The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Cristal Embun Bambu


__ADS_3

Melihat semua sudah berkumpul, Pangeran Trish mulai memberikan isyarat pada pendamping nya untuk melakukan langkah selanjutnya. Dimana Raja Argus mulai melepaskan sihir cahaya nya dan membebaskan setengah perjanjian dari setiap Naga di Klan Naga Biru , dimana setengah terputusnya perjanjian itu akan menjadi perjanjian baru dengan para prajurit bayangan manusia yang merupakan rakyat Desa Mati dan beberapa hanya penghuni baru termasuk korban dari penculikan yang selamat.


"Setiap satu orang akan mendapatkan pendamping masing-masing, dimana aura kalian yang akan menentukan siapa yang menjadi pendamping kalian. Silahkan maju satu persatu! " seru Pangeran Trish setelah melihat Raja Argus selesai memutuskan ikatan nya dengan prajurit naga nya.


Mendengar perintah Pangeran Trish, membuat penghuni tempat rahasia itu maju satu persatu. Dimana setiap orang nya selalu mengeluarkan sinar dengan warna berbeda, hingga sang naga bayangan maju dan memasuki tubuh sang pendamping nya. Sinar itu hanya dapat dilihat oleh Pangeran Trish dan Raja Argus, meskipun begitu hampir semua orang sudah mendapatkan pendamping naga bayangan kecuali beberapa orang yang masih tersisa. Tidak di sangka prajurit bayangan yang di latih Raja Azio sangat lah banyak jika di kumpulkan tanpa adanya pengecualian, naga prajurit sudah tak tersisa namun masih tersisa prajurit bayangan.


"Tuan bagaimana ini? Kami masih belum mendapatkan pendamping? " keluh seseorang yang hendak maju namun tidak ada satu naga bayangan pun yang tersisa.


"Perhatian! Untuk semua yang sudah mendapatkan pendamping naga bayangan, silahkan kembali berlatih! Dan untuk yang masih tanpa pendamping, tetap lah di tempat ini." seru Pangeran Trish dan mencoba tenang.


*Apakah tidak ada naga bayangan lagi? * batin Pangeran Trish.


*Masih, tapi mereka harus menjaga pulau. Tidak mungkin membawa mereka, mereka pemimpin dari setiap kelompok. Kecuali.. * jawab Raja Argus melalui batin nya.


*Kecuali apa? * tanya batin Pangeran Trish.


*Prajurit bayangan mau meluluhkan pendamping naga bayangan mereka sendiri! Apakah Tuan akan mengirim mereka? * jawab batin Raja Argus.


*Apa tidak ada cara lain? * tanya batin Pangeran Trish.


*Ada! Apa anda mau mendengarkan pendapat ku? * batin seseorang dengan suara lembutnya.


Deg..


*Raja Argus, sejak kapan suara mu menjadi berubah? Apa kau salah minum? * tanya batin Pangeran Trish.


Belum ada jawaban dari Raja Argus namun sebuah suara yang baru di dengarnya kembali terdengar dan ini lebih dekat seperti dari belakang nya.


"Raja Argus, pergilah temui Naga ku. Biarkan aku yang mengajari Pangeran satu ini." ucap nya dengan suara yang lembut penuh tekanan dari belakang kedua makhluk itu.


Pangeran Trish dan Raja Argus ingin menoleh ke belakang untuk melihat pemilik suara beraura kuat, namun seluruh kekuatan seakan sirna tanpa meninggalkan tulang untuk bersandar. Bukan hanya kedua nya yang tidak mampu bergerak, namun mendadak semua orang menjadi hening tanpa ada helaan nafas. Orang-orang bahkan menunduk dengan keadaan kaki tertekuk sebagai sandaran tubuh mereka, aura itu semakin menghabiskan pasokan udara di sekitar mereka.


*Kabut Cahaya Biru* ucap nya.


Cliing.. (Kabut yang menyamarkan sosok itu kini mulai menetralkan aura nya hingga membuat orang-orang kembali mendapatkan kesadaran mereka)


"Ekhem! Pergilah kalian, tunggu beberapa saat. Saat suara petir menyambar, datanglah kembali ke tempat kalian berpijak." seru nya dengan menghempaskan sedikit kabut ke arah orang-orang yang menunduk.


".... " Pangeran Trish.

__ADS_1


"Raja Argus, apakah perintah ku harus ku ulang?! " ucap nya dengan menyingkirkan kabut dari wajahnya.


Wajah yang masih manis dengan mata tajam nya, wajah yang selalu membuat Pangeran Trish berhenti berkedip dengan detakan jantung yang berpacu dengan cepat. Wajah yang tidak memberikan arti menyerah dan lelah, dialah yang selalu di inginkan Pangeran Trish di setiap detiknya, meskipun kenyataan tidak mengizinkan nya untuk selalu bersama.


Tanpa di sadari Pangeran Trish, lamunannya membuat nya tak mengenal tempat dan waktu, bahkan Clara yang sudah ada di depan nya pun tidak disadari. Melihat tingkah laku Pangeran Trish membuat Clara bernafas berat, satu yang menjadi rasa frustasi nya terhadap satu pria yang menjadi suaminya ini. Bagaimana Pangeran Trish akan berperang jika setiap kali ada dihadapan nya, hanya wajah tak berdosa dengan keluguan yang tak bisa di sangkal lagi.


"Apa wajah ini begitu menyihir mu? " bisik Clara tepat ditelinga Pangeran Trish.


"Eeh, buu..kan begitu.. " jawab Pangeran Trish dengan rasa terkejut karena bisikan Clara seakan memberikan aliran listrik yang langsung menyadarkan nya.


Tanpa menjawab lagi, Clara mengambil tangan kanan Pangeran Trish, dan membiarkan suaminya itu melamun atau berfikir sesukanya. Perlahan Clara memejamkan mata nya, membiarkan kabut cahaya biru menyelimuti keduanya dan membawa keduanya ke tempat yang seharusnya.


Dalam hitungan detik kabut mulai menghilang, dengan pergantian pemandangan yang seketika membuat perhatian Pangeran Trish teralihkan. Bau anyir dengan terpaan angin yang semakin memperjelas aroma darah menusuk hidung nya, di alihkan nya pandangan matanya ke sekeliling.


"Apa semua ini? " seru Pangeran Trish yang mulai menyadari dimana dirinya berpijak.


Lautan darah yang ada di bawah kakinya, dengan gelimpangan tubuh tak berbentuk dimana-mana. Langit yang gelap dengan Bulan Hitam bercincin sinar merah darah, tidak ada kehidupan di tempat itu seakan semua telah lenyap, di pandang nya mata tajam yang ada di samping nya. Mencoba mencari sebuah jawaban namun mata itu hanya menunjukkan wajah tanpa senyuman dengan binar sendu yang tidak pernah di tunjukkan.


"Clara? Apa yang terjadi? Kenapa membawa ku ke tempat ini? " tanya Pangeran Trish dengan lembut, meredam rasa yang bercampur di dalam dirinya untuk menenangkan istrinya.


"Inilah hasil dari Perang itu, Lihatlah lautan darah yang tak terhingga ini! Bahkan sebagai Lady Cristal pun aku tak mampu menghentikan Perang Tahta. Masih kah alam memberikan aku kesempatan untuk hidup dengan tenang menjadi manusia biasa? " ucap Clara mengalihkan pandangannya dari mata Pangeran Trish.


"Apa ini masa depan? " tanya Pangeran Trish memastikan.


"Apa yang ingin kamu katakan dengan membawa ku ke ruangan waktu? '' tanya Pangeran Trish yang kini paham dimana dirinya berada.


" Untuk melepaskan mata sihir yang selalu kamu arahkan pada ku, agar seorang Pangeran Trish melupakan sihir di mata ku dan melihat bagaimana kehidupan di depan mata." jawab Clara seadanya, apapun yang tersembunyi di dalam hati nya hanya waktu yang akan memberikan jawabannya.


"Sihir ini tidak akan pernah pergi meskipun lautan darah menenggelamkan seluruh alam! Hingga nafas ini berhenti dengan detakan terakhirnya, sihir ini akan pergi bersamaku untuk selamanya. Bukankah kamu tahu itu dengan baik Clara? " ucap Pangeran Trish dengan mendekati Clara yang masih mengalihkan pandangannya.


"Hmm.Apakah seorang Pangeran Trish melupakan Bola waktu yang membuatnya melintasi ruangan waktu? Takdir pun menjadi pengkhianat di saat jiwa-jiwa di penuhi dengan kegelapan." ucapan Clara dengan menyorot kan mata nya tepat disaat Pangeran Trish sudah di depannya dengan jarak sepuluh centimeter.


Pandangan yang beradu, menyiratkan berbagai perasaan yang kini telah menjadi campuran tanpa terpisahkan, tatapan yang tak mampu di artikan lagi. Tidak ada bara ataupun pasang surut yang menunjukkan besar kecilnya fikiran dan hati bekerja, keduanya tenggelam dalam ikatan mata yang begitu dalam. Hingga Clara mengalah dan memejamkan mata nya, membiarkan seluruh perasaannya semakin terkubur di dalam dasarnya jiwa.


"Maafkan aku Pangeran Trish, Aku merenggut hak mu tanpa bertanya." batin Clara.


Melihat ada sebuah garis dari tautan alis Clara, membuat Pangeran Trish berfikir sejenak dan melepaskan nafas dengan satu tarikan.


"Ini semua sudah Takdir, bukankah itu yang selalu kamu katakan. Dimana Putri yang selalu bersikap dingin, dewasa dan penuh misteri? Dimana gadis pujaan ku yang selalu menjadi perisai di depan semua orang yang di sayanginya. Dimana gadis bermata tajam yang siap menerkam di saat merasakan adiknya akan terluka?Dimana gadis yang menolak memiliki hubungan demi tanggung jawab nya? Ingatlah satu hal Istri ku Ratu Africiana Lusca Armadeo, jika alam berputar kembali pada waktu sebelum nya, pastilah hanya gadis polos dengan mata tajam ini yang akan menjadi Pewaris Jiwa Murni. Alam tahu di dalam hati nya terdapat kekuatan yang melebihi seluruh detak jantung semua makhluk, jadi Lady Cristal harus percaya jika semua yang terjadi sudah takdir dan tanggung jawab mu sudah dipenuhi dengan sangat baik." ucapan Pangeran Trish dengan memeluk clara setelah mendapatkan kekuatan untuk menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


Wuusshh.....


Tanpa menjawab ucapan Pangeran Trish, Clara telah membawa keduanya ke tempat yang berbeda. Tempat yang terlihat di penuhi dengan warna hijau yang menyegarkan mata dengan suara alunan alam yang begitu menenangkan, hutan bambu yang begitu rapat kini menjadi pemandangan di depan Clara.


"Lihatlah ini Pangeran Trish." ucap Clara dengan melepaskan pelukan suaminya.


"Ini? " jawab Pangeran Trish yang perlahan mengingat warna hijau itu namun tidak ada suara seruling yang pernah di dengarnya.


"Tujuan mu setelah perang." ucap Clara dan mengayunkan tangan kanannya ke udara.


*Element Air* ucap nya.


Kumpulan embun di setiap daun bambu mulai mengitari pusaran kecil yang dibuat Clara, dimana tetes demi tetes air menyatu hingga sebuah Cristal air mulai terbentuk. Cristal air dari embun daun bambu terlihat lebih jernih dari air itu sendiri, Cristal itu seperti gumpalan air yang masih belum membeku.


"Teteskan satu darahmu Pangeran Trish! " perintah clara mengarahkan gelembung air di hadapan Trish.


" Apa ... " jawab Pangeran Trish.


"Lakukan permintaan ku! " ucap Clara memotong ucapan Trish.


Melihat keseriusan Clara, membuat Pangeran Trish menggigit sedikit ujung jari nya untuk mendapatkan darah dari tubujnya. Satu tetes sudah menetes diatas gelembung air itu, hingga gelembung air itu mulai membeku dengan percikan api yang membakar tetesan darah Pangeran Trish meski hanya setengah bagian saja.


"Gigit jari ku! " ucap Clara yang mendapatkan tatapan dengan alis terangkat Pangeran Trish dengan permintaan anehnya.


"... "


"LAKUKAN! " ucap Clara lebih tegas.


"Tahan ini sakit." ucap Pangeran Trish dengan pasrah, menggigit jari Clara yang sudah ada di depan nya.


Wajahnya tidak menunjukkan sakit sedikitpun, dengan darah yang keluar membuat Clara meneteskan nya ke gelembung air, bukan hanya satu tetes tapi hampir setengah gelembung air yang tersisa kini menjadi warna darah berbeda. Warna itu tidak terbakar namun membeku dengan sinar biru yang mengalirkan hawa dingin dengan kehidupan yang menghangatkan, membuat kulit Pangeran Trish terasa tersentuh butiran salju dengan aroma sinar matahari.


*Element Blind* batin Clara dan menyempurnakan Cristal embun bambu menjadi sebuah bola Cristal yang indah namun menyimpan darah dua jenis.


"Simpanlah ini selalu bersama mu! Perjalanan tidak berakhir meski kita meminta, Ingatlah satu hal Pangeran Trish. Cristal embun bambu akan bersinar ketika darah keturunan yang sama berada di dekat kita. " ucap Clara dengan meletakkan Cristal embun bambu di tangan Pangeran Trish.


"Bisakah katakan tanpa teka teki? " jawab Pangeran Trish dengan mengerjapkan mata nya.


"Tidak! Sudah waktu nya kita kembali. Pastikan Cristal embun bambu tidak jatuh ke tangan orang lain! " peringatan terakhir Clara sebelum menggunakan portal nya untuk kembali ke wilayah Desa Mati.

__ADS_1


................. ...


"Prajurit ku sudah siap dan semakin berlatih dengan giat, namun wanita itu malah sibuk melakukan hal tidak penting! Sudah waktu nya untuk mengambil keadaannya, agar wanita itu tidak berbuat semaunya! " batin seseorang yang baru saja mengamati hasil dari mantra sihir nya.


__ADS_2