The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Simfoni cinta


__ADS_3

Kepergian Achela dan Giel membuat dirinya menampakkan diri di antara pekatnya kegelapan yang mulai ter sinari, dengan langkah yang pasti siluet tubuhnya mulai tampak hingga membuat sosok di depan sana teralihkan menatap kehadirannya. Terlihat jelas sosok itu menerbitkan sebuah garis senyuman ketika dapat melihat wajah siluet yang menarik perhatiannya, namun tubuh sosok itu tidak bergerak dari tempat nya sedikitpun meskipun ada raut wajah yang seakan siap terbang menyambut kehadiran tamu tak diundang.


"Bergabung? Atau? " ucap sosok itu dengan senyuman yang tak di pudar kan.


"Apakah hati mu sudah tak tersisa? " jawab Clara berhenti di antara tubuh Ghea yang terbaring dengan jarak dua meter.


"Hahaha hati? Apa itu hati? Seorang bocah dengan air mata darah memohon untuk satu belas kasih melepaskan siksaan kehidupan nya tapi siapa yang mendengar isakan itu? Tidak seorang pun! Hanya Kekuasaan yang berbicara dan semua makhluk tunduk." ucap sosok itu dengan emosi.


"Ck.. Jika mata di balas mata sudah pasti dunia menjadi buta, lepaskan putri mu. Sudah cukup kekuatan dan kekuasaan mu, berapa banyak kerajaan dan jiwa yang akan sirna karena balas dendam mu?" bujuk Clara untuk yang terakhir kali.


"**Tidak! Ini ritual terakhir untuk kebangkitan jiwa kegelapan, setelah malam Gerhana bulan putih berakhir semua akan tunduk di bawah kaki ku." seru sosok itu dengan tegas.


"Hmmm." gumam Clara mengeluarkan pedang Suci nya dari ruangan tanpa batas.


"Bergabunglah, seluruh alam akan menjadi milik kita." bujuk sosok itu namun pergerakan tangan nya mengikuti tindakan Clara dengan mengambil sebuah pedang.


"Masa depan sudah dalam rencana sang Pencipta**." ucap Clara mengalirkan element api dan air ke dalam pedang suci.


Wuuusss.... Fiiiuuuuhh.... Sliiing.....


Dengan menerbangkan pedang suci yang sudah memiliki tiga element, dengan gerakan jemari nya arahan pedang seperti di dalam fikirannya. Pedang suci melesat melewati garis tengah menerjang sosok yang sudah ter selimuti kabut hitam, ujung pedang melesat melewati sosok yang sekejab menghilang.


Hembusan angin dengan aroma pekat memudahkan Clara mendeteksi keberadaan lawannya yang kini sudah muncul di belakang nya, dengan satu putaran tubuh nya menghindari pedang tajam dengan element hitam yang menerjang bagaikan kilat melewati atas wajah nya.


Duug.. Buug.. Sliiing... Krasak... Tiiing...

__ADS_1


Perkelahian yang tak terelakkan dengan serangan pedang suci di awan dan pedang kegelapan di tangan sosok itu, putaran tubuh dengan pukulan-pukulan yang tak melumpuhkan lawan. Terlihat keduanya memiliki kekuatan dan keseimbangan yang sama, namun kedua element berbeda esensial itu saling menyerang tanpa lelah meninggalkan luka yang tak terlihat.


"Segel jiwa suci." seru Clara dan melemparkan satu panah element cahaya ke arah Ghea.


Melihat hal itu sosok yang masih sibuk bertarung dengan nya kembali menghilang bersamaan panah Clara yang menembus tubuh Ghea, kabut hitam berkumpul menjadi sebuah sosok yang kini memancarkan amarah. Terlihat mata nya kini lebih kelam melebihi warna kabut kegelapan, aura yang semakin mempertajam rasi bintang di atas langit.


"KAUU! " seru sosok itu memandang murka Clara.


"Jiwa putri mu tetaplah bersih meskipun terlahir dari darah kalian, reinkarnasi nya adalah awal masa depan." ucap Clara tanpa merasa bersalah.


Dengan mengambil jiwa Ghea melalui segel jiwa suci, maka Clara mengirim jiwa Ghea ke alam nirwana dimana banyak roh yang akan di tiupkan pada rahim seorang ibu. Tidak semua akan seperti takdir, karena satu garis takdir terputus maka takdir lain sudah siap menyambut.


Bulan gerhana putih mencapai puncak, dimana sinar nya kini menyinari semua makhluk tanpa terkecuali. Tubuh gadis di atas pembaringan melebur menjadi satu bersama putaran rasi bintang, dimana butiran cahaya melelehkan tubuh gadis itu tanpa sisa.


Cttaaaaar... cttaaaaar... Buuum....


Alam ikut merasakan siksaan amarah kegelapan, tunas-tunas mati dengan kekeringan yang tak tahu sebabnya. Hembusan angin dengan siksaan tak terjemahkan, Clara yang menyadari guntur di langit menggelegar tiada henti dengan terlepasnya lingkaran ritual, dengan seluruh jiwa murni tubuhnya di selaraskan dengan alam.


Dengan menerbangkan kembali pedang suci, terlihat tangan nya memulai simfoni cinta. Ayunan demi ayunan mengikuti liukan tubuh nya, perlahan dan semakin mendekati hembusan angin yang seakan mulai terserap kedalam raga nya.


Hentakan kaki nya menerbangkan dedaunan kering di sekitarnya, menyelaraskan pusaran angin yang mulai menarik aura kegelapan. Melihat simfoni cinta membuat sosok itu mengeluarkan pedang keramat nya, pedang Azalia.


"Hiiyaaaa." seru sosok itu meloncat melewati tempat pembaringan dan menyerang Clara.


Sliiing.. Traaaang... Taak.. Sliiing...

__ADS_1


Serangan demi serangan yang mampu di lawan di tolak Clara membuat simfoni cinta nya terganggu, aura kegelapan perlahan kembali menyebar membuat Clara melepaskan pedang suci nya untuk bertarung dengan pedang Azalia melalui mata batin nya.


Konsentrasi nya terbagi menjadi dua membuat tubuh nya merasakan goresan tajam tanpa tersentuh oleh senjata tajam, tanpa mempedulikan luka yang terasa menyakitkan, tubuhnya tetap melakukan simfoni cinta menetralkan alam yang di penuhi kabut hitam aura kegelapan.


"Blind cahaya, Blind Api, Blind udara." seru Clara dengan mengayunkan satu tangan kanan nya ke arah sosok itu.


Buuuum.... Sreeeeet.... Bruuuuugh......


Satu badai dengan tiga element kekuatan tertinggi membuat sosok itu terpental akibat ledakan dan tubuh nya terjatuh cukup jauh, membuat pedang Azalia ikut terlepas dari tangan nya. Pedang itu terlihat mengeluarkan kabut hitam dan menghilang untuk kembali ke tuan nya.


"Kekalahan ku kali ini, akan ku pastikan kau membayarnya seratus kali lipat dari kegagalan ku." ucap sosok itu dengan menghilang bersama kabut kegelapan nya.


Tidak ada kesedihan ataupun kebahagiaan di wajahnya, semua yang di lakukan nya hanyalah untuk alam. Kabut kegelapan telah berganti dengan bulan baru yang tidak memiliki waktu istimewa lagi, satu tangan kiri nya terulur meraba bagian tubuh nya yang terasa basah dan hangat.


Belum sempat ekor mata nya melihat apa yang terjadi, semua pemandangan menghilang berganti kan warna gelap yang menyambutnya. Dua makhluk lain yang baru saja kembali justru melihat tubuh Lady cristal hampir terjatuh, dengan cekatan satu makhluk melepaskan perisai milik nya untuk melindungi tuan nya.


"Ayo kita pergi." ucap makhluk itu dan menghilang bersamaan serbuk emas miliknya.


................. ...


"Apa yang terjadi? Apa kalian semua bisu?! " seru seorang gadis dengan wajah merah menahan amarah nya.


"Semua ini hanyalah tentang tanggung jawab." jawab satu makhluk mungil dengan tenang.


"Aaarrggg, Sampai kapan aku hanya bisa menjadi penonton." ucap gadis itu dengan frustasi.

__ADS_1


__ADS_2