The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Ramuan putus asa *segel kegelapan*


__ADS_3

Mata biru nya kini mulai menunjukkan kekuatan nya, ketajaman yang berkali-kali lipat dari mata aslinya. Dengan indra sensitifitas yang semakin besar mampu membuat pandangannya jauh lebih dalam dan akurat, Naga suci yang juga melihat apa yang ada di depan sana menyadari apa yang akan di lakukan Tuannya.


Simbol lingkaran dengan rasi bintang yang memenuhi lingkaran kegelapan, simbol kematian dengan tingkat penyiksaan tertinggi. Simbol itu kini mulai terbentuk dengan cahaya merah darah, membuat burung-burung yang mendekati lingkaran itu meluncur bebas ke dasar tanah. Dimana burung-burung itu bisa di pastikan akan menjadi bangkai tak berdarah lagi, meski tubuh burung itu di belah maka setetes darah pun tak akan menetes.


Kegelapan mulai menyebar mengelilingi lingkaran, dimana kegelapan nya menutupi langit dengan jangkauan yang luas. Dengan cepat Naga Suci mendekati lingkaran kegelapan meski harus menghindari beberapa aliran listrik yang terlihat sangat transparan, melihat kemampuan dari pendamping nya membuat Clara tersenyum.


"Turunkan aku di bawah sana!" perintah Clara yang melihat di bawah adalah tempat yang cukup untuk Naga Suci mendarat.


Dengan melesat menukik tajam, Naga Suci mendarat di tempat yang Tuannya inginkan. Tempat yang cukup untuk ukurannya tubuhnya yang besar, dan tempat itu tidak jauh dari lingkaran kegelapan. Semakin mendekati pendaratan, terlihat berbagai binatang sudah dalam keadaan tidak berdaya. Bahkan Rusa bertanduk emas pun ikut meregang nyawa akibat dari kekuatan kegelapan yang menyebar di wilayah itu, sesaat kakinya Clara menyentuh permukaan tanah. Tanah itu seakan mengering dengan warna yang masih segar, dengan menggunakan element air nya Clara mencoba untuk mendeteksi kehidupan di dalam tanah.


Wing.. Wing.. Fiiuuuu...


"Hhaah, perusak alam!" gumam Clara , setelah tahu air pun ikut mengering di dalam sana.


"Tuan? " ucap Naga Suci yang melihat wajah Clara tertekuk.


"Kremasi kan semua makhluk hidup tak berdosa di wilayah ini! Aku akan mengurus perusak alam itu! " perintah Clara dan mulai berjalan menuju ke tempat dimana semua kerusakan itu terjadi.


"Tapi Tuan, itu berbahaya... " jawab Naga Suci, namun terlambat karena Clara sudah menggunakan sihir udara nya untuk membuat tubuhnya terbang dan melesat ke tempat tujuannya.


Pusaran angin yang tak berpindah itu hanyalah kumpulan kabut yang tersegel lingkaran sihir, dimana lingkaran sihir itu di buat dari sebuah ramuan. Ramuan putus asa, ramuan yang memiliki kegunaan untuk mengikat jiwa keberanian dengan semua harapan seseorang dimana siapapun yang memasuki lingkaran dengan ramuan ini, maka orang itu akan menjadi seperti boneka tanpa jiwa.


*Perisai Cahaya Biru* batin Clara dan mulai memasuki lingkaran sihir.


Tidak ada yang akan menyadari kehadiran nya dengan bantuan perisai nya, terlebih lagi kini Clara menggunakan mata biru nya untuk menembus lingkaran itu di titik yang tepat. Dimana lingkaran sihir itu bermula dan berakhir garisnya, disitulah yang di sebut pintu masuk, tentunya Clara harus menggunakan mata biru nya untuk menemukan nya.


Tidak terlihat begitu ramai ataupun suara-suara mantra di dalam, bahkan seakan keadaan hening tanpa ada kehidupan. Melihat itu, Clara semakin waspada, dimana keheningan itu lebih berbahaya di dalam terpaan angin yang hanya berputar-putar di tempat yang sama. Tidak ada pergantian angin di dalam dengan adanya Ramuan putus asa, segel yang satu ini adalah milik penyihir gelap dimana mereka menggunakan cara yang sama untuk mengalahkan musuhnya. Tidak berapa lama, keheningan berganti dengan satu teriakan yang sangat mengerikan.


"AAAARRHHGGG...... " lengkingan seseorang.


Teriakan itu penuh dengan rasa sakit dan pemberontakan, keras, tajam dan seketika menghempaskan udara panas dengan aroma yang sulit di jabarkan. Ada bau amis, ada bau terbakar, ada bau busuk, dan bau lainnya menyatu hingga seketika membuat Clara merasakan ada sesuatu yang menusuk kepala nya.


Nyut.. Nyut...

__ADS_1


"Auw, apa ini! Kenapa aku tidak bisa melihat apapun." gumam Clara menyentuh kepalanya yang terasa di tusuk.


Dalam kecepatan yang tidak bisa di pahami, sesuatu terjadi dengan begitu saja di hadapan Clara. Dimana seseorang yang tengah berdiri jauh dari tempatnya telah mengayunkan pedangnya ke atas dan bersiap untuk menancapkan pedang itu, ntah apa yang akan di serang nya namun jelas pandangan Clara kini seakan terhalang.


Duaar...


Tanpa persiapan apapun perisai Clara hancur bersamaan dengan sempurna nya rasi bintang di atas langit, di mana sinar rasi bintang itu memancar memenuhi seluruh lingkaran kegelapan dengan cahaya nya. Perisai hancur dan pandangannya kini kembali baik dan orang yang masih memegang pedang itu kini terlihat jelas, pedang itu pun juga membuat Clara menghela nafas tanpa sadar.


Sedangkan di Kerajaan langit, Achela telah mengantarkan Cleo untuk bertemu kekasihnya dan segera meninggalkan kedua makhluk itu untuk bertemu pendeta. Dimana menurut informasi Raja Dexter, pendeta masih sibuk didalam tempat tinggal para tabib istana untuk membuat ramuan yang biasa di lakukan di dalam Istana hutan bisu. Andai istana itu tidak menjadi sejarah bangunan runtuh, pastinya pendeta lebih baik melakukan pekerjaannya tanpa di lihat banyak tabib yang lain.


Meskipun dengan kejadian itu, kini pendeta sibuk menjadi seorang master dadakan untuk para tabib Kerajaan. Tentunya itu membuat nya kesulitan untuk menolak, sebagai seorang pertapa sudah tugasnya untuk membagi ilmu nya sendiri.


Achela yang melihat kesibukan pendeta membuat nya urung untuk mengganggu meskipun kini dirinya menggunakan sihir nya untuk tak terlihat. Pendeta yang menyadari ada sosok lain yang mengawasi mulai bersikap waspada, dan melihat di depannya ada bahan ramuan yang tidak berbahaya. Dengan gerakan cepat, tangannya menyambar bahan itu dan melemparkan ke arah yang mencurigakan.


"Haachuim... Haachuim.. " bersin Achela yang langsung terdengar dan membuat para tabib menoleh ke arah suara itu.


Tanpa Achela sadari kini wujudnya yang terbang dengan penampilan yang buruk menjadi sorotan para tabib, sedangkan pendeta yang melihat penyusup itu Achela hampir tertawa jika tidak melihat ekpresi tabib lain yang melongo melihat seekor kucing terbang dan bersih seperti manusia.


Tanpa mempedulikan tatapan kesal dan cemberut dari Achela, pendeta langsung menyambar tubuh kucing itu dan membawa nya pergi meninggalkan rumah para tabib. Meninggalkan bisik-bisik dari para tabib istana yang baru pertama kali melihat hewan sihir seperti itu.


Wusshh..


Tanpa bertanya, Achela menggunakan sihir teleportasi nya untuk mempercepat mencapai ruangan, dimana achela tidak ingin ada yang menertawakan keadaan jeleknya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya seseorang yang melihat dua makhluk tiba-tiba muncul di hadapan cermin.


Kedua nya langsung menoleh, melihat siapa yang mengajukan pertanyaan. Gadis dengan pakaian aneh, tanpa riasan apapun di wajahnya, dengan berbagai jenis gulungan kertas yang berserakan, rambutnya yang terikat sembarangan membuat gadis itu seakan baru selesai dari medan pertempuran. Mendapatkan tatapan penuh selidik dari dua makhluk yang muncul di kamarnya, membuatnya melotot dengan tatapan tak suka. Menyadari kelakuan keduanya yang tidak sopan, seketika keduanya saling pandang dan menggangguk seakan keduanya sepakat untuk sesuatu.


"Pergilah! Aku tidak ada janji dengan siapapun hari ini! " ucap gadis itu menyerah dan kembali membuka satu gulungan kertas yang masih tersusun rapi di sebelah kanannya.


"Nak? Ada apa? Apa semua baik-baik saja? " tanya pendeta menurunkan Achela dan mendekati gadis itu.


"... " hening.

__ADS_1


"Putri Starla bukankah pendeta lebih tua dari mu? Jangan bersikap seperti ini." ucap Achela ikut mendekati gadis itu.


"Maaf pendeta, Achela. Tapi biarkan aku mengerjakan tugasku dulu! " jawab starla dengan menatap serius ke tulisan di depannya.


Wuuuss...


Gulungan itu terlepas dari tangan Starla dan terbang ke arah lain, melihat itu pandangan Starla teralihkan pada sosok yang berbentuk tidak jelas. Dengan teliti sosok itu seakan membaca dan memikirkan sesuatu, hingga gulungan itu berpindah ke depan pendeta dan membiarkan pendeta melihat isinya. Starla hanya menyandarkan punggung dan kepalanya di dinding belakang tubuhnya, dimana terlihat jelas guratan lelah dari wajah cantiknya membuat gadis itu memiliki lingkaran hitam di bawah matanya.


"Berapa banyak kerusakan pasukan yang tersisa? Apakah hal ini sudah tersebar? " tanya pendeta dengan lembut namun serius.


"Tidak.Ini masih awal, tapi ada yang aneh dengan perang perbatasan kali ini. Beberapa pemimpin prajurit yang berhasil kembali mengatakan sesuatu yang tidak ku pahami, mereka mengatakan pasukan penyerang bukan manusia dengan element atau sihir namun pasukan Naga hitam. " jawab Starla dengan menghembuskan nafas nya.


Mendengar hal itu membuat Achela tahu siapa pelakunya namun mendapatkan tatapan dari pendeta membuatnya mengerti apa arti isyarat itu, Achela mengangguk dan segera meninggalkan kamar Starla menuju ke kamar sebelumnya. Tapi hal tidak terduga justru kini merusak pemandangan mata nya, ketika muncul di tempat itu, justru dua makhluk di kamar tengah memadu kasih dengan mengecam rasa manis dari bibir pasangannya.


"Hentikan! Astaga, kalian ini... Sudahlah. Ayo kalian ikut denganku! " seru Achela yang langsung membuat dua makhluk itu terkejut dan melepaskan pangutan mesra keduanya dengan pipi yang memerah karena malu adegan pasangan itu di lihat orang lain.


Dengan tangan yang sedikit bergetar, Cleo menghapus sisa sesapan di bibirnya begitu pula Raja Dexter yang terlihat biasa saja seakan itu hal tak penting. Namun sesaat melihat keseriusan di mata makhluk kecil itu membuat Raja Dexter dikelilingi pertanyaan, namun penampilan Achela memecah pertanyaannya. Mendapatkan pandangan aneh dari Raja Dexter membuat Achela ingat penampilan nya seperti daging tepung yang siap meluncur di atas minyak panas.


Klik.. Byuur.. Fiiuuh..


Dengan satu kedipan matanya, kini Achela kembali seperti semula dengan penampilan kucing manis yang sangat imut. Seakan semua serbuk warna putih di tubuhnya tidak pernah ada, bahkan tubuhnya kini terlihat lebih segar dari sebelumnya. Raja Dexter dan Cleo terlihat mengerjapkan mata melihat perubahan kucing itu, namun Achela segera mendekati keduanya dan menggunakan sihir teleportasi nya tanpa peduli dengan rasa kedua makhluk itu yang terkejut terseret ke dalam teleportasi nya.


Wuuuss.. Bugh.. Auww..


"Achela! " seru ibu suri yang melihat kedatangan Hewan Suci itu dengan melemparkan dua makhluk yang menjadi tamu Kerajaan.


Raja Dexter langsung membantu Cleo setelah berdiri, menatap sinis ke arah Achela meskipun kucing itu tidak peduli dengan tatapan nya, Achela terbang mendekati ibu suri dan Starla.


"Katakan padaku Raja Dexter, dimana Naga Hitam pendamping Keluarga Kerajaan Iblis? Bukankah kamu Tuannya?! " ucap Starla tanpa memperdulikan penampilan nya yang sangat kacau.


Beberapa detik membuat Raja Dexter terdiam hingga pertanyaan Starla di cerna, membuat wajah nya berubah. Wajahnya seakan ada kekecewaan dengan kesedihan mendalam, ada hawa panas yang mulai menyebar di dalam kamar Starla. Merasakan ketidaknyamanan kekasihnya, Cleo dengan cepat menggenggam tangan Raja Dexter dan mengusapnya dengan lembut.


"Aku..... " ucap Raja Dexter.

__ADS_1


__ADS_2