
Di dalam pondok kini hanya tinggal Peri Ghea, sebenarnya kondisi nya baik-baik saja namun luka dipunggungnya masih terlihat sangat menyakitkan jika orang melihat luka itu, bahkan Peri Ghea tidak merasakan kesakitan setelah Clara mengambil sayap dan mengobati dirinya entah dengan cahaya apa, dan Peri Ghea pun tidak sadar jika dirinya pingsan karena ulah Achela yang meniupkan serbuk tidur setelah bertemu Kakaknya Giel. Melihat rasa takut dan khawatir Giel adalah jawaban seberapa penting nya Peri Ghea untuk kakaknya itu, dan itu yang akan menjadi tujuannya mendapatkan semua yang dibutuhkan.
"Sekarang aku harus melakukan sandiwara hanya untuk menebus kejahatan kakak ku, Tuhan kuat kan aku. Sungguh aku tidak berniat mengkhianati saudara ku tapi demi kebenaran, hanya ini jalan nya. " batin Peri Ghea menatap atap pondok dan membuang nafas dengan kasar.
Srak.. Srak..
Terdengar suara langkah kaki dari luar, dan seperti menyeret sesuatu yang berat, ingin rasa nya melihat apa yang terjadi tapi di urung kan Peri Ghea yang akhirnya ber pura-pura tertidur kembali dengan posisi semula, hingga suara itu berhenti dan ada yang siap memasuki pondok. Dengan sangat perlahan seseorang itu memasuki pondok tapi dari aromanya Peri Ghea mengenali siapa yang datang dan membiarkan saja dengan tetap ber pura-pura tertidur.
"Kamu pasti akan baik-baik saja Ghea, kakak sudah membawa kan obat yang lebih istimewa. " gumam Giel mengelus rambut adiknya.
Tanpa disadari air mata nya terjatuh di pipi adiknya, rasa nya sangat sakit melihat satu-satunya alasan dirinya tetap hidup kini terbaring lemah dan kehidupannya menjadi hancur jika terjadi hal buruk pada adiknya itu, rasa nya semua usaha untuk melindungi adiknya itu kini menjadi sia-sia. Kenangan demi kenangan membuat hatinya semakin terluka, rasa nya sangat sesak di dalam hati, ber nafas pun semakin sulit untuk nya, bagaimana dirinya gagal melindungi adiknya.
"Emh, kak aku baik-baik saja, tenang lah. " ucap Peri Ghea perlahan membuka mata nya karena merasakan pipi nya basah, sungguh dirinya tidak tega melihat kakaknya lemah tapi niat nya juga tidak salah, dan berperang melawan perasaan pun menjadi lebih sulit dengan melihat kakaknya sendiri hancur, tapi banyak kehidupan yang menjadi taruhan jika dirinya mengalah maka semua usaha nya selama ini sia-sia.
"Mau minum atau lain nya Ghea? Apa masih sakit ? " tanya Giel dengan lembut.
"Ghea sangat lapar ka, hehe. " jawab Peri Ghea .
"Baik lah, Kakak akan membuat makanan, tapi akan kakak obati dulu luka mu itu. " ucap Giel dengan tersenyum, dirinya tahu jika Ghea hanya mencoba mengalihkan kesedihannya.
Dengan cekatan Giel meracik beberapa ramuan, namun Ghea mengamati ada sesuatu yang secara diam-diam Giel masuk kan ke ramuan itu, ntah apa itu tapi dengan cepat kakaknya memasukkan kembali ke pakaian nya, setelah selesai membuat ramuan kemudian Giel mengoleskan ramuan itu ke punggung adiknya secara perlahan. Rasa nya sangat dingin dan segar, semakin lama rasa itu mengalir di setiap sendi bahkan ini lebih dingin dari air terjun di tengah hutan saat pagi buta, sesaat tubuh nya mulai gemetar karena rasa dingin yang luar biasa dan Giel yang melihat adiknya terlihat tidak sanggup menahan dampak ramuan itu langsung memeluk adiknya dengan erat , mencoba menguatkan adiknya untuk bertahan dari rasa luar biasa itu.
"Kamu akan baik-baik Ghea. Kakak janji kamu akan baik-baik setelah ini. " bisik Giel dengan lembut.
__ADS_1
Tubuh nya sangat sakit karena rasa dingin yang luar biasa, seakan semua nya membeku di dalam tubuh nya, darah nya pun tidak mampu bekerja dan menyalurkan rasa hangat, namun perlahan pelukan kakaknya memberikan kehangatan yang sangat diharapkan oleh Peri Ghea. Detakan masih terdengar dari dalam namun ntah apa yang terjadi tapi semua nya menjadi lebih rumit, di saat dirinya mulai merasakan kehangatan dan tidak gemetar lagi, seakan semua rasa dingin itu terserap dan perlahan menghilang. Kesadaran nya yang hampir hilang kini perlahan terkumpul kembali namun ada sesuatu yang salah, pelukan yang di rasa kan oleh nya dan memberikan kehangatan tadi, kini rasa itu menjadi berbeda, hawa dingin ini masih memeluk dirinya, tapi bukan dari dalam tubuh nya melainkan dari pelukan yang menghangatkan nya, sontak dirinya melihat ke tangan yang memeluk nya.
"Ka Giel! Ka GIEL! Bangun ka. " seru Peri Ghea yang terkejut melihat keadaan kakaknya.
Ntah apa yang terjadi tapi dirinya terkejut melihat keadaan kakaknya yang terbalik menjadi sangat dingin, dan bahkan keadaan nya kini lebih buruk dari dirinya sebelum nya, perlahan Ghea membantu kakaknya untuk berbaring dan mengambil semua Kain dan pakaian untuk menyelimuti tubuh kakaknya itu, sungguh dirinya sangat bingung dengan apa yang terjadi dan apa yang kakaknya lakukan hingga bisa menjadi seperti ini.
Dalam keadaan tidak memahami apa yang terjadi hanya satu yang ada di fikiran nya, apa penyebab semua ini. Seketika Ghea mengingat sesuatu yang mencurigakan dan dengan cepat Ghea mencari yang disembunyikan kakaknya di pakaian nya.
"Maaf kak, tapi Ghea harus tahu apa yang terjadi. " ucap Ghea meneliti pakaian kakaknya untuk mendapatkan botol mungil yang disembunyikan, meski terlihat kakaknya menolak namun apa daya kakaknya itu yang saat ini kondisi nya tidak menguntungkan bahkan secara perlahan tubuh nya semakin membeku dan seakan akan menjadi patung es .
Setelah mendapatkan botol mungil itu, Ghea mencoba untuk melihat apa isi dari botol mungil itu namun suara rintihan kakaknya seperti melarang keras agar tidak membuka botol itu. Bahkan dalam keadaan terburuk pun kakaknya masih sangat khawatir dengan dirinya dan itu terlihat jelas dari sorot mata nya, Ghea tidak tahu harus apa dan hanya botol yang ditangannya itu petunjuknya.
"Seperti nya ini berbahaya, tapi aku harus bagaimana sekarang. " gumam Ghea mempertimbangkan segalanya dengan ragu, melihat adiknya berfikir keras dalam hati Giel berdoa agar adiknya itu tidak mengambil tindakan yang salah, karena apa pun yang di lakukan oleh nya hanya untuk kesembuhan adiknya.
"Hey! Kakakmu membeku! Sadar lah! " seru Achela di samping Ghea.
"Hah! Apa! kakak.. Kak apa yang terjadi. " ucap Ghea yang terkejut dan kembali sadar, di saat melihat kakaknya justru semakin terkejut karena kini kakaknya hampir membeku secara sempurna.
Dengan cepat Ghea langsung memeluk kakaknya dan menangis berharap kehangatan dari tubuh nya menghangatkan kakaknya dan mengembalikan kakaknya seperti semula namun semakin erat pelukan nya tetap tidak mengubah apa pun , Achela yang melihat itu merasa kasihan dan ingin rasa nya membantu kakaknya Ghea namun semua yang terjadi seperti perkiraan Tuannya. Tidak akan mudah membongkar penyebab wabah di Bangsa Peri, lihat saja saat ini kaki tangan Sang Pelaku menjadi Korban juga, tentu saja Sang Pelaku bukan orang bodoh yang bisa mudah tertipu, bagaimana pun dunia sang Pelaku pasti dunia penuh tipuan lalu bagaimana akan tertipu dengan hal sederhana. Hanya saja Achela merasa bersalah karena harus membiarkan ada nya Korban meski Korban nya pun adalah orang yang ber buat kejahatan, tapi orang yang tidak bersalah pun harus ikut menjadi Korban karena semua yang tengah terjadi.
"Berhenti menangis. Kakakmu akan pulih nanti, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. " ucap Achela dan dengan tenang berjalan menghampiri Peri Ghea yang masih memeluk kakaknya.
Mendengar kakaknya akan pulih tentu saja membuat Ghea merasa sedikit tenang, dengan perlahan Ghea menenangkan dirinya dan mulai menceritakan semua yang terjadi dari kedatangan kakaknya hingga kakaknya berakhir seperti ini diiringi lelehan air mata yang tidak mampu ditahannya, Achela dengan tenang mendengarkan semua nya tanpa melewatkan sedikit pun.
__ADS_1
"Berikan botol itu pada ku dan jaga Kakakmu! Aku akan kembali lagi. " ucap Achela dan Ghea memberikan botol mungil itu didepannya Achela.
*Masuklah* ucap Achela mengulurkan satu kaki depannya dan cahaya keluar dari telapak kaki depannya dan memasukkan botol mungil itu, Ghea terkejut melihat Kekuatan Achela karena kucing didepannya itu terlihat sama saja dengan kucing lain nya, tentu saja kecuali Achela lah kucing yang bisa berbicara seperti manusia.
*Cahaya Emas* ucap Achela dan mengarahkan cahaya itu ke tubuh kakaknya Peri Ghea, seketika cahaya berwarna emas menyelimuti tubuh Giel.
"Biarkan kakakmu istirahat, selama cahaya emas masih menyelimuti tubuh nya. Kakakmu akan baik-baik saja, Aku akan pergi dan pasti kan jangan ada yang mendekati kakakmu. " ucap Achela dengan peringatannya.
Seperti biasa Achela menghilang begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Ghea, tapi setidaknya kini Ghea lebih tenang melihat kakaknya terselimuti cahaya emas dan tentu saja dirinya bersyukur dengan kehadiran Achela meski dirinya tidak bisa ber buat apa pun setidaknya dirinya akan menjaga kakaknya dengan baik. Sedang kan Achela saat ini sudah kembali ke tempat dimana Clara menunggu nya, merasakan kehadiran aura Achela, Clara menyadari pasti sudah terjadi sesuatu yang buruk di tempat Ghea, ntah Kekuatan apa yang menghalangi Clara untuk merasakan aura dari sosok yang sedang menjadi buruannya saat ini.
.............. ...
.
.
.
. Hay Reader, apa kabar? ☺
semoga semua dalam lindungan Yang Maha Esa 🤲
. Maaf ya, author baru bisa up lagi, karena beberapa hari author gak fit alias sakit 🤕🤒👈 , tapi alhamdulillah sekarang udah mendingan jadi bisa up lagi.. ☺
__ADS_1
. Salam buat para Reader 🙏