
Wussh....
Pijakan yang terasa lembut di bawah sana, memastikan dirinya menuju ke tempat yang sama untuk melakukan tugasnya ,Udara sejuk menyambutnya dengan kicauan burung yang merdu, awan putih yang menyelimuti seluruh Langit,pohon-pohon berdaun merah hati dengan bunga putih bercahaya dan Pelangi tempat yang masih tenang meski di Seluruh Alam terjadi banyak kekacauan. Hanya tempat ini seperti nya yang masih bebas dari apapun mungkin karena ini tempat ajaib dengan Perisai perlindungan tanpa batas , yah setidaknya tempat ini harus dipersiapkan sebelum perang itu terjadi dan kehadiran seseorang masih di harap kan nya.
Tap.. tap.. tap...
"Bagaimana keadaan mu Nak? Apa sudah selesai tugas mu? " tanya seseorang yang baru saja datang.
"Bolehkah peluk Clara dulu?" ucap Clara membalikkan badannya.
"Kemarilah sayang. " jawab orang itu.
Greb...
Kehangatan yang selama ini didapatkan dari sosok yang mendekapnya, rasa aman dan bahagia mengalir tanpa henti meskipun sudah cukup lama tak lagi merasakan peluk an itu. Hanya setiap kali ada kesempatan maka tidak akan melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kekuatan dari sebuah peluk an kasih sayang, terlebih lagi tangannya yang semakin menua masih setia mengelus rambut ku dengan penuh rasa ketenangan.
"Nak? " ucap orang itu.
"Hehehe maaf nek, Clara hanya rindu dengan pelukan nenek. " jawab Clara mengeluarkan sikap manja nya yang sudah lama terpendam.
"Baiklah cucu ku, nenek akan memeluk mu tanpa melepaskan mu, bagaimana? " ucap nenek mengedipkan matanya.
"Sungguh manis, apa nenek sedang jatuh cinta? " goda Clara.
__ADS_1
"Hahaha kau ini! Katakan kali ini nenek datang sebagai ibu suri atau nenek mu? " tanya nenek serius.
"Pertama tentu saja sebagai nenek ku dan kedua masih sebagai nenek ku baru yang terakhir sebagai Ibu suri. " jawab Clara melepaskan pelukan nya.
"Katakan nak, nenek dan ibu suri siap mendengarkan apa pun yang ingin kau bicarakan." Ucap nenek.
"Tempat ini akan menjadi tempat teraman untuk Semua orang, namun sekali saja ada jiwa yang tercemari kegelapan masuk ke dalam tempat ini maka dipastikan tempat ini akan memudar Perisai nya. Perang yang ku usaha kan agar tidak terjadi akan tetap terjadi, aku berusaha untuk menghentikan niat nya namun niat nya sudah mutlak. " ucap Clara menatap gumpalan awan putih di atas cakrawala.
"Katakan semua nya nak, biarkan Tempat ini memutuskan apakah menyetujui rencana mu atau tidak tapi sebelum itu kita tunggu elang penjaga tempat ini dulu. " ucap nenek menggenggam tangan Clara.
Hanya anggukan kepala yang dilakukan Clara dan menunggu elang penjaga tempat ajaib itu, bahkan hutan ajaib milik Achela sangat jauh berbeda dari tempat ini meskipun begitu hutan ajaib juga tempat yang aman meskipun akhir-akhir ini beberapa makhluk sudah mampu menembus hutan ajaib tanpa seizin Achela. Tapi makhluk yang memasuki hutan ajaib akan terserap aura nya tanpa harus menunggu kedatangan Achela, hutan ajaib yang sudah terselimuti element emas milik Achela membuat hutan itu akan menghancurkan semua aura kegelapan yang berhasil memasuki hutan ajaib. Dan bagaimana dirinya tahu tentu saja karena setelah kontrak darah yang dilakukan nya membuat nya juga menjadi pemilik hutan ajaib, dan perintahnya kepada Achela untuk membuat Pangeran Lars dan Putri Starla menyatukan Permata Alam di hutan ajaib karena itu akan membantu Achela untuk menyelesaikan beberapa makhluk yang sudah mendiami hutan ajaib.
Sejak kontrak darah di lakukan ada saja tugasnya Achela yang harus meninggalkan hutan ajaib hingga fokusnya menjadi ke masalah utama sedang kan tanggung jawab nya pada hutan ajaib menjadi berkurang. Andai saja Clara bisa melakukan semuanya sendiri tapi kenyataan nya sekuat dan sesakti apa pun dirinya, masih harus berbagi tanggung jawab kepada para pendamping nya meskipun semuanya ada lah berawal dan berakhir dari rencana nya sendiri.
Burung yang memiliki tajam itu terlihat sangat kecil dari sini, terbang menukik tajam menghampiri tangan ibu suri yang terulur ke depan, membuat lamunan seorang Clara memudar. Tatapan tajam nya seakan menyambut ku dengan baik mungkin elang itu masih ingat diri ku yang terluka dulu harus disembunyikan di tempat ini agar tidak ada musuh yang mendekati ku.
*Salam Lady Cristal* ucap elang yang hanya didengar oleh Clara.
"Baik lah karena penjaga tempat ini sudah datang aku akan melakukan sesuatu agar bisa mempermudah pembicaraan kita. " ucap Clara.
*Mutiara Bintang* ucap Clara.
Sebuah mutiara berbentuk bintang dengan warna putih mengkilap muncul di genggaman tangannya, dengan tenang Clara mendekatkan Mutiara Bintang ke dada sang elang. Dengan sedikit aliran element cahaya biru Clara menyatukan Mutiara Bintang ke dalam raga sang elang, tanpa ada nya sebuah penolakan dari elang tersebut.
__ADS_1
"Seperti yang kita ketahui ramalan itu sudah terjadi dan semakin mendalam kegelapan yang terpancar, setiap jalan sudah mendapatkan solusinya dan yang ber tanggung jawab. Namun Gerhana Bulan Darah Merah semakin dekat dan setiap musuh yang selama ini bersembunyi sudah memulai rencana mereka, Perang itu akan di mulai setelah Gerhana Bulan Darah Merah terjadi. Senjata-senjata yang mematikan mulai kembali ke pemilik nya masing-masing, baik dengan Takdir ataupun merebut sang Waktu, sebagai Lady Cristal aku ingin melindungi kehidupan yang sudah ditakdir kan menjalani masa depan dan berjuang menghancurkan Sang Pemilik Topeng. Dari seluruh Alam hanya tempat ini lah yang tidak terpengaruh oleh kegelapan, dan hanya tempat ini lah yang mampu bertahan dari kehancuran nantinya. Aku meminta izin mu menjadikan tempat ini sebagai tempat perlindungan bagi mereka yang memiliki Takdir masa depan kepada mu sang elang karena siapa pun yang memasuki wilayah mu maka yang menjaga mereka adalah dirimu sebagai pemimpin dan penjaga tempat ini. " ucap Clara panjang lebar.
"Seperti Perintah Anda Lady Cristal. Ini lah waktu nya tempat tersembunyi di tunjukkan pada dunia, ini lah waktu nya aku keluar dari penjagaan Sang Alam. " jawab elang itu.
"Wah kau bisa bicara sekarang? Bahasa isyarat pun sekarang sudah tidak diperlukan. " ucap Nenek menatap elang nya.
"Ini berkat Mutiara Bintang Yang Mulia Suri, bukankah begitu Lady? " jawab elang.
"Benar, Mutiara Bintang itu memang ditakdir kan untuk mu. Siapa pun yang bisa melihat tempat ini dengan mata mereka, orang-orang itu lah yang mampu tinggal di tempat ini untuk mendapatkan perlindungan. Baik aku ataupun sang penjaga tempat ini tidak memiliki hak untuk meloloskan siapa pun meskipun itu keluarga kita sendiri, untuk hal itu aku hanya akan membuka beberapa pintu bagi mereka yang akan menempati tempat ini dan tugas mu hanya lah melindungi kastil di atas awan dimana kastil itu memiliki apa yang tidak seharusnya terjamah. Dan satu tugas mu lagi yaitu menghilang kan Jalan Pelangi itu, setelah Jalan Pelangi itu tidak ada lagi maka hanya bersama mu lah seseorang mampu terbang ke kastil langit tentu nya aku tidak termasuk karena Aku Bisa terbang bersama Naga Suci. Apakah masih sanggup untuk menjaga mereka yang akan menempati tempat ini, Sang Elang? " ucap Clara dengan melihat Pelangi yang indah dibawah awan.
"Nak, kakek mu berpesan bahwa suatu hari nanti akan ada masa nya sang elang menunjukkan jati dirinya. Apakah ini yang di maksud kakek mu? " tanya Nenek.
"Belum saat nya nek, masa itu akan segera tiba. " jawab Clara.
"Kembali lah ke Istana nek, Starla mencari Nenek kemana-mana dan aku akan menyelesaikan tugas ku disini sebelum kembali ke Istana. Sembunyikan pertemuan ini nek, biarkan masing-masing memiliki rahasia nya sendiri. " ucap Clara memeluk Nenek nya.
Pelukan sesaat sebelum kembali terpisah, setelah kepergian sang Nenek kini hanya tinggal sang elang dan Clara di tempat rahasia itu. Kedua nya tenggelam pada apa yang akan terjadi nanti meskipun segala cara akan di upayakan untuk melindungi semuanya namun Gerhana Bulan Darah sudah merenggut banyak kehidupan.
"Lakukan tugas mu Sang elang dan aku akan membuat Pintu Dimensi Lain. " Perintah Clara setelah menenangkan fikirannya.
Langkah demi langkah Clara meninggalkan sang elang menyusuri tepian dinding perisai tanpa batas, setelah melangkah cukup lama titik yang diharapkan sudah ditemukan, memejamkan matanya sesaat dan perlahan membuka mata nya yang telah berganti warna biru . Pancaran biru dengan kilauan yang menembus pandang membentuk garis dari sentuhan jemarinya, garis yang kini membentuk sebuah pintu Dimensi itu mempeihatkan Wilayah lain yang mampu di pandang Mata Biru Clara. Berpindah cepat dengan portal nya dan melakukan hal sama hingga memiliki 3 pintu Dimensi, dimana ketiga pintu ini hanya akan menarik mereka yang mampu memasuki nya, sedang kan pintu utama hanya akan mampu di buka oleh Ibu Suri. Di Sisi lain sang elang sudah merubah wujudnya menjadi seekor elang raksasa, perubahan wujudnya hanya untuk menelan Pelangi yang membentang bak permadani kerajaan, hanya wujud ini lah yang bisa menampung kekuatan dari Pelangi.
"Waktu nya sudah di mulai, sang waktu pun enggan untuk menengok ke belakang. Selamat datang Gerhana Bulan Darah Merah. " batin Clara meninggalkan tempat sang elang.
__ADS_1