
Orang itu semakin mendekati lubang galian lalu menyiram kan lagi serbuk yang berada di sebuah karung yang di bawa nya, entah serbuk apa itu namun dari pengintaian Achela serbuk itu sungguh berwarna sangat gelap segelap tempat itu namun beberapa detik kemudian orang itu menuangkan sesuatu ke atas serbuk hingga semburan cahaya merah darah tercipta dan dari cahaya merah darah itu Achela sedikit melihat wajah orang itu meski memakai tudung namun orang itu sekali lagi menuangkan seluruh cairan di dalam botol hingga habis dan semburan cahaya merah darah langsung membumbung tinggi.
"Argh... Si*al! Panas. " jerit orang itu yang tidak sengaja terkena semburan cahaya merah darah.
"Aku harus segera pergi, atau Luka ini akan semakin parah. " gumam nya dan meninggalkan tempat itu.
Achela tidak menunda waktu sedikit pun dengan hati-hati mengikuti orang itu tanpa sepengetahuan orang itu, meski Achela tidak tahu serbuk dan cairan apa yang ada di lubang galian tapi orang itu pasti akan membawa nya ke titik masalah. Disisi lain Clara sedang menyiapkan ramuan yang sudah di buat nya dan di bantu dengan Peri Ghea mengobati Para Peri yang sudah terjangkit wabah, dengan hati-hati pengobatan di lakukan seperti yang di ajarkan Sang Pendeta.Clara dibantu oleh Peri Ghea, ya keduanya saling bahu-membahu untuk mengobati para Peri dan membiarkan para Peri untuk beristirahat setelah diobati ,Di sisi lain Achela mengikuti orang itu dengan hati-hati dan semakin orang itu menjauh dari wilayah Bangsa Peri dan memasuki wilayah sisi lain hingga Achela menemukan orang itu Menyusuri hutan yang begitu lebat dimana hutan itu adalah hutan bayangan.
Hutan Bayangan adalah hutan yang tidak memiliki sinar matahari namun Ia juga tidak begitu gelap hanya saja awan seakan enggan pergi dari langit diatas hutan bayangan, pandangan semakin jauh orang itu menyusuri Hutan Bayangan namun Achela tetap mengikuti orang itu dengan hati-hati hingga akhirnya terlihat sebuah pondok dari kejauhan tiba-tiba orang itu mendekati Pondok itu namun Pondok itu sepertinya sangat suram, Siapakah pemilik Pondok itu, sungguh apakah akan ada orang yang tinggal di pondok seperti itu terlihat sangat menyeramkan.
tok tok tok
" Permisi tuan saya sudah melaksanakan perintah Tuan"ucap orang itu setelah mengetuk pintu pondok.
Kemudian orang itu masuk karena tidak ada jawaban, dirinya tahu benar Tuan nya itu orang terdingin di mata siapapun, benar seperti tebakannya Tuan nya sedang duduk membaca sebuah buku kuno dengan wajah tanpa ekspesi apapun.
"Tuan apa yang tuan khawatirkan? " tanya orang itu menuangkan minuman sejenis madu ke dalam cawan dan meletakkan di depan Tuan nya.
Orang itu hanya bisa menghela nafas karena Tuannya sama sekali tidak menanggapi ucapannya itu justru hanya semakin tenggelam dalam buku kuno entah apa yang dibaca oleh tuannya dan membiarkan Tuannya melanjutkan membaca, tudung yang masih melekat ditubuhnya kini dilepaskan namun karena lupa tangan kirinya terluka akhirnya pakaiannya itu dilepaskan tanpa hati-hati.
"Auw.. " ringis orang itu karena gesekan tak disengaja.
"Kemarikan tanganmu! " ucap Tuannya yang sudah disampingnya.
"Tidak apa-apa Tuan, saya bisa obati ini. " ucap orang itu mencoba melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Mau Diam atau Ku Patahkan?? " ucap Tuannya dengan tatapan tajam.
Tentu lebih baik diam,karena setiap ucap an Tuannya bukanlah candaan, Tuannya mengambil ramuan di lemari khusus dan mengoleskan ramuan secara lembut.
"Sungguh unik Tuanku, dibalik sikap dinginnya itu tersimpan kelembutan tapi kenapa Tuan ingin menghilangkan Bangsa Peri. " batin orang itu menahan rasa panas dari ramuan.
Achela berusaha untuk mendekati pondok itu namun ntah ada perisai apa hingga dirinya tidak bisa mendekati pondok, jika dirinya menggunakan kekuatan apakah tidak akan membuat curiga musuhnya, dilihat dari perisai nya tentu siapapun yang ada di dalam pondok itu bukanlah orang sembarangan. Achela sibuk mencari cara untuk bisa menetralisir aura dirinya dan masuk melewati perisai itu tanpa kecurigaan, sedangkan di dalam pondok orang itu tengah melihat Tuannya bersiap untuk pergi lagi.
"Apakah Tuan akan pergi lama? " tanya orang itu dengan sedih.
"Sudah waktunya aku kembali. Jagalah dirinya dan pondok ini, Pelajari semua yang sudah aku tuliskan di catatan ini. " ucap Tuannya sembari memberikan gulungan kertas.
Tanpa menunggu jawaban Tuannya meninggalkan pondok disaat bersamaan Achela merasakan perisai itu semakin memudar dan Achela segera mendekati pondok namun melihat seseorang keluar dari pondok akhirnya Achela bersembunyi di balik pohon.
"Tuan tunggu! " seru seseorang keluar dari pondok.
"Tuan melupakan Pisau kesayangan tuan. " ucap orang itu menunjukkan Pisau yang digenggamnya saat ini.
"Pisau ini akan tetap disini hingga waktunya, jadi simpan Pisau ini dengan baik . " jawab Tuannya dan membuka penutup Pisau nya, disaat itu Achela terkejut dengan apa yang dia lihat.
Pisau yang sama seperti yang di simpan nya selama ini, Pisau yang telah memisahkan dirinya dengan Tuannya Penyihir Achela, lalu apa hubungannya dengan orang itu dan siapa Lelaki bertopeng yang ada didepannya itu, apakah semua hanya kebetulan atau semua sudah direncanakan. Pisau itu mengingatkan Achela pada masa lalu nya yang menyakitkan namun dirinya tidak boleh larut, setelah kepergian lelaki bertopeng,Achela melihat orang itu hanya sendirian di pondok dan tentu tidak akan menyia-yiakan kesempatan ini untuk menyelidiki tentang pisau itu dan apa yang ada di dalam pondok itu.
*Cahaya Pelindung* ucap Achela dan seketika tubuh nya terselimuti oleh perisai cahaya.
Achela terbang mendekati pondok yang masih sedikit terbuka dan perlahan ikut masuk ke pondok, orang itu sedang menyimpan pisau di sebuah tempat khusus.
__ADS_1
"Ntah apa yang Tuan rencanakan, bahkan Pisau kesayangannya harus ditinggalkan di sini. " gumam orang itu.
"Aku akan mencari buruan untuk makan malam. " gumamnya sekali lagi dan mengambil panah di dinding .
Krieet... (Suara pintu ditutup)
"Setidaknya tidak ada yang menggangguku , aku akan mencari tahu apa ada petunjuk yang tersimpan. " ucap Achela mulai menerbangkan benda satu per satu.
Wush... Wush.. Wush..
Brug ...
"Kenapa semua hanya barang tidak berguna, dimana keberadaan yang kuharapkan.Apa aku harus membuka tempat itu. " ucap Achela dan mendekati tempat yang digunakan untuk menyimpan pisau.
Namun belum sempat menyentuh tempat khusus itu suara langkah kaki kembali terdengar, Achela memutuskan untuk menerbangkan semua barang kembali ke tempat semula.
Krieet...
"Ka, kakak dimana? Ka Giel ! " seru orang itu setelah memasuki pondok dan melihat setiap Sisi namun tidak mendapatkan sang kakak.
"Apa ini? Jangan-jangan Ka Giel masih melakukan hal itu. Aku harus bertanya. " ucap orang itu dengan ekspresi khawatir dan membawa pakaian bertudung yang sedikit rusak dibagian lengannya itu bersamanya.
Setelah kepergian orang itu Achela dibuat semakin terkejut,karena orang itu ikut terlibat atas munculnya wabah Bangsa Peri, orang yang terlihat ingin melindungi Bangsa Peri justru memiliki andil yang besar dalam musibah itu, kenapa semua seperti tidak ada yang bisa dipercaya, setidaknya kini Achela tahu siapa orang yang tinggal di pondok ini. Ingin mencari bukti sekali lagi setelah kepergian orang itu namun Tuannya memanggilnya untuk segera kembali, tentu dirinya harus segera kembali jika sudah mendengar perintah Tuannya.
.................... ...
__ADS_1
"Achela! Datanglah kepadaku. " ucap Clara melalui batinnya.
"Baiklah Lady Clara. " jawab Achela dan segera meninggalkan Pondok.