The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Tanggungjawab seorang istri


__ADS_3

"Selamat menikmati." ucap Clara yang lebih membuat para pelayan menahan malu karena jamuan makan siang justru menjadi di layani bukan melayani tamu meskipun di layani nya pun dengan cara yang tidak biasa.


Seperti sebuah nyanyian pengantar tidur membuat tindakan Clara yang hanya mengalihkan perhatian semua orang dengan makan bersama membuat gadis itu bisa menghilang tanpa membuat kehebohan.


"Sudah lama?" tanya Clara yang baru saja datang di sebuah kamar dengan nuansa sederhana dengan berbagai jenis senjata yang memenuhi kamar mewah menjadi seperti kamar seorang prajurit.


"Baik lah, sebaiknya aku permisi. Sampai bertemu lagi Yang Mulia." ucap seorang pria bertudung putih.


"Temui dia pertapa Delion. Buat lah dia ikhlas, tanpa ke ikhlas an nya jalan ku akan sulit." ucap Clara yang membuat pertapa Delion mengangguk dan menghilang bersamaan cahaya putih yang bersinar sesaat dan lenyap dengan cepat.


"Apa mau ku antar menemui Viola? Agar hati mu bisa tenang? " tanya Clara pada pria yang ber status suami nya itu.


Bukan masalah wajah nya yang masih saja menunduk tapi karena isi di fikiran pangeran Trish membuat Clara bertanya pada titik utama yang membuat suami nya seakan memiliki beban tersendiri, tapi tidak ada jawaban apapun dari pangeran Trish membuat Clara hanya bisa menghela nafas. Dengan tenang langkah kaki nya mendekati Trish dan menarik tubuh pria itu dalam pelukan nya, tidak akan ada hasil nya jika menggunakan ketegasan jika keadaan lebih tertuju pada masalah hati.


Hiks.. hiks.. hiks...


Suara tangisan Trish membuat Clara merasa lebih baik karena dengan air mata maka Trish akan merasa lebih tenang setelah itu, ntah sampai berapa tangisan itu terjadi hingga bahu kiri Clara basah dan bisa diperas jika memang berniat. Di usap nya punggung Trish dengan lembut karena menenangkan suami nya juga tanggungjawab nya sebagai seorang istri, tapi aliran hangat keluar dari hidung nya dengan tusukan yang terasa menusuk di dalam jantung nya.


Rasa sakit itu membuat Clara harus memejamkan mata nya dan mengeluarkan element cahaya biru nya agar bisa melindungi Trish yang masih di dalam pelukan nya, darah yang semakin mengalir dari hidung nya tak membuat Clara menghentikan tugas nya sebagai istri.


"Maaf kan aku, aku bersalah." ucap Trish dengan penuh penyesalan dan melepaskan pelukan nya namun Clara tak membiarkan Trish melepaskan pelukan itu.


"Tetaplah seperti ini sebentar saja." ucap Clara dengan mengedipkan mata nya untuk menghentikan waktu.


Di lepas nya pelukan itu hingga pergi ke tempat pemandian yang memang tersedia di dalam kamar para anggota kerajaan, di tatap nya darah yang mengalir dari hidung nya. Darah yang tidak mau berhenti meskipun waktu telah di hentikan, tidak ada rasa takut ataupun cemas di wajah Clara tapi di sudut hati nya masih tetap berdoa agar Tuhan memberikan waktu pada nya untuk menyiapkan dunia baru yang tengah di persiapkan oleh nya.

__ADS_1


Byuuur... byuuur..


Dua guyuran air segar yang membasahi wajah nya membuat darah yang mengalir dari hidung nya menghilang dan sebuah ramuan di ambilnya dari dalam ruangan tanpa batas nya. Ramuan yang hanya diri nya saja yang tahu, setelah meminum ramuan terasa tubuh nya menjadi dingin selama satu menit dengan wajah dan kulit yang sangat pucat layak nya salju di kerajaan es.


"Sebentar lagi, aku harus kuat." ucap Clara dan berjalan kembali memasuki kamar suami nya dan kembali ke posisi nya semula dengan memeluk tubuh Trish dan mengedipkan mata nya kembali untuk mengembalikan waktu agar berjalan kembali.


"Maaf Clara, aku tidak meragukan mu tapi aku hanya merasa ber tanggungjawab atas... " ucap Trish dan membiarkan istri nya untuk tetap berada di dalam pelukan nya.


"Nak kalian disini? Kami mencari mu dimana-mana." ucap Raja Azio yang membuka pintu kamar putra nya tanpa permisi.


"Maaf Raja." ucap Clara melepaskan pelukan dan berbalik menghadap ayah mertua nya yang terlihat cemas.


"Trish kapan kamu kembali?" tanya Raja Azio yang mengalihkan perhatian putra nya karena telepati yang datang dari menantu nya agar membuat Trish keluar dari kamar itu.


"Ayahanda, Trish baru saja datang." jawab Trish dan mendekati Raja Azio.


"Temui bunda di ruangan makan, dan katakan kami akan menyusul sebentar lagi." ucap Raja Azio dan melepaskan pelukan nya yang membuat Trish menatap ke belakang dimana ada Clara, dan istri nya itu mengangguk sebagai persetujuan atas ucapan ayahanda nya sendiri.


"Pergi lah Trish." ucap Clara yang tahu jika suami nya itu akan memulai perdebatan karena perintah dari Raja Azio.


"Baik lah, cepat lah kembali. Aku menunggu mu bersama bunda, ayahanda aku titip Clara." jawab Trish dengan wajah yang terlihat kecewa namun berusaha untuk tetap mengingat siapa istri nya itu.


Raja Azio dan Clara hanya terdiam selama masih merasakan aura Trish yang masih belum meninggalkan tempat pria itu berdiri meskipun sudah keluar dari kamar pribadi nya, hingga Clara memilih menggunakan perisai cahaya nya agar perbincangan nya tidak terdengar oleh siapapun.


"Apa yang terjadi nak? Apa ini?" tanya Raja Azio yang melihat noda darah di bawah bekas tempat menantu nya memeluk putra nya.

__ADS_1


"Bagaimana persiapan nya?" tanya balik Clara yang tidak ingin membahas asal usul darah yang hanya satu tetes itu.


"Semua seperti yang anda perintah kan, tapi bukankah anda yang akan memimpin perang nanti? " tanya Raja Azio yang masih merasa tidak bisa memahami tujuan menantu nya, yang memberikan perintah agar diri nya membuat rencana tak tik perang dengan menyatukan tak tik perang dengan kerajaan langit dan juga kerajaan es pada akhirnya nanti.


"Temui lah ibu suri bersama Ratu Alona di kerajaan langit setelah kepergian ku nanti dan sampai kan tujuan anda ke istana ku adalah perintah ku." ucap Clara yang tidak berniat menjawab satu pertanyaan pun dari Raja Azio karena apapun rencana seorang Lady Cristal hanya diri nya yang harus tahu tanpa membuat satu pihak pun terlibat lebih jauh dari tugas masing-masing.


"Seperti perintah anda Yang Mulia, tapi bisakah jawab pertanyaan pertama ku sebagai seorang putri." ucap Raja Azio dengan lembut dan pandangan kekhawatiran pada menantu yang sudah menjadi putri nya juga.


"Ini hanya lah pertarungan batin, bukan hal besar." jawab Clara dan melepaskan perisai cahaya nya karena aura Trish sudah tidak ada lagi.


"Bagaimana dengan penduduk desa mati?Bukankah mereka bisa melindungi mu nak? " tanya Raja Azio yang mencoba memberikan perlindungan dengan cara nya.


"Sebaiknya kita kembali ke ruangan makan. Maaf kan putri mu ini, karena tidak ada jawaban yang bisa diberikan." ucap Clara dengan lembut agar Raja Azio memahami posisi nya yang tidak bisa melakukan semua sesuka hati nya.


"Baik lah nak, ayo." ucap Raja Azio menyerah karena sejak awal pertemuan kedua nya , memang karena takdir Clara lah yang menjadi kan kedua nya lebih dekat layak nya ayah dan anak meskipun tetap memiliki rasa hormat di saat kedua nya menjalankan tanggungjawab masing-masing.


Kedua nya meninggalkan kamar Trish dengan perbincangan basa-basi yang bisa mencairkan suasana hati dengan berjalan menyusuri lorong yang membuat suasana istana terlihat lebih hidup dengan tawa Raja Azio yang mengundang kebahagiaan untuk penghuni kerajaan api, langkah kedua nya di sambut dengan tatapan heran dari pasangan mata ibu dan putra nya.


"Maafkan saya karena meninggalkan jamuan makan secara tiba-tiba." ucap Clara dengan membungkukkan tubuh nya sedikit di depan Ratu Alona.


"Tidak apa-apa nak, Trish sudah menjelaskan semua nya. Tapi kenapa pundak mu basah? " tanya Ratu Alona dengan melirik putra nya yang langsung memejamkan mata seakan menyembunyikan sesuatu.


"Ini hanya basah karena air Ratu, saya dengar Ratu pandai membuat hidangan manis. Apa bisa saya mencicipi? " tanya Clara mengalihkan perhatian bunda mertua nya yang sudah memberikan tatapan tajam ke arah Trish dengan ucapan di hati nya yang siap menerkam putra nya itu jika benar melakukan kesalahan.


"Tentu nak, duduk lah dan tunggu sebentar disini." jawab Ratu Alona dengan senyuman yang terkembang di bibir merah delima.

__ADS_1


"Clara.. " panggil Trish yang hanya mendapatkan sebuah anggukan kepala dari istri nya.


Ntah rasa tenang darimana yang selalu membuat istri nya itu melindungi diri nya dari berbagai kesalahan, membuat hati nya bersyukur sekaligus merasa bersalah karena hanya bisa menyusahkan istri nya selama ini. Raja Azio memilih untuk menjadi pengamat tanpa memberikan komentar apapun karena dapat di pasti kan jika Clara akan menjaga keburukan putra nya sebesar apapun kesalahan putra nya itu.


__ADS_2