
"Apa kalian sudah siap? " ucap seorang gadis dengan penutup wajahnya.
"Apa ini tidak beresiko? Tempat keramat itu akan lebih baik tidak terbuka." ucap sosok yang terbang mensejajarkan posisi nya dengan yang lain.
"Apa itu akan mengubah takdir? Bukankah kamu tahu jika tempat itu harus terbuka sebelum gerhana bulan putih Achela." ucap gadis bercadar tanpa mengalihkan pandangan dari tujuannya.
Sebuah portal dimensi telah terbuka membuat lubang yang cukup besar untuk lewati secara bersama-sama, ke empat pasang mata kini tengah berdiri di hadapan portal itu dengan tujuan masing-masing.
Satu gadis bercadar hanya ingin membuka jalan takdir yang seharusnya terjadi, satu gadis dengan pakaian Ksatria ala kerajaan Langit memegang cristal kehidupan di salah satu tangannya, satu sosok pria dengan kilauan perak menatap portal dengan perasaan rindu dan seekor hewan suci yang hanya menjadi pelindung tuan nya.
Ke empat pasang mata itu sudah mulai menyatukan tangan untuk saling berpegangan, kali ini di pimpin oleh gadis yang membawa cristal kehidupan dimana cristal itu yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka. Hanya lima langkah ke empat makhluk itu telah berpindah ke tempat yang gersang dengan semilir angin penuh debu, dengan satu kedipan mata perisai cahaya biru terbentuk seperti sebuah tameng untuk memudahkan perjalanan mereka.
"Mulai lah Cleo, kamu sang kunci yang bisa mencapai titik itu." perintah gadis bercadar dengan tegas.
"Baik Lady." jawab Cleo dan mengalirkan mana dari dalam tubuhnya, mengisi cristal kehidupan dengan aliran mana nya.
Cliiiiing........
Terlihat cristal kehidupan itu merespon aliran mana Cleo, dengan kehidupan yang mulai terlihat dari dalam cristal kehidupan. Sinarnya semakin memenuhi cristal hingga beberapa saat sinar puncak membuat sebuah titik dan keluar memancar bak lengkungan pelangi mencapai sebuah titik di depan sana yang masih terlihat samar.
Ke empat makhluk itu berjalan mengikuti arah titik dari sinar cristal kehidupan, ntah berapa lama perjalanan mereka yang terasa sangat panjang dan melelahkan kecuali Lady cristal dan Achela yang memiliki perisai lebih kuat di bandingkan dua makhluk lainnya.
*Achela apa kau siap?* tanya batin Clara.
*Tapi bagaimana dengan mereka tuan?* jawab batin Achela yang sedikit ragu.
__ADS_1
*Mereka tidak akan bisa menahan kekuatan sebesar itu, tidak mungkin aku membiarkan kedua nya menjadi debu bersama pasir di tempat ini.* ucap Clara menegaskan sesuatu yang memang masuk akal.
*Baiklah tuan, seperti rencana anda.* jawab Achela dengan mengedipkan mata nya.
*Serbuk emas.* batin Achela mengarahkan element udara nya kepada dua makhluk incarannya.
"Rasanya kenapa mengantuk sekali? Aku... " ucap Cleo.
"Maaf tapi kalian hanya bisa sampai disini." bisik Clara yang sudah membuat kedua makhluk itu terbungkus dengan perisai air dan udara nya.
"Ayo Achela, mereka akan baik-baik saja. Kau tahu kan kuatnya perisai itu." ajak Clara dengan membawa cristal kehidupan di tangannya.
Keduanya melanjutkan perjalanan meninggalkan dua makhluk mati suri karena sihir emas Achela, dengan mendekati titik terhubung sinar cristal kehidupan membuat keduanya merasakan aura yang mencekam. Bukan hanya aura suci dan murni tapi aura kegelapan juga tercampur membuat keduanya bersiap atas apa yang akan terjadi sebentar lagi, hingga perjalanan itu di percepat dengan terbang.
Dengan mengalirkan element cahaya biru dan sihir emas Achela kini cristal kehidupan semakin bersinar dengan berganti warna secara cepat, putih, biru muda dan emas menjadi warna acak secara terus menerus hingga ketiga nya menyatu seperti sebuah tali dalam satu lapis. Terlihat cristal kehidupan semakin ringan hingga terbang meninggalkan tangan Clara, seketika cristal itu berubah menjadi lumeran bayangan dengan perubahan warna menjadi hitam pekat.
*Blind cahaya, Blind waktu.* ucap Clara bersamaan dengan Achela.
Cristal kehidupan meluncur mendekati piramida di depan sana hingga menerjang menembus tempat itu dengan menghilang di pandangan, beberapa waktu terlihat tidak terjadi apapun hingga garis bak jalan setapak mulai terukir di atas pasir. Tidak ada lagi angin yang membawa pasir beterbangan karena piramida itu menciptakan jalan bagaikan sebuah labirin yang terlihat jelas dari tempat Clara dan Achela berdiri, setiap garis jalan hitam itu saling terhubung dengan akhir menuju ke piramida.
Langit yang berubah menjadi malam dengan bintang bertebaran dengan sebuah bayangan piramida di langit yang memiliki inti seluruh rasi bintang dengan satu mata terbuka , akhirnya pintu waktu terbuka.
"Jangan berpencar, ayo kita masuk bersama. " ajak Clara dengan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Baik Lady." jawab Achela menerima uluran tangan Clara.
Keduanya memilih satu jalan hitam terbesar karena hanya itu yang terlihat berbeda dari jalan hitam lainnya, tanpa disadari keduanya seseorang tengah menunggu gilirannya untuk masuk.
"Terimakasih peri ku, dengan bantuan mu aku bisa ikut memasuki pintu waktu." gumam sosok itu dengan mengikuti kemana pergi nya Clara dan Achela yang hilang di telan jalan hitam terbesar.
Perjalanan yang terasa mengambang hingga langkah kaki Clara menjadi ringan namun bukan atas kendalinya, seakan ada aura yang memaksa menariknya semakin kedalam. Dipeluk nya Achela agar tidak terpisah hingga muncul satu ruangan penuh dengan pintu, dimana di setiap pintu memiliki mantra sihir masing-masing.
"Sebaiknya kita berpisah tuan, mungkin dengan berpisah kita bisa menemukan benda itu lebih cepat." ucap Achela setelah melihat ruangan itu secara rinci.
"Tidak! Jangan terlela dengan semua ini, semua ini hanya lah tipuan agar kita membuat keputusan terburu-buru." jawab Clara tegas.
"Cobalah gunakan mata batin buka mata telanjang! " perintah Clara yang di angguki Achela.
Ntah berapa lama keduanya menutup mata untuk memeriksa setiap pintu dengan mata batin keduanya, cukup menguras energi namun cara itu lebih efektif. Sedangkan sosok lain yang di atas sana terlihat frustasi karena usaha nya seakan sia-sia, setiap langkah nya ingin memijak jalan hitam terbesar itu yang terjadi adalah dirinya terpental seakan kehadiran nya tidak di terima.
"Aaaa@rrgh si@l! Seperti nya aku hanya bisa menunggu mendapatkan giliran ku, sampai kapan aku harus menunggu di sini? Bahkan ritual ku sebentar lagi harus berlangsung." teriak nya dengan kesal.
Bukannya menyerah tapi justru sosok itu semakin nekat menggunakan seluruh kekuatan nya untuk memasuki pintu waktu, tanpa di sadari olehnya jika setiap kali dirinya di tolak maka bintang di atas langit sana akan menghilang satu persatu.
.................... ...
"Tuan apa ini.... " ucap seseorang dengan bola mata yang berbinar dan hendak meloncat menghampiri apa yang di temukannya.
"Awas!" seru partner nya dengan menarik tubuh kecil itu berguling di atas pasir.
__ADS_1