The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Wabah yang sama


__ADS_3

Hiruk pikuk para prajurit yang berlarian kesana kemari dengan membawa orang yang terluka, ada jeritan, suara batuk, kepiluan dan tangisan dari berbagai tempat, suasana yang lebih menyedihkan dibandingkan dengan wilayah Alam bawah dimana wabah disana sudah mendapatkan pengobatan dengan ramuan yang dibuat nya namun keadaan di dalam Kerajaan Langit seperti baru saja di mulai. Baru awal saja banyak orang yang sudah bergelimpangan di setiap jalan dan banyak balai yang sudah dijadikan pusat pengobatan bahkan seluruh tabib pun sudah dikerahkan agar dapat membantu menyelamatkan nyawa semua orang.


"Seandainya saja aku bisa mencegah semua ini, bahkan apa yang ku miliki tidak bisa membantu ku mengubah seluruh Takdir. " batin Clara yang memeriksa keadaan Kerajaan nya.


"Kakak, kenapa disini? Bukankah seharusnya kakak kembali ke Istana! " sapa seseorang dari belakang nya.


"Istana tidak akan berpindah, Apa tugasmu sudah dilakukan? " tanya Clara membalikkan badan.


"Lihatlah ini ka! " ucap Starla sambil melirik ke bawah.


Beberapa botol mungil kini memenuhi tas kain yang di gendong oleh adiknya itu, adiknya persis seperti pedagang yang ada di pasar saja dengan penampilan seperti itu, rasa nya sungguh lucu seorang Tuan Putri yang terbiasa membawa pedang harus beralih profesi menjadi kurir ramuan dengan tas kain yang di gendong nya kesana kemari.


"Tuh kan Kakak mau mengejek ku! Sudah lah aku kesal... " ucap Starla menghentakkan kaki nya.


" Sutt! Tenang lah Tuan Putri. " ucap Clara cepat dan pelan dengan menutup mulut adiknya.


"Sudah ayo antar aku ke tempat pembuatan ramuan dan jangan panggil seperti tadi, disini kamu lah Putri Clara nya! " bisik Clara dengan menggandeng Starla.


"Hmm.Ayolah Dayang bawakan ini, pundakku sangat pegal. " ucap Starla sedikit keras dan melepaskan tas kain yang melilit pundaknya (bayangkan saja kaya pedagang asongan di terminal kalau jaman sekarang hehehe).


Dengan santai Clara menerima tas kain itu dan menggendongnya di samping bukan didepan seperti yang Starla lakukan, tentu saja wajah nya akan selalu memakai cadar selama Di dalam Kerajaan masih ada adiknya yang menggantikan posisinya. Dengan langkah penuh semangat Starla mengajak kakaknya menuju sebuah tempat pengobatan, tempat yang belum pernah di kunjungi oleh nya itu terlihat sangat asri di penuhi tabib yang hilir mudik membuat ramuan dan memberikan nya pada prajurit yang sudah menunggu, begitu di penuhi kesibukan bahkan yang masih menjalani pengobatan pun ikut andil untuk membantu para tabib yang tampaknya sangat kerepotan.


"Salam tabib, ini ramuan dari Kerajaan. Semoga ini masih membantu semua rakyat yang terkena wabah. " ucap Starla dan mengambil tas kain dari Clara meletakkannya di sebuah meja dekat perapian.

__ADS_1


"Yang Mulia bukankah orang ku bisa mengambil nya, kenapa Yang Mulia sendiri jauh-jauh datang kemari. " jawab tabib itu sungkan.


"Maaf mengganggu, tolong tunjukkan tempat bahan ramuan di penginapan ini, saya akan membuat ramuan nya disini agar mempersingkat waktu. " ucap Clara dengan lembut.


"Kami akan membuat nya sendiri, silahkan duduk saja. " ucap tabib itu dengan rasa tidak percaya pada Clara.


"Maaf tabib, tapi hanya Dayang ku yang bisa membuat ramuan ini. Semua tabib Kerajaan sudah menyerah karena wabah ini bukan menyerang kulit tapi menyerang dari dalam, apakah tabib yaqin bisa membuat ramuan yang sama? " sindir Starla yang memahami gerak gerik tabib di depannya.


"Sudah lah Tuan Putri. Jika tabib tidak memberikan izin, aku akan membuat nya di tempat lain. " ucap Clara dan meninggalkan tabib dan Starla.


"Anda membandingkan manusia dengan derajat! Seseorang yang tidak anda sukai akan menjadi alasan anda hidup, jadi ku harap anda tidak menyesal nanti nya. " ucap Starla dan menyusul kakaknya.


Meninggalkan seorang tabib yang sudah berusia itu dengan perasaan kesal, bagaimana bisa di saat keadaan buruk seperti sekarang masih saja ada waktu untuk membedakan manusia satu dengan manusia lain nya. Bahkan jika bukan karena kakaknya yang sudah memberikan tugas untuk nya mengirimkan ramuan yang sudah di simpan kakaknya tentu nya wabah ini sudah menjalar tanpa ampun, yah tugas yang di tinggalkan kakaknya hanya lah membagikan ramuan pada setiap tabib yang mengobati rakyat karena wabah gerhana Bulan Darah dimana untuk membuat ramuan itu Starla melihat sendiri bagaimana Clara harus berdiri berjam-jam hanya untuk meracik ramuan dan membuat ramuan itu sebanyak yang diperlukan. Tanpa disadari Starla karena lamunan nya tubuh nya menabrak seseorang, belum sempat melihat siapa yang ditabrak nya namun orang itu sudah di bantu kakaknya untuk berdiri.


"Siapa kalian nak? Seperti nya kalian orang baru disini. " tanya ibu itu setelah duduk dibawah pohon.


"Kami hanya penggembara bu yang berniat membantu membuat ramuan namun tabib menolak pertolongan kami. " jawab Clara.


"Apakah tabib yang kalian maksud dia? " tanya ibu itu menatap seorang pria tua yang sibuk memarahi bawahan nya.


"Iya bu, apa yang terjadi dengan ibu? Luka ini bukan luka biasa, dan... " ucap Starla yang memperhatikan wajah wanita tua di hadapannya.


"Bukan apa-apa nak. Jika kalian mau membantu membuat ramuan temui saja Putri ku, dia itu pintar juga membuat ramuan dan Putri ku itu juga umurnya masih muda. " ucap ibu itu dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Pasti kami akan menemui Putri ibu, tapi kami tidak tahu seperti apa Putri ibu. Maaf. " ucap Clara.


"Hehehe ibu lucu ya, pasti nya kalian tidak ada yang tahu Putri ibu seperti apa. Tapi Putri ibu selalu kesini setiap satu bulan sekali untuk melihat kondisi ibu, bagaimana jika kalian tunggu saja? " ucap ibu itu.


Starla ingin menolak namun kakaknya sudah terlanjur menganggukkan kepala tanda setuju dengan permintaan ibu yang ditabrak nya itu, melihat diam nya sang Kakak pasti nya kakaknya sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Sebagai seorang adik Lady Cristal bukan membuat nya memiliki kekuatan yang sama seperti kakaknya namun dirinya tahu jika kakaknya itu tidak perlu repot jika untuk mengetahui kebenaran seseorang karena bisa membaca dan mendengarkan isi hati dan fikiran orang lain, artinya ada sebab lain kenapa kakaknya menyetujui hal yang di anggap tidak penting untuk seorang Starla.


*Pergilah Starla, bantu Nenek menghadapi pemberontak yang bersembunyi di Istana dan Biar kan kakak membantu disini* ucap Clara dalam batinnya.


"Aku tidak mau pergi! " ucap Starla tiba-tiba.


"Nak ada apa? Siapa yang mengusirmu? " ucap ibu yang terkejut dengan ucapan Starla tiba-tiba.


"eh.. anu.. bukan apa-apa bu. " jawab starla.


*Apa harus terkejut seperti itu Starla! Ibu ini tidak bisa mendengar ucapan kakak! Jangan menjawab kakak, lakukan perintah ku Starla.* ucap Clara dalam batinnya dengan menatap adiknya yang memasang wajah cemberut.


"Maaf saya harus kembali ke Istana, masih banyak tugas yang harus di selesai kan." ucap Starla akhirnya mengalah.


*Sampaikan Salam kakak pada Ayahanda dan Nenek, awasi para pelayan dan prajurit yang memiliki ruang gerak jauh.* ucap Clara dalam batinnya sambil memeluk adiknya.


*Lagi dan lagi berpisah, Siapa pun yang membuat hidup ku seperti hempasan angin akan ku pastikan hidup mereka juga terhempas tanpa tersisa* batin Starla dan melangkah meninggalkan penginapan itu.


Kepergian Starla membuat Clara hanya menggelengkan kepala nya, niat di hati adiknya itu yang membuat nya harus menghela nafas. Andaikan adiknya tahu siapa lawan yang ingin di hancurkannya, sudah pasti adiknya akan mudah dikalah kan sosok itu. Sosok bertopeng yang menjadi pencarian selama ratusan tahun, sosok yang menjadi awal terbentuknya Kitab Suci, yah Clara sudah melihat kehidupan masa lalu dan masa kini dan melihat sekilas masa depan. Semua nya terjadi di saat dirinya melakukan meditasi kedua nya di lautan dimensi para Naga.

__ADS_1


__ADS_2