The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Jalan Teka-teki


__ADS_3

Sekelebat sinar emas muncul di hadapannya, tentu saja dirinya sudah tahu siapa yang mendatanginya. Dengan tenang menunggu kabar apa yang akan di sampai kan oleh Achela, meskipun perasaannya sudah merasakan tidak enak dengan kabar yang akan di sampai kan oleh Achela.


Wush..


"Salam Tuanku .Maaf kedatangan ku terlambat dan hal buruk sudah terjadi. " ucap Achela setelah turun dari terbang nya.


"Sudahlah Achela, sekarang bukan waktu nya untuk menyesali yang sudah terjadi. Buruan kita terlalu pintar dan tidak mudah tertipu, kita harus menyelesaikan ini sendiri Achela. Aku tidak mau ada korban lagi. " ucap Clara dengan serius.


"Baik lah Tuanku." jawab Achela dengan serius.


"Mari kita temui Pendeta agar tahu cara mengobati kakaknya Peri Ghea, saat ini Bangsa Peri aman selama tidak melewati perisai yang ku buat. " ucap Clara dan berdiri dari duduk nya.


Dengan senang hati Achela mendekati tuannya agar menghilang secara bersama ke tempat yang seharusnya, sedang kan disisi lain kedua Pangeran masih menyamar menjadi bagian kelompok penculik dan keduanya sedang sibuk berdiskusi rencana selanjutnya untuk misi nya.


"Hey Trish apa kamu sudah yaqin dengan rencana mu ini, jangan sampai kita ketahuan." Ucap Pangeran Lars yang mendengarkan rencana Pangeran Trish.


"Astaga, Selain seorang Pangeran, kita ini seorang ksatria Lars! Apa pun hasil nya sudah harus siap menghadapi nya! " jawab Pangeran Trish dengan serius.


"Iya iya Yang Mulia! Capar Lady Cristal yang perkasa. " goda Pangeran Lars yang melihat sahabatnya itu terlalu serius.


"Hah! Capar? " tanya Pangeran Trish yang tidak paham maksud ucapan Pangeran Lars.


"Hahaha yah Capar, calon Pacar. " goda Pangeran Lars dan pergi meninggalkan sahabatnya yang sudah siap melemparkan bantal disampingnya.


"Hei kembali kau! Dasar anak ini jail sekali. " gumam Pangeran Trish geleng-geleng kepala karena kelakuan sahabatnya.


"Bagaimana kabar gadis ku ya, sungguh aku merindukannya, Aish rencana ku harus berhasil agar aku segera bertemu dengan Pujaan hati ku. " batin Pangeran Trish dan merebahkan tubuh nya untuk menikmati malam yang dingin.


Disisi lain para tahanan wanita yang melihat para penjaga mulai sibuk tidur karena kantuk yang tak tertahankan mengambil kesempatan itu untuk mendekati para tahanan lain agar saling menguatkan dan memberi tahu mereka rencana pelarian yang seperti yang sudah di bisikkan oleh Pangeran Trish, ada rasa tidak percaya karena keraguan dan rasa takut di hati mereka tapi melihat kekejaman para penculik membuat mereka bertekad untuk bersatu. Tentu saja tidak mudah untuk menyatukan semua nya, namun dipenjara pun menjadi siksaan bagi mereka , mungkin kematian akan lebih baik bagi mereka dibandingkan melihat wanita lain dijadikan pesta tak berperikemanusiaan oleh penculik b*jing*n dan rasa was-was selalu menyelimuti mereka , berfikir giliran mereka akan tiba menjadi pemuas nafsu para manusia berjiwa iblis. Disudut tempat ber pesta selalu ada wanita - wanita yang sudah tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka,para penculik itu menikmati para gadis tahanan layaknya berbagi makanan , sungguh menjijikkan melihat semua tindakan para penculik itu hingga rasa nya saat itu juga ingin menebas kepala mereka.


.............. ...

__ADS_1


Di tempat lain kini Clara dan Achela sudah memasuki Hutan Bisu dan di depan mereka adalah pintu gerbang istana Hutan Bisu , dengan langkah pasti Keduanya disambut oleh penjaga yang terlihat tidak ramah dan ntah sejak kapan penjagaan menjadi sangat ketat di Hutan Bisu dan Istana Hutan Bisu. Seingat Clara Hutan Bisu termasuk tempat tidak terjamah manusia sedari dirinya kecil namun melihat penjagaan yang ketat membuat Clara penasaran apa alasan nya Ibu suri dan Pendeta melakukan semua itu.


"Berhenti! Siapa kalian dan apa keperluan kalian kemari! " ucap seseorang dan dua penjaga gerbang itu menyilangkan tombak mereka untuk melarang Clara dan Achela masuk.


"Bertemu Sang Pendeta. " jawab Clara dengan singkat, sedang kan Achela masih diam saja karena hal kecil pasti Tuannya bisa menangani.


"Tunjukkan surat pertemuan baru kami izin kan kalian masuk! " ucap orang itu lagi.


"Katakan pada Sang Pendeta jika muridnya membutuhkan bantuan nya. " jawab Clara.


"Pergi kalian! Sang Pendeta tidak mungkin punya murid seperti mu. " ucap teman orang itu yang melihat penampilan Clara, penampilan yang berantakan karena selama beberapa hari di hutan dan menyelidiki wabah, mendengar Tuannya di hina Achela merasa geram, kekuatan kedua penjaga itu bahkan tidak seberapa tapi tingkahnya sangat sombong dan meremehkan Tuannya.


"Hey Kalian! Tutup mulut Kalian! Menjadi penjaga saja kalian sudah sombong. " seru Achela seketika membuat kedua penjaga itu melongo, mungkin hanya mimpi jika mereka baru saja mendengar seekor kuncing bisa berbicara tapi mereka masih terjaga meski malam sudah larut, keduanya saling pandang dan menyadari jika pendengaran mereka tidak salah.


"Achela tenang lah, Kalian biarkan kami masuk atau aku harus menggunakan cara lain? " tanya Clara dengan tersenyum.


"Kalian tidak di izin kan Memasuki Istana! " ucap kedua penjaga serempak.


Huft... (Clara menghela nafas, sungguh dirinya tidak ingin membuang waktu)


*Perisai Cahaya Biru* ucap Clara dan tubuh nya sudah dibentengi Cahaya biru , perlahan Clara berjalan mendekati para penjaga yang masih kebingungan karena tiba-tiba Gadis didepan mereka menghilang, keduanya semakin bingung dan tidak paham kemana pergi nya gadis didepan nya tadi karena yang didepannya kini hanya Achela seekor kucing yang tadi berbicara, melihat ekspresi kedua penjaga sungguh Achela tidak mempedulikan itu karena Tuannya lebih membutuhkan nya saat ini dan akan lebih baik jika dirinya melakukan hal sama seperti Tuannya, tapi karena perintah Tuannya untuk memberikan pelajaran pada kedua penjaga yang sombong maka di urung kan niatnya untuk menghilang.


"Haloo, Apa kalian masih tidak sadar? " ucap Achela dengan penuh sindiran dan benar saja kedua penjaga itu kini menatap Achela dengan kesal.


Kedua penjaga itu maju dan ingin menangkap Achela, namun Achela dengan lincahnya melompat kesana kemari hingga kedua penjaga itu kelelahan untuk menangkap nya, sedang kan Clara yang melihat itu semua masih dengan tenang menunggu Achela melakukan tugas nya, namun Clara sudah mengirim kan surat pada sang Pendeta untuk menemui nya diluar Istana.


"Hey hentikan Kalian berdua! " seru Sang Pendeta yang baru saja muncul dari dalam Istana karena surat dari Clara yang tiba-tiba muncul didepannya.


Dengan kehadiran Sang Pendeta Clara melepaskan perisainya dan kini sudah berdiri disamping sang Pendeta, dan kedua penjaga itu langsung menghentikan pengejaran Achela. Sedangkan Achela langsung terbang ke Sisi tuannya dengan senyuman puas melihat kedua penjaga itu kelelahan.


"Salam Yang Mulia. Maafkan hamba tidak tahu kedatangan Yang Mulia. " ucap Sang Pendeta yang merasa bersalah karena penjaga menghalangi Tuan Putri Clara.

__ADS_1


"Sudah lah Pendeta, bukankah saya juga murid anda. Tapi lebih baik carilah penjaga Istana ini yang lebih rendah hati dan bijaksana. " ucap Clara dengan tenang.


Mendengar Percakapan sang Pendeta dan gadis itu, kedua penjaga sadar telah melakukan kesalahan besar dan pasti sang Pendeta akan marah jika tahu perbuatan mereka.


"Maafkan kami Pendeta, sungguh kami tidak tahu jika gadis itu Seorang Putri. Maafkan kami Tuan Putri. " ucap kedua penjaga itu menundukkan Kepala mereka.


"Artinya jika aku Seorang pengemis, maka Kalian akan seenaknya menghina dan mengusirku! " ucap Clara dengan nada yang lebih ditekan dan membuat kedua penjaga semakin kelimpungan karena kedua nya sadar, kesalahan bukan pada ke tidak tahu an mereka tentang identitas Clara tapi kesalahan mereka karena tidak menghargai orang lain dan merendahkan orang dari kekurangan orang lain.


"Maafkan saya Pendeta, tapi waktu semakin sempit dan ada nyawa yang harus diselamatkan. Bisakah kita menyelesaikan hal itu dulu Pendeta. " ucap Clara lagi tanpa peduli pada kedua penjaga yang gemetar karena fikiran kedua nya sangat kacau, tentu saja Clara mendengarkan ucap an dari batin kedua penjaga itu .


"Kalian jaga Dan hukuman Kalian tunggu saja! " perintah Sang Pendeta dan meninggalkan pintu gerbang memasuki Istana Hutan Bisu bersama Clara dan Achela.


Kini ketiganya sudah berada did tempat peracikan ramuan, Achela pun sudah menyerahkan botol mungil yang diberikan Ghea. Dengan hati-hati Pendeta membuka botol itu dan menuangkannya setetes cairan ke sebuah cawan peak, perlahan cawan itu mengeluarkan asap dan cawan perak itu perlahan terbungkus dengan asap yang mengeluarkan hawa dingin meski hanya setetes tapi sudah cukup mengubah cawan itu menjadi beku. Sejenak Pendeta berfikir dan pergi ke rak-rak buku ramuan mencari sebuah buku yang sudah lama tidak terjamah.


"Akhirnya ketemu. " ucap sang Pendeta yang mengambil sebuah buku sangat usang namun masih terjaga dengan baik.


Perlahan Sang Pendeta membuka buku itu dan mencari yang ada didalam fikirannya, melihat keseriusan sang Pendeta tentu saja Clara dan Achela bersabar.


"Ramuan ini namanya Ramuan Penukar Kehidupan. Ramuan ini sangat manjur tapi juga seperti sebuah kutukan, memang ramuan ini bisa menukar dua Kehidupan tapi tetap saja Kehidupan tidak akan berubah untuk salah satu pihak dan untuk membuat Ramuan ini bekerja maka harus dengan keikhalasan Hati berkorban. " ucap sang Pendeta setelah menemukan jawaban dari buku lusuh itu.


"Lalu bagaimana cara mengobati orang yang sudah berkorban? Pasti ada cara mengobati nya? " tanya Clara .


"Didalam buku ini hanya tertulis Cara membuat Ramuan Penukar Kehidupan dan cara kerjanya, tidak ada cara mengobati pihak yang berkorban tapi ada catatan kecil didalam buku ini. Dan buku ini hanya ada 2 ,satu milik pertapaan yang asli dan yang ke 2 salinannya akan tetapi leluhurku mengatakan salinannya sudah hilang sejak lama bahkan mungkin kejadian itu berdekatan dengan kematian Penyihir Calista. " ucap sang Pendeta dan memberikan buku nya pada Clara menunjukkan sebuah catatan kecil disudut halaman itu.


Catatan:


*π™ΏπšŽπš–πš’πš•πš’πš” π™ΊπšŽπš‘πš’πšπšžπš™πšŠπš— π™°πšπšŠ πš•πšŠπš‘ πš‚πšŠπš—πš π™ΏπšŽπš—πšŒπš’πš™πšπšŠ, π™³πš’πš‹πšŠπš•πš’πš” πšœπš’πš—πšŠπš›πš—πš’πšŠ ,πš”πšŽπš‘πš’πšπšžπš™πšŠπš— π™±πšŠπš›πšž πšŠπš”πšŠπš— π™³πš’πš–πšžπš•πšŠπš’, π™ΊπšŽπšπšžπš•πšžπšœπšŠπš— π™±πšŽπš›πšœπšŠπšπšž π™³πšŠπš•πšŠπš– π™²πšŠπš‘πšŠπš’πšŠ πšˆπšŠπš—πš π™ΊπšžπšŠπšœπšŠ. π™Έπšπšž πš•πšŠπš‘ π™Ύπš‹πšŠπš πš‚πšŽπš“πšŠπšπš’πš—πš’πšŠ. *


Melihat catatan itu Clara masih belum memahami apa artinya, namun setidaknya kini dirinya sudah tahu Ramuan apa yang digunakan open Giel untuk melindungi adiknya Ghea hingga menukar Kehidupan mereka, namun seharusnya dalang dibalik Ramuan itu tahu jika Ghea baik-baik saja, rasanya benar-benar geram karena dengan mudahnya pelaku utama menjadikan Giel korbannya hanya untuk menghilangkan jejak kejahatannya. Clara menyadari jika keadaan Giel saat ini hanya bertujuan menghambat misi nya dan Achela menolong bangsa Peri, maka sudah tanggung jawab Clara untuk menyembuhkan Giel meski masih tidak tahu cara nya selain catatan kecil itu, melihat Tuannya berfikir keras Achela mengusap lengan Clara dengan kepalanya.


"Tenanglah pasti kita bisa menyelamatkan Giel dan Bangsa Peri. Tidak seharusnya kita meninggalkan Ghea sendirian di pondok nya, ayo kita kembali Achela. " ucap Clara yang menyadari telah melakukan sebuah kesalahan dengan meninggalkan Ghea bersama Giel yang tidak memungkinkan untuk melindungi adiknya itu.

__ADS_1


"Pergilah! restuku ada bersama Kalian. " ucap sang Pendeta yang memahami situasi Clara.


Tanpa menjawab Pendeta Clara memeluk Achela dan menggunakan teleportasinya untuk kembali ke Hutan Bayangan.


__ADS_2