
"Simpaan ini, berikan pada putra ku. Tolong bebaskan keluarga ku dari makhluk terkutuk itu... aa.. k... " ucap seseorang dengan suara lirihnya.
Tangan yang semakin melemas itu kini terjatuh dengan mata nya terpejam, nafas yang meninggalkan raga nya kini telah berakhir. Detakan nya tak lagi terdengar dengan suara yang tak lagi dapat di lanjutkan namun sebuah tangan yang berlumur darah kini menggenggam sebuah benda yang menjadi sebuah amanah.
"Istirahat lah dengan tenang, terimakasih atas pengorbanan mu. Ku harap aku tidak terlambat dan korban lain berjatuhan lagi! " gumamnya.
Setelah melihat nyawa orang yang dibantu nya tetap tak terselamatkan, sosok itu menggunakan sihir api nya untuk meng kremasi kan jasad nya dan menyimpan sedikit abu nya ke dalam sebuah bola kristal memasukkan nya ke dalam ruang tanpa batas nya.
*Salam Lady Cristal, kami telah menemukan Penyihir Tingkat dewa namun kondisi nya cukup parah, apa tugas selanjutnya? * batin seseorang melalui telepati nya.
Tanpa menjawab, sosok itu kembali terbang bersama pendamping nya menuju ke tempat tujuan awal setelah melakukan percobaan menggagalkan ritual persembahan.
Sedangkan di dalam hutan bayangan, tepatnya di dalam pondok bunga cahaya kini seorang manusia berpenampilan elf dengan satu manusia paruh baya dan seekor kucing berbulu tengah menempati sebuah ruangan yang begitu sederhana. Terlihat sosok paruh baya itu mulai meracik berbagai bahan ramuan untuk mencoba pemuda yang terbaring lemas dengan wajah sepucat susu dan dingin seakan menjadi es, sang kucing sudah memberikan perisai emas dengan energi miliknya untuk mengurangi dampak luka dalam pemuda itu meski tidak membuat perubahan banyak tapi sedikit memberikan pertolongan.
Di tengah kesibukan itu, terdengar suara yang asing dengan desiran kecepatan terbang yang tidak bisa terhitung, suara burung seakan hilang terbang bersama awan. Namun tidak ada yang berniat untuk keluar dari dalam pondok karena kedua nya masih berusaha menyelamatkan pemuda yang terbaring.
Tak ada suara yang mengganggu setelah beberapa detik berlalu hingga hembusan angin membuka pintu pondok tanpa sentuhan tangan, seseorang terbang memasuki pondok dengan penampilan yang sangat kacau, bau darah dengan sisa aura kegelapan masih jelas melekat di tubuh sosok itu.
"Bagaimana keadaanya? " tanya sosok itu.
"Yang Mulia? " ucap pendeta dengan sedikit terkejut melihat sosok di depan pintu.
"Tuanku!" seru Achela langsung mendekati Lady Cristal.
"Aku baik ok, Pendeta bagaimana keadaannya?" ucap Clara turun dari terbang nya dan berjalan mendekati pemuda yang terbaring.
"Luka luar bisa di obati dengan mudah tapi luka dalam nya, aku tidak bisa mendeteksi jenis luka dalamnya. Baru kali ini semua ilmu pengetahuan ku tidak memiliki jawabannya, maaf Yang Mulia." jawab pendeta menunduk.
"Tidak ada yang salah pendeta, bukankah semua memiliki kekurangan dan kelebihan. Achela apakah kamu tahu tentang Ritual Rasi Bintang? " ucap Clara tanpa melihat hewan suci itu, karena tangannya sibuk memeriksa keadaan Giel.
__ADS_1
"Ritual Rasi Bintang! Apakah dia sudah memulai nya lagi? " ucap Achela dengan sedikit gemetar.
"Hmm.Pendeta, aku mengutus anda untuk menjadi utusanku mengunjungi Kerajaan Es dan Kerajaan Api, berikan surat ku kepada kedua Kerajaan itu. Raja Lars Calleum dan Raja Azio, dan kembali lah buat pertemuan para tetua dengan pewaris yang telah memiliki takdir yang sama di tempat biasa." perintah Clara setelah memeriksa Giel tanpa menjawab pertanyaan Achela.
*Cristal Suci* batin Clara.
Bola-bola Cristal yang berwarna biru sebening embun bermunculan dari telapak tangan Clara, ada dua bola dengan siluet emas dan lima belas bola dengan siluet pelangi. Bola Cristal itu terbang menjadi dua bagian, dan dengan dua kantung yang Clara siapkan dari ruangan tanpa batasnya kini dua bagian itu memasuki tempat nya masing-masing.
"Dua Cristal dengan siluet emas dan dua Cristal dengan siluet pelangi itu milik kedua Kerajaan itu, berikan pada orang yang tepat. Cristal siluet emas untuk raja dan siluet pelangi untuk mereka yang mengikuti pertemuan nanti, dan sisanya, aku akan mengirim sendiri pada yang lainnya." ucap Clara dan menyerahkan satu kantung yang akan di bawa Pendeta.
"Achela antarkan Pendeta ke Kerajaan Api, karena Raja Azio bisa menggunakan teleportasi. Kembali lah setelah itu! " perintah Clara.
"Baik Yang Mulia, kami permisi." jawab Achela dan langsung terbang mendekati Pendeta membawanya menghilang ke tempat seharusnya.
Kepergian Achela dengan Pendeta membuat Clara membersihkan dirinya dengan sihir air dan angin agar keadaannya tidak menyeramkan, hanya beberapa detik kini penampilan nya sudah kembali seperti semula.
"Aku akan memberikan ini saat waktunya, sebelum itu aku harus menemukan mereka. Aku merasa Raja kegelapan tidak akan membuat kesalahan tanpa di sengaja, satu lagi yang harus aku lakukan sebelum Gerhana nanti." batin Clara dan memasukkan kembali sesuatu ke ruangan tanpa batasnya yang kini menjadi amanah nya.
Perlahan aliran cahaya biru itu mulai menjalar memasuki ke dalam pori-pori dan memberikan warna dengan sedikit rona yang mulai memancarkan kehidupan, hingga detakan itu mulai terasa stabil dan menggerakkan bulu mata pemuda yang terbaring.
"Ghea... " gumamnya lirih.
"Istirahat lah, dia masih hidup untuk beberapa hari kedepan. Pulihkan keadaanmu terlebih dahulu! " ucap Clara dan memberikan satu ramuan yang sudah ada di ruangan tanpa batasnya.
Setelah ramuan itu diberikan, Giel kembali memejamkan matanya yang masih belum terbuka sempurna. Dan Clara masih menyalurkan kekuatan cahaya nya hingga element nya menyentuh titik dari luka dalam , titik itu mulai merespon element cahaya Clara dengan berbagai serangan dan penolakan, seakan titik itu memiliki kendali atas luka yang dibuatnya.
"Uhuk.. uhuk.. " suara batuk Clara dengan aliran hangat dari sudut bibirnya, disaat bersamaan Achela muncul dengan teleportasi nya.
"Lady! " seru Achela yang melihat keadaan tuannya tidak baik dengan darah yang mengalir dan wajah pucat nya.
__ADS_1
Clara hanya tersenyum dan melanjutkan memberikan serangan pada inti luka di dalam tubuh Giel, hingga beberapa saat sebuah kunci dengan simbol satu mata keluar dari dada pemuda itu. Tanpa mempedulikan darah yang masih mengalir, Clara memberikan segel kehidupan pada Giel agar jiwa nya tidak kembali terbelenggu oleh kunci mata milik Raja kegelapan.
*Api Abadi Suci* ucap Clara dengan menggenggam kunci mata, seketika terlihat kunci itu meleleh dengan lava hitam yang mengabur ke udara, Achela yang melihat itu hanya melongo.
"Dia sudah aman, sekarang tugas selanjutnya. Achela dia Penyihir Tingkat Dewa, tapi sayangnya tidak terlatih bahkan kekuatan nya tak lebih dari Starla. Tapi dengan latihan pasti nya kekuatan nya akan setara dengan mu, dia adalah tanggung jawab mu mulai sekarang. Dan ya, bawa dia pada pertemuan berikutnya. Aku harus pergi sekarang, Jaga dirimu. " ucap Clara dengan mengusap darah di bibirnya.
"Berhenti Lady Cristal! " ucap Achela yang melihat Clara melangkah mendekati pintu.
"Katakan? " jawab Clara tanpa berbalik.
"Apakah aku ini pendamping mu? Bukankah seharusnya aku bertugas melindungi mu bukan orang lain! Aku percaya dengan kekuatan mu tapi sebagai hewan suci yang bertanggung jawab pada alam, kini aku merasa hanya seperti salah satu makhluk tidak berguna. Apa ini yang di sebut pendamping? " ucap Achela mengeluarkan seluruh uneg-uuneg nya selama ini.
Clara berbalik dengan satu senyuman yang sangat manis, lebih manis dari biasanya namun senyuman itu hanya lima detik dan berganti dengan wajah tegas mata biru yang tajam. Achela terpaku dengan keindahan mata biru laut dengan ketenangan itu hingga di dalam mata itu menunjukkan sesuatu yang sangat mengerikan, membuat tubuh mungil nya bergetar dengan wajah ketakutan yang tidak bisa di kendalikan. Butiran keringat mulai menetes membasahi bulu-bulunya membuat Achela seperti tersiram hujan, sekejap dunia nya seakan runtuh, semua pengetahuan dengan umurnya yang abadi kini sirna tanpa tersisa dari benaknya.
Untuk pertama kalinya hewan suci itu mengenal rasa takut akan kehancuran, bahkan kematian akan lebih baik dari pada melihat isi mata biru tuannya. Melihat Achela yang tidak bisa menahan seluruh tanggung jawab sebagai Lady Cristal, membuat Clara menetralisir semua kekuatan dan ramalan yang ada di dalam jiwa nya.
"Kuharap sebagai hewan suci seorang Achela akan lebih bijaksana setelah ini, aku tidak bisa membelah diriku untuk berada di setiap tempat dan melakukan semuanya sendiri. Kuharap jawabanku membuat mu paham dengan semua tindakanku dan aku menunjukkan pada mu semua yang menjadi tanggung jawab ku bukan untuk menakuti mu tapi aku ingin menghentikan keraguan mu! Sampai bertemu di pertemuan Achela, jaga dirimu." ucap Clara setelah memejamkan matanya dan mengembalikan mata normalnya.
Sebelum pergi meninggalkan Achela, clara mengelus kepala Achela untuk menenangkan pendamping nya itu, Clara tahu seberapa terguncang nya hewan suci itu melihat apa yang ada di dalam matanya namun bukan niat Clara untuk menakuti pedampingnya tapi menghilangkan keraguan di dalam benak hewan suci itu merupakan tugasnya. Satu hal yang bisa Clara amati, jika orang lain pasti sudah tiada karena rasa takut nya namun pendamping nya itu hanya gemetar dengan sedikit keringat bercucuran.
"Bagaimana Tuanku bisa menangani semua nya itu tanpa rasa takut, aku menyesal meragukan tuanku. Aku tidak akan meragukan tuanku lagi! " gumam Achela setelah kepergian Clara.
................. ...
Sebuah lubang dimensi yang masih terbuka membuat begitu banyak makhluk keluar seakan makhluk-makhluk itu terpanggil tanpa adanya penolakan, berbagai bentuk dan jenis dari yang kecil hingga yang besar mulai memenuhi sebuah halaman seluas hutan. Banyak auman dengan berbagai suara lainnya yang membuat keheningan menjadi sebuah pasar dadakan, satu sosok yang masih setia meneteskan darah didalam cawan ke dalam dimensi itu dengan senyuman kemenangan di dalam bibirnya kini tercetak jelas. Hingga tetesan terakhir membuat lubang dimensi itu menutup secepat kilat, namun hasil dari perbuatan nya kini terlihat jelas memenuhi halaman tempat tinggalnya.
"Selamat datang pasukan ku! Aku Raja Kegelapan, Raja kalian. Perintahku mutlak, Paham! " seru Raja kegelapan dengan menyebarkan element nya ke seluruh wilayahnya.
Kabut kegelapan semakin menambah kegelapan tanpa ada pandangan jelas namun itu tidak berlaku bagi mereka yang kini telah menjadi satu dengan Kerajaan Kegelapan, terlihat semua makhluk asing itu mulai membungkuk dengan seruan pujian kepada Raja kegelapan.
__ADS_1
"Hidup Raja Kegelapan!" seru mereka tanpa henti.