
Dengan penuh kesabaran Giel mengobati adiknya, bahkan sudah menganti ramuan beberapa kali tapi tetap saja Ghea belum sadarkan diri dan itu sangat membuat Giel cemas dan takut, ingin meminta per tanggung jawaban pada siapa pun dirinya tidak tahu.
"Ghea bangun lah! Tuhan ambillah nyawaku atau berikan semua luka semau mu, tapi Jangan sakiti Ghea. Ku Mohon sadarkan adikku. " ucap Giel dengan sendu tanpa sadar sudut matanya mulai mengenang air mata yang siap terjun bebas.
"Argh... Ehm.. " desis lirih Ghea yang mulai tersadar, tubuh nya terasa sangat sakit luar biasa perlahan dirinya mulai mengingat kejadian sebelum nya.
**Flashback
"Dengarkan Aku! Achela dan Peri Ghea kalian harus melakukan permainan agar mendapatkan kepercayaan saudara Ghea dengan mudah, mungkin ini akan terdengar licik tapi ini jalan satu-satunya, untuk membuat penawar Wabah ini maka aku harus mengetahui apa penyebab nya . Tapi hanya saudara Ghea yang tahu apa penyebab wabah Bangsa Peri, aku akan mengambil sayap mu dan ini pasti akan menyakiti mu Ghea tapi untuk mendekati kakakmu hanya dengan membuat nya ragu jika Bangsa Peri memperlakukanmu dengan baik karena perbuatan nya namun tenang saja Ghea, luka yang kamu dapatkan hanya lah sebuah ilusi dan sayap mu akan kembali di saat kamu menginjakkan kaki mu di Hutan cahaya dan buat lah kakakmu menyadari jika perbuatan nya menjadikan adiknya terkena hukuman nya dan Kamu Achela! Tugas mu memastikan Peri Ghea tetap terlindungi, firasatku mengatakan Tuan dari kakaknya Ghea pasti bisa menghentikan rencana kita. Siapapun orang itu pasti nya bukan orang sembarangan, dan seperti yang kamu katakan Achela ada sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu maka sudah pasti ramalan itu semakin bermunculan. Dan awasi setiap pergerakan kakaknya Ghea, dan aku akan menjaga wilayah Hutan Cahaya selama kalian melakukan tugas, apa kalian berdua siap? " ucap Clara menjelaskan rencana nya.
"Jika untuk membuat kakak ku sadar hanya dengan cara ini, maka aku siap. " jawab Peri Ghea dengan penuh percaya diri dan Achela hanya mengedipkan mata tanda siap.
*Pisau Cahaya* ucap Clara.
Sreet.. Sreet..
"Arghh... " seru Clara yang merasakan sakit saat Pisau Cahaya memotong sayap nya.
__ADS_1
*Gelembung Cahaya* ucap Clara.
Dalam detik berikutnya tubuh Peri Ghea sudah terselimuti kabut Cahaya layaknya gelembung , rasa sakit itu berangsur tergantikan rasa dingin meski darah masih tetap menetes tapi tubuh nya semakin baik. Melihat wajah Peri Ghea yang sudah tidak kesakitan membuat Clara tenang dan Achela hanya melihat itu tanpa komentar apa pun.
"Baik lah Achela sekarang tugas mu di mulai, dan kamu Peri Ghea, darah ini akan tetap mengalir tapi jangan khawatir, kamu tidak akan kekurangan darah atau merasakan sakit seperti di awal dan kuharap kamu bisa bersandiwara seperti rasa sakit di awal.Achela ikuti kemana pun Peri Ghea pergi tapi jangan tunjukkan keberadaan mu! " ucap Clara dan meninggalkan keduanya untuk kembali ke air Terjun.
.............. ...
"Ghea mana yang sakit? Biarkan kakak obati. " ucap Giel dengan buru-buru.
"Aku baik-baik saja. " jawab Ghea lirih memandang wajah khawatir kakaknya, sungguh tidak ada niat dihatinya untuk membohongi kakaknya tapi apa boleh buat jika jalan menyadarkan kakaknya hanya satu.
"Istirahat lah Ghea. Kakak akan ambil kan ramuan untuk luka mu agar cepat sembuh. " ucap Giel dan meninggalkan Ghea di pondok sendiri an.
Ramuan yang harus di dapatkan dari Hutan membuat Giel meninggalkan adiknya sendiri an, dengan kepergian Giel maka Achela menunjukkan dirinya di dekat Ghea. Kemunculan Achela yang tiba-tiba hampir saja membuat Ghea berteriak , untung saja kakaknya sudah keluar dari pondok.
"Jangan muncul tiba-tiba begitu! Hampir aku berteriak. " keluh Peri Ghea yang masih mengelus dadanya karena terkejut.
__ADS_1
"Bantu aku mencari serbuk hitam yang biasa kakakmu tabur di Hutan cahaya. " perintah Achela tanpa peduli keluhan Peri Ghea.
"Tapi.. " jawab Peri Ghea namun enggan meneruskan setelah mendapatkan tatapan tajam dari Mata Kucing Achela dan mulai mencari Serbuk Hitam yang dimaksud Achela.
Hampir setiap sudut dan tempat tak terjangkau sudah digeledah namun tetap saja tidak mendapatkan apa yang dicari, bahkan di tempat pakaian kakaknya pun tetap ada, Achela mulai memikirkan apa yang terlewatkan namun seperti nya memang pondok bukan lah tempat yang aman untuk sesuatu yang berarti, akhirnya Achela tersadar akan sesuatu dan menghentikan pencariannya.
"Hentikan! Bereskan semua nya seperti semula, hanya kakakmu yang bisa menunjukkan Serbuk Hitam dan lain nya yang dia gunakan untuk menciptakan Wabah. " perintah Achela yang langsung membuat Peri Ghea bingung.
"Bereskan semua nya sebelum Kakakmu kembali! Aku harus pergi saat ini dan ingatlah saat ini kamu masih berpura-pura sakit akibat luka mu. " ucap Achela lagi sebelum mendapatkan bantahan atau pertanyaan dari Peri Ghea.
Wush... (Achela meninggalkan Peri Ghea dengan menghilang lagi)
"Yah begitu lah jika memiliki kekuatan, sedang kan aku saja yang sudah menjadi Peri tetap saja tidak mempunyai kelebihan apa pun. " batin Peri Ghea dan mulai membereskan semua nya seperti semula.
................... ...
Diketenangan air Terjun Clara mengambil pedangnya untuk berlatih menyatukan dengan alam, menyatukan jiwanya dengan kehidupan tanpa batas, dengan pasti setiap gerakannya berlatih menyatukan air dengan udara kemana pun pedangnya berayun air akan bergerak menari mengikuti arah nya, ketenangan dalam hati dan jiwanya semakin dalam melepaskan segala perang dalam fikiran nya dan menyatu bernafas dengan alam. Setiap desiran angin, setiap lambaian dedaunan membuat Clara tenggelam seakan alam mengajaknya berpetualangan berbagi kisah kehidupan, tanpa di sadari Clara, setiap aliran aura Milik nya menyelimuti udara Hutan cahaya bahkan Para Peri pun merasakan ketenangan dan kesejukan yang seperti Embun Pagi dan sinar matahari pagi.
__ADS_1
Sling... (Achela muncul di dekat air Terjun)
Pemandangan yang pasti membuat siapapun takjub, air yang menari mengikuti ayunan Pedang Suci, bahkan Tuannya terlihat begitu tenggelam menyatu dengan alam, selama ratusan tahun Achela ber ulang kali mengetahui Sang Pewaris dan menyaksikan kekuatan masing-masing ,hanya saja jiwa Sang Pewaris terdahulu masih belum ada yang Murni seutuhnya, dan Clara lah Sang Pewaris Jiwa Murni.