
Setelah kepergian Achela, Clara membuka cadar nya. Betapa terkejut nya Sesepuh Putri Sisilia ketika melihat wajah yang sama dengan tawanannya, beberapa pertanyaan menghinggapi otaknya.
"Apakah sekarang semua nya terjawab Putri Sisilia? Keraguan mu pada seorang Lady Cristal, keinginanmu tentang pelaku kejahatan beberapa puluh tahun yang lalu Dan Tentang Raja kegelapan." ucap Clara dengan wajah nya yang datar.
"Tidak ini tidak mungkin! Apakah ramalan itu masih berlaku? Pasti itu semua tidak benar." gumam Sesepuh Putri Sisilia.
"Apakah maksud mu Ramalan *Takdir Jiwa Murni di dalam Gadis keturunan kembar*? " tebak Clara yang membuat wajah Sesepuh Putri Sisilia menjadi pucat.
"Baaagaiimana kaau tahu ituu?" tanya Sesepuh Putri Sisilia dengan gugup.
"Semua nya berawal dari mu Dan kembali pada mu! Akan ku katakan satu rahasia, apa Putri Sisilia mau mendengar nya? " tanya Clara mendekati Sesepuh Putri Sisilia.
Semakin mendekat, namun tubuh Putri Sisilia seakan terpaku di tempat. Aura dingin yang membekukan sangat menekan dirinya, seakan suhu dingin di Kerajaan Es tidak ada apa-apanya jika di banding kan Aura yang dipancarkan oleh gadis yang mendekati nya itu.
"Lady Christal adalah Jiwa Murni. Sekali kekuatan nya menyentuh sesuatu, maka Aku akan mengetahui segalannya! Semua kebusukan Dan rahasia yang terpendam di hati mu Juga Putri Sisilia. Bukankah itu menarik? " bisik Clara.
Meremang, itu lah yang di rasa kan Sesepuh Putri Sisilia, tubuhnya seakan gemetar ketika Clara dengan jelas menunjuk kan seperti apa kekuatan Jiwa Murni. Apakah artinya selama ini Clara hanya berpura-pura saja Dan mengikuti aturan main nya, jika benar kenapa harus menunggu malam ini.
"Hahahaha tidak mungkin! Tak seorang pun tahu rahasia hidup ku." bantah Sesepuh Putri Sisilia yang sudah memiliki kekuatan untuk menatap Clara.
*Cahaya Bintang* ucap Clara.
Seketika simbol Bintang yang berwarna biru perlahan berubah warna menjadi warna darah, terlihat ringisan Sesepuh Putri Sisilia ketika simbol itu berubah warna.
"Aargh.. Panaaas.. Apa ini, singkirkan! " racau Sesepuh Putri Sisilia dengan panik.
"Semua rasa itu akan hilang jika Milik mu di lepaskan! " sindir Clara dengan tangan bersedekap.
"Aargh, Rasa nya darah ku mendidih, paaanaaas." rintih Sesepuh Putri Sisilia.
"Terserah mu saja! Nikmati saja atau lepaskan yang kamu miliki." ucap Clara sekali lagi.
Mencoba bertahan namun sungguh rasa nya seakan luapan darah yang mendidih menghancurkan apa pun yang ada di dalam tubuhnya, panas tanpa ampun. Seakan darah di dalam tubuhnya menolak untuk berhenti terbakar, semakin lama kulit nya pun ikut mengeluarkan darah dari pori-pori kecilnya.
Kini bukan lagi keringat yang keluar dari tubuhnya melaikan darah merah kehitaman yang keluar, tubuhnya semakin tidak mampu di gerakkan dengan rasa sakit yang luar biasa.
*Cawan Jiwa*
Sebuah cawan yang di gunakan untuk melakukan persembahan kini keluar dari dalam tubuh Sesepuh Putri Sisilia, cawan perak dengan ukiran teratai emas itu terbang di antara Sesepuh Putri Sisilia dan Clara. Benar saja kata Clara jika Milik nya di keluar kan maka rasa yang menyiksanya berhenti, rasa terbakar dan darah mendidih berangsur pergi namun kekuatannya seakan terserap banyak akibat simbol Bintang itu.
wuss.. Fiuuh..
Baru saja berniat untuk mengambil Cawan Jiwa, Clara sudah menerbangkan Cawan itu menjauh dari nya. Cawan itu masih terlihat seperti cawan biasa, Clara melihat setiap gerakkan Sesepuh Putri Sisilia dan membaca isi hati perempuan itu.
"Persembahan terakhir sudah dibatalkan! Akan ku beri dua pilihan untuk mu, Akhiri ini atau aku yang akhiri!" ucap Clara mengulurkan tangannya.
*Tinggal satu langkah lagi maka kekuatan ku sempurna dan Kerajaan ini akan menjadi Milik Ku seutuhnya, Semua usaha ku sudah jauh. Jika ku akhiri, aku akan menjadi buronan setelah Lars tahu semua kejahatan ku.* batin Sesepuh Putri Sisilia.
__ADS_1
Sungguh Clara hanya bisa menghela nafas, apakah orang di depan nya ini masih tidak sadar juga jika semua kata di hati atau pun fikiran nya itu bisa di dengar Clara dengan jelas. Boleh kan dirinya teriak atau menertawakan kepolosan atau kebodohan wanita seumuran nenek nya itu, bukan nya masalah cepat selesai, justru kini dirinya menjadi pusing dengan keadaan nya yang seperti seorang peramal bertanya Ramalan nya sendiri.
*Petir Cahaya Biru*
*Perisai Cahaya Biru*
Jduuar.. duarrr...
Deg...
"Cawan Jiwa! " teriak Sesepuh Putri Sisilia.
"Aku lelah mendengar semua kejahatan yang tersimpan rapat di hati ku Putri Sisilia, sudah waktu nya Cawan Darah itu hancur! Darah keluarga yang kau tumpahkan membangkitkan Jiwa yang akan menghancurkan seluruh alam, Maka sudah tugas ku menghentikan kejahatan mu. Apa pesan terakhir mu?" tanya Clara yang baru saja mengeluarkan kekuatan suci nya untuk menghancurkan Cawan Jiwa.
"Sial@n! Kau! Hanya itu yang bisa mewujudkan impian ku tapi Kau seenaknya menghancurkan! Awaaas kau... " teriak Sesepuh Putri Sisilia.
Dengan amarahnya yang meledak, Sesepuh Putri Sisilia mengeluarkan pedang Dan mulai menyerang Clara dengan membabi buta. Dengan sigap Clara menghindar dan sesekali menepisnya dengan sebuah belati di tangannya, semakin lama beberapa goresan mengenai Sesepuh Putri Sisilia. Sedangkan Clara masih dengan tenang nya hanya mengikuti arah pedang Sesepuh Putri Sisilia dan menghindari nya.
sleez.. sling.. sreet..
"Badai salju* ucap Sesepuh Putri Sisilia.
Wuus
*Bola Api Biru* Ucap Clara
Badai salju yang cukup besar menghampiri Clara namun Bola Api menghancurkan badai itu dengan cepat, pertarungan keduanya cukup memakan waktu dengan pertarungan senjata dan element masing-masing.
*Petir Cahaya Biru* ucap Clara.
Ctaar.. Ctaar.. Sluuz...
Aaaarghh
Petir Cahaya Biru menyambar tepat sasaran membuat tubuh Sesepuh Putri Sisilia langsung terbakar, membuat jeritan terakhir nya semakin melengking. Darah nya sudah bercampur dengan darah yang tidak seharusnya , bukan nya tidak kasihan tapi hanya ini lah jalan satu-satu nya.
" Maaf tapi Jiwa mu harus meninggalkan raga iblis itu! Sampai bertemu kembali di waktu seharusnya. Hanya keturunan dari keluarga mu yang akan menyelesaikan Takdir ini." ucap Clara.
Wushh...
"Euum.. uhuk.. uhuk.. " suara Starla mengalihkan fokus Lars Dan Achela.
"Bagaimana keadaan mu Starla?" tanya Clara yang baru saja muncul dengan portal nya.
"Apa yang terjadi? Kepala ku rasa nya tertusuk-tusuk. Kenapa kakak disini?" ucap Starla.
"Istirahat lah, kamu akan baik-baik saja. Achela kembali lah dengan Starla setelah Gerhana Bulan Darah Merah, Dan kau Lars, Bangun lah! Seorang Raja harus bisa mengendalikan perasaanya untuk melindungi Rakyat nya. Apa pun yang telah terungkap memang itu harus terjadi, Jadi lah Raja seperti kakek mu. Starla kakak harus kembali, peraturan ku masih sama! Patuhi Apapun yang Achela katakan." ucap Clara mengusap kepala adik nya.
__ADS_1
"Tuan, bukankah... " ucap Achela.
"Sampai nanti semua nya, Achela terkadang diam itu lebih baik." ucap Clara memotong niat pendamping nya itu.
*Jangan katakan apa pun! Aku tidak akan membiarkan adik ku ikut tenggelam dalam kegelapan. Aku titip adikku, Ingat jangan kembali sebelum masa itu pergi! Hanya 3 hari Achela, awasi ke dua anak ini agar tidak terpengaruh Gerhana Bulan Darah.* batin Clara dan meninggalkan Kerajaan Es.
..................
Kabut hitam menyelimuti alam, seluruh pepohonan seakan mengering dan aroma lezat itu semakin menarik indra penciumaan ku. Air liur ku mulai menetes tanpa henti, semakin dekat aroma nya semakin membuat ku tidak tahan.
...********...
.
.
.
Hay hay reader ☺
.
Hari ini alhamdulillah bisa up 3 bab, semoga kalian seneng ya.
.
.
Jangan lupa support, like n comment nya ya 😁
. Author tunggu ❤️
.
.
. Sekali an Author mau promo nih 😁
. Dukung Novel Author My Secret Life juga donk 😁
. Boleh kan, boleh donk.
.
. Ama satu lagi nih, Author juga ikutan event Chat Story ** My Magic World, mampir juga ya ya..
. Author tunggu ☺**
__ADS_1