The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Takdir Achela sang Hewan Suci


__ADS_3

Dengan nafas terengah-engah akhirnya Achela sampai di di depan Gua yang dimaksud tuannya, tanpa menunda dirinya langsung berlari memasuki Gua yang Gelap namun cahaya dari luar masih menyoroti hingga membuat Achela bisa dengan leluasa berlari masuk kedalam.


Hening, dingin dan sunyi, Gua yang seperti tempat paling menyeramkan melebihi tempat tinggal tuannya yang justru tidak segelap gua ini.


"Penyihir Calista mengatakan Bunga itu ada didalam Gua tapi di mana? " gumam Achela menyusuri semua arah di depannya.


Berfikir dengan sangat keras namun sejauh mata memandang dirinya tidak menemukan apa yang menjadi tujuannya, hingga Cahaya terang tiba-tiba muncul dari belakang nya dan Achela langsung membalikkan tubuhnya melihat apa yang terjadi. Sosok penuh darah keluar dari cahaya itu dengan sekuat tenaga melewati portal yang semakin mengecil, menyadari siapa sosok itu Achela langsung berlari mendekat dan membantu sosok itu dengan tubuhnya yang mungil.


"Tuanku! Apa yang terjadi? Aku akan cari pertolongan untukmu. " ucap Achela dengan rasa khawatir yang luar biasa, bagaimana tidak baru beberapa jam dirinya meninggalkan Tuannya di pondok tapi sekarang melihat tuannya yang penuh darah hampir merangkak karena mencoba bergegas sebelum portal nya menghilang, tentu dirinya penuh tanda tanya namun yang terpenting sekarang adalah bagaimana membantu Tuannya agar tetap hidup.


"Tetaplah disini! Apa tugasmu sudah dilakukan? " tanya Penyihir Calista lirih.


"Maaf Tuanku. Aku masih belum menemukan Bunga Mawar yang Tuanku maksudkan. " jawab Achela menunduk.


"Sudah, Ayo lakukan bersama. " ucap Penyihir Calista mencoba berdiri sekali lagi.


"Tuanku.. " ucap Achela.


"Tidak ada waktu lagi Achela! " potong Penyihir Calista .


*Hancurlah* ucap Penyihir Calista mengayunkan tangannya di dinding depannya.

__ADS_1


Brugh..


Sebuah cahaya kini menyambar dinding di depannya yang langsung hancur, sorotan cahaya dari atas langit menampilkan pemandangan dibawahnya. Seekor Naga yang tengah tertidur pulas bak tak bernafas, Naga yang sungguh membuat Achela terkejut dan kagum dengan keindahan nya meski dirinya seekor Hewan Suci dan sudah sering melihat Hewan Suci lainnya tapi baru kali ini melihat Naga Legendaris yang biasa di ceritakan tuannya itu, sungguh luar biasa bisa melihat nya langsung.


"Ekhemm! Cepat Achela , waktu ku tidak lama! " ucap Penyihir Calista mencoba menyadarkan Achela yang termenung karena pemandangan di depannya.


"Maaf.Tapi.. " jawab Achela.


"Lihatlah Batu di tengah Air itu Achela, Letakkan Kunci Emas diatasnya! " perintah Penyihir Calista menunjuk ke arah Aliran air di sisi lain Gua.


"Baiklah Tuanku. " jawab Achela tanpa membantah dan terbang menuju Batu yang ditunjuk tuannya.


Kunci Emas yang disimpan Achela langsung diletakkan di atas Batu yang berdiri di tengah aliran air dengan kokoh, dan kembali ke tuannya yang semakin lemah.


"Kemarilah Achela. " ucap Penyihir Calista mengulurkan tangannya dengan tersenyum.


Achela selalu tidak bisa menolak apapun permintaan Tuannya, akhirnya Achela lebih mendekat dan menaruh satu kaki depannya ditangan Penyihir Calista.


*Segel Keabadian* ucap Penyihir Calista.


Sebuah aliran cahaya mengalir dari tubuh Penyihir Calista ke tubuh Achela, perlahan tubuh Achela semakin berubah, ntah apa yang terjadi pada dirinya namun melihat kondisi Penyihir Calista yang semakin lemah Dan lemah tentu membuat dirinya semakin khawatir meski tuannya itu masih tersenyum.

__ADS_1


Brugh..


"Tuanku! Tuanku! " seru Achela yang melihat Penyihir Calista langsung terbaring.


"Tetap lah menjadi dirimu Achela, ada Sebuah Kitab Suci di dalam Rumah kita, setiap pertanyaan mu akan ditemukan jawaban nya di dalam Kitab Suci itu. Ingat lah Keabadian mu untuk melindungi Masa depan. Kitab Suci itu sendiri akan Menghampiri mu. " ucap Penyihir Calista yang perlahan menutup mata nya.


"Tuanku! Tuanku bangun lah. " seru Achela mengoyangkan tubuh Penyihir Calista, namun tetap saja tidak membuka mata nya.


"Jika ini Perintah terakhir mu, baik lah. Aku berjanji akan menggunakan kekuatan Dan Keabadian ku sebagai perisai Masa depan. Ini janji Hewan Suci Achela! " ucap Achela dengan tegas .


Jiwa sang Penyihir meninggalkan raganya, jiwa itu tidak meninggalkan dunia fana ini, jiwa itu menyatu dengan batu ditengah aliran air di mana itu adalah awal penyatuan jiwa sang Penyihir dengan akar pohon di dalam batu yang tak terlihat. Sedang kan Achela berusaha mencari cara untuk membawa tuannya kembali ke Pondok nya, tidak mungkin dirinya Menggendong tuannya, akhirnya Achela memutuskan untuk meminta bantuan orang yang bisa membantu, ada seseorang yang akan membantu dirinya Dan tidak akan membuka rahasia apa pun jika mengetahui hal yang tidak seharusnya diumbar.


Meski dirinya hanya Hewan Suci kontrak namun tuannya itu Menyayangi dirinya layaknya seorang ibu Dan teman, bahkan Sekali pun tuannya tidak pernah menyuruh dirinya berbuat tidak baik Dan kemana pun tuannya pergi dirinya akan lebih sering bersama nya meski ada Kala nya hanya memerintahkan dirinya untuk menjaga Rumah, dirinya yang tadi nya Hewan Suci lemah perlahan menjadi kuat karena bimbingan tuannya namun setiap kenangan manisnya harus menjadi Penyemangat untuk Masa depan yang sudah di janji kan oleh dirinya sebagai Penghormatan terakhir untuk Penyihir Calista.


....................


Di sebuah wilayah tersembunyi hanya dipenuhi keheningan Dan terpaan angin yang terdengar lebih keras dibandingkan suara nafas kehidupan, disalah satu pondok yang terbuat dari dauh kelapa Dan kayu sebagai pondasi terdapat suara komat-kamit seperti menghafalkan mantra tanpa hentinya, duduk bersila dengan ketenangan tidak tara, melepaskan segala aura negatif dari Fikiran seorang manusia.


Achela hanya memahami dirinya yang semakin memiliki kekuatan namun tidak tahu harus bagaimana menggunakan kekuatan itu, hingga akhirnya dirinya hanya terbang Dan berlari sebagai Jalan tercepat meminta bantuan, hanya saja setiap langkahnya semakin ringan Dan lebih mudah di seimbangkan. Setelah perjalanan puluhan menit akhirnya Achela berhenti menatap sebuah hutan yang ada didepannya.


Hutan hujan yang selalu menyuguhkan pemandangan ketenangan bagi siapapun yang memandang nya namun tujuannya ada di dekat hutan hujan.

__ADS_1


"Aku harus bergegas, Semoga Tuan ada di rumahnya. " batin Achela Dan bergegas lari kembali ke arah tujuannya.


__ADS_2