The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Wabah Kutukan Bangsa Peri


__ADS_3

Di dalam ruangan tanpa batas itu Clara memulai pelatihannya seperti biasa, pedang suci yang ada di tangannya kini menjadi sebuah senjata yang lebih dari sebelumnya kemudian sang Pertapa dan ibu Suri memperhatikan bagaimana kemajuan dari pelatihan Clara di saat bersamaan sang Pangeran Trish dan Pangeran Lars mulai menyiapkan apa yang sudah menjadi tanggung jawab keduanya.


Waktu kini menjadi berlalu masing-masing melakukan kewajibannya di mana Clara dan Achela menuju ke tempat dimana para kaum Peri tinggal sedangkan Pangeran Lars dan Pangeran Trish pergi ke wilayah Selatan Untuk menghentikan penculikan para gadis yang dilakukan oleh musuh di dalam kerajaan-kerajaan.


Di wilayah Kerajaan Langit bagian utara di mana para Bangsa Peri tinggal hutan yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang memiliki bunga dan daun ber cahaya yang begitu menyilaukan, Clara mulai Menyusuri hutan itu untuk menemukan Di mana tempat tinggal para bangsa peri,hingga akhirnya muncullah sebuah pohon pusat dari semua kehidupan di bangsa Peri disanalah Clara melihat sebuah pohon dengan rindangnya dedaunan yang lebih bercahaya bahkan di tempat ini bukan sinar matahari yang menyinari akan tetapi sinar dari daun dan pohon itulah yang menjadi Sinar atau cahaya pusat dari bangsa Peri. Namun di sini di mana wabah itu dimulai, Bukankah Peri Fyra mengatakan jika wabah dimulai dari sebuah air yang menjadi pusat kehidupan lalu Clara mulai menyusuri lagi tempat itu untuk menemukan tempat yang dimaksud oleh perinya. Sungguh begitu luas tempat tinggal para bangsa peri namun di mana semua para Peri saat ini kenapa begitu sunyi ,bahkan di sebagian Sisi pintu masuk setiap wilayah justru sudah meredup cahayanya dari setiap daun dan juga pepohonan bahkan semakin kedalam cahaya ini semakin meredup .


"Tuan Lihatlah di sana seperti terdengar aliran air Apakah itu yang Anda maksud Lady Clara? "ucapan Achela yang mendengarkan dari sisi sebelah kiri dimana ada suara tetesan air yang terdengar dari kejauhan.


Sesaat Clara mencoba mendengarkan apa yang dikatakan Achela lalu dirinya mulai mendengarkan juga tetesan air itu, tanpa menunggu lagi Clara dan diikuti Achela menyusuri untuk menemukan dimana tempat pusat kehidupan bangsa Peri dan menemukan titik wabah dan membuat sebuah penangkal untuk wabah tersebut, Dimanakah Clara sudah memiliki ramuan Patah yang di raciknya sebelum menjalankan misinya kali ini.Ramuan Patah untuk mengobati Bangsa Peri yang sudah terkena wabah dan untuk masalah wabah itu sendiri Clara sudah memikirkan bagaimana caranya untuk menyingkirkan wabah itu setelah berdiskusi dengan Achela sebelum melakukan misi , disaat dirinya sibuk membuat ramuan patah pun sang Pertapa juga memberikan saran apa yang harus dilakukan Clara namun tentu sebagai seorang Pewaris Kitab Suci dirinya tahu apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan demi kelangsungan bangsa Peri, tentu tidak akan membuat sebuah rencana yang justru menjadi bencana untuk para Bangsa Peri.


Dari kejauhan semakin terlihat jalan berbatu dan pohon-pohon gelap berdaun ungu, suara aliran air semakin terdengar hingga rimbunnya pepohonan berganti dengan segelintir pepohonan, Dari tempat Clara dan Achela berdiri saat ini terlihat sesesok Peri namun Peri ini berbeda Dari Peri yang lainnya, ukurannya sama seperati manusia biasa,sayapnya lebih transparan dan seperti tidak ikut terjangkit wabah.



"Hei siapa anda,memasuki wilayah Hutan Cahaya? " seru Peri itu yang melihat kedatangan Clara dan Achela.


"Di mana Peri Fyra, Peri Zianka, Peri Henna dan Peri Gracia? " tanya Clara dengan lembut setelah mendekati Peri itu.


Memandang Clara dan Achela dengan seksama, agar dirinya tidak tertipu, namun Salam benaknya kenapa orang asing yang membawa seekor kucing datang ke wilayah bangsa Peri tanpa membawa senjata tapi justru bertanya tentang Peri yang memiliki posisi penting di Bangsa Peri, dirinya tahu ke empat Peri yang disebutkan orang didepannya ini adalah pendamping Dari Wanita-wanita Kerajaan Langit namun semenjak dimulainya wabah mematikan di wilayah bangsa Peri, Para Peri itu hanya tinggal di dalam Hutan Cahaya.

__ADS_1


"Siapa anda mencari Para petinggi Di Bangsa Peri? " tanya Peri itu setelah berfikir sejenak.


"Seperti nya kamu bukan asli seorang Peri, aura mu tidak sama seperti mereka. " ucap Clara mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana anda tahu? Siapa anda sebenarnya? Dan apa tujuan anda kemari? " tanya Peri itu penuh selidik.


"Achela pergilah cari sumber dari wabah ini, aku akan menemui Para Peri. " perintah Clara dengan lembut, Achela tidak menjawab hanya saja langsung meninggalkan Clara dengan Peri itu.


"Hei hei mau kemana dia! Kembali! " seru Peri itu ingin menghalangi kepergian Achela.


Dengan sigap Clara menghadang Peri itu yang ukurannya hampir seperti dirinya namun lebih pendek darinya, tatapan keduanya kini beradu namun tatapan elang yang tajam milik Clara semakin menyurutkan keberanian Peri itu, hingga suara seseorang membuyarkan adu pandangan itu.


"Salam Yang Mulia, Maaf atas kelancangan Peri Ghea. Peri Ghea minta maaf lah pada Yang Mulia! " ucap Peri Gracia yang datang ke tempat itu untuk mengambil air namun justru dikejutkan dengan Peri Ghea yang adu pandangan dengan Tuan Putri Clara.


"Bukan! Aku hanya seorang tabib. Bisakah sekarang aku bertemu Para Peri untuk melihat kondisi mereka? '' jawab Clara sebelum Peri Gracia berbicara lebih jauh.


Tentu saja Peri Gracia terkejut dengan pengakuan Clara tapi kedipan mata dari Clara membuat dirinya tidak bisa berkata lagi selain mengikuti keinginan Tuan Putri Clara, demi menghindari perdebatan panjang Peri Gracia memerintahkan Peri Ghea untuk kembali melakukan tugas nya dan Peri Gracia sendiri yang akan mengantar Tuan Putri Clara ke tempat para Peri yang saat ini sudah tidak sekuat biasanya dan banyak Peri yang mulai menjadi berwarna gelap dan beberapa bahkan sudah meninggal akibat wabah ini.


................... ...

__ADS_1


Pusat Hutan Cahaya itulah Bangsa Peri menyebutnya, Pohon ini satu-satunya yang memiliki inti Cahaya ditengah pohon yang berongga, setiap dahan penuh dengan dan dan bunga bercahaya, namun hanya ini lah inti Kehidupan bagi Bangsa Peri, selama Pohon dan inti Cahaya masih bersinar mama masih ada harapan, namun hanya sedikit yang mampu tetap selamat dan pepohonan yang berada jauh dari Pohon ini akan layu dan mulai meredup Cahaya nya karena wabah yang melanda seperti ramalan yang sudah dituliskan.



"Mari Yang Mulia. " ucap Peri Gracia mempersilahkan Clara mendekati Pohon Cahaya.


"Di mana Peri lainnya Peri Gracia? " tanya Clara dengan khawatir.


"Tunggulah Yang Mulia. " jawab Peri Gracia dan mengeluarkan sebuah terompet mungil sesuai ukurannya seorang Peri, Peri Gracia meniup terompet tiga kali, bagi Clara suara terompet itu sama seperti suara Peri sangat kecil dan dalam oktav yang paling rendah bagi manusia tapi hal itu tidak berlaku bagi Bangsa Peri. Terompet itu terdengar sangat keras namun tetap aman untuk pendengaran Para Peri, tentu setiap Peri yang mendengar terompet mulai menunjukkan dirinya dari setiap dahan yang tertutup daun tersembunyi Peri Mungil, melihat begitu banyak nya Peri membuat Clara bersyukur setidaknya masih belum terlambat dirinya datang meski sebagian besar Peri sudah berwarna hitam di sayap nya atau ditubuhnya, yang membuat hati Clara merasakan sakit.


"Yang Mulia, Apa yang terjadi? Semua baik-baik saja kann? " tanya Peri Zianka yang terbang dari dahan paling atas.


"Salam Peri Zianka, Bukankah itu yang seharusnya aku tanyakan? " jawab Clara dengan tenang menatapa Peri Zianka di depannya, sebagian sesama Pemimpin tentu Clara tahu bagaimana bertindak yang baik untuk tidak memberikan beban pada orang lain, tapi ketika wabah ini sudah di tuliskan Takdir, maka bukankah seharusnya sesama Pemimpin harus bisa saling percaya dan melindungi serta membantu satu sama lain, tentu saja Clara bersyukur memiliki Peri Fyra dimana Peri nya itu akan selalu bersikap dan berbicara jujur hingga Clara bisa mencari jalan dari setiap masalah.


"Maaf Yang Mulia akan tetapi Yang Mulia dan Ibu Suri masih memiliki masalah Yang jauh lebih besar, Selain menjadi Pendamping Ibu Suri, hamba juga sebagai Pemimpin Bangsa Peri harus melakukan tugas saya di atas nyawa hamba sendiri. " jawab Peri Zianka menunduk.


"Kita bicarakan itu nanti, sekarang kumpulkan semua Peri Yang sudah terkena wabah dan Peri Gracia bawa Peri Ghea kemari, aku memerlukan dia untuk membantuku memberikan obat agar semua Peri segera membaik. " perintah Clara dengan lembut dan tidak meneruskan percakapan yang masih bisa dilakukan setelah pengobatan.


Peri Zianka mulai meminta semua Peri untuk saling bahu membahu membawa Peri yang sudah terkena wabah, dan Peri Fyra pergi memanggil Peri Ghea di tempat Air Terjun. Di Sisi lain Achela mencari ke setiap titik dan Sisi untuk mencari kejanggalan dan penyebab wabah Di Wilayah Bangsa Peri, menyusuri pepohonan tanpa melewatkan sedikitpun hingga berhenti di sebuah titik, di mana tempat itu sangat lah suram dan gelap, seperti tidak pernah terjamah sedikit pun, memang titik itu terlihat jauh dari Pusat Kehidupan Bangsa Peri namun pasti ada sebuah aliran yang menghubungan seluruh Wilayah Bangsa Peri bukan.

__ADS_1


"Apa ini sengaja dibuat lubang? Tunggu dulu, serbuk apa itu yang memenuhi lubang! " gumam Achela yang curiga dengan galian tanah ditengah Pohon bersejajar itu.


"Hush.. hush.. Pergi dari Sana Kucing! " seru seseorang yang datang dari luar Wilayah Hutan Cahaya, melihat bayangan seseorang namun Karena kondisi yang begitu gelap membuat Achela kesulitan mengenali siapa orang itu namun agar tahu kebenaran tentang lubang galian yang ditemukannya terpaksa Achela pergi menjauh dan tanpa disadari orang itu akhirnya Achela memanjat pohon dan mengintai mangsanya dengan tenang.


__ADS_2