The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Perjalanan Singkat


__ADS_3

Kepergian Starla membuat Clara hanya menggelengkan kepala nya, niat di hati adiknya itu yang membuat nya harus menghela nafas. Andaikan adiknya tahu siapa lawan yang ingin di hancurkannya, sudah pasti adiknya akan mudah dikalah kan sosok itu. Sosok bertopeng yang menjadi pencarian selama ratusan tahun, sosok yang menjadi awal terbentuknya Kitab Suci, yah Clara sudah melihat kehidupan masa lalu dan masa kini dan melihat sekilas masa depan. Semua nya terjadi di saat dirinya melakukan meditasi kedua nya di lautan dimensi para Naga.


Flashback


*Perisai Naga* seru Naga Tlexcitli Belenda.


Awan putih perlahan berubah menjadi penuh warna, makhluk yang sama seperti Naga Tlexcitli Belenda kini berdatangan dan perlahan memenuhi sekeliling Clara seakan seruan Sang Naga Suci adalah perintah untuk semua Klan Naga. Seakan memberikan isyarat dengan setiap gerakan nya, Naga Tlexcitli Belenda berdiri didepan Tuan nya terbang mendekati Tuan nya yang sudah berpijak pada lautan, tubuh nya menggelilingi Clara seakan membuat dinding perlindungan. Dimana semua Naga mengikuti Naga Suci membentuk lingkaran diatas kedua nya dan di saat bersama an Clara memulai ritual meditasi nya, memejamkan matanya melepaskan segala beban fikirannya membiarkan jiwa murni nya mengambil alih segala nya. Semilir angin yang dirasakan menerbangkan rambut dan pakaiannya yang menari bergelombang, suara deburan ombak perlahan berganti dengan suara hembusan nafas yang berat dan teratur.


"Dimana aku? Ini bukan kah Istana Langit? " gumam Clara yang merasakan jiwa nya di tarik.


Sebuah kamar yang sangat megah dengan banyak taburan bunga di atas tempat tidurnya, namun di sudut sana ada seseorang yang berjongkok menahan isakan tangisan nya dengan kedua telapak tangannya. Tak lama kemudian datang lah seorang pria muda yang masuk tanpa mengetuk pintu kamar, mendekati orang yang menangis dan membawa nya untuk duduk bersama.


"Maaf kan aku, Aku menikahimu karena ayah mu. Tapi sudah ku katakan sejak awal, bahwa semua milik ku sudah menjadi milik Permaisuri ku seorang. Mungkin ini tidak adil untuk mu tapi ku harap kejujuran ku dapat di maaf kan oleh mu, Hak mu tetap lah sama di dalam Istana ini namun jangan berharap lebih dengan hak sebagai istri ku. Sungguh aku tidak bisa berbagi, meskipun Risa ku sudah mengizinkan ku untuk menyentuh mu Adreo. Sekali lagi maaf kan aku. " ucap pria muda itu dan pergi meninggalkan gadis muda yang masih perpakaian layaknya seorang pengantin.


"Hahahaha menyedihkan sekali hidup ku! Hiks.. Hiks.. " ucap gadis itu dan mulai melemparkan selimut yang bertaburan kelopak bunga mawar.


Belum selesai melihat rasa frustasi dan kesedihan di mata gadis muda itu, tubuh Clara sudah terseret ke tempat lain dimana jeritan para pelayan dan prajurit terdengar begitu panik. Bulan total di Langit yang begitu indah dengan bintang-bintang bertaburan seakan Alam menerima persembahan, dengan Alam yang menenangkan ini bersamaan dengan pecahnya suara tangisan bayi yang membuat para pelayan dan prajurit itu mengucapkan sejuta puji syukur hingga seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu dengan buru-buru.


" Nak cantik sekali sama seperti mu. " ucap Ibu Suri.


"Ibu tolong jaga Putri ku. Aku merasakan waktu ku tidak lama lagi dan aku tidak mau dia terluka sedikit pun bu. " ucap sang Permaisuri Risa mencium bayinya.

__ADS_1


" Kamu akan membesarkan dengan penuh cinta Risa. " ucap ibu Suri mencium kening Risa.


"Berikan Putri ku nama Africiana Luzca Armadeo. Itu seperti dirinya yang akan selalu memberi sinar untuk semuanya. " ucap sang Permaisuri Risa.


"Tentu nak. " jawab ibu Suri.


Diluar kamar terdengar kegaduhan yang membuat Semua orang panik tentu kegaduhan itu sudah jelas sebuah penyerangan, Risa yang sigap langsung meminta beberapa pelayannya untuk menghadang didepan pintu dan meminta sang ibu Suri untuk pergi melewati pintu rahasia yang hanya diketahui beberapa orang bahkan selir pun tidak mengetahui jalan itu. Dengan terpaksa ibu Suri harus menyelamatkan cucunya sesuai janjinya pada sang menantu untuk melindungi pewaris tahta kerajaan langit, ibu Suri bergegas pergi melewati jalan rahasia dan membawa Putri Africiana Luzca Armadeo ke tempat aman. Namun disisi lain Permaisuri Risa bersiap untuk menghadapi lawannya , tetapi perutnya kembali merasakan mulas dan rasanya ingin melahirkan lagi. Para pelayan yang masih berada di sisi nya sekali lagi membantu persalinan Permaisuri Risa, bayi manis yang sama seperti sebelumnya dan bintang di langit jatuh bersamaan dengan kelahiran Putri keduanya. Kegaduhan diluar kini beringsut masuk kedalam, Seorang wanita bertopeng menghampiri Permaisuri dan menyerang setiap pelayan yang menghalangi nya dengan sadis. Permaisuri dalam keadaan lemah tetap memaksakan untuk bangkit dan berusaha melawan wanita bertopeng itu meski kekuatan nya sangat lah sedikit tetap saja sebagai seorang ibu sudah tugasnya untuk melindungi nyawa putrinya dengan nyawanya sendiri. Pertarungan yang sengit, jangan dianggap remeh sang Permaisuri Risa karena dalam keadaan lemah pun sang pemilik Dragon Trexictli Belenda tetaplah petarung yang handal namun darah sang Permaisuri Risa membuat nya semakin lemah hingga wanita bertopeng itu menghunus kan pedangnya ke tubuh Permaisuri Risa. Melihat Lawannya bersimbah darah dan hampir menghembuskan nafas terakhirnya sang wanita bertopeng menuju ke arah bayi mungil diatas ranjang, berjalan mendekati bayi itu dan hampir menyentuh nya namun suara Raja dan prajurit yang hampir sampai menuju ruangan itu membuat wanita bertopeng itu pergi meninggalkan tempat kejadian.


Raja terkejut melihat Permaisuri Risa sudah berada di lantai dan bersimbah darah, semua prajurit sibuk melawan musuh yang menghalangi mereka masuk.


"Sayang bangunlah. Jangan tinggalkan aku. " ucap lirih sang Raja sambil memeluk Permaisuri Risa.


"Aku harus pergi. Jaga Putri kita baik-baik Yang Mulia. Dan pastikan mendapatkan cinta yang berlimpah. " ucap Permaisuri menggenggam tangan Raja.


"Waktu sudah habis Suamiku. Semua ini sudah direncanakan. Berhati-hatilah sayang. Dan berikan permintaan terakhir ku. Berikan nama Putri kita Alvira Starla Armadeo. Bintang dilangit pun jatuh karena kehadirannya. " ucap sang Permaisuri Risa semakin lirih dan semakin kehilangan kesadarannya.


"Aku akan memenuhi permintaan mu. Istirahat lah dan bahagia lah. Aku akan melindungi Putri kita dengan nyawaku " balas Raja yang berusaha tenang demi melihat senyuman sang wanita yang sangat dicintai nya itu.


Dengan kedua matanya Clara melihat perjuangan Bunda nya melahirkan dirinya dan Starla, tetap melindungi buah hati nya hingga titik nafas terakhir nya, bahkan pandangan mata Bunda nya seakan dapat melihat keberadaan Dirinya yang hanya bisa melihat tanpa bisa membantu apa pun karena itu semua sudah menjadi masa lalu, namun mata wanita bertopeng itu adalah mata yang sama dengan gadis muda yang mengamuk di dalam kamar pengantin nya. Senyuman manis dari sang Bunda seakan mengatakan bahwa semua baik-baik saja, hanya air mata ku yang mengalir melihat kematian ibu nya sendiri tanpa bisa menyelamatkan Bunda nya. Sekali lagi jiwa ku tertarik ke tempat lain, ntah ini tempat apa yang begitu gelap dan suram namun mata yang sama terlihat sedang bersimpuh di hadapan seseorang ntah siapa karena posisi nya membelakangi ku.


"Wanita lemah seperti mu berani nya memasuki Istana ku! Apakah nyawa mu sudah ada ganti nya HAH!" seru orang dalam kegelapan.

__ADS_1


"Saya tidak peduli dengan nyawa ini! Yang Ku ingin kan hanya lah kekuasaan dan apa pun resikonya akan ku tanggung meski harus dengan nyawa ku sendiri! " ucap gadis itu.


"Hahahaha Akan ku tunjukkan jalan untuk mencapai tujuan mu tapi sanggup kah penuhi syarat dari ku?! " seru orang dalam kegelapan membalikkan tubuh nya.


"Sanggup! " ucap gadis itu.


*Permata Alam* seru orang itu.


Sebuah permata Alam berwarna hitam berbentuk lingkaran kini diletakkan orang itu pada kepala gadis itu, membuat gadis itu menjerit kesakitan dengan lengkingan suara yang begitu memekakkan gendang telinga ku, tapi kenapa orang itu justru tersenyum penuh arti seakan mendapatkan mainan baru. Hingga suara jeritan itu berhenti, orang itu mengulurkan tangannya kepada gadis itu dan membisikkan sesuatu yang tidak bisa ku dengar namun disaat bersama an mata orang itu menatap ku dengan tajam seakan melihat ku yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Belum sempat aku mengenali orang yang menggunakan permata Alam, jiwa ku sudah terseret kembali ke masa yang jauh lebih tidak ku bayangkan. Gelimangan mayat dengan luka-luka yang mengerikan berserakan dimana-mana, ku amati keadaan sekeliling ku begitu banyak tenda dan tandu yang berdiri sejauh mata memandang hingga mata ku menangkap satu sosok yang masih terus membabi buta menyerang orang-orang tanpa ampun. Sosok itu seakan tidak ada lelahnya meskipun banyak yang mengepungnya namun benda tajam di genggaman tangannya itu yang menarik perhatian ku,Pedang yang pernah hadir dalam mimpi ****ku**** itu kini terlihat jelas ada di tangan nya, senjata itu adalah Pedang Azalia milik Achela namun sosok itu bukan lah Achela melainkan Sang Pemilik Topeng. Pandangan mata kami berdua seakan kembali terpaut menjadi satu mengisyaratkan bahwa sosok itu juga dapat melihat keberadaan ku disini, kepala ku rasa nya kembali berputar seakan memasuki gulungan angin yang begitu hebat. Samar-samar suara berat yang ku kenali menyadarkan ku untuk kembali pada tubuh ku yang masih melakukan meditasi.


'"Kembalilah Tuan ku! Jangan Biar kan jiwa Murni mu melangkah lebih jauh. " ucap Naga Tlexcitli Belenda.


"Apa yang terjadi! Rasa nya jantungku tertusuk ketika tatapan itu bertemu dengan mata ku ini, Permata Alam hitam itu , gadis itu dan sosok itu bersama Pedang Azalia." batin Clara mengingat semua nya.


"Meditasi Tuan sudah selesai, katakan apakah rencana Lady Cristal setelah ini? " tanya Naga Suci.


Setelah memberikan perintah pada Naga Suci, Clara kembali memasuki lorong gua meninggalkan catatan di dinding gua dan melakukan pertemuan yang sudah menantinya.


.................

__ADS_1


Dan kini dirinya berada di penginapan dengan beberapa pondok yang digunakan para tabib untuk membantu yang membutuhkan dan membuat ramuan untuk mengobati para rakyat yang terkena wabah, meskipun sudah mendapatkan penolakan tetap lah Clara membantu untuk membuat ramuan meskipun harus membuat tabib tua yang angkuh diam karena ancamannya. Dengan menetap di tempat itu maka Clara akan mendapatkan apa yang di cari nya seperti suara hati seorang ibu yang selalu menyebutkan nama Putri nya, pertemuan yang sudah di nantikannya untuk langkah selanjutnya.


__ADS_2