
"Sebaiknya aku membawa mu." batin Clara memeluk Trish yang hanya terduduk diam dengan wajah menunduk dan tak lupa sepiring kue coklat tetap di bawa.
Kedua nya menghilang bersama sepiring coklat meninggalkan istana api yang kini menjadi kosong tak bertuan, meskipun masih ada satu sesepuh yang bisa menjaga keamanan istana. Kemunculan Clara bersama raga Trish di sebuah ruangan berbatu seakan telah di nanti, terbukti dengan wajah tersenyum yang siap memeluk nya.
"Berhenti, ambillah ini." ucap Clara dan menyodorkan sepiring kue coklat ke arah wajah yang berubah menjadi cemberut dengan bibir yang di maju kan.
"Kakak ini! Aku mau nya peluk kakak bukan kue coklat." keluh Starla namun tetap menerima piring yang berisi kue coklat bahkan tangan kanan nya langsung mencomot satu kue coklat yang menyumpal bibir manyun nya.
"Pas sekali, kami sangat lapar menunggu kalian. Aaam." ucap Lars yang ikut mengambil satu kue coklat dan menggigit kue coklat nya segera, setelah mendapatkan tatapan tajam Starla yang seakan tidak rela kue coklat nya di ambil.
"Kau ini kan sudah makan tiga piring di istana masa sudah laper lagi hah! Ini punya ku." ucap Starla memilih menjaga jarak dari Lars yang masih menampakkan wajah polos dan nakal nya.
"Sudah! Lars jaga Trish dengan perlindungan mu, dan Starla ikutlah dengan ku." ucap Clara yang menengahi kedua manusia dengan sifat yang sama-sama manja.
"Weeek." ejek Starla yang menjulurkan lidah nya ke Lars yang hanya menggelengkan kepala nya memiliki istri seperti Starla dimana sikap nya jauh dari Clara yang sangat serius.
"Lady apa Trish baik-baik saja? " tanya Lars yang baru memperhatikan sahabat nya seperti manusia tanpa jiwa dengan tatapan kosong.
Hening...
"Ka." panggil Starla yang merasa Clara menyembunyikan sesuatu dari nya.
"Lars jangan biar kan siapapun mendekati Trish. Ayo Starla! " ucap Clara dengan menggandeng tangan adik nya tanpa menjawab pertanyaan Lars yang memang tidak bisa di jawab.
Wuuussshhh....
"Pergi selalu tanpa memberikan jawaban, Trish bagaimana kamu bertahan dengan kakak ipar ku itu? Sangat dingin dan ucapan nya bagaikan anak panah yang tidak bisa di tarik kembali. " ucap Lars dengan menghela nafas nya setelah kepergian Clara dan Starla.
*Perisai Blind Es* ucap Lars dengan menghentakkan kaki kiri nya.
Perlahan bebatuan di di bawah kaki Lars mulai membeku dengan lapisan es yang semakin menyebar dan menutupi seluruh permukaan gua tempat nya bernaung bersama Trish, perisai blind es adalah perisai tertinggi bagi klan Kerajaan Es dan yang bisa membuat perisai blind es hanyalah keturunan dari Kerajaan es atau orang-orang tertentu yang ilmu sihir nya memang sudah mencapai tingkat dewa.
Perisai blind es membutuhkan banyak element air dan udara yang menjadi satu dengan kecepatan tanpa batas, berbeda dengan Lars yang hanya perlu mengeluarkan sihir milik nya yang memang mewarisi darah Kerajaan es maka Lars tidak membutuhkan banyak element air dan udara karena di dalam tubuh nya memang terbentuk sihir itu sendiri. Merasa perisai yang diberikan sudah cukup dan paling kuat, maka kini tugas nya menjaga Trish baru di mulai karena peringatan Clara tidak mungkin bersifat kosong.
Sedangkan Clara sudah membawa Starla berlabuh ke sebuah tempat yang membuat adik nya itu mengerjapkan mata beberapa kali, seakan mata nya tengah salah melihat.
"Ayo." ucap Clara dengan wajah yang sangat tak terbaca ekspresi nya.
"Ka? Apa kita di hutan ilusi lagi? " tanya Starla yang masih mengingat bagaimana keadaan hutan ilusi yang berawan sama seperti tempat nya berpijak saat ini.
"Lihat lah itu." ucap Clara dan menunjuk ke depan dengan tangan kanan nya setelah menggeser posisi berdiri nya yang menutupi pandangan adik nya.
Sebuah kastil dengan kubah cahaya pelangi memiliki inti biru di dalam nya yang seakan membuat siapapun jatuh hati, Starla bahkan mengucek mata nya dengan tangan kiri nya sendiri. Hanya warna biru yang seperti inti begitu menyilaukan mata dan kubah pelangi yang menutupi sebuah kastil dengan awan putih lembut di sekeliling nya yang menjadikan pemandangan di depan nya seperti negeri para dewa dewi, meskipun Kerajaan langit juga berada di atas awan tapi kastil yang hanya sebesar kamar di istana nya itu sungguh memiliki aura dan sihir yang kuat bahkan lebih kuat dari sihir milik nya.
"Dimana kita ka? Dan apa itu?" tanya Starla dan berjalan ke arah kastil meskipun tangan kanan nya masih ada di dalam genggaman tangan kiri Clara yang kini mengikuti kemana langkah adik nya berjalan.
__ADS_1
Hening....
"Ka!" panggil Starla menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Clara yang seakan berat untuk melangkah lebih jauh, wajah pucat dengan mata yang mulai berkaca-kaca membuat bulu halus di lengan nya berdiri seakan merasakan rasa sakit yang kakak nya rasakan.
"Apakah aku bisa meminta satu hal pada mu Starla? " tanya Clara dengan menggenggam tangan Starla dengan kedua tangan nya.
"Apapun akan ku berikan, karena hidup ku hanyalah milik kakak. Jika kakak tidak mengobati ku saat itu, mungkin saat ini Starla tidak bisa ber nafas dengan tenang. Katakan ka, apa yang kakak inginkan? " ucap Starla dengan menggenggam tangan Clara yang terasa sangat dingin.
"Berikan mereka kasih sayang mu, ganti kan tanggungjawab ku untuk melindungi mereka di saat waktu berkhianat. Berjanjilah pada ku! " ucap Clara dengan menatap Starla penuh harapan.
Mata yang selalu memiliki ketegasan dengan sejuta misteri dan penuh dengan sihir, namun mata itu tak nampak kali ini dan tergantikan dengan mata seorang wanita biasa yang penuh harapan seakan janji adik nya adalah jalan terakhir untuk mendapatkan perlindungan. Starla merasakan ada yang menusuk jantung nya ketika tatapan Clara sangat jelas menggambarkan luka dalam, mata dengan ketajaman yang lemah seakan mengatakan dunia akan berakhir.
"Aku Putri Alvira Starla Armadeo berjanji pada Ratu Africiana Luzca Armadeo, Aku akan mengambil tanggungjawab kakak ku di saat detak jantung nya terhenti ! Janji ku atas nyawa ku sendiri! " ucap Starla dengan menaruh tangan kanan Clara di atas kepala nya sendiri.
"Terimakasih sudah membantu kakak." ucap Clara dan memejamkan mata nya sesaat.
Sinar mata Clara yang berubah biru terbuka dan tatapan mata nya tepat terpatri pada mata Starla, dimana Starla seketika menjadi patung. Tubuh adik nya tidak lagi bisa bergerak namun tidak dengan pendengaran dan penglihatan nya, karena Clara hanya membuat raga Starla yang membeku.
"Maafkan kakak, tapi kakak tidak bisa membiarkan mu menyentuh perisai itu di saat aku menunjuk kan apa yang menjadi tanggungjawab mu nanti." ucap Clara dan menggeser tubuh Starla agar kembali mengarah ke kastil.
Dengan jarak yang dekat membuat Clara hanya menggunakan sinar mata biru nya untuk menghilangkan kabut ilusi yang akan melindungi mereka di dalam kubah cahaya pelangi dimana Achela langsung terlihat dengan mata menggemaskan penuh kerinduan menatap kedua suadara kembar yang ada di luar kubah cahaya pelangi. Mata menggemaskan itu sungguh ingin menarik simpati tuan nya namun Clara hanya bisa tersenyum tanpa mengikuti kata hati nya, Achela seakan memahami senyuman Clara jika tuan nya itu tidak akan berubah fikiran maka Achela langsung men jatuh kan tubuh mungil nya begitu saja meskipun tengah terbang dengan jarak satu meter.
Bruug...
"Jangan ulangi lagi! Starla akan bersama mu tapi tidak sekarang, bersabarlah Achela." ucap Clara dengan lembut setelah melihat tindakan Achela yang justru melukai diri sendiri.
"Takdir Jiwa Murni! " ucap Clara dengan tatapan mata yang jelas menunjuk kan ruangan waktu di dalam mata biru nya itu dan membuat Achela merasa bersalah dengan ucap an nya yang pasti melukai tuan nya sendiri.
"Aku tidak meminta takdir ku serumit air yang tak bisa dipisahkan. Aku hanya menjalani Takdir yang Tuhan Gariskan, apa Aku harus bergabung dengan Raja Kegelapan untuk mengikuti ego ku?! " ucap Clara lagi dengan tegas nya.
"Katakan?! Apa sebagai hewan suci maka kamu rela dunia ini dipenuhi Kegelapan? " tanya Clara.
"Maaf, aku... " ucap Achela dengan menunduk kan wajah ber bulu nya.
"Achela, penyihir Calista memberikan mu umur abadi karena dia percaya kamu bisa bertahan. Dan aku memberikan mu tanggungjawab melindungi masa depan dunia baru, karena aku tahu kamu lah makhluk yang tepat untuk tugas ini. Ikhlaskan takdir mu Achela, jangan membuat titik hitam di dalam takdir mu, cukup aku yang melewati semua batasan." ucap Clara memotong ucap an Achela yang terdengar sendu.
"Tuan, waktu selalu berkhianat dan menggambil kebahagiaan ku, apa aku masih pantas bahagia?" tanya Achela dengan mencurahkan rasa sakit di hati nya.
"Rasa sakit itu membuat mu lebih bahagia pada saat nya nanti, luka mu tidak akan hilang namun akan ada sinar baru yang membuat mu bersyukur. Ingat lah permintaan mu terakhir kali, berdoa lah Tuhan mengabulkan nya." jawab Clara dan kali ini terdengar seakan sebuah harapan yang nyata.
"Aku mengerti, bagaimana dengan Starla? " tanya Achela yang mulai mengendalikan perasaan nya dan menyadari jika saudari kembar tuan nya menjadi patung.
"Starla, pada waktu nya nanti. Takdir mu yang akan membawa mu kemari, ingatlah dengan janji mu. Mereka tanggungjawab mu bersama Achela." ucap Clara pada adik nya yang melepaskan sihir pembekuan pada adik nya dengan memberikan dinding perisai di antara kubah cahaya pelangi dan tempat kedua nya berdiri.
"Kakaaaaak! " seru Starla dengan wajah memerah.
__ADS_1
Klik...
...~~~~~...
.
.
. *Hay reader's 😊
.
.
. Untuk Karya The Last Sky Kingdom Takdir Ku Milik Mu, othoor minta maaf gak bisa up setiap hari.
.
. Awalnya othoor bisa up tapi menjelang hari raya, othoor punya banyak kerjaan tambahan di rumah.
. Sebenarnya pengen tetep up tapi nulis kan membutuhkan waktu dan juga tenaga, sedangkan waktu nya hanya sedikit dan tenaga udah kekuras buat bebenah sebelum hari raya biar gak mepet gtu.. 😁🤦♀️
.
.
. Akan othoor usahain buat up meskipun gak tiap hari ya.. 🙏
.
. Selamat Ramadhan 🥰
.
.
. Kalian boleh kok baca Karya othoor yang on going lain nya* (My Secret Life + Plan Of Masked Man) sekalian nunggu Karya ini up🥰
.
.
. Jangan lupa Vote, like, comment and support othoor always ya 😁
.
__ADS_1
.
. Karena kalian yang membuat Karya othoor bisa di kenal dan di nikmati... 😍