat pria tua itu berlari mendekati cristal air yang memang tepat berada di tengah di antara dirinya dan Clara, dengan mengayunkan tangannya pria itu mencoba menurunkan cristal air dengan element udara nya. Namun Clara juga menghalangi setiap usaha pria tua itu dengan mematahkan setiap mantra dari element yang di miliki pria tua itu.
"Si@l! Awas kau! " seru pria tua itu menghampiri Clara dengan element udara nya mempercepat langkah kakinya.
Traang, Traang, Traang...
Pedang saling bertabrakan mengasah kemampuan masing-masing dengan beberapa kali gerakan tubuh menghindar, terlihat jelas kemampuan keduanya tidak bisa di ragukan. Clara bisa merasakan tingkatan ilmu yang di miliki pria tua itu, namun pria tua itu seperti batu yang belum di pahat. Andai saja pelatihannya seperti yang di dapatkan dirinya atau starla, sudah pasti pria tua itu akan memiliki keterampilan lebih baik dalam bertarung.
*Perisai cahaya* ucap Clara dengan gerakan memutar tubuh nya dan berpindah ke belakang pria tua itu dengan satu langkah.
Perlahan perisai cahaya mulai menyelimuti pria tua itu , menghentikan setiap pergerakan dan meninggalkan pedang yang terjatuh dari tangannya. Tangan yang sudah mulai terlihat keriputnya itu mencoba memukul perisai cahaya meskipun hasilnya nihil, Clara hanya menggeleng melihat usaha pria tua itu.
__ADS_1
Dengan membiarkan pria tua itu memberikan ucapan serapah sumpah yang cukup membuat telinga Clara panas, tangannya lebih memilih mengambil pedang milik pria tua dan merasakan serta melihat siapa sebenarnya pria tua itu. Gambaran demi gambaran tentang kehidupan pria tua itu semakin berkelana, membuat Clara membeku dalam ruangan waktu. Sungguh tidak bisa di percaya apa yang di saksikan oleh nya, membuat Clara terdiam dengan tatapan tajam pada pria tua itu.
Tanpa mempedulikan serapah sumpah pria tua, Clara mengambil simbol yang masih terselimuti cristal air. Memegang cristal air dengan mengalirkan element api nya, inilah cara termudah menghancurkan cristal miliknya, perbedaan element yang akan saling terikat dan terpisah dalam waktu bersamaan.
Byuur... (Cristal air meleleh dan hancur karena aliran element api milik Clara)
*Kitab Suci* batin Clara dengan membuka ruangan tanpa batas di tangannya.
Tidak peduli dengan tatapan tajam ataupun ucapan pedas pria tua itu, Clara memastikan sesuatu yang tertulis di dalam kitab dan di balik simbol milik pria tua itu. Mata nya tak berhenti membaca hingga berulang kali, membuat kedua alisnya bertemu.
"Apakah ini yang di maksud ramalan itu? Lalu di mana serpihan lainnya! " gumam Clara menutup kitab suci dan memasukkan nya kembali ke ruangan tanpa batasnya.
"Siapa kau sebenarnya? " tanya Clara menyentuh perisai cahaya nya agar pria tua itu mendengar ucapan Clara.
"Lepaskan bocah! Kembalikan milikku! " seru pria tua itu dengan menunjuk simbol di genggaman tangan Clara.
"Waktu ku tidak banyak, sebaiknya aku kirim dia ke tempat hutan ilusi. Pasti pertapa tua tahu tentang ini. " gumam Clara menatap sesaat pria tua di depannya.
"Aku akan mengirim mu pada seseorang, turuti apapun perintahnya! Jika ingin ku kembalikan milikku! " perintah Clara dengan membuka portal memindahkan pria tua itu ke tempat perbatasan, dimana pertapa tua akan menemui nya setelah telepati yang di lakukan Clara.
Wuuusshh....
"Biarkan aku mendapatkan penawar untuk adikku, urusan ku dengan nya masih belum usai." ucap Clara dan melangkah mendekati pohon yang terlihat aneh.
Aura dengan sihir sangat kental terasa, membuat Clara melewati jalan tengah dari dua pohon bertautan, begitu langkahnya berpindah terlihat jelas perubahan dari kondisi sebelumnya. Dari dalam sini bisa melihat apa yang terjadi di luar sana namun dari luar tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sini, tiba-tiba empat orang pengawal menghampiri nya menunduk dan tangan mereka seakan mempersilahkan masuk untuk mengikuti kemana arah mereka pergi.
Bukan taman bunga yang ada di hamparan luas kanan kiri jalan lurus itu, tapi justru begitu banyak peti mati yang memiliki warna sama dengan ukuran berbeda. Seakan tempat itu memang untuk pameran peti, tapi jelas sekali aura di dalam tempat misterius itu sangatlah campuran dengan hawa kehidupan dan kematian.
Sebuah singgasana dengan hiasan kepala tengkorak terongok di depan Clara dengan jarak lima meter, ke empat pengawal pergi meninggalkan Clara dan tidak mengucapkan satu patah kata pun.
*Nek bagaimana keadaan starla? * ucap telepati Clara pada ibu suri.
*Nak kau dimana? Seperti nya racun itu mulai menyebar lagi, bahkan tabib kewalahan untuk mencari penawar racun ini.* jawab ibu suri dengan suara cemasnya.
*Jangan tabib nek, siapkan ruangan dengan balok es dan taruh starla di atasnya! Aku akan segera kembali!* ucap Clara dengan memutuskan telepati nya karena merasakan aura yang menatapnya dengan tajam seakan menemukan kesalahan yang Clara lakukan.
__ADS_1
"Untuk apa kau membutuhkan bunga mawar salju?! " tanya seseorang yang memandangi Clara tanpa berkedip.
"Untuk hidup adikku! " jawab Clara dengan tegas dan ikut membalas tatapan orang di depannya.