
Aroma amis kini seakan menyebar ke seluruh Kerajaan Langit, banyak yang enggan keluar dan menutup rapat semua pintu dan jendela, para prajurit yang berpatroli dan bersiaga pun harus menutup hidung mereka dengan kain.
Sinar rembulan merah menyala menerjang dinding perisai membuat aroma khas darah menyeruak keseluruh wilayah Kerajaan Langit, siapa pun yang menghirup aroma itu maka menjadi tidak sadar kan diri. Pemadangan yang tidak bisa di hindari, banyak prajurit dan rakyat yang tergeletak di tempat sembarangan namun di tengah kekacauan itu hanya seseorang yang masih menyusuri setiap jalanan dan berjalan menuju ke tempat seharusnya.
Altar Lembah seribu sebuah pemakaman keramat yang sudah terlupakan oleh semua orang, pemakaman tanpa cahaya itu kini begitu terang setelah sinar rembulan merah menembus ke dalam nya. Sebenarnya ini hal yang tidak mungkin karena Lembah ini terlihat sangat jauh dari atas sana bahkan Lembah ini tertutupi pepohonan yang rimbun kecuali satu tempat yaitu tepat di tengah-tengah lembah masih dapat digunakan untuk melihat Langit nan jauh.
Angin bahkan enggan melewati pemakaman ini, namun ini lah tempat yang pasti akan di datangi oleh pembangkit Ramalan Gerhana Bulan Darah Merah. Bermandikan sinar rembulan merah memantulkan aura penyerap jiwa, hembusan nafas yang begitu terasa di telinga nya. Aura yang sama menyelimuti udara sekitarnya, awan gelap semakin mendekati pemakaman menandakan kehadiran seseorang.
"Apakah segitu berarti nya diri ku hingga Kedatanganku kau tunggu Lady Cristal?" ucap seorang pria berpayung awan gelap memasuki altar Lembah seribu.
"Bisa apa Aku, Bukan kah Jiwa kita terikat." jawab Clara dan menatap lurus ke depan dimana pria itu berdiri dalam jarak 5 meter.
"Tidak bisa kah kita bersatu? Pasti tujuan kita akan mudah terwujud." bujuk pria itu.
"Anda sangat Lucu." ucap Clara.
"Apa maksud mu Lady Cristal?" tanya pria itu dengan melepaskan penutup kepalanya.
"Anda tahu siapa diriku sebenarnya tapi masih berfikir hal mustahil! Bukankah itu lucu?" tanya balik Clara.
"Tidak ada yang mustahil! Kau tahu itu dengan benar Lady Cristal." jawab pria itu dengan satu langkah maju.
"Jiwa kita terikat tapi bukan untuk bersatu. Kehadiran ku adalah kehancuran mu, itu lah isi Ramalan yang selama ini anda cari." ucap Clara mengambil Pedang Suci di pundaknya.
"Tidak! Selama hidup ku tak seorang pun mampu memecahkan Ramalan itu." bantah Pria itu ikut mengambil Pedang Azalia di pinggangnya.
*Kitab Suci Kerajaan Iblis* seru Clara.
Sebuah kitab Suci yang selama ini telah hilang kini keluar dari dalam tubuh pria di depan Clara, dimana tanpa izin pria itu kini Kitab Suci itu terbang menghampiri Clara. Bahkan pria itu mencoba memerintahkan kitab nya kembali kepadanya namun kitab Suci itu hanya menuruti perintah Clara, setelah mendapatkan Kitabnya, Clara dengan mudah nya membuka Kitab Suci itu.
...********...
__ADS_1
Alam terbelah menyatu dengan tanah berpijak...
Hempasan ombak menyerbu meratakan kehidupan...
Satu Cahaya Kebenaran...
Satu Cahaya Kepalsuan...
Ikatan Terlahir untuk saling menghancurkan...
Tidak ada kekalahan atau pun Kemenangan..
Waktu hanya menyisakan setitik kehidupan...
Darah menjadi lautan, Kematian menjadi Kehidupan...
Kelahiran Satu Jiwa dengan membawa seluruh Jiwa sebelumnya...
Pertemuan Jiwa Murni dan Jiwa Kegelapan...
Akhir dari Sang Waktu...
"Apakah anda siap?" tanya Clara menghilang kan kitab nya setelah membaca Ramalan terakhir dari Kerajaan Iblis.
"Siapa kau sebenarnya! Kembalikan kitab ku!" seru pria itu.
"Kitab itu kembali pada pemilik aslinya, Bukankah Anda jauh dari kata hebat meski tanpa Kitab itu?" ucap Clara dengan melepaskan cadarnya.
"Periku, Bukan. Kau bukan peri ku." gumam pria itu.
Tanpa menjawab Clara melepaskan Pedang Suci dan melemparkan ke arah pria itu, dengan sigap pria itu menahan dengan Pedang Azalia. Cukup dengan ayunan tangannya Clara mengendalikan Pedang Suci, sedangkan pria itu masih menggunakan tangannya untuk menghindari , menangkis dan juga berbalik menyerang serangan Pedang Suci.
__ADS_1
Sliing.. Sliing.. wusss.. Sliing.. Sliing..
Pertarungan yang cukup sengit di antar kedua pedang, membuat Clara menarik Pedang Suci dan kembali menyerang dengan memegang Pedang di tangannya, kedua nya saling menyerang, berputar, melompat dan menghindar. Aura Pedang Suci yang murni kini menjadi bersatu dengan Aura Kegelapan Pedang Azalia, perlahan namun pasti sinar rembulan di atas mulai berubah warna keputihan, warna merah darah itu kian meredup seiriing banyak nya Element Cahaya yang menyusup masuk ke dalam Pedang Azalia.
Pria itu baru menyadari apa yang terjadi setelah tubuhnya sedikit tergores Pedang Suci, pertarungan kedua nya sengaja di lakukan agar Ramalan yang telah dibangkitkan nya terputus. Bahkan gadis di depan nya itu kini bersinar dengan terang membuat pemakaman itu kian terlihat jelas, pria itu kembali bangkit dan menyerang Clara agar gadis itu berhenti mengeluarkan element Cahaya nya.
Sliiing... wuss.. Sliing.. Braak..
"Arrgh.. Kenapa Kekuatan nya semakin besar. Aku tidak mau usaha ku gagal." ucap pria itu.
Semakin besar element Cahaya yang mengalir dari tubuhnya, membuat Clara bisa merasakan kehidupan sekitarnya. Menyatukan Pedang Suci dengan Element Udara, gerakan yang sama seperti penyatuan Element Air dan Udara bersama Achela, Alam seakan mengikuti irama ayunan persatuan elementary Cahaya dan Udara.
Pusaran yang terbentuk perlahan mulai membesar dan menutupi tubuh Clara, sedangkan pria itu bangkit dan berusaha menyerang dan memasuki pusaran meski akhirnya berulang kali terpental.
* Element Kegelapan* seru pria itu kembali menantang pusaran hingga langkah nya berhasil memasuki pusaran.
*Perisai Cahaya Biru* seru Clara setelah berhasil membuat lawannya terperangkap, dengan perisai nya maka untuk sementara element Kegelapan milik nya terkurung dan Gerhana Bulan Darah Merah akan berakhir.
"Selamat datang dan pulang lah. Sang Waktu masih berpihak pada mu." ucap Clara setelah mengayunkan tangannya menghempaskan pusaran yang di buat nya ke tempat seharusnya.
Kepergian pria bersama pusaran membuat rembulan kembali normal, siapa pun yang terpengaruh dengan Ramalan itu akan kembali sadar dengan Element Cahaya yang Clara miliki, Dengan bantuan Pedang Suci lah Clara menyerap seluruh Element Kegelapan yang telah mengelilingi seluruh Kerajaan langit.
Udara yang kembali segar dengan dingin nya malam yang terasa nyaman, orang-orang yang mulai sadar dan saling tolong menolong membuat malam itu dipenuhi suara penuh tanda tanya dan kebinggungan semua orang.
.............. ...
"Uhuk... uhuk.. uhuk... " suara batuk terdengar dari dalam kamar mandi.
Wajah itu kini kembali terlihat pucat, darah segar kembali keluar dari mulut nya, namun sinar mata nya masih enggan untuk menyerah. Tak seorang pun mengetahui jika seluruh tindakannya hanya lah sebuah rencana perlindungan, menyingkirkan semua orang ke tempat seharusnya dan meletakkan diri sendiri pada tempat paling terdepan menghadang badai yang siap meruntuhkan seluruh Alam.
"Sekali lagi Clara, ini bukan tentang Takdir. Ini hanya lah tentang Kehidupan seluruh Alam, Tetap lah berjuang seperti mereka yang telah berkorban." batin Clara membasuh wajah nya.
__ADS_1