The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Pertarungan singkat


__ADS_3

Berulang kali Raja Dexter melancarkan serangan namun semua serangan berakhir dengan keadaan yang sama, hingga pedangnya mulai teraliri kobaran api. Terlihat wajah nya kini dalam mode serius, sedangkan starla masih tenang dan mengamati meskipun sesekali kepala nya menggeleng tidak percaya dengan kelakuan seorang Raja.


*Bantu dia starla! Gunakan kesempatan ini untuk melatih permata milikmu, Raja Dexter hanyalah pria kekar dengan fikiran anak-anak. Segera temui aku di hutan ilusi! * ucap seseorang yang memasuki fikiran Starla.


Mendengar hal itu membuat Starla memblokade jalan Raja Dexter yang siap melakukan penyerangan dengan pedang api nya, dengan perisai alam nya kini Starla bisa melihat tipuan yang dibuat ibu tirinya.


*Panah Cahaya* ucap Starla dan mengarahkan busur panah ajaibnya ke atas langit.


Duaar.. Duaar...


Hujan panah menerjang angkasa membuat kilatan cahaya merah, berjatuhan menukik menembus pertahanan kabut kegelapan milik Permaisuri Adreo. Dua kekuatan berbeda menyatu dengan penyerangan, hingga ledakan memudarkan kabut gelap dan menunjukkan keberadaan permaisuri Adreo.


Dengan cepat Starla berlari mendekati wanita itu dengan melepaskan anak panah nya secara bertubi-tubi, membuat ibu tiri nya kewalahan menangkis hujan anak panah dengan perisai permata alam hitam nya yang selalu hancur setiap kali terkena beberapa anak panah.


Sluuuz... Sluuuz... Prang...


Benturan demi benturan membuat pertahanan wanita itu semakin mundur mendekati garis perbatasan, terlihat sisa tenaga permaisuri Adreo hanya tinggal sedikit namun hujan panah berikutnya sama sekali tidak menyentuh wanita itu yang menghilang secara mendadak dengan pusaran angin sesaat.


"AARGH. Seharusnya aku bisa menangkap nya, kenapa melarikan diri. Ck.. " seru Starla dengan kesal.


Hujan panah terakhir justru menghilang di antara rindang nya pepohonan menembus perisai yang transparan, perbatasan yang hanya di langgar oleh mereka yang mampu bertahan di dalam hutan ilusi. Dengan segera Raja Dexter menghampiri Starla yang sudah berdiri cukup jauh dari nya, pertempuran singkat yang membuat pria itu minder dengan kekuatan seorang gadis.


Hosh.. Hosh..


"Darimana panah itu kamu dapatkan putri? " tanya Raja Dexter setelah mengatur nafas nya yang terburu-buru karena lari.


".?.. " Starla hanya mengerutkan alis dan melirik ke arah pria yang kini ada di samping nya.


*Ada apa dengan Raja satu ini? Didekatnya ada kuda tapi justru berlari dan pertanyaannya sungguh aneh, apa makhluk ini dari dunia lain? * batin Starla dengan pandangan penuh selidik.

__ADS_1


Merasa di perhatikan membuat Raja Dexter salah tingkah, dirinya menjadi tidak paham apa alasan gadis itu memandangnya dengan intens dari sebuah lirikan mata.


"Kembalilah ke Istana! Aku bisa sendiri ke dalam hutan ilusi." ucap Starla dan mengalihkan pandangan.


"APA? Tidak putri, bagaimana jika terjadi sesuatu dan pasti kerajaan akan curiga padaku. Belum la.. " ucap Raja Dexter tanpa menarik nafas.


"Diam! Astaga kenapa sikap mu bukan seperti raja pada umumnya!" seru Starla menghentikan ocehan Raja Dexter.


"Tapi putri, aku... " jawab Raja Dexter.


"Hentikan! " ucap seseorang dengan perisai cahaya nya keluar dari hutan ilusi.


Sosok itu langsung mendapatkan perhatian dua makhluk yang tengah berdebat dengan kepolosan dan kekesalan, dengan cepat Starla meraih tubuh itu dan memeluknya dengan erat ketika sosok itu tepat di depannya. Usapan lembut di kepala Starla sungguh mengobati seluruh rasa rindu dan hari-hari kesepiannya, beberapa saat membiarkan momen langka itu memberikan kekuatan kepada dua gadis kembar itu.


"Bagaimana pun Raja Dexter tetaplah Raja sebuah Kerajaan, dan sesama pemimpin sudah kewajiban kita harus menghormati. Bukankah itu yang di ajarkan Ayahanda? Mahkota di atas kepala bukan untuk merendahkan tapi untuk melindungi." ucap Clara melepaskan pelukan dan menatap Starla dengan lembut.


"Maafkan adikku Raja Dexter, sikapnya memang selalu terbuka tanpa keraguan. Kuharap anda memaafkan Putri Starla." ucap Clara dan membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda kesungguhan niatnya.


"Yang Mulia, itu bukan masalah besar. Mungkin benar, saya Raja yang bodoh, bahkan raja ini hanya tahu tentang sedikit kerajaannya selain obsesi tentang misteri hilangnya setiap anggota Kerajaan ku selama ini." jawab Raja Dexter menunduk lesu.


"Keluarga mu masih hidup Raja Dexter, tapi untuk menyelamatkan mereka mungkin ini sulit." ucap Clara dengan menghela nafasnya.


"Bagaimana itu mungkin? Dimana mereka? Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan keluarga ku. " jawab Raja Dexter dengan pancaran mata yang mulai penuh harapan.


"Kembalilah ke Istana dan latihlah kekuatan mu yang sebenarnya Raja Dexter, bergabunglah dengan Cleo. Pada saatnya, aku akan mengantarkan mu pada akar dari teka- teki di hidupmu." ucap Clara dan mengulurkan tangannya yang tergenggam.


"Ambillah ini milik bunda anda, maaf aku sudah berusaha menyelamatkan tapi semua terlambat hingga nyawanya tidak bisa aku selamatkan. Sebagai permintaan maaf ku, aku berjanji akan mempertemukan mu dengan sisa keluarga mu sebelum gerhana bulan putih berakhir. " ucap Clara sekali lagi membuka genggaman tangannya yang menyembunyikan satu bross lambang kerajaan Iblis.


Wuusshh...

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Raja Dexter, Clara memindahkan pria itu dengan portal nya bersamaan dengan pengambilan bros di tangannya. Starla yang masih mengerutkan alis menatap kakaknya dengan tanda tanya, namun disaat tatapan nya tertangkap oleh mata tajam Clara membuat starla melihat rasa sedih bercampur penyesalan dalam hitungan detik berganti dengan tatapan tak terjemahkan.


"Semua yang terjadi sudah takdir, sekuat apapun kita bukan berarti kita bisa melawan sang Pencipta." ucap Clara mengalihkan tatapan nya dari Starla.


"My Dragon datanglag! " batin Clara.


"Ka, kapan semua ini akan berakhir? " tanya Starla mengikuti arah pandangan Clara.


"Hutan ilusi, seperti itulah kehidupan yang kita jalani. Perbatasan di depan kita hanya setipis kulit bawang, tapi mampu menyesatkan. Sebagai keturunan Lady Cristal, kita berdua bisa memasuki hutan ilusi tanpa halangan karena darah kita mengalir darah Bunda Risa. Apakah adikku siap menjelajahi dunia tanpa nama?" ucap Clara dengan menyodorkan tangannya untuk menerima tangan adiknya.


"Ini waktu yang selalu aku tunggu, bersama dengan saudari kembar ku mengarungi kehidupan dan saling melindungi. Aku siap apapun itu selama bersama mu ka." jawab Starla dengan tegas dan menerima tangan kakaknya.


Dari dalam hutan ilusi mulai terbentuk gelombang, gelombang seperti riak air yang memunculkan sesuatu dengan cahaya menyilaukan. Membuat Starla menutupi mata nya dengan satu tangan lainnya, hingga cahaya itu menghilang bersama datangnya hembusan segar. Perlahan Starla menurunkan tangannya dan melihat apa yang ada di depannya, sosok hewan besar panjang yang sudah lama tak di jumpai nya.


"Naga Suci?! " gumam Starla melihat dengan beberapa kedipan mata seakan tidak percaya.


"Ayo Starla, waktu nya hanya sedikit sebelum gerhana bulan putih." ucap Clara menarik tangan Starla yang masih mencerna makhluk di depannya.


"Ka? Apa kita akan menaiki Naga Suci? Tapi aku... " tanya Starla yang semakin mendekati Naga Suci yang sudah siap untuk di naiki.


"Aku tahu apa yang kamu fikirkan, tapi darah kita sama. Jika nyawaku tidak terselamatkan, kamu lah pengganti nya Starla." jawab Clara menghentikan ucapan adiknya.


"Ka.. " ucap Starla tidak menyukai jawaban Clara.


"Naik, biar kakak yang di belakang." perintah Clara dengan lembut.


Melihat sikap kakaknya yang begitu lembut seakan menegaskan tidak menerima penolakan ataupun pertanyaan membuat Starla menurut begitu saja, setidaknya sebagai seorang adik dirinya tidak menambah beban kakaknya. Sedangkan di kamar yang begitu gelap kini terdengar suara jeritan meminta pengampunan, jeritan itu bersama dengan suara hantaman benda panjang.


Ctaar... Ctaar... Aargghh...

__ADS_1


"Ampun! Hiks.. hiks.. lepaskan aku." seru orang itu dengan gemetar yang tak mampu tertahan kan.


"Jiwa mu menggelapkan kehidupan ku! Tunggu beberapa hari lagi, kebebasan mu akan sempurna." teriak seorang pria yang masih menggenggam cambuk berwarna darah pekat di tangannya.


__ADS_2