
Beberapa detik membuat Raja Dexter terdiam hingga pertanyaan Starla di cerna, membuat wajah nya berubah. Wajahnya seakan ada kekecewaan dengan kesedihan mendalam, ada hawa panas yang mulai menyebar di dalam kamar Starla. Merasakan ketidaknyamanan kekasihnya, Cleo dengan cepat menggenggam tangan Raja Dexter dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku tidak bisa mencegah wanita ular itu mendapatkan Naga hitam kerajaan ku, aku terlambat saat itu dan dia sudah membawa nya pergi, yang tersisa hanya sebuah cawan yang kini ku simpan di dalam kamar ku. Apa ada sesuatu yang terjadi atau anda ketahui? " ucap Raja Dexter dengan wajah yang menunduk.
Tanpa menjawab Raja Dexter, pendeta memberikan gulungan kertas yang masih ada di tangannya, dengan seksama Raja Dexter membuka dan membaca tulisan di dalam gulungan itu. Terlihat raut wajahnya kini memerah menahan amarahnya dengan mata yang menajam membuat hawa panas kembali menyebar di kamar Starla, Cleo yang ikut membaca kini juga mengepalkan tangannya.
Melihat perubahan dari dua makhluk itu membuat Achela kembali menerbangkan gulungan di tangan Raja Dexter yang tidak terpegang dengan benar, meski mendapatkan tatapan tidak jelas. Achela tidak peduli, sekarang bukan waktu nya mengikuti perasaan siapapun.
"Cleo! Sudah waktu nya untuk mu kembali berlatih, bukankah sebagai murid kamu memiliki tugas terakhir dari guru mu?! Atau perasaan milikmu menjadi egois? " ucap Achela dengan kesan menyindir.
Mendengar hal itu telinga Cleo terasa memanas, tidak di pungkiri jika latihannya sangatlah berantakan bahkan tidak sekalipun konsentrasi tidak buyar karena rasa rindu dan cemas di hatinya. Sejak perpisahan nya dengan Raja Dexter disaat keadaan kekasih nya itu masih kehilangan jiwanya hingga perpindahan yang tidak menyatukan keduanya membuat Cleo tidak fokus bahkan di hati nya hanya ingin melihat dan memastikan keadaan Raja Dexter.
**Flashback
"Fokus Cleo! Batu bulan ini harus aktif sebelum Gerhana Bulan beberapa hari ke depan!" seru Achela kesekian kalinya yang melihat Cleo berulang kali pecah konsentrasi nya.
Dengan kemampuannya, membuat Achela tahu isi fikiran dari Cleo, dimana gadis itu hanya tertuju pada kekasihnya. Meskipun sudah berulang kali di katakan bahwa Raja Dexter baik-baik saja dan aman di Istana Kerajaan Langit tapi gadis itu seakan tuli dan masih membuyarkan konsentrasi nya hingga peri Fyra kehabisan energi nya untuk mengajari Cleo menggunakan Batu Bulan.
Peri Fyra yang baru saja pulih dari wabah para peri harus di hadapkan dengan tugas yang cukup berat, membangkitkan inti Batu bulan. Dimana Batu bulan akan berubah menjadi sesuatu yang masih tidak di ketahui, namun dari pesan Tuannya, Batu bulan harus aktif sebelum gerhana bulan berikutnya.
Dimana sebuah tempat tersembunyi akan terlihat di malam itu dan hanya Batu bulan yang bisa membuka tempat itu, meskipun tuannya yang akan menggunakan Batu bulan, tetap saja Batu bulan hanya bisa di aktifkan oleh sang penjaga. Cleo lah sang penjaga itu dan hanya gadis itu yang bisa membuat tujuan tuannya tercapai, tapi apalah daya peri Fyra jika seluruh energi nya harus terbuang sia-sia karena gadis di depannya itu hanya setengah sadar dan jiwanya tertinggal di tempat yang sama.
Kekesalan Achela semakin memuncak setelah peristiwa daun emas yang berguguran tanpa sisa, hembusan angin yang mengisyaratkan di mulai nya ramalan berikutnya membuat Achela jengah melihat ketidak seriusan Cleo, terlebih setelah perbincangan nya dengan Clara melalui batin. Achela semakin tidak mampu menahan rasa kesalnya namun semua langsung terkubur bersamaan dengan perintah tuannya, dan kini kekesalan itu mulai terlampiaskan ketika mendapatkan kesempatan**.
__ADS_1
...................
"Cleo! Apa kamu baik-baik saja? " tanya Raja Dexter yang melihat kekasih nya itu melamun setelah mendengar ucapan Achela.
"Eeh.Ya aku baik, maaf. Ayo kita berlatih, kali ini aku janji akan melakukan nya sepenuh hati, jiwa dan raga ku." ucap Cleo dengan menatap kucing di depan sana.
Setelah memberikan anggukan kepala pada Raja Dexter, Cleo sudah membuat keputusan dengan matang setelah berfikir dan mengenang beberapa waktu yang telah berlalu. Keputusan untuk memenuhi tanggung jawab sebagai seorang murid, janji nya kepada sang guru dengan setiap kenangan yang membuat nya hidup hingga detik ini dan menemukan cinta di dalam misi nya.
Mendengar hal itu membuat Achela kembali tenang dan terlihat dari mata gadis itu sebuah kesungguhan yang selama ini belum di tunjukkan, namun tatapan Ibu suri dan Starla terlihat seperti orang yang bingung. Bukankah awalnya membahas Naga hitam lalu tiba-tiba beralih ke hal lain yang tidak keduanya pahami, melihat situasi itu membuat Achela menghela nafas.
"Cleo adalah sang penjaga Batu Bulan, sebuah batu permata yang menjadi pusat dari ke empat kerajaan. Dimana zaman dulu Batu itu dikatakan telah di curi oleh penguasa kerajaan iblis, karena disaat ketiga penguasa mencari Batu bulan yang hilang, justru Batu bulan itu ada di tangan penguasa kerajaan iblis. Ntah apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya Batu bulan kini berada di tangan Cleo karena gurunya yang meminta nya untuk menjaga Batu bulan itu, yah seperti itulah keadaannya." ucap Achela menjelaskan secara singkat sejarah Batu bulan.
Achela tidak mengatakan tentang Batu bulan yang menjadi kunci suatu tempat ataupun situasi yang semakin memasuki ramalan berikutnya, karena baik Achela ataupun Clara merupakan satu frekuensi. Dimana keduanya akan menyimpan rahasia demi melindungi semua orang, semakin sedikit yang mengetahui keadaan alam menuju kehancuran maka akan semakin leluasa dirinya dan Tuannya itu melakukan tanggung jawab nya tanpa membuat orang lain terjebak lebih dalam di lingkaran cahaya mata.
Mendengar hal itu membuat Ibu suri dan Starla paham, namun tidak dengan Raja Dexter yang harus menahan amarahnya. Bukan karena tidak mengetahui sejarah permusuhan kerajaan namun karena dari salah satu buku sejarah, dirinya menemukan sebuah kebenaran yang tidak tersebar di seluruh alam. Kebenaran dari penguasa yang kini tengah di perbincangkan, penguasa itu memang benar membawa lari Batu bulan tapi setelah ketiga penguasa lainnya menuduh nya mencuri.
Achela yang mengetahui isi fikiran Raja Dexter, hanya bisa berpura-pura acuh dan menyimpan hal itu agar bisa di diskusikan dengan Clara. Disaat yang sama sebuah suara memasuki benaknya dan dengan senyuman Achela membalas suara itu dengan cepat, pendeta yang memperhatikan perubahan Achela hanya bisa berfikir apa yang terjadi tanpa satu kata pun.
"Ibu suri, bukankah para peri sudah kembali? " tanya Achela dengan suara yang lembut membuat Raja Dexter dan Cleo saling pandang, karena kucing itu terlihat sangat manis dengan suara yang lembut.
"Peri Zianka, peri Gracia dan Peri Henna ada di dalam kamar ku." jawab Ibu suri dengan tanda tanya.
"Cleo tetaplah disini! Para peri akan mengajari mu mengaktifkan Batu bulan, dan Kau Raja Dexter ikutlah ke perbatasan bersama Putri Kerajaan Langit. Bukankah pemimpin kerajaan ini ingin merasakan bertarung di medan perang? " ucap Achela dengan satu tarikan nafas.
__ADS_1
Memandang dua sisi secara bergantian, dan dari dua sisi tidak ada penolakan membuat Achela tersenyum senang, meskipun ada pertanyaan dari mereka yang tidak mampu di utarakan kecuali satu orang yang pasti akan memberikan pertanyaan setelah keputusan nya di buat.
"Raja Dexter bawalah Cleo untuk beristirahat dulu, sebelum esok hidupnya tanpa jeda untuk istirahat. Dan siapkan dirimu untuk pergi ke perbatasan bersama ku, prajurit ku akan membawakan pakaian untukmu." ucap Starla dan mengalihkan pandangan nya ke jendela di belakang nya.
Kedua makhluk itu pergi meninggalkan kamar Starla dan kini tersisa 4 nyawa dengan pintu kamar yang terkunci sihir, dimana Ibu suri sudah menggunakan sihir perisai element udara nya untuk melindungi percakapan mereka. Achela tahu ini waktu nya untuk lebih serius di bandingkan sebelumnya, sebelum pertanyaan tidak berhenti berdatangan maka lebih baik menjelaskan tanpa satu pertanyaan dari ketiga nyawa lainnya.
"Lady Cristal meminta ku untuk melakukan tugas lain dan membawa pendeta bersama ku, sedangkan Putri Starla harus turun tangan untuk membalikkan posisi perbatasan yang telah terebut. Raja Dexter memang sudah tidak memiliki Naga hitam itu tapi bagaimanapun dia merupakan tuan sang Naga maka masih memiliki harapan untuk mengalihkan perhatian para Naga hitam, dan Cleo harus segera mengaktifkan Batu bulan sebelum gerhana bulan yang hanya tersisa beberapa hari lagi." ucap Achela.
"Aku akan bicara dengan kakak nanti, Pergilah, sampaikan pada ka Clara. Semua akan baik dan aku akan melindungi kerajaan langit dengan nyawa ku sendiri, apapun keputusan kakak pasti aku mendukung nya." ucap Starla mulai merapikan gulungan yang berserakan.
"Nak? " ucap Ibu suri khawatir.
"Aku baik nek, ini tidak seberapa. Aku tahu kakak jauh lebih menghadapi bahaya di luar sana, aku bisa merasakan itu. Aku berharap sebagai saudara nya bisa meringankan sedikit beban dan tanggung jawabnya terhadap alam, tapi apa daya ku. Bahkan alam pun membuat ku tidak sekuat kakak, tapi setiap nasehatnya selalu menjadi panutanku." jawab Starla memandang Ibu suri dengan senyuman tulus.
Ibu suri hanya bisa mendekati cucunya itu dengan memberikan pelukan hangat dan usapan kepala agar Starla kuat dengan setiap permasalahan meskipun tak di pungkiri hati nya pun ikut teriris karena pernyataan Starla.
*Ku harap Clara bertahan sampai akhir, Tuhan jika takdir mengambil nya dari dunia ini, ku mohon tukarkan saja dengan nyawaku. Satu kebahagiaan pun Clara masih belum merasakan nya dengan benar, jangan ambil Takdir baiknya.* batin Ibu suri memejamkan matanya.
Melihat keadaan yang menjadi haru dan sedih membuat Achela dan pendeta meninggalkan kedua wanita itu tanpa pamit, meskipun pendeta tidak tahu kemana tujuannya tapi dirinya tahu kemanapun itu pasti ilmu pengobatan nya sangat dibutuhkan.
................... ...
"Simpaan ini, berikan pada putra ku. Tolong bebaskan keluarga ku dari makhluk terkutuk itu... aa.. k... " ucap seseorang dengan suara lirihnya.
__ADS_1
Tangan yang semakin melemas itu kini terjatuh dengan mata nya terpejam, nafas yang meninggalkan raga nya kini telah berakhir. Detakan nya tak lagi terdengar dengan suara yang tak lagi dapat di lanjutkan namun sebuah tangan yang berlumur darah kini menggenggam sebuah benda yang menjadi sebuah amanah.
"Istirahat lah dengan tenang, terimakasih atas pengorbanan mu. Ku harap aku tidak terlambat dan korban lain berjatuhan lagi! " gumamnya.