The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Tahta dan Hukum Alam


__ADS_3

Sebuah kenangan masa muda nya terlintas, dan semburat senyum hadir tanpa di minta, senyuman yang datang dari hati dan senyuman itu telah pergi bersama rasa haus kekuasaan yang mulai meracuni hati dan jiwa nya.


"Andai bisa ku ubah, mungkin kehidupan ku tidak akan seperti ini." ucap wanita paruh baya itu.


"Bukankah saat ini pun, anda bisa mengubah nya Permaisuri Adreo?" jawab seseorang dari samping nya.


Ntah sejak kapan ada orang lain di samping nya, karena tidak ada angin dengan hawa berbeda yang menerpa. Bahkan tidak ada gerakan yang menimbulkan bunyi meskipun hanya udara bertabrakan, tapi tiba-tiba ada orang lain di samping nya.


"Kau? " tanya permaisuri Adreo dengan menatap gadis dengan gaun indah tanpa topeng.


"Anggaplah hari ini kita tidak saling kenal, karena memang itu kenyataan nya." ucap gadis itu dengan menatap hijaunya pepohonan di depan nya.


"Hanya hari ini, aku setuju." jawab permaisuri Adreo dan mengalihkan pandangan ke depan lagi.


Hening...


Kedua nya sama-sama menikmati suasana yang tenang dengan udara yang segar, apapun yang ada di dalam fikiran permaisuri Adreo tentu saja gadis itu tahu tapi diri nya memilih diam tanpa mengganggu sedikitpun. Merasa canggung membuat permaisuri Adreo menghela nafas, ntah apa yang membuat nya setuju menerima ajakan gadis yang notabene adalah musuh nya.


"Apa tahta itu sangat menarik untukmu? " tanya gadis tanpa mengalihkan pandangan.


"Iya, bukankah kekuasaan bisa menundukkan semua orang. Siapa yang bisa melawan orang yang berkuasa? Tidak ada kecuali orang lain yang lebih berkuasa." jawab permaisuri Adreo dengan datar.


"Lalu kenapa hati mu ragu? " tanya gadis itu dengan melirik permainan Adreo.


"Apaa? Tii..dak. Aku tidak ragu." jawab permaisuri Adreo dengan sedikit gugup.

__ADS_1


"Apakah gadis dengan keinginan sederhana sudah tidak ada lagi di dalam jiwa mu?Bagaimana dengan impian yang terlupakan? " ucap gadis itu dan kali ini menatap permaisuri Adreo yang justru memandang ke arah lain.


"Baiklah, jaga diri anda. Maafkan sikap dan tindakan ayahanda ku, waktu tidak bisa di ulang tapi aku bisa meminta pengampunan anda untuk kesalahan nya." ucap gadis itu dan berdiri dari tempat nya duduk.


"Berikan tahta, akan ku maafkan." jawab permaisuri Adreo dan ikut berdiri.


"Tahta? Mahkota ini yang anda maksud? " ucap gadis itu dan menunjukkan mahkota yang tiba-tiba muncul di kedua tangannya.


"Iya mahkota itu, berikan." jawab permaisuri Adreo dengan mata bersinar .


"Akan ku berikan ke empat kerajaan sekaligus pada mu, tapi penuhi satu syarat ku. Bisa? " ucap gadis itu menatap permaisuri Adreo.


"Empat kerajaan? Hahahaha bagaimana bisa kau memberikan empat kerajaan padaku? " sindir permaisuri Adreo dengan tawa yang seakan menggelikan.


Tanpa mempedulikan tawa permaisuri Adreo, gadis itu mengeluarkan pedang suci dari ruangan tanpa batas nya dan menancapkan pedang itu di depannya. Tindakan nya berhasil membuat tawa permaisuri Adreo berhenti dan terpesona dengan pedang bersinar terang bermandikan cahaya biru jernih namun menyegarkan, aura yang begitu kuat dapat dirasakan.


Dengan menerbangkan kitab suci di atas pedang suci maka terlihat garis tipis penghubung kedua benda suci itu, dan ikatan itu memperkuat aura pedang suci yang seakan mendapatkan tambahan energi. Sedangkan permaisuri Adreo seakan terkagum-kagum dengan apa yang di lihatlah dan jelas di dalam hati nya sangat menginginkan kedua benda di depan nya itu, meskipun tidak tahu apa yang harus di korbankan nantinya.


"Satu malam." ucap gadis itu dan berjalan ke sebuah batu yang cukup besar untuk dirinya bermeditasi.


"Hey apa maksud mu? " seru permaisuri Adreo dengan lantang.


"Ambillah jika alam memberkati anda, alam yang memutuskan jalan setiap makhluk. Apapun yang berasal dari alam akan kembali ke alam, itulah hukum alam yang di tetap kan sang Pencipta." jawab gadis itu dan duduk bersila di atas sebuah batu.


Kedua tangannya saling bersandar di atas lutut dengan membentuk jari lingkaran, membiarkan mata terpejam dan melepaskan segala fikiran dan perasaan di dalam jiwa nya. Membiarkan permaisuri Adreo berfikir dan bertindak sesuka nya, meditasi yang harus meninggalkan raga nya kembali dan mengunjungi sebuah tempat yang memang harus di kunjungi.

__ADS_1


Terlihat menara tinggi itu mendekat ke arahnya, terlihat sebuah pintu gelap siap menyambutnya dan seperti angin jiwa nya terbawa memasuki menara tanpa ada perlawanan. Ruangan yang masih sama dengan keheningan, namun ada sosok lain di dalam menara itu dan sosok itu adalah salah satu jiwa yang tertinggal.


"Apa sudah waktunya menjemputnya?" tanya seseorang yang baru memasuki menara.


"Bagaimana menurut anda pak tua? " tanya gadis itu dengan memperhatikan sosok yang tengah terbaring dengan tubuh meringkuk seperti kedinginan.


"Jiwa nya memang sudah tidak ada dan itu jiwa orang lain, siapapun yang memasukkan jiwa itu hanya ingin orang ini tetap hidup meskipun seperti kertas kosong selama sisa hidupnya." jawab orang yang meletakkan beberapa bunga mawar merah berduri.


Mawar yang sama dengan racun mematikan, karena itu nyawa adiknya hampir melayang dan untung saja racun bisa ter netralisir setelah mendapatkan bunga leluhur kerajaan es.


"Apa raga dari seorang pemilik jiwa suci bisa untuk ritual? " tanya gadis itu.


"Hehehe nak apa kau ini menguji ilmu pengetahuan ku atau memang kau tidak tahu tentang ini? " jawab pak tua dengan tetap meracik sesuatu.


"Semua ingatan jiwa-jiwa terdahulu membuat ku memiliki banyak pengetahuan secara instan tapi aku ingin memastikan kekhawatiran ku." jawab gadis itu.


"Lihatlah sendiri putri Clara, hal itu hanya bisa di tunjukkan bukan di jelaskan." ucap pak tua dan mendekati sosok yang meringkuk.


Terlihat tangan kanan pak tua membawa sebuah belati yang sangat mungil, dan dengan sengaja menggores sedikit lengan sosok yang meringkuk. Terlihat sosok itu bahkan tidak terpengaruh sedikit pun meskipun ada yang melukainya dan pak tua kembali mendekati ramuan nya, membawa satu cangkir tanah liat yang sudah berisi cairan hitam dengan aroma mawar.


Di depan mata Clara, terlihat pak tua mengaduk ramuan itu dengan belati mungil yang sudah berwarna merah karena darah sosok yang meringkuk ada di pisau itu. Lihatlah ramuan hitam itu secara perlahan berubah warna mencari bening seperti air dan bau mawar pun juga menghilang, itu berarti darah sosok yang meringkuk bisa menetralisir racun mawar di hutan ilusi.


"Kemenangan itu segaris dengan kekalahan, bukankah seperti itu Lady Cristal? " ucap pak tua meletakkan kembali cangkir tanah liat ke meja.


"Baiklah, datanglah ke pertemuan nanti. Sudah waktu nya anda kembali." jawab Clara dan kembali menghilang, tentu saja dengan meninggalkan satu bola cristal yang menjadi petunjuk jalan untuk pertemuan nanti.

__ADS_1


"Anda benar, sudah waktunya aku memenuhi janji ku pada cintaku. Tunggulah aku penyihir terhebat ku." gumam pak tua dan kembali melakukan pekerjaan nya.


Meninggalkan tempat di hutan ilusi, kini tujuannya adalah sebuah istana dimana satu sosok dunia lain masih menjadi tanggung jawabnya dan kini waktunya membuat keputusan untuk sosok dunia lain itu.


__ADS_2