
"Toooloooong... toooloooong.. " suara lirih seseorang seakan tersamarkan dengan harumnya bunga mawar yang bermekaran.
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga Clara, di antara jutaan bunga mawar bermekaran dengan atap langit bertabur bintang di siang hari.Wilayah dengan dua waktu bersamaan, bintang bersinar yang berkilauan seperti berlian di antara birunya langit membuat hamparan bunga mawar terlihat lebih menawan dengan warna cerah mengagumkan.
"Toolooong... "
Suara itu terdengar lagi membuat clara menggunakan ketajaman pendengaran nya mencari sumber suara yang terdengar samar, bergegas kakinya menyusuri hamparan bunga mawar membuat nya menggunakan perisai cahaya agar duri tidak melukai kulitnya. Keindahan di tempatnya berpijak saat ini sangatlah berbanding terbalik dengan arti sebenarnya, setiap satu duri kecil yang menempel pada batang tangkai bunga mawar itu sama seperti sebuah racun yang menyesatkan, bagaimana tidak begitu jika racun seakan menjadi air penyubur bunga mawar.
"Starlaa.... " seru clara saat menemukan puluhan bunga mawar yang sudah menjadi tempat pembaringan adiknya.
Dengan buru-buru clara menghampiri starla yang keadaan nya sudah lemah dan di penuhi dengan titik-titik hitam kebiruan di sekitar kulitnya yang tidak terlindungi pakaian nya, dengan cepat Clara menghilangkan perisainya dan memangku adiknya.
Wuusshhh.... (clara menggunakan portal nya untuk meninggalkan hutan ilusi)
"Bertahanlah starla, maaf kan aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Hiks.. hiks.. " gumam clara merebahkan starla di tempat tidurnya.
Tanpa menunggu lama clara berpindah tempat dari hutan ilusi ke kerajaan langit, membawa starla ke tempat yang lebih aman. Dengan element cahaya nya, Clara memberikan pengobatan sementara untuk adiknya, hanya untuk menghentikan penyebaran racun yang telah menyebar hampir ke seluruh tubuh.
"Nak apa yang terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi? " tanya ibu suri menghampiri kedua cucunya.
Disaat melewati lorong yang mengarah kamar pribadinya,ibu suri mendengar suara dari kamar starla padahal penghuni nya tidak ada, dan bergegas memeriksa . Disaat pintu terbuka, justru melihat Clara yang tengah menyalurkan element cahaya nya ke tubuh membiru starla, melihat kondisi starla yang hampir seperti manusia tinta membuat ibu suri cemas.
"Tenanglah nek, aku akan mencarikan obat dari racun duri bunga mawar. Untuk sementara element cahaya ku akan menghentikan penyebaran tapi waktu ku hanya lima jam sebelum racun mencapai jantung Starla." jawab Clara bergegas mengambil pakaian ganti karena kondisinya pun tidak baik seperti adiknya.
Beberapa dari kulitnya juga terkena duri disaat mencoba membantu adiknya, beruntungnya di dalam tubuh nya adalah jiwa murni maka racun itu tidak sebanding dengan kekuatan yang ada didalam tubuh nya. Beberapa saat kemudian Clara sudah keluar dengan pakaian Ksatria nya dan mengikat rambutnya seperti kebiasaan adiknya Starla, ibu suri hanya memperhatikan tanpa bertanya karena cucunya itu terlihat seperti tergesa-gesa.
__ADS_1
"Nak? " ucap ibu suri.
"Titip Starla nek, aku akan kembali sebelum waktunya berakhir. Satu hal lagi, sampaikan pada cleo untuk bersiap besok malam." ucap Clara berpamitan mencium tangan neneknya dan menatap adiknya sesaat sebelum menghilang kembali dengan portal nya.
Hembusan angin yang berbeda dengan tingkat kedinginan yang luar biasa menusuk kulitnya, namun itu tidak menjadi halangan untuk nya. Terlihat sebuah gunung yang menjulang tinggi di depannya, dari pandangan batinnya masih tak terlihat dimana keberadaan tujuannya.
"Bunga mawar salju, seharusnya ada di tempat ini. Aku harus bergegas agar waktu ku tidak habis, sabarlah Starla. Kakak akan membawakan penawar racun itu, bertahanlah." batin Clara dan mulai melangkahkan kaki nya nenyusuri setiap jalan yang tertutupi salju.
Gunung Vexia, sebuah gunung yang masih termasuk wilayah kerajaan es dimana gunung ini hanya di gunakan untuk bertapa dan berburu. Kedua hal itu memang terlihat bertolak belakang tapi gunung ini menyediakan berbagai jenis hewan yang bisa di anggap langka dan di puncak sana terdapat sebuah sumber mata air dengan tiga air terjun yang di percaya menjadi tempat kesayangan dewa dewi.
Beberapa pendeta yang ingin melepaskan segala hal duniawinya akan melakukan perjalanan dan menuju puncak untuk menjadi seorang pertapa sejati, menyatu dengan alam tanpa merusak alam. Namun menurut sejarah hanya mereka juru kunci dari gunung Vexia yang bisa bertahan meskipun sebenarnya ada segelintir orang yang bisa bertahan, apapun itu gunung Vexia masih gunung bersalju yang alami, dimana tidak ada penebangan pohon ataupun manusia sembarangan yang keluar masuk ke dalam gunung tersebut.
Dengan bantuan element udara dan element cahaya, Clara mulai membuka mata batinnya untuk melihat keadaan di sekitar nya dan mencari tujuannya tanpa harus bertemu seorang pemburu ataupun pertapa. Bertemu pemburu mungkin masih bisa di ajak bicara namun jika bertemu pertapa, mungkin akan lebih memakan waktu seperti terakhir kali.
Flashback
Seakan ada yang mengetahui kedatangannya begitu memasuki hutan ilusi, Clara dan Naga suci langsung melihat sebuah karpet halus membentang dari tempat nya datang menuju ke sebuah titik di depan sana yang seperti sebuah menara kastil. Hanya ada satu menara yang terlihat memiliki beberapa jendela di setiap mata angin, melihat penyambutan yang seperti itu membuat Clara mengikuti kemana karpet di bawah sana berakhir.
"Ayo kita ke menara itu My dragon, seperti nya aroma kita sangat lah menggoda." ajak Clara dengan mengelus kepala Naga nya.
Dengan senang hati Naga suci mengikuti ajakan dari tuannya, terbang mendekati sebuah menara yang semakin dekat justru semakin memendek bukannya semakin besar. Dari sinilah Clara tahu bahwa hutan ilusi memang sangat cocok menjadi nama tempat yang di singgahi nya kali ini, semua hanyalah pemandangan sesaat yang akan berubah tanpa menunggu kedipan mata sekalipun.
Krriiiet... (satu sisi dari menara terbuka ketika Naga suci telah berhenti terbang di dekat menara yang kini menjadi sebuah pondok dengan bentuk menara mini seakan itulah pintu masuk nya)
"Turunkan aku,kita akan lihat siapa yang mengundang kita." ucap Clara dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Naga suci dengan cepat melesat kebawah yang tidak seberapa tinggi itu, menurunkan tuannya dengan aman dan selamat. Clara turun dan menatap sebuah dinding yang kini terbuka menampilkan sesuatu yang berkibar, selendang putih dengan helaian rambut panjang putih yang terlihat kontras di dalam ruangan gelap itu.
"Apa yang anda inginkan tuan? " batin Clara dengan tenang.
"Masuklah! Biarkan Naga mu istirahat." jawab sosok di dalam menara tanpa bicara di hatinya.
".... " hening, Clara masih berdiri di tempat yang sama tanpa bergerak satu mili pun.
"Bukankah sebagai pewaris kitab suci dan pedang suci berdampingan dengan Naga suci, harus membuka seluruh dimensi untuk menuntaskan ramalan yang masih berlangsung? Tidakkah di hati mu ingin membuat semua baik dan menghentikan ramalan itu? " ucap sosok itu tanpa emosi.
"Baunya manis seperti gula , dia orang baik hanya saja cerewet karena lama bertapa." ucap Naga suci dengan santainya seakan tidak takut apapun.
"Das@r Naga tua! Bau mu itu yang tidak seharum dulu! Berapa tahun kau tidak mandi?! " tanya orang dalam menara berjalan mendekati sisi menara yang terbuka.
"Pendeta? " ucap Clara yang sedikit terkejut dengan wajah yang muncul dari kegelapan.
Wajah yang tidak asing, hanya berbeda panjang rambut dengan warnanya dan cara berpakaiannya yang terlihat lebih kuno meskipun garis wajahnya seakan tidak menunjukkan usia aslinya. Rambut putihnya seakan memiliki tingkatan, meskipun warna nya putih namun terlihat jelas ada tingkatan di setiap barisan rambutnya.
"Aku bukan Pendeta, tapi... " ucap orang itu menggantung kan ucapannya.
".... " hening.
"Apakah gadis ini tidak bisa santai? Apa yang kamu ajarkan Belenda?! " tanya orang itu menatap tajam Naga suci.
"Dia berbeda dari yang lain, dialah pemilik jiwa suci. Aku tidak masalah dengan sikap nya karena gadis ku ini lebih suka bertindak daripada berbicara. " jawab Naga suci dan terbang meninggalkan kedua mahku yang harus menyelesaikan beberapa hal penting.
__ADS_1
"Ayo masuk! Jangan di tempat terbuka, sebelum waktu menghisap semua dari dalam dan mengganti semua nya dengan keadaan yang berbeda." ajak orang itu membalikkan tubuhnya kembali berjalan memasuki menara yang di ikuti Clara.
Keduanya memasuki sebuah bangunan dengan berbentuk lingkaran memanjang seperti bentuk menara khas pada umumnya, dengan satu ayunan tangannya menara kembali tertutup dan akhirnya menjadi gelap gulita**.