The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Putri Raja Kegelapan


__ADS_3

"Aku tidak peduli kau dari rahim ku! Bagi ku Kau hanya lah Bayi Terkutuk yang membuat hidup ku hanya dalam permainan, kini waktu nya kau kembali kepada Alam. Dengan Kuku tajam mu perut ku menjadi hancur, maka dengan tangan ku sendiri tubuh terkutuk mu akan hancur! " ucap Permaisuri Adreo setelah terdiam sesaat karena ingatan nya yang kembali terbayang.


Sudah hampir mendekati perbatasan wilayah lain, namun masih belum menemukan apa yang di harapkan. Semak-semak yang kini di penuhi dengan tumbuhan buah nanas, banyak sekali buah yang hampir masak dan itu membuat Permaisuri Adreo merasakan lapar.


"Lebih baik aku makan terlebih dahulu, perut ku sangat lapar! Ntah kapan aku mendapatkan pemandangan seindah ini lagi." gumam nya dan mulai mengambil beberapa buah nanas yang sudah matang sempurna.


Dengan belati yang di simpan nya, nanas mulai di kupas dan memakannya tanpa menunggu lama kini 3 buah nanas sudah menyisakan kulit nya saja. Rasa lapar di perut nya hilang bergantikan rasa manis madu dalam mulut nya, rasa nanas yang sungguh berbeda dan lezat nya tiada tara.


Keresek.. keresek...


Suara benda terseret terdengar dari balik semak-semak , membuat Permaisuri Adreo menghentikan acara makannya dan mulai menajam kan pendengaran nya. Semakin terdengar menjauh suara itu dan membuat Permaisuri Adreo meninggalkan tempatnya mengikuti suara yang menarik perhatian nya, suara itu berhenti setelah Permaisuri Adreo melangkah beberapa menit .


Sebuah pondok yang terlihat tua dan sangat kecil, bahkan ukurannya lebih besar dari pondok ayah nya di Perguruan, ntah siapa yang mau menempati tempat seperti itu. Dari depan terlihat ada seseorang yang tengah berdiri menghadap ke pintu pondok, pakaiannya sangat aneh, baju nya serba putih dengan selendang biru muda tipis di beberapa sisi dan gaya yang ntah berasal dari bagian wilayah mana.


Ntah apa yang orang itu lakukan, dengan rambut panjang nya yang beterbangan dan ayunan tangannya yang membuat aliran sihir memenuhi sekeliling nya. Serbuk perak mulai beterbangan dan perlahan semakin banyak dengan sebuah hujan bunga dari atas langit, bunga cahaya yah itu adalah bunga cahaya dari hutan cahaya tempat tinggal bangsa peri.


"Wow! Siapa dia? Aku harus mendekati nya tapi aku akan melihat apa yang akan dia lakukan setelah ini." gumam Permaisuri Adreo.


Perpaduan kilauan serbuk perak dengan hujan bunga cahaya membuat sebuah keajaiban yang kini membuat Permaisuri Adreo menutup mulutnya karena rasa terkejutnya melihat perubahan yang dilihat nya secara langsung. Pondok yang tadi di anggap sangat tidak layak untuk di anggap sebuah tempat apalagi dengan pemandangan sekeliling nya yang sangat indah, kini berubah menjadi sebuah pondok sejuta bunga yang bercahaya dengan aura sihir yang tak dapat di ragukan lagi dan membuat tempat itu lebih menakjubkan dengan keindahan sekelilingnya.

__ADS_1


"Ada seseorang disini selain aku! Lebih baik aku kembali ke Hutan Cahaya, dan akan ku bawa adikku kemari esok." batin nya dan meninggalkan pondok baru nya dengan menghilang menggunakan sihirnya.


"Heh kemana dia? Kenapa pergi begitu saja. Aah Si@l!" keluh Permaisuri Adreo dan keluar dari persembunyiannya.


Di dekati nya pondok itu yang membuat mata nya tak berkedip karena keindahan nya, sihir yang begitu kuat dengan aura yang penuh kehangatan seakan sihir itu hanya untuk menunjukkan perasaan terdalam seseorang. Dari setiap cahaya yang terpancar dari bunga-bunga yang menutupi warna usang pondok itu memancarkan sebuah harapan untuk tujuan sang pembuat perubahan, dimana semakin mendekat ada sesuatu yang menusuk jiwa di dalam Permaisuri Adreo.


"Arrgh.Sakiit.Kenapa aku tidak sanggup semakin mendekati pondok itu?" ucap Permaisuri Adreo dengan menekan dadanya yang terasa hampir terlepas.


"Aku harus meninggalkan tempat ini jika masih ingin hidup! " ucap Permaisuri Adreo lirih dan kembali meninggalkan tempat nya berdiri.


Jarak nya dari pondok itu bahkan terbilang masih cukup jauh, namun ada sebuah penolakan dari energi di tempat itu. Tanpa di sadari oleh Permaisuri Adreo, seseorang telah mengawasi nya dengan tatapan tajam nya dan amarah bercampur rasa takut di dalam hati nya. Wajah yang hanya sekali di lihat nya itu telah membuat hidupnya berubah dalam satu detik saja, karena wajah itulah dirinya terbebas namun tetap terbelenggu, seperti buah simalakama.


Sedangkan di hutan cahaya , seorang gadis tengah sibuk mengambil air untuk mengisi setiap penampungan yang ada di beberapa titik. Perubahan nya menjadi seorang peri , tetaplah tidak membuat nya memiliki sesuatu yang special. Bahkan kini sayap nya pun tidak bisa di gunakan untuk terbang, terlebih melihat kakaknya kini menjadi seseorang yang penuh dengan sihir dan kekuatan membuatnya merasa sedih setiap kali mengingat jika dirinya tak memiliki kekuatan apapun kecuali tenaga nya sebagai manusia biasa.


Aura yang menenangkan seketika berubah menjadi dingin mencekam, rasa takut dengan bulu kuduk yang berdiri dan tubuhnya yang bergetar mengisyaratkan ketakutan yang luar biasa betapa jelas nya tubuhnya tak mampu di kendalikan. Semakin ada tekanan di belakang leher nya dengan sensasi panas dan dingin secara bersamaan, ntah sadar atau tidak kuku yang awalnya tidak memiliki ukuran panjang kini mulai memanjang.


Rasanya seakan sesuatu yang ada di belakang nya membuat nya membangkitkan sebuah sisi yang ntah terpendam di bagian mana di dalam tubuhnya, kuku nya semakin memanjang hingga kendi di genggaman tanggan nya kini pecah tanpa di hentakkan. Air yang membasahi telapak tangannya perlahan membuat kuku nya kembali memendek dan aura yang ada dibelakang nya seakan menghilang begitu saja dan menyisakan sebuah bisikan, bisikan yang membuat nya mematung di tempat nya.


*Waktu mu Kembali , Untuk Melakukan Persembahan terakhirku! Datanglah Pada Ayahanda Mu! Ghea Sang Putri Raja Kegelapan.* bisikan itu langsung menancap di dalam hati nya.

__ADS_1


Melihat adiknya termenung dengan mata kosong nya membuat Giel secepatnya mendekati adiknya itu, dengan sentuhan jemari nya kini adiknya mulai mendapatkan kesadaran nya kembali. Sebuah pelukan yang hangat dan begitu erat dapat di rasakan oleh Ghea, perasaannya sungguh tidak berbentuk setelah mendengar bisikan itu bahkan mata yang kini menatapnya dengan penuh kekhawatiran tidak mampu menggeser perasaan kalut di dalam jiwa nya.


"GHEA! Apa yang terjadi, kenapa kamu terlihat seperti orang bingung? Katakan pada kakak! Kakak cemas Ghea... " ucap Giel dengan menepuk pipi adiknya agar adiknya mengatakan apa yang terjadi.


"Apa Aku Putri Raja Kegelapan? " tanya Ghea dengan tatapan mata nya yang seakan memohon untuk mendapat jawaban semua yang di ketahui nya adalah kebohongan.


Ucapan Ghea bagaikan sambaran petir yang memporak-porandakan hati nya, meskipun dirinya tahu semua ini akan terjadi namun waktu yang di fikir masih lama ternyata sudah dekat. Tanpa di sadari gadis di depannya ini sudah mendekati waktu persembahan, sebagai penjaga nya tentu lah Giel tahu kenapa gadis itu di serahkan pada nya saat baru lahir. Namun untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Giel harus berbuat sesuatu yang tidak akan melukai gadis di depannya lebih dalam lagi.


"Ikutlah dengan ku! Kakak akan jelaskan tapi tidak disini! " jawab Giel dengan wajah tegang dan serius.


Baru kali ini Ghea melihat kakaknya seakan tertekan dan bersikap berlebihan dengan langsung menggendong adiknya dan membawa adiknya menghilang dari tempat keduanya berdiri, keduanya muncul di sebuah kamar yang tak asing di mata. Dimana kamar itu adalah tempat tinggal nya selama belasan tahun, di tempat inilah seorang Giel membesarkan bayi perempuan yang kini menjadi adiknya.


"Duduk lah, dan jangan potong apapun yang akan kakak katakan! Apa Ghea bisa berjanji? " ucap Giel dengan mengulurkan tangannya mengambil tangan Ghea dan menaruh nya di atas kepala nya sendiri.


"Apa-apa an kakak ini! Kenapa harus dengan sumpah atas nama kakak! " seru Ghea menarik tangannya dari kepala kakaknya.


"Hanya ini yang akan menjadi penenang, Berjanjilah untuk mendengarkan semuanya tanpa satu kata pun untuk menghentikan kisah hidup kita! " ucap Giel kembali meletakkan tangan Ghea di atas kepalanya.


"Ghea janji! " jawab Ghea dengan pasrah mengikuti keinginan kakaknya hanya untuk mendapatkan sebuah kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2