
Orang itu dengan tatapan bingung tetap menerima uluran tangan Clara dan menggenggam tangan nan dingin itu, namun seperti tersengat hampir membuat orang itu melepaskan tangan nya. Namun dengan genggaman tangan Clara yang kuat membuat tangan orang itu tetap di genggaman nya, dari sengatan yang mengejutkan berganti dengan kilas kehidupan dari dua orang sekaligus meskipun secara bergantian.
"Ituu? " ucap orang itu dengan bibir gemetar menyaksikan kehidupan dua orang berbeda dan berakhir menjadi satu jiwa dan kini jiwa itu menempati raga nya.
"Itu kalian, maaf aku tidak mengubah takdir." ucap Clara dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa Lady, kami menerima takdir hidup kami. Dengan keikhlasan , mungkin ini memang takdir kami menyatu." jawan orang itu dan melepaskan genggaman tangan setelah melihat siapa dirinya sebenarnya.
"Tapi rahasiakan siapa dirimu sebenarnya, ada hal yang membuat identitas mu harus tetap di sembunyikan. Cukup menjadi Cleo seperti biasanya." ucap Clara memberikan nasehat sekaligus perintah.
"Seperti yang anda inginkan Lady." jawab Cleo bersamaan dengan kemunculan makhluk lain ke dalam hutan cahaya.
Aura yang sangat di kenali Clara, karena ke dua makhluk yang baru saja datang dengan portal itu adalah Achela dan peri Fyra, kedua nya datang setelah tujuan Clara selesai. Tanpa menunggu waktu lama Clara dan rombongan nya kembali ke Istana langit menggunakan portal milik nya, terdengar jelas suara hati pendamping hewan suci nya itu tengah bertarung di dalam hati karena sebuah kebenaran.
"Peri antarkan Cleo pada Raja Dexter dan temui aku setelah itu di ruangan latihan, ajak ksatria Lulu. Achela ikutlah dengan ku." ucap Clara setelah keempat makhluk itu muncul di belakang Istana langit.
Kepergian peri Fyra dan Cleo membuat Clara berbelok arah, dimana dirinya harus kembali ke sebuah tempat dan bertahan dengan keributan di hati pendamping nya. Setelah mencapai titik perbatasan, dengan mengubah mata nya menjadi mata biru kini sebuah pintu dimensi ada di depannya.
"Pegang tangan ku." perintah Clara yang langsung menarik tubuh mungil Achela ke dalam pelukannya.
Satu langkah kaki nya telah berpindah ke sebuah tempat dengan keajaiban tanpa lingkaran garis takdir , dimana tempat itu mulai di huni dengan berbagai makhluk berbeda dimensi dan usia. Bahkan Achela hampir saja pingsan melihat tempat itu, begitu banyak makhluk yang ntah berasal dari mana dan untuk apa.
__ADS_1
"Tenang lah, tempat mu bukan disini." ucap Clara dengan lembut.
"Suuuuiitt." siul Clara sembari memandang ke arah langit yang hanya tertutup awan putih tanpa menyisakan warna biru meskipun setitik kecil, dari dalam awan putih sebuah makhluk hitam bersayap terbang meluncur dengan kegagahan nya menghampiri Clara.
Setelah elang itu mendarat dengan tubuh raksasa nya, Clara dengan tenang duduk di punggung elang itu setelah di persilahkan dengan posisi elang yang menunduk. Sedangkan Achela hanya bisa melihat dengan beberapa pertanyaan, tapi wajah tenang dan kesunyian dari sinar mata tuan nya membuat dirinya ber sabar menunggu waktu yang tepat.
Elang kembali terbang menuju awan putih hingga menembus ke atas dengan warna biru dan pelangi yang menjadi keajaiban sebenarnya, awan putih itu tidak menjatuhkan sang elang disaat elang itu menurunkan Clara pun, terlihat tuan nya juga bisa berjalan di atas awan. Memandang ke segala penjuru hingga mata kecil nya berhenti di sebuah kastil dengan warna yang memiliki aura tajam, aura yang sangat di kenalnya dan pertanyaan di dalam hati nya hanya mendapatkan jawaban sebuah tatapan kesedihan dari tuan nya.
"Perjalanan mu di mulai Achela, disana lah tempat mu." ucap Clara dengan menunjuk kastil yang berjarak sepuluh meter dari tempat nya berdiri.
"Apaa maksud anda Lady? " tanya Achela dengan tercekat.
Apa pun yang akan di katakan Clara seakan sudah memberikan perasaan tidak nyaman dan tatapan kesedihan itu seakan membuat nya semakin tercekat, selama ini wajah manis dengan ketegasan yang penuh dengan teka-teki tidak menampakkan kesedihan yang begitu dalam tapi justru menampakkan sebuah ketegaran dengan kesabaran.
"Apa itu arti nya? " tanya Achela yang masih mencoba memahami segala nya.
"Yah, keturunan jiwa murni ada di dalam kuncup bunga teratai biru. Dan menjadi pelindung mereka adalah tugas mu, kontrak darah kita berakhir karena mereka." ucap Clara dan memindahkan Achela dari pelukannya ke kastil dengan teleportasi.
"Tuaan." seru Achela yang terkejut dengan tindakan Clara.
Bruug... Bruug..
__ADS_1
Dengan kekuatan nya, Achela mencoba untuk keluar dari kastil itu namun yang terjadi justru perisai di luar kastil menolak dirinya keluar. Terlihat tuan nya menghilang dan muncup di hadapan nya namun masih di luar kastil dan itu membuat Achela menyadari akan terjadi sesuatu yang tidak pernah di harap kan nya.
"Perisai ini tidak akan bisa di tembus, meskipun kamu seorang hewan suci terpilih. Apa pun yang terjadi di luar, kamu akan melihat dan mendengar semua nya. Tapi hanya menjadi penonton, lindungi mereka dengan nyawa mu dan ini perintah terakhir ku." ucap Clara setelah berdiri di depan kastil.
"Apa yang anda lakukan? Bukan kah raja kegelapan tidak akan mudah di kalah kan, lalu kenapa anda melakukan ini? " ucap Achela dengan mata berkaca-kaca.
"Ada saat nya semua akan kembali ke titik awal, dimana lingkaran takdir bermula. Jangan biarkan air mata menjadi kelemahan, ajari mereka dengan semua yang kamu miliki. Aku percaya pada mu Achela." ucap Clara dan mengeluarkan sesuatu dari ruangan tanpa batas nya.
Dengan senyuman, Clara memberikan sebuah benda ke dalam kastil dan Achela dengan perasaan yang campur tetap menerima benda itu. Bagaimana pun Tuhan membuat skenario, dirinya hanya lah salah satu ciptaan Yang Kuasa, meskipun menolak dan berteriak tetap lah sebuah garis takdir tidak akan berubah.
"Seperti yang anda perintah kan Lady Cristal, aku berdoa agar Tuhan mempertemukan kita dan aku bisa melindungi anda dengan nyawa ku." doa Achela dengan memeluk benda pemberian tuan nya.
Ctaaar... Ctaaar... Ctaaar...
*Doa mu akan di kabul kan Achela, tapi bukan di dunia saat ini.* batin Clara yang memahami perubahan alam.
"Selamat tinggal Achela, ingat lah satu hal. Raga seseorang bisa di hancurkan tapi bukan jiwa seseorang, maka ketetapan jiwa seseorang akan sama seperti air mengalir." ucap Clara dan kembali menghilang meninggalkan tempat itu untuk terakhir kali nya.
Melihat kepergian Clara membuat hati Achela yang tersisa hancur sekali lagi dan itu terasa menyakitkan melebihi rasa sakit sebelum nya, terlebih Clara mengajari nya banyak hal tapi kehancuran hati nya perlahan terobati dengan cahaya bersinar dari kuncup bunga teratai biru di depannya.
"Jika di dalam sini adalah dasar dunia baru, akan ku jaga dengan nyawa ku." ucap Achela dengan tulus.
__ADS_1
Sedangkan di dalam Istana langit dua makhluk sudah menunggu dengan saling pandang dalam diam hingga seberkas cahaya menyilaukan membuat ke dua makhluk itu menutup mata dengan lengan masing-masing.