The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Aku ingin Dia Sadar


__ADS_3

Mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, didepannya ada seekor rusa, membidik rusa itu pasti akan menjadi makan malam yang lezat. Panah sudah terarah ke sasaran, mata mulai fokus pada sasaran dan panah siap dilepaskan.


Sreet...


"Argh Apa yang kamu lakukan! " seru orang itu yang melihat panah nya tiba-tiba mengenai orang yang disayanginya.


"Ayo aku obati dulu. Kenapa muncul tiba-tiba hah! " ucap orang itu kesal dan khawatir.


"Jika itu tepat mengenai jantungku pasti akan lebih baik! " seru nya.


"Jaga bicara mu Ghea! Apa aku tidak waras untuk melukai satu-satunya keluarga ku! " bentak orang itu dan menatap tajam ke gadis didepannya.


"Aku tidak Ingin memiliki Saudara pembunuh! Jauhi Bangsa Peri jika masih menganggapku Saudara! " ucap Peri Ghea dan berjalan menjauhi saudaranya.


"Hei mau kemana kamu Ghea! Rumahmu bersama ku bukan mereka! " seru orang itu dan mengikuti Peri Ghea mencoba membujuk saudaranya.


Namun hati Peri Ghea sudah terlanjur terluka oleh tindakan kakaknya itu, selama ini kakaknya yang mengajarinya tentang kasih sayang tapi malam itu membuat semua nya berubah, sebelum nya Ghea menganggap kakaknya sebagai manusia penuh kasih sayang dan bisa menjadi panutan tapi malam itu menjadi malam tak terlupakan untuk Ghea, dengan mata nya sendiri Ghea melihat kakaknya melukai Bangsa Peri dan sejak saat itu Ghea menyelidiki apa yang selama ini di lakukan kakaknya, justru dirinya semakin tidak percaya dengan kakaknya. Namun harapan untuk menyadarkan kakak terkasih nya selalu tersimpan dihatinya dan memberikan Ghea keberanian untuk memilih jalan hidup yang dianggap benar oleh nya.


Flashback

__ADS_1


Malam yang tenang seperti biasa, di tengah malam Ghea merasa sangat haus dan bangun dari tidur namun setelah minum dirinya tidak menemukan keberadaan kakaknya, namun samar-samar terdengar orang berbincang dan rasa penasarannya membuat nya menguping.


"Baik Tuan. Seperti perintah anda. " jawab suara satu yang di yaqini Ghea itu suara kakaknya.


"Pasti kan semua di lakukan dengan hati-hati.Aku akan kembali secepatnya. " ucap suara lain terdengar lebih berat namun Ghea tidak mengenali suara nya.


Sejenak kemudian suara orang menjauhi pondok dan satu mendekati pondok, Ghea buru-buru kembali ke tempat tidur nya, dan berpura-pura tidur, dari yang di lihat dengan mengintip Ghea melihat kakaknya masuk ke pondok mengambil sesuatu di lemari dan memakai nya. Jubah hitam itu kini menutupi wajah kakaknya dan Ghea melihat kakaknya juga menyelipkan beberapa senjata di pinggang dan lengannya, ntah untuk apa senjata itu dan melihat bulan dari jendela kakaknya seperti Ter buru-buru dan meninggalkan pondok tanpa menyadari jika Ghea hanya pura-pura tidur.


"Kenapa kakak memasuki Hutan Cahaya? Bukankah kakak melarang aku memasuki Hutan Cahaya. " gumam Ghea dengan terus mengikuti kakaknya.


Kakaknya terlihat mengendap-endap layaknya pencuri dan memandang ke depan dimana sejauh mata memandang ada beberapa manusia mungil yang terbang, meski Ghea sudah cukup besar tapi kakaknya tidak pernah membiarkan Ghea pergi jauh dari pondok bahkan Ghea hanya mengenal satu orang saja didunia ini yaitu kakaknya. Tapi Ghea melihat saat ini kakaknya tidak terlihat seperti biasa nya, ada tatapan tajam seperti elang yang mengintai mangsanya, dan tangan kakaknya pun sudah memegang senjata kecil nan mematikan, yah hanya jarum yang pasti sudah dilumuri racun karena Ghea belajar itu juga dari kakaknya, namun semua fikiran yang singgah harus hancur seketika, Ghea melihat kakaknya mulai menyerang manusia mungil bersayap itu dan manusia mungil itu terkejut karena serangan dadakan hingga beberapa manusia mungil itu harus mati ditempat itu dan sisanya mencoba terbang meninggalkan tempat penyerangan. Sungguh Ghea ingin menolong tapi rasa terkejut nya karena tindakan kakaknya membuat seluruh tubuh nya melemas ditanah, rasa nya seperti mimpi buruk yang menyiksa jiwanya dan tidak hanya sampai disitu saja, Ghea harus melihat kakaknya mengukur tempat nya berdiri dan menggali tanah. Sesaat setelah galian selesai di gali, kakaknya mengambil sesuatu yang tersembunyi di belakang jubah nya, sebuah batu permata gelap memantulkan sinar merah darah, sinar merah darah dari batu permata itu seakan bereaksi setelah kain yang menutupi nya terlepas.


Dari kejauhan terlihat kakaknya khawatir dan seperti kebingungan, terlihat jelas kasih sayang pada lelaki itu hingga tidak ada yang menyangka dibalik sikap baik nya tersimpan luka orang lain. Ghea berjalan menghampiri pondok dan disambut senyuman dan pelukan hangat oleh kakaknya, Ghea yang masih terkejut bahkan tubuh nya gemetar karena pemandangan yang di lihat nya tadi, menyadari pelukan nya tidak di balas dan bahu adiknya terguncang tentu membuat lelaki itu khawatir dan sudah berfikir yang bukan-bukan.


"Ghea kamu kenapa? Apa ada yang melukai mu? Katakan pada kakak Ghea! " tanya lelaki itu dengan rasa cemas semakin dalam karena adiknya tidak mau menjawab tapi menatap nya dengan tatapan sulit diartikan.


"Apa yang harus Ghea lakukan jika melihat pembunuhan ka? " tanya Ghea sedikit gemetar dan menatap lebih dalam kakaknya itu.


Seketika jantungnya terasa hampir lepas mendengarkan pertanyaan adiknya namun dirinya berusaha tenang dan tidak berfikir yang di lakukan oleh nya, menatap adiknya dengan tenang agar adiknya juga tenang.

__ADS_1


"Lupa kan saja Ghea. Ghea percaya pada Ka Giel bukan? " ucap lelaki itu dengan tenang.


"Hmm Ghea lelah ka, Ghea istirahat dulu ka. " jawab Ghea tanpa menggubris panggilan kakaknya.


.................


Sejak malam itu Ghea menyelidiki apa saja yang di lakukan kakaknya dan semua bukti membuat Ghea semakin hancur hingga akhirnya Ghea memutuskan untuk ber tanggung jawab dengan perbuatan kakaknya dan hanya meninggalkan sepucuk surat, agar kakaknya tidak perlu mencari nya karena jalan mereka berdua sudah berbeda dan memohon agar kakaknya tidak lagi melakukan kejahatan. Namun seperti nya usaha nya sia-sia karena kakaknya masih melakukan perintah seseorang yang tidak bisa Ghea dekati,Ghea menyadari dirinya tidak mengetahui tentang dunia luar namun sudah pasti orang bertopeng yang selalu bertemu diam-diam dengan kakaknya itu lah yang menjadi alasan kakaknya ber buat kejahatan, Ghea hanya berharap Saudara satu-satunya dan orang terkasih nya itu sadar kembali dan bersatu dengan nya.


Bahkan setelah menyerah kan diri pada Bangsa Peri, Ghea tetap tidak mengetahui siapa Tuan dari kakaknya dan dengan hati terluka Ghea kembali ke pondok untuk memperingatkan kakaknya agar berhenti mengusik Bangsa Peri namun sayang tidak ada kakaknya di pondok dan melihat panah tidak ada ditempat Ghea sadar dimana kakaknya berada.


...................


"Ghea kakak mohon pulang lah, Kakak kesepian tanpa Adik kesayangan kakak. " bujuk Giel setelah berhasil Menghentikan langkah Ghea.


"Apa Ka Giel tidak melihat sayap di tubuh ku? Atau Kakak hanya ingin membujuk ku agar tidak membantu Bangsa Peri lagi! " ucap Ghea penuh dengan tekanan.


"Maafkan kakak Ghea, tapi kakak tidak bisa meninggalkan tugas kakak. Tidak seharusnya kamu tahu semua ini tapi kepergian mu tidak bisa menghentikan rencana Tuan. Menjauh lah dari semua ini Ghea. " ucap Giel dengan serius dan mencoba untuk mengelus pipi Ghea namun segera ditepis oleh Ghea.


"Lakukan apa yang menurut kakak benar! Tapi ingat, Aku Ghea akan menjadi penghalang untuk tujuan Ka Giel! Aku akan membuktikan didikan dari kakak dan berharap suatu saat bisa menyadarkan ka Giel dari jalan sesat ini! " seru Ghea dan kembali meninggalkan kakaknya yang terkejut dengan ucapan adiknya.

__ADS_1


"Seandainya kamu tahu Ghea, kakak melakukan semua ini untuk melindungi mu, tapi kakak sudah terlanjur masuk ke dalam permainan Takdir. Apa pun jalan mu, Kakak akan selalu mendukung mu Ghea, kakak menyayangi mu Ghea. " batin Giel dan membiarkan Ghea pergi dari sisinya, jujur saja di dalam hati kecil nya dirinya senang karena didikannya membuat adiknya bisa memilih jalan yang benar, namun disisi lain hatinya ikut hancur sejak kepergian adiknya itu, hidup nya terasa mati.


__ADS_2